Cinta Ku Milik Sahabat Ku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 January 2016

Aku hening sejenak memikirkan jawaban apa yang tepat untuk diutarakan. “sudahlah…” kataku.
“ternyata kamu suka dengan dia juga?” tanya Diki yang memotong pembicaraanku. “ah.. sudahlah lupakan.” jawabku.
“jika benar begitu. Bagaimana kamu merebutnya? Kamu kan… hehe.” katanya yang seolah mengejek, “sudahlah.. jangan bahas itu lagi.” ucapku sambil meminum minuman yang tadi aku beli. “kenapa juga aku sampai keceplosan seperti itu di depan Diki.” kataku dalam hati dengan kesal.

Saat keesokkan harinya ketika sedang istirahat dan seperti biasa aku sedang memperhatikan jam dinding tiba-tiba Adit dan Raka datang menghampiriku. Ku lihat Adit terlihat cemas dan agak menarik-narik tangan Raka. Brakk. “Nur. Kenapa kamu tidak bicara dari dulu kalau kau menyukai Aulia?” kata Raka dengan nada keras dan langsung menggebrak meja dengan wajah yang begitu marah. “aku kecewa padamu. Ternyata kau bersembunyi di balik kependiamanmu itu.” lanjutnya lagi. “ada apa kalian ini?” kataku dengan sedikit heran dan penuh tanya sambil memerhatikan mereka. “ah.. sudahlah. aku tidak mau mendengar alasanmu mulai dari sekarang kita bukan teman lagi.” ketusnya dengan menunjuk ke arahku.

Kata-kata itu terdengar dengan jelas di ruangan yang tengah kosong ini dan membuat telingaku terbuka dan membuat aku terkejut. Diki datang dan memperkeruh suasana di tengah amukan Raka yang memang sulit sekali menahan amukannya. “aku mendengarmu kemarin. Iya kan?” kata Diki dengan nada ngeyel dan membuat suasana ruangan semakin memanas di tengah teriknya mentari di luar sana. “sudahlah teman-teman. Jangan jadikan hal ini sebagai bibit-bibit permusuhan dan perselisihan.” Adit mencoba melerai dan berusaha menenangkan Raka.
“tapi dit…” kata Raka. “lagi pula aku tidak mempermasalahkan hal itu kan?”
“memang tidak. Tapi ia telah menodai janji persahabatan kita lagi pula dia telah berbohong kepadamu tentang perkataan seminggu yang lalu dan.. dan aku juga suka padanya.” katanya dengan nada yang semakin tinggi dan membuat kami terkejut dengan pernyataannya.

“tapi.. aku tidak pernah setuju dengan janji itu dan perkataan itu pun..” kataku mulai membentak. Aku 100% berbalik dengan sifatku yang pendiam.
“terserah apa katamu. Yang jelas kau telah melanggar janji kita.” kata Raka dengan suara keras memotong kemarahanku. “sudahlah.. sudah.. kataku juga jangan permasalahkan hal ini.” kata Adit yang terlihat lesu dan berkeringat dengan mata yang sedikit sendu mendengarkan kemarahan kami berdua.
“mengapa jangan? Ini memang masalah yang harus diselesaikan kan?” kata Raka.

“kamu juga Diki. Kenapa kamu sebarkan hal semacam itu? Sudah ku bilang lupakan pembicaraan itu.” kataku. “aku tidak menyebarkannya. Aku hanya memberitahu mereka.” kata Diki.
“Raka. Apa kamu tidak tahu kalau Diki juga menyukai Aulia? Dan sekarang kau juga suka.” tanyaku. “tentu saja aku tahu tapi Diki memang sifatnya seperti itu lagi pula dia tidak pernah serius dengan ucapannya. Kita tahu hal itu kan? Dan juga dia tidak ada niatan untuk merebut Aulia dari Adit. Adit tahu aku suka pada Aulia.” kata Raka dengan kemarahan yang semakin tidak tertahankan.

“tapi…” kataku sebelum terpotong dengan kedatangan Aulia dan langsung angkat bicara. “ada apa ini? kenapa ribut?” katanya dengan wajah penuh tanda tanya.
“begini dia Nur menyukaimu. Secara diam-diam dan mungkin akan menghancurkan hubunganmu dengan Adit karena dia sudah punya niat.” kata Diki. Suasana hening sesaat.
“aku tidak akan menghancurkan hubungan kalian dan aku tidak punya niatan seperti itu. Aku juga tidak mau kalau persahabatan kita ini hancur..” jelasku.
“munafik kamu..” kata Raka dengan sedikit meludah di hadapanku. Tingkat emosiku meningkat. Brukk!!

“apa? aku munafik? Apa kamu juga tidak merasa munafik?” kataku sambil membentak sambil menggebrak meja. Aku melihat Adit tertunduk dengan perasaan marah dan merasa bahwa dirinya yang berdosa. “sudah cukup.. kalian bukan lagi sahabatku yang dulu yang aku kenal.” kata Adit sambil berjalan ke luar meninggalkan kami semua. Tampaknya dia kesal mendengar ocehan kami yang tak kunjung selesai. “Adit… awas kamu ya.” kata Raka sambil menunjuk padaku dengan mata yang sinis. Aulia juga pergi menyusul Adit.
“Apa kamu Diki?” Diki hanya termenung menyadari kesalahan besar yang telah diperbuatnya. Aku pun pergi ke mejaku lagi dan termenung.
“sekarang aku tidak punya teman.” kataku dengan wajah murung. Ku lihat Diki masih berdiri di tempat konflik tadi aku pun teringat perkataan Adit tadi. “Kalian bukan lagi sahabatku yang dulu yang aku kenal!” kata-kata itu menyentuh hatiku yang beramarah.

“Seharusnya aku sadar diri. Mana mungkin wanita secantik Aulia mau denganku. Aku juga seharusnya sadar Adit itu memang tampan apalagi kulitnya yang putih itu membuat wanita tergila-gila. Dan itu juga sebabnya mungkin Aulia mau dengan Adit dan memang mereka adalah pasangan yang serasi antara tampan dan juga cantik. Seharusnya aku juga jangan terlalu membentak Raka dia kan memang begitu orangnya lagi pula dia juga suka sama Aulia.” pikirku dengan wajah agak sedih. “Sekarang aku sendiri tanpa teman dan tanpa kawan.” kataku sambil melihat ke luar jendela. Di luar mendung mulai datang dan sepertinya akan turun hujan.

Bel tanda istirahat berakhir pun telah berbunyi. Semua orang masuk ke kelas. Terutama Diki yang berdiam diri di depan kelas pun beranjak menuju kursinya yaitu di sebelahku. Aku melihat wajahnya dengan diam-diam. Wajahnya terlihat muram dan malu seperti ada yang mau dibicarakan denganku. “apa mungkin dia mau minta maaf?” gumamku. Tapi ku lihat ia terlalu malu untuk meminta maaf. “apa harus aku yang meminta maaf terlebih dulu? tapi.. dia yang salah kan?” pikirku bingung. “lebih baik aku yang meminta maaf terlebih dulu. Karena aku yang sebenarnya bersalah telah menodai janji persahabatan dan membuat Raka kecewa.” gumamku lagi.

“Dik…eem…a..a..aku mau minta maaf padamu. Aku telah menodai persahabatan kita.” kataku.
“tak perlu minta maaf. Akulah yang salah aku tidak tahu kejadiannya akan seperti ini tadinya aku hanya bercanda seharusnya aku juga melupakan hal itu walaupun kata-kata Raka tadi itu salah karena aku serius bahwa aku menyukainya. Jadi maafkan aku..” katanya dengan wajah memelas dan membuatku juga agak terhibur. “tak apa. Aku yang salah.” jawabku dengan sedikit senyum. “tidak. Kamu tidak salah aku yang salah aku yang menyebabkan semua ini terjadi.” katanya lagi.

Kami pun saling bersalaman dan kembali menjadi teman. Aku dan Diki pun berencana meminta maaf kepada Adit. Raka dan Aulia. Saat semua pelajaran berakhir aku dan Diki pergi ke kelas Adit dan Raka. Tetapi kami tidak melihat mereka aku pun pergi ke taman lagi-lagi mereka tak ada. Diki pun mencoba menanyakan mereka ke teman sekelas mereka. “katanya Adit dan Raka tadi saat bel pulang berbunyi langsung pergi.” kata Diki. “lalu ke mana?” tanyaku.
“dia bilang tidak tahu. Tapi sepertinya terburu-buru.” katanya. Kami pun menemui Aulia di kelasnya berharap ia belum pulang. Ketika kami sampai di kelasnya tidak ada seorang pun di sana. Kelas itu telah sepi ditinggal penghuninya. Tapi aku melihat tas Aulia masih ada di dalam kelas.

“ke mana mereka?” pikirku dan mungkin sama dengan pikiran Diki. Kami pun menyusuri sepanjang lorong sekolah yang telah sepi hanya segelintir orang yang masih ada di sana. Kami pun pulang dengan wajah murung. “Nur.. bagaimana kalau kita ke rumahnya Adit saja?” saran Diki. “tapi apakah Adit akan memaafkan kita?” tanyaku. “entahlah…” kata Diki.

Itulah percakapan kami sebelum kami sampai di ujung lorong sekolah. Saat kami melangkah ke luar lorong sekolah rintik hujan datang. Kami mengurungkan niat untuk pulang. Kami menanti hujan itu berhenti. Tetapi hujan semakin deras aku hanya memandang butir-butir hujan yang jatuh tanpa sepatah kata pun ke luar dari mulutku. Walaupun Diki mengajakku bicara. Akhirnya hujan semakin mereda aku melihat Diki kesal karena aku tidak berbicara dengannya aku hanya senyum tipis di baliknya.

“ayo Dik… kita pulang.” kataku dan ternyata Diki kelihatan masih kesal. “ya sudah. Aku pulang terlebih dulu.” lanjutku. Tiba-tiba. “hei…Nur…Diki..” teriakan itu membuatku menghentikan langkahku dan menengok ke arah belakang dan ku lihat Diki juga demikian. Aku sangat kenal dengan suara itu dan ku lihat samar-samar dari kejauhan 2 orang laki-laki dan seorang wanita berjalan agak cepat menuju ke arahku. Diki pun menghampiriku dan kami hanya diam melihat mereka. Ternyata mereka Adit. Raka dan Aulia. Mereka telah sampai di hadapan kami. Kami semua saling menunduk kecuali Aulia ia menatapku.

“A..a..aku mau minta ma..maaf. Aku seharusnya tidak menuduhmu yang tidak-tidak. Dan tak seharusnya aku memarahimu.” kata Raka dengan sedikit terbata-bata dan menggaruk-garuk kepala. “iya tak apa. Sebenarnya aku yang salah jadi maafkan aku.” balasku dengan senyum malu.
“aku juga minta maaf. Seharusnya aku tahu dari dulu bahwa kamu menyukai Aulia dan merelakannya untukmu.” kata Adit. “tidak bukan kamu yang salah Dit. Akulah yang salah seharusnya aku mengerti bahwa kamu memang cukup terkenal di sekolah dan aku hanya seorang anak jelek yang pendiam dan pemarah.” kataku sambil murung.

“jangan berkata itu Nur.. aku ikhlas kalau kamu mau dengan Aulia.” jawab Adit.
“tidak. Aku sudah memutuskan untuk membiarkannya bersamamu.” jawabku.
“maafkan aku juga telah membuat persahabatan kita renggang dan hampir hancur.” kata Diki. Kami pun saling bersalaman dan saling meminta maaf.
“aku juga mau minta maaf.” kata Aulia. “kenapa? kamu kan tidak salah apa-apa.” kata Raka penuh keheranan.
“aku merasa berdosa membuat persahabatan kalian yang erat menjadi hancur gara-gara aku.” jawabnya.
“sudahlah Aulia. Kami yang salah kami terlalu mementingkan ego daripada teman.” kata Raka.

Kami pun tersenyum bahagia di tengah gerimisnya bekas hujan tadi dan kami pulang bersama-sama. Dan akhirnya sinar mentari mulai menyinari bumi lagi kemilau warna pelangi kembali muncul di balik awan yang masih kelabu. Aku hanya berpikir, “Jadi.. Kapan aku mendapatkan pasangan?”

Cerpen Karangan: Nur Hidayat
Facebook: Nur Hidayayat

Cerpen Cinta Ku Milik Sahabat Ku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lagu Kita

Oleh:
Ketika cahaya bersinar, menembus celah-celah kecil jendela. Udara sejuk menyentuh hingga ke raga. Hembusan angin terdengar mendesah berirama. Bunga pagi serentak merekah merona. Ketika bunga tidur terbuyarkan oleh mata.

Ada Cinta dalam Al-Qur’an

Oleh:
Disaat matahari belum terlalu tinggi, Clara seorang gadis SMA sedang bersiap – siap untuk pergi ke sekolah untuk menunaikan kewajibannya sebagai pelajar. Aku pergi ke sekolah dengan jalan kaki,

Aku dan Kamu

Oleh:
Hari ini aku datang mengunjungimu. Aku hapus beberapa daun yang mencoba menghalangi pembaringanmu. Ah aku tak bisa melupakan itu, kenangan yang kita torehkan bersama. Kenangan yang dimulai di tempat

I Love Indonesia

Oleh:
Kalina Candrika Candrawati adalah seorang gadis kelahiran Washington DC, Amerika Serikat, 30 Oktober 2002. Tapi Kalina, seperti orang Indonesia kebanyakan, berambut hitam dan bermata cokelat bening. itu karena Mama

Dibalik Diamnya Sahabat

Oleh:
“Dinda. Cica,” panggil seorang anak perempuan berambut ikal dikucir kuda, namanya Talia. Ia menatap heran ketika kedua sahabatnya itu diam saja saat dipanggil olehnya. Kemudian ia memutuskan untuk menghampiri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *