Cinta Yang Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 7 June 2015

Aku terus memandangi hujan yang turun melalui jendela kamar yang tertutup oleh kaca. Jemariku menyentuh kaca itu. Terasa dingin di jariku. Padahal ini seharusnya sudah memasuki awal musim kemarau. Namun hujan berintensitas sedang masih sering turun.

Ku dengar suara ponsel Wina berbunyi. Aku membalikkan badanku dan meraih ponsel tersebut. Ada satu pesan dari orang bernama Angga. Aku baca pesan itu. “Sore Wina, lagi apa? Jaga kesehatan ya, hujan masih sering turun walaupun seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Jangan lupa minum vitamin C.” itulah pesan yang aku baca.
“Ih, Rena curang. Ngapain coba baca-baca pesan gue.” Kata Wina seraya merebut ponselnya yang masih kupegang.
“Apaan sih? Angga itu siapanya elo sih? Pacar ye?” tanyaku sambil agak cemberut.
“Kepo banget sih. Bukan. Angga itu temen gue. Tapi gue suka sama dia. Dia perhatian banget sama gue. Tapi dia nggak pernah bilang kalau dia suka sama gue. Itu yang gue keselin.” Katanya sambil memberikan secangkir minuman coklat hangat padaku.
“Thanks. Tapi yang gue lihat dari sms dia sepertinya dia suka tuh sama lo. Buktinya dia perhatian sama lo. Sampai segitunya lagi.” Kataku seraya mengerutkan kening.
“Udah deh. Nggak usah bahas dia. Gue punya komik Jepang baru. Mau baca nggak?” katanya seraya mengambil komik yang berada di meja. Lalu menyerahkan komik itu kepadaku.

Aku berjalan di jalan yang sepi siang itu. Hujan masih turun dengan derasnya. Aku menggunakan payung agar aku tidak basah. Jalan sepi, tak ada seorang pun yang melintas. Aku tengok kanan dan kiriku. Hanya ada derai air hujan yang menjatuhkan diri di jalan aspal itu.

Tiba-tiba aku mendengar suara yang mengejutkan. Aku menoleh ke belakang. Aku melihat seorang pria bersama motornya sudah tergeletak di jalan yang sepi. Aku berlari ke arah orang tersebut. Aku membantunya berdiri dan menuntunnya berjalan menuju kontrakanku.

Setibanya di kontrakan aku menyelimuti pria tersebut dengan selimut hangat. Aku pergi ke belakang untuk membuatkannya coklat hangat agar tubuhnya hangat dan tenaganya kembali pulih. Aku menghampirinya yang sedang terbaring lemas di sofa. Namun dia sudah sadar dan memandangi sekeliling.
“Sudah sadar ternyata. Ini aku buatkan coklat hangat agar kamu nggak kedinginan lagi.” Kataku seraya memberikan secangkir coklat hangat. Kemudian dia menerimanya dan meminumnya.
“Terima kasih. Namaku Yudha. Kamu siapa?” tanyanya seraya meletakkan cangkir yang berisi coklat hangat ke meja.
“Aku Renata. Kamu sudah nggak apa-apa kan? Sudah bisa jalan belum?” tanyaku.
“Aku baik-baik saja. Aku bisa jalan kok. Cuma luka-luka kecil aja kok.” Katanya sambil memeriksa kedua kakinya.

Lumayan lama kami mengobrol. Ternyata Yudha orangnya asyik diajak bicara. Dia adalah seorang mahasiswa di sebuah PTN. Umurnya hanya 2 tahun lebih tua dariku. Dan dia tinggal tidak jauh dari kontrakanku. Hanya seperempat jam perjalanan menggunakan motor.

Setelah puas mengobrol dan badannya kembali pulih, Yudha berpamitan pulang. Sebelum dia pulang, kami sempat bertukaran nomor ponsel. Dia juga berjanji akan sering main ke rumahku atau mengajakku ketemu di luar rumah.

Siang itu aku baru saja pulang dari kampus. Namun aku mampir ke rumah Wina. Katanya Wina ingin curhat sesuatu padaku. Aku langsung menuju ke rumah Wina. Sesampainya disana, aku langsung disambut oleh ocehan Wina. Lagi-lagi dia bercerita tentang Angga.

Setelah Wina puas curhat tentang Angga, giliranku curhat tentang Yudha. Wina nampak sangat serius mendengarkan curhatku. Mungkin karena sudah lama aku tidak curhat padanya tentang cowok yang dekat denganku. Yah, itu karena memang aku dulu tidak punya teman dekat cowok.

Saat aku curhat tentang Yudha kepada Wina, aku merasa bahwa aku memang benar-benar jatuh cinta kepada Yudha. Sudah lama aku tidak merasakan jatuh cinta setelah aku putus dengan pacarku dua tahun lalu ketika aku masih SMA. Sejak saat itu aku ingin menutup pintu hatiku untuk siapa pun. Namun sekarang berbeda. Yudha datang dan membawa kembali rasa itu. Rasa yang telah sekian lama menghilang.

Sore yang cerah itu aku baru pulang dari kampus. Aku berjalan pulang menuju kontrakanku. Kontrakanku sudah mulai terlihat pagarnya. Mungkin tinggal 100 meter lagi aku sampai. Lelah kurasakan di kakiku. Keringat pun membasahi sekujur tubuh.

Aku mengambil ponselku yang berbunyi dari tasku. Ternyata sms dari Yudha. “Renata, nanti malam bisa kan menemui aku di restoran yang biasanya kita bertemu? Ada sesuatu yang perlu aku omongin ke kamu. Usahakan datang ya, jam 7.” Begitulah sms dari Yudha.

Sesampainya di kontrakan, aku langsung menjatuhkan diriku ke sofa. Sekitar beberapa menit aku beristirahat. Kemudian aku mandi. Aku memilih gaun yang cocok yang akan kukenakan saat nanti ketika aku menemui Yudha. Setelah semuanya siap baru aku pergi ke restoran dimana aku dan Yudha berjanjian.

Aku sampai di tempat yang aku tuju. Aku melihat disana telah ada Yudha. Aku segera menghampiri Yudha. Saat itu melihatku, dia tersenyum sambil mempersilahkan aku untuk duduk. Dia menarikkan aku kursi agar aku duduk. Dia terlihat romantis sekali.

Setelah aku duduk, Yudha memandangiku beberapa saat lamanya. Kemudian dia tersenyum sambil meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku merasakan jantungku berdegup lebih kencang dari pada biasanya saat Yudha menggenggam tanganku. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat gugup di depan Yudha.

“Re, telah lama aku menyimpan perasaan ini kepadamu. Aku mencintaimu. Setiap malam aku bertanya pada diriku sendiri. Apa gerangan yang terjadi padaku? Namun sepertinya jawaban itu muncul ketika aku melihat matamu. Aku seolah menemukan apa yang selama ini aku tanyakan pada diriku sendiri. Aku mencintaimu Renata.” Kata Yudha seraya mencium punggung tanganku.
“Yudha, aku juga mencintaimu. Sudah lama hatiku tertutup untuk siapa pun. Namun kamu telah membuka kembali pintu hatiku. Aku merasa ada yang berbeda ketika aku berada di dekatmu. Aku merasa kamu telah membawaku kembali kepada hidupku yang dulu.” Kataku kepada Yudha. Mataku mulai berkaca-kaca. Namun aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Yudha.

Sejak malam itu aku resmi menjalin hubungan dengan Yudha. Aku sangat mencintai Yudha. Begitu pula Yudha. Dia selalu memperhatikanku. Dia selalu mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Terkadang dia juga membantuku untuk mengerjakan tugas kuliahku. Hingga akhirnya aku menyelesaikan skripsiku dan aku wisuda.

Aku mengundang Yudha dan kedua orangtuaku untuk datang ke acara wisudaku. Aku juga ingin memperkenalkan Yudha kepada orangtuaku dan kepada Wina.

Aku datang ke acara wisuda bersama orangtuaku. Dan Yudha akan menyusul nanti. Aku berjanji pada Wina bahwa aku akan memperkenalkan Yudha kepadanya. Aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan Yudha.
“Mana sih Re, pacar lo?” Tanya Wina tak sabaran.
“Ih sabar dong Win. Sebentar lagi juga datang kok.” Kataku sambil terus celingukan. Tak lama kemudian aku melihat Yudha menghampiriku sambil tersenyum.
“Eh itu pacar gue.” Kataku sambil menunjuk ke arah Yudha. Sementara Yudha terus menghampiriku.
“Itu kan Angga. Itu Angga yang gue ceritakan ke elo. Itu orang yang gue sukai.” Kata Wina tak percaya.
“Hai. Lho kamu kan Wina. Kamu temannya Renata ya. Selamat ya kalian sudah wisuda. Sudah jadi sarjana.” Kata Yudha sambil menjabat tanganku dan tangan Wina.
“Tunggu. Kamu ini Angga atau Yudha sih?” Tanya Wina.
“Namaku Angga Prayudha. Aku belum pernah menceritakannya pada kalian ya. Maaf.” Kata Yudha masih tetap dengan muka yang tersenyum.

Mengetahui bahwa orang yang dia cintai adalah pacarku, Wina tertunduk. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Aku pun merasakan apa yang Wina rasakan. Dan aku sungguh tak menyangka bahwa aku dan Wina mempunyai cinta yang sama.
Aku tak dapat menyalahkan Wina ataupun Yudha. Karena aku tau Yudha tidak selingkuh. Bukan. Aku tahu Yudha hanya berteman dengan Wina namun dengan nama yang berbeda. Dan aku menganggapnya wajar jika Wina mencintai sosok Yudha yang selama ini diketahui olehnya adalah Angga.

Sejak saat itu, aku merasakan ada yang berbeda dari sikap Wina kepadaku. Aku merasa Wina canggung kepadaku. Aku sengaja tidak memberi tahukan kepada Yudha bahwa Wina menyukainya. Yah, karena inilah permintaan Wina. Aku pun pernah bermaksud untuk mengakhiri hubunganku dengan Yudha, namun Wina melarangku. Wina tidak mau menjadikan dirinya sebagai alasan berakhirnya hubunganku dengan Yudha.

Wina sungguh baik. Dia tidak pernah marah kepadaku walaupun orang yang dia sayangi adalah kekasihku. Bahkan dia bertekad akan ikut mempertahankan hubunganku dengan Yudha. Dia hebat, dia rela menghancurkan hatinya sendiri untuk kebahagiaan orang yang dia sayangi. Aku tau dan aku merasakan hatinya hancur ketika melihat aku jalan berdua dengan Yudha. Maafkan aku Wina.

Cerpen Karangan: Dita Atma Nila Sari
Facebook: Dita Atma Nila Sari
Twitter: @ditaatma_ns
Sekolah: Sma N 1 Blora, kelas 10
Lahir: 7 Juni 1998
Alamat: Japah, Blora, Jateng

Cerpen Cinta Yang Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Laskar Putih Abu Abu

Oleh:
Remaja berkulit putih, berambut ikal, bertubuh tinggi, dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengejar impianya. Remaja itu bernama Viara, ia duduk di kelas 10 di salah satu sekolah modern

Alna

Oleh:
Namaku Alna Arasya Rena panggilanku Aar, umurku 17 tahun dan aku masih kelas 1 SMP. Ya umurku tak sesuai dengan tingkatan sekolahku, harusnya di umur 17 tahun ini aku

AAARRGGHH!! (Tanpamu) Part 2

Oleh:
Semenjak itu akupun mencoba untuk benar benar melupakan sosok seorang Anggi. Bagiku semua juga kan percuma bila aku selalu mengingatnya, hanya bisa membuatku sakit, membuat derita dalam hidupku. “Brow,

3 Hadiah Ulang Tahunku

Oleh:
Sahabat perkenalkan aku Milly, dan aku punya sahabat Niki, Niki itu sahabat aku dari SMP loh tahan lama kan persahabatan aku sama dia, dan aku punya pacar namanya Rio

Butterfly

Oleh:
“Loh pagi-pagi gini kamu kok sudah cemberut, jelek tau…” kata Rima yang melihat Nita yang sudah duduk termenung di bangkunya, teman-teman yang lain juga tampak berusaha menghibur Nita. “Benar,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *