Cinta Bukan Dinding Pemisah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

“Rain, Pelangi, jangan bertengkar ya sayang!” Suara bunda Cika mulai terdengar ketika kedua putri kembarnya ini berebut boneka barbie favorit mereka.

“Kak Lain ganggu Pelangi mulu bunda,” rengek Pelangi kecil mendekat ke arah bundanya yang tengah asyik mengiris sayuran di atas telenan dalam kedai mie ayam milik keluarga mereka.

“Pelangi yang ambil boneka Rain bunda, Rain sebel ama Pelangi, Pelangi nakal,” Rain berdecak kesal kepada sang bunda, detik berikutnya anak perempuan dikuncir satu ini melangkah menjauhinya,

“Candy,” teriak Pelangi membuat Rain menghentikan langkahnya, Rain menoleh ke arah yang diteriaki adiknya itu, seulas senyuman tersungging di bibir mungil Rain.

“Candy main sama Pelangi ya!”

“Jangan Candy! Pelangi nakal, mending ama Rain aja.”

Dan bisa dibayangkan bagaimana mereka berdebat, mereka saling meneriaki, mereka saling membuat menangis, mereka bahkan tidak pernah akur.

14 years old…
“Kak Rain, Candy sama Pelangi duluan ya!” Pelangi memeletkan lidahnya ketika ia berjumpa dengan kembarannya sekaligus kakak yang lebih tua sepuluh menit darinya.
“Ngapain Candy ikut elu?” tanya Rain.
“Pelangi ama Candy mo kerja kelompok sekalian jalan-jalan ke mall, salam buat bunda ya!” Rain hanya memutar bola matanya malas.

Terkadang Candy lelah dengan semua ini, menjadi bahan perebutan selama kurang lebih sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat.

Semenjak ia bertemu Rain dan menyelamatkan Pelangi di kolam dekat kedai mereka semakin akrab, Candy adalah orang yang paling asyik yang pernah ditemui Rain dan Pelangi.

Dimana Rain dan Pelangi bagai air dan minyak, maka Candy adalah atom di antara mereka.

Setahun ini agak berbeda, Rain dan Pelangi yang gak pernah bisa akur kini berubah, mereka bertiga -Rain, Pelangi dan Candy berada di halaman belakang rumah keluarga bunda Cika.

Mulai dari acara suap-suapan bertiga,
Acara jalan-jalan ke mall dan selfie bareng,
Acara ngeborong novel di toko buku,
Nonton bioskop, makan es krim dan belajar bareng di rumah.

Setahun terakhir ini bagi Candy sangat istimewa, sungguh berbeda dari delapan tahun yang lalu, tahun ke sembilan ini penuh warna, Candy bisa melihat kedua kembar ini tertawa lepas bersama tanpa ada yang ngambek atau sakit hati.

Hingga pada suatu ketika, saat mereka duduk di kelas 9 SMP semester satu, Rain dan Pelangi ingin cerita satu sama lain, bersama Candy juga.
“Elo duluan deh kak!” Suruh Pelangi menyeruput es krim vanila favoritnya,
“Gak ah, elo dulu Lang! Biasanya elo kan yang pengen selalu menang,” Rain mulai memakan hotten steaknya.
“Oke, kalau itu mau elo. Gua suka sama cowok,” kata-kata Pelangi ngegantung membuat kedua orang yang tengah makan memberhentikan aktivitas makannya.
“Siapa?” Tanya Candy berbinar, terlihat rona merah di wajah milik Pelangi.
“Arsy.” Ucap Pelangi,
“Uhk…” seketika Rain tersedak, Candy segera memberikan minuman milik Rain, “makasih.” Rain menaruh gelas minumannya.
“Elo gak papa kak?” Tanya Pelangi.
“Cuma tersedak aja,” Rain menutupi kebohongannya, namun bukan Candy jika tidak tahu sifat sahabatnya itu.

Setelah kejadian itu Candy jadi heran dengan sahabatnya ini, hingga keesokan harinya setelah Candy dibelajari Rain voli,

“Duh cape banget Rain, duduk dulu!” Baru setengah jam latihan voli di lapangan sekolah,
“Mo ada yang gua tanyain ke elu Rain,” Candy memulai pembicaraan setelah menghapus peluhnya, seketika tubuh Rain menegang, senyum di wajahnya seolah olah memudar digantikan wajah datarnya.
“Ta-tanya apa?” Rain mencoba menutupi kekhawatirannya.
“Soal Pelangi yang suka ama Arsy,” Candy memberikan sebuah kalimat yang memiliki banyak arti untuk Rain, Rain berusaha tidak terlihat panik di depan Candy.
“Terus?”
“Wajah lu tegang saat Pelangi mengatakannya, dan elu tersedak juga, ini pasti bukan kaget yang biasa,” ucap Candy tak kalah datarnya, Candy menatap wajah sahabatnya itu, mencoba mengintimidasi, namun Rain berusaha menutupi sesuatu, dia menunduk.
“Jangan berpikiran macam-macam Can, gua cuma kaget aja, so Arsy temen deket gua di kelas, dia juga partner terbaik gua saat basket,”
“Ada dua kemungkinan, elu suka Arsy, atau Arsy yang suka ama elu,” kata-kata yang terlontar dari mulut Candy benar-benar skak mat, Rain terdiam seketika.

Kalau gua yang suka, itu tidak masalah Can!
Gua bisa move on buat adek gua! -batin Rain

“Gua kasih elo waktu buat cerita ke gua, gua harap elo gak ngecewain gua Rain!” Candy memutuskan untuk berdiri dan melangkah menjauhi Rain.

“Rain, gimana tawaran gua tadi?” Tiba-tiba suara Arsy yang baru saja membuka pintu menggema di seluruh ruangan membuat Candy mau tak mau menoleh ke arah Arsy yang mendekati Rain.
“Ta-tawaran yang mana Sy?” Rain terbata-bata sesekali sambil melirik Candy, Candy memutar tubuhnya menghadap ke arah mereka.
“Rain, elu mau kan jadi pacar gua?” Arsy bertekuk lutut di hadapan Rain, Candy membulatkan matanya lebar, tubuhnya menegang seketika, peluhnya semakin deras, dadanya seolah terbakar api kemarahan.
Begitupun jantung Rain berhenti seketika, bukan rona di pipinya atau dag dig dug ketika ditembak seperti cewek pada umumnya, tapi Rain justru memikirkan apa yang ada dalam benak Candy saat ini, Rain tak ingin Candy membencinya.
“Penjelasannya sudah lebih dari cukup,” detik berikutnya terdengar keras bantingan suara pintu ruang lapangan voli indoor.

Setelah peristiwa itu hubungan Rain dan Candy mulai retak, Candy yang selalu sayang sama Rain sudah tidak ada lagi.

Minggu pagi, Rain, Candy dan Pelangi yang biasa pergi bareng, jadi berbeda,
“Candy, gua udah siap, ayo berangkat!” Candy segera berjalan melenggang tanpa menghiraukan Rain,
“Kak Rain nggak ikut?” tanya Pelangi, Rain hanya menggeleng,
“Ya udah Lang, ayo pergi!” ajak Candy.

Semenjak itu, hidup Rain berubah, Rain ceria udah hilang, Rain tomboi udah lenyap, Rain sekarang ialah Rain rapuh, Rain kehilangan Candy, Rain kehilangan Arsy orang yang ia cintai selama ini, Rain telah membuat Arsy mencintainya juga menyakitinya sekaligus.

“Candy, gua tahu elo suka sama Kak Leo, tapi elo ya jangan benci kakak gua dong!” Kata Pelangi saat bersama Candy.
“Alasan gua benci?”
“Gua tahu kakak gua deket ama kak Leo, tap-”

Elo gak tahu Lang, yang ditikung bukan gua, tapi elo -batin Candy.

“Sy, Arsy,” suara seseorang membuat kedua cewek itu segera menoleh ke meja restoran paling pojok itu.
“Arsy Can Arsy,” bahkan Candy ingin membunuh cowok itu, sial.
“Ayo Sy mainkan pianonya!” Suruh kak Leo yang juga tengah makan.

Arsy memainkan pianonya dengan lagu melankolis, ini mencerminkan hatinya benar-benar galau.

Tak lama darah segar keluar dari hidung Arsy, yang pertama terkejut tentu saja Pelangi, Pelangi yang melihatnya untuk pertama kali.
“Arsy Arsy bangun,” sebelum mata Arsy tertutup yang terakhir dilihatnya adalah Pelangi, meski ia yakin, tapi Arsy lebih suka memandang wajah itu sebagai milik Rain.
“Rain, i love you,” bisik Arsy serak, seketika jantung Pelangi pecah, perasaannya tak keruan, hatinya hancur lebur, kekecewaan itu akhirnya datang.

Namun bagaimanapun Pelangi mencintai Arsy, ini bukan saatnya untuk membencinya, Arsy sakit sekarang.
“Kak Rain, Arsy manggil-manggil elo,” Pelangi menelepon rumah yang telah diangkat Rain, sekarang mereka ada di rumah sakit.
Rain diam, “cepet ke rumah sakit umum Medika, dia lagi kritis manggil-manggil elo terus,” lanjut Pelangi.

“Hss…” Pelangi mengembuskan napas panjang,
“Lang, elo gak papa?” Tanya Candy, Pelangi terus memegang dadanya, tak lama darah segar keluar dari hidungnya, ia pun jatuh pingsan.

Sepuluh menit Rain sampai disana, ia melihat Pelangi yang tengah terbaring disana bersama Arsy juga, dua orang yang dicintainya.

“Kak, Pelangi sayang sama Arsy jaga Arsy ya”
“Lo mo kemana?”
“pergi, gua tinggal di Thailand aja ama papa. lo punya Arsy kejar dia”
“Gua juga bakal ngejar malaikat gua disana”
“Elo lebih penting dek”
“Elo juga kak”
“Dibanding mainan yang pernah kita rebutin dulu”
“Dibanding hati yang sekarang juga kita rebuti, tapi hati itu lebih dulu memilihmu kak, dan aku gak berhak untuknya, love you kak”

Cerpen Karangan: Aulia Taureza
Facebook: Ataureza Aulia
masih tahap belajar, chat me! untuk nambah temen sekaligus pengalaman. makasi 🙂

Cerpen Cinta Bukan Dinding Pemisah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Angan Tak Sampai

Oleh:
Koridor sekolah nampak ramai. Bagaimana tidak, hari ini adalah pengumuman penerimaan siswa baru. Yup! Papan pengumuman sudah penuh dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Hampir saja ia ditabrak-tabrak puluhan

Putih Abu-Abu

Oleh:
Berseragam putih abu-abu terasa paling menyenangkan dari SD-SMP. Masa puber tumbuh, berteriak sana-sini, mengagumi teman cwek & cwok mulai dari yg biasa-biasa saja sampe luar biasa dan merupakan masa-masa

Lomba Puisi

Oleh:
Hai teman teman! Perkenal kan nama ku Syarifa Camila panggil saja Rifa. Aku mempunyai tubuh yang langsing tinggi, kulit yang putih, rambut yang lebat dan panjang, dan mempunyai sifat

Teman Terdekat Menjadi Cinta

Oleh:
“Besok jalan gak?” suara Yuda mengagetkan tiba-tiba “besok… hmm nggak dulu deh aku lagi capek, maaf ya Yud” suara ku memelas. “ohh ya udah gak papa, kamu istirahat aja”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Cinta Bukan Dinding Pemisah”

  1. Riska Yuliana says:

    Y…lumayan bagus walau kata2 nya ada yg mbingungin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *