Cinta Ku Terbelenggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 14 February 2016

Aku mengenalnya di tempat ini, di sebuah jalan penghubung antara dua kota yang tak layak disebut jalan poros. Jalur yang terbentang antara Samarinda dan Berau. Awalnya dimulai dari pertemuan yang tak disengaja, hingga akhirnya tukaran pin BB dan nomor hp. Semua mengalir begitu indah. Laksana dedaunan yang tertiup angin di musim semi. Aku melayang dalam buaian asmara. Menari-nari dalam khayalan indah di taman surgawi. Aku masih ingat saat itu. Di kala tiga pengembara waktu menyatu dalam terik, dia dentangkan jantungku dengan kata-kata manis yang seharusnya tak langsung ku telan begitu saja.

“Riana, aku menyayangimu. Maukah engkau menemani sisa dari hidupku?”

Itu katanya! Dan kau tahu kawan, aku menangis waktu itu. Bahagia. Ingin rasanya aku menghentikan waktu dan meresapi setiap uliran kata yang Eric ucapkan saat itu. Anganku kian melayang, menembus lingkaran waktu yang tak semestinya ku jelajahi. Aku salah menentukan arah. Aku terlena dalam elusan badai. Dan akhirnya aku terhempas dalam luka yang digalinya untukku. “Maafkan aku Riana, sebaiknya kita berteman aja. Aku sudah berusaha untuk menyayangimu sepenuhnya. Tapi Aku belum mampu melupakan masa laluku. Aku belum bisa berlalu dari bayang-bayang Iren. Mungkin aku terlalu menyayangi Iren, sehingga aku tak bisa melupakannya. Sekali lagi maafkan aku.”

Deretan kata yang Eric ucapkan itu, ku rasa bagaikan bom atom yang menghancurkan hatiku. Dan untuk yang kedua kalinya, aku menangis karenanya. Aku bahkan menyalahkan Tuhan saat itu. Mengapa Tuhan menghadirkan dia di hidupku kalau hanya datang untuk menyakitiku. Dua puluh satu hari kawan, yah, hanya tiga minggu lamanya aku merasa dimanjakan oleh kasih sayang yang tak seharusnya aku sebut cinta. Dan di hari berikutnya, dia merobohkan tiang pengharapanku, padahal di tiang itu pula ku gantungkan segenap masa depanku.

“Sudahlah Ri, jangan kau habiskan waktumu hanya memikirkan laki-laki kayak Eric. Dia itu tak pantas untuk kau pikirkan. Lelaki macam itu pantasnya ditaruh di kursi cadangan.” Roy sahabatku mulai berceloteh. “Lo pikir pemain bola. Tak semudah itu Roy, gue tak habis pikir, apa coba salah gue?”
“Riana, kesalahan lo itu karena terlalu percaya sama dia. Dia itu cuman menganggap lo tempat pelarian.” Eno pacar Roy tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Ah, lo No, kayak hantu aja. Tiba-tiba muncul gitu aja. Kalau datang tuh kasih salam kek, supaya kita gak jantungan di sini.” ujarku ketus.
“Emang dia hantu, Riana. Dia selalu menghantui hatiku.” Roy kembali berceloteh dengan gombalnya.
“So sweet..”
“Mulai deh, Lebay…”

Aku pergi meninggalkan mereka yang lagi kasmaran. Keduanya adalah sahabat-sahabat yang selalu hadir menemani setiap resahku. Menghiburku di kala sepi, dan menyemangatiku di saat aku terpuruk. Terkadang aku merasa iri dengan hubungan mereka. Mereka terlihat tampak bahagia, seakan semua yang mereka rasakan saat itu tak akan berakhir. Sehari berlalu, seminggu berganti, dan sebulan berjalan. Semua mengalir mengikuti arusnya waktu. Persahabatan kami bertiga semakin erat. Berbagai keceriaan kami tumpahkan dalam kebersamaan. Namun sesuatu yang tak bisa ku pungkiri mengancam retaknya persahabatan kami di bulan kedua. Sesuatu yang tak pernah ku sangka dan tak pernah terbesit dalam hatiku menguji teguhnya persahabatan kami. Itu terjadi di suatu malam, di saat sang bintang tak mampu menandingi eloknya sang raja malam.

“Riana,”
“Yaa, ada apa?”
“Boleh aku ngomong sesuatu?”
“Apa? Serius amat.”
“Ini serius Riana.”
Aku berbalik menatap Roy. Mencoba mencari apa yang ada di dalam benak lelaki bermata sayu ini. Tak biasanya Roy berucap seserius itu.
“Apa?”
“Aku, aku mencintai kamu.”
“Apa? Lo bercanda kan Roy?

“Nggak Riana. Aku nggak bercanda. Aku mencintaimu sejak dulu. Sejak pertama kali aku mengenalmu, rasa itu sudah ada. Aku tak tahu mengapa saat itu aku tak berani mengungkapkannya.
Dan kau tahu Riana, saat aku mencoba mengumpulkan keberanian dan membangunnya menjadi sebuah tembok keikhlasan, tembok itu kemudian hancur berkeping-keping dalam sekejap, saat ku saksikan dengan mata kepala sendiri, kau begitu ceria menerima uluran cinta dari hati Eric.”

Aku terdiam dalam kebimbangan. Roy kemudian meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat. Ku rasakan aliran kasih sayang dari Roy menyentuh hatiku. Namun di detik kemudian, aku tersentak. Aku hampir saja terlena oleh rasa yang tak semestinya ku rasakan. Aku menarik tanganku dari genggaman cinta Roy.
“Ngga Roy. Lo milik Eno. Nggak seharusnya gue hadir di tengah-tengah kalian berdua.”
“Tapi Riana, aku nggak mencintai Eno.”
“Apa? Nggak cinta kata lo! Selama ini lo bermesraan dengan Eno dengan sangat romantis dan lo bilang itu bukan cinta. Berengsek lo Roy.”

ADVERTISEMENT

“Terserah kamu mau bilang aku ini apa Ri! Tapi semua ini aku lakukan karena aku cemburu melihat kau dengan Eric bermesraan. Dan aku tak mau kau mengetahui hal itu. Makanya aku menjadikan Eno sebagai pacar agar kau tak menyadari kecemburuanku. Sungguh Ri, aku terpaksa melakukannya.”
“Tapi mengapa harus Eno yang lo jadikan pelarian, Roy? Mengapa harus sahabat gue?”
“Maafkan aku Ri, aku tak bisa berpikir saat itu. Aku dibutakan oleh kecemburuan. Sekali lagi aku minta maaf Ri!”
“Lo pergi dari sini. Gue nggak mau lihat muka lo lagi. Pergi!
“Tapi Ri, aku..”
“Pergi!”

Aku menangis saat itu. Tiada isakan, tidak juga histeris. Hanya saja dua benih kristal yang mengalir dari sudut mataku menandakan bahwa itu kekalahanku. Aku kalah menaklukkan perih. Jujur, dari hatiku yang terdalam, rasa itu memang sudah ada. Sebuah rasa yang harus ku kubur rapat-rapat. Aku takut dengan menuruti alur hatiku, aku akan terjerembab dalam lingkaran cinta yang bukan tak mungkin akan menggoreskan luka di hati yang lain.

Aku tak tahu apakah aku salah dalam mengambil keputusan. Yang aku tahu, aku tak mau persahabatanku dengan Eno berantakan hanya karena laki-laki. Entah sudah berapa lama aku berdiri mematung di tempat ini. Pandanganku hampa, pikiranku kacau. Aku tersentak dari perih itu saat gerimis itu mulai menyatu dengan air mataku. Namun aku lebih tersentak lagi saat sesosok tubuh dengan mata berlinang berdiri tak jauh dari tempatku.

“Eno,”
“sejak kapan lo di sini?”

Dia hanya diam membisu. Tatapan matanya kali ini cukup membuatku mengerti bahwa dia terluka. Di detik kemudian dia memelukku cukup erat. Sangat erat, bahkan aku tak menyadari isakannya. Namun sesuatu yang terasa hangat mendarat di punggungku cukup membuatku mengerti bahwa dia menangis. Beberapa menit kemudian Eno melepaskan dekapannya. Dan tanpa sepatah kata pun, dia kemudian beranjak pergi membawa sebuah kepedihan yang teramat sangat dalam, dan meninggalkanku yang terbujur kaku dalam ketidakberdayaan. Sejak saat itu, aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Roy pun entah ke mana perginya. Tak sedikit pun kabar tentang mereka yang ku terima. Mereka berdua bagaikan hilang ditelan bumi, sirna tanpa bekas.

Dan bagaikan seorang petualang, aku mengarungi samudera kehidupan ini seorang diri. Tanpa sahabat, dan tanpa cinta. Hingga di tahun ketiga sejak kepergiannya, Eno datang menemuiku dengan sejuta kegembiraan. Dia akan melangkah ke sebuah bahtera rumah tangga dengan seorang lelaki yang dikenalnya dua tahun yang lalu. Aku tak mengenal lelaki itu, namun dari cerita Eno aku bisa menyimpulkan bahwa mereka saling mencintai. Dan kau tahu kawan, aku bahagia saat itu. Sahabat lamaku telah kembali dalam keadaan ceria. Persahabatan kami pun kembali bersemi. Hingga di hari persandingan itu, aku menjadi tamu istimewa untuknya.

Namun dalam semaraknya pesta, mataku menangkap sesosok pria yang tak asing bagiku, duduk menyendiri menatap dengan senyum ke arah pasangan yang sedang bersanding. Yah, itu Roy. Tak mungkin aku bisa melupakan wajah itu. Aku bergegas mendekatinya. Namun langkahku terhenti saat seorang wanita yang sangat ku kenal menghampirinya. “Iren,” bisikku dalam hati. Aku kemudian melangkah mundur saat ku lihat Roy menyambut dengan mesra kedatangan Iren. Mataku panas. Air mataku jatuh tak terbendung. Hatiku terasa sesak. Baru ku sadari, ternyata rasa itu masih ada. Untuk yang kedua kalinya, Iren membelenggu kisah cintaku.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Iwan Konedra
Facebook: I-One De Vart Konedra

Cerpen Cinta Ku Terbelenggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arti Penyakitku

Oleh:
Agustus 2005, adalah awal aku menjadi siswi baru di salah satu SMA Negeri di Jawa Tengah tepatnya di kabupaten Brebes, perkenalkan aku Dita Chintya Ramadhanti, siswi kelas X.3 waktu

Menjelajah Alam

Oleh:
Aku berlari menuju kelasku, dan menjumpai sahabat-sahabatku yang sedang bercanda di taman sekolah. Namaku Azzahra biasa dipanggil Rara, seorang siswi kelas X SMAN Tunas Bangsa. Aku mempunyai 3 sahabat,

Cinta Dalam Hati

Oleh:
Namaku dinda aku kelas IX A, saat kelas 7 dan 8 aku pernah sekelas dengan cowok yang namanya arif. Sejak kelas 7 semester akhir aku mulai mempunyai perasaan ke

Alita dan Cintanya

Oleh:
Panggil saja gue Alfiansyah Ababil. Teman-teman suka memanggil gue Alfian atau Inyong. Entah awalnya bagaimana tiba-tiba gue di panggil Nyong Inyong. Sempat gue tanyain, mereka hanya menjawab muka gue

Perpisahan

Oleh:
“Dir, sekarang kita pulang bareng yah?” ucapku sembari memohon. “kaila kan aku udah bilang, sekarang sekarang ini kan aku lagi banyak tugas apalagi sekarang ini aku sibuk rapat osis.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *