Cinta Yang Tertunda (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 December 2017

Aku duduk di bangku halaman belakang rumahku, kenapa Andara bersikap seolah-olah kami tidak saling mengenal sebelumnya… Andara biasanya selalu bersikap hangat padaku. Teringat saat-saat di SMU, setelah kejadian Andara mengantarku pulang saat itu. Teman-teman di sekolah jadi membahas itu. Aku merasa tidak nyaman mereka tidak suka aku dekat Andara, tapi andara sepertinya tidak peduli dan tetap akrab denganku. Sampai pada sabtu siang itu, sepulang sekolah Andara mengajakku bicara karena aku suka ngehindar darinya.

“Kenapa kamu ngehindari aku Amel..” ucapnya.
“Mm nggak kok.” ucapku gugup.
“Dari cara kamu menjawab aja aku sudah tahu kamu berbohong.” ucap Andara.
“Kenapa aku ada buat salah sama kamu?” tanyanya, aku menggeleng.
“Lalu..” ucapnya.
“Mmm.. aku..” aku bingung ngejelasinnya.
“Apa karena gosip di sekolah ini?” tanyanya aku menatap Andara yang menatapku.
“Mmm iya..” ucapku akhirnya.
“Apa itu mengganggumu?” tanya Andara, aku diam aja.
“Bisa nggak kamu ncuekin semua itu.” ucap Andara.
“Aku cuma merasa semua yang dikatakan mereka itu benar.” ucapku.
“Benar..” ucap Andara.
“Iya.” ucapku.
“yang mananya, apa yang mengatakan kalo aku itu melihat sesuatu seharusnya dari fisik aja?” ucapnya.
“Bukan bukan itu tapi kamu seharusnya bergaul dengan cewek yang sepadan denganmu..” ucapku.
“Itu sama artinya” ucap Andara.
“Aku pikir kamu beda ternyata aku salah..” ucap Andara lagi.
“Oke… aku akan jadi seperti itu, tapi kalau diperhatikan..” ucap Andara sambil mendekatkan wajahnya padaku.
“Kamu itu cantik..” ucapnya lalu merapikan rambutku yang biasanya selalu menutupi sebagian wajahku, aku menarik wajahku menjauh.
“Matamu yang coklat muda itu sangat menarik.. hidungmu juga mancung kamu juga tinggi jadi di poles sedikit pasti lebih cantik dari mereka-mereka itu.” ucap Andara.
“Cuma kamu nggak pe-de.” ucapnya lagi.
“Tapi tunggu dulu.. seharusnya kalau sebagai teman kan nggak harus memandang semua itu namanya juga teman siapa aja boleh.. Kecuali pacar itu yang harus spesial..” ucap Andara sambil bersikap sedang mikir, jantungku berdetak keras.
“Atau kamu suka aku..” ucap Andara aku kaget… Andara senyum. Aku gugup..Andara masih menatapku. Aduh gimana ni…
“Jawab..” ucapnya.
“Iiiya…, tapi aku nggak berusaha ambil kesempatan kok..” ucapku gugup Andara tertawa.
“Kok kamu jadi lancar bicara saat buat alasan.” ucap Andara aku diam.
“Sudah nggak usah takut gitu.. Kalau kamu suka aku nggak apa-apa aku nggak bakalan memakanmu kok..” ucap Andara aku mempermainkan tali tasku rasanya pengen pergi aja dari depan Andara.
“Ayo pulang..” ajaknya.. Aku diam bingung dengan reaksi Andara..
“Ayo aku antar..” ucapnya lalu menarik tanganku dan Andara mengantarku pulang. Dia katakan setelah upacara senin dia mau bicara denganku.. Tapi semua itu tidak terjadi Andara tidak datang senin itu bahkan hari hari selanjutnya aku nggak tahu kenapa. Kata teman-teman Andara pergi ke luar negeri.. Kenapa dia berjanji padaku… kenapa dia tidak tepati.. Aku menunggunya sampai detik ini untuk menjelaskan semua tapi semua hanya harapan kosong…

Vino menatapku tajam, dia sedang bertamu di rumahku.
“Ini nggak benar lagi Mel, kamu kenapa jadi menjauh dari kami. Ada masalah apa sebenarnya?” tanya Vino. Aku mendesah pelan. Aku sulit mengatakan apa yang kurasakan saat ini.
“Amelia..” ucap Vino, aku menatap Vino yang sedang menatapku. Vino menungguku bicara…
“Maaf kalau membuat kalian khawatir, aku jadi seperti anak-anak ya…” ucapku pelan.
“Mel..” Vino menatapku lembut.
“Aku…aku nggak bisa di depan Andara..” ucapku akhirnya.
“Andara..?” ucap Vino heran.
“Aku pernah cerita tentang cinta pertamaku padamu kan, dia itu Andara.” ucapku sambil menunuduk.
“Tapi sepertinya Andara itu tidak mengenalmu sebelumnya.” ucap Vino heran.
“Itulah yang membuatku binggung dan aku nggak bisa mengendalikan hatiku setiap melihat Cesil akrab dengannya.. Aku nggak ngerti kenapa respon Andara seperti ini.” ucapku
“Jadi kamu masih mencintainya?” tanya Vino, aku mengangguk.
“Aku nggak tahan melihatnya terus di sisi Cesil tapi hanya dengan bertemu Cesil aku bisa melihatnya… Aku ingin selalu bertemu dia.. aku merindukannya..” ucapku terisak.
“Kenapa kamu nggak bicara aja langsung dengan Andara.” ucap Vino.
“Aku begitu kaget bertemu dengannya dan juga kaget dengan responnya yang seakan-akan tidak mengenalku. Dan akhirnya aku tidak berani untuk bicara. Setiap ku menatap matanya tak ada riak apa pun di sana tidak ada kehangatan yang dulu di matanya membuatku tak mampu bicara.” ucapku.
“Tapi kamu kan bisa bicara dan kalau kalian bicara kamu akan tahu kenapa dia seperti itu.” ucap Vino
“Aku nggak bisa Vin, di depannya aku menjadi seperti dulu diriku saat SMU, diam dan tidak berani. Aku.. aku merindukannya yang dulu.. tapi kini tidak ada kehangatan lagi darinya untukku” ucapku
“Aku akan bicara ke Andara..” ucap Vino.
“Jangan.. jangan Vin, Andara nggak suka kalau aku menjadi pengecut dia lebih suka aku bertanya tentang apa pun padanya dari pada menggunakan orang lain.” Ucapku.
“Kamu begitu peduli dengan dia tapi dia tidak peduli padamu..” ucap Vino.
“Andara nggak begitu.” ucapku.
“Kamu masih bela dia..” ucap Vino kesal.
“Maaf Vin.” ucapku.
“Kamu nggak perlu minta maaf padaku.” ucap Vino, aku diam.
“Aku akan bicara padanya tapi tidak sekarang.” ucapku pelan.
“Baiklah kalau itu maumu..” ucap Vino.

Sepulang kerja sore ini aku bertemu Karina lebih tepatnya karina menghampiriku ke kantor dan mengajakku ke Cacao.
“Loh Vino nggak ajak kamu ke Cacao?” tanyanya, aku menggeleng mungkin Vino masih marah sama aku.
“Dasar Vino untung aku mampir ke kantormu jadi kita bisa sekalian.” ucap Karina, lalu aku dan Karina pergi.
“Ada acara apa sih Kar.” ucapku.
“Acara kebersamaan, ikut aja lah.” ucap Karina, aku senyum.
Kami tiba di Cacao… kulihat ada motor Vino parkir. Kami lalu masuk dan menemui teman-teman. Melihat kedatangan kami Vino langsung berdiri sepertinya dia kaget. Emangnya kenapa kok aku merasa ada yang aneh..
“Hai..” sapa Karina pada semua lalu kami duduk.
“Oke sudah lengkap..” ucap Darko lalu muncul Cesil dan Andara..
“Hai kami datang.” ucap Cesil riang. Aku melirik Vino yang menatapku, ini alasan Vino tidak mengajakku kemari..
“Hei Vin kamu kok nggak ajak Amelia tadi.” ucap Karina pada Vino, Vino cuma senyum.

Ternyata ini acara Cesil, Cesil terpilih jadi mahasiswi study banding ke Australia tahun depan. Ini acara perayaan. Andara paling suka dengan cewek yang pintar apakah dia akan semakin tertarik pada Cesil. Kulihat Darko, Karina dan Jesi semakin akrab dengan Andara. Sedang aku tidak bisa karena perasaanku padanya, padahal aku yang lebih dulu kenal Andara..

“Mel kok melamun..” ucap Karina yang duduk di sisiku, aku cuma senyum. Cesil di sisi Andara begitu ceria. Aku menatap Andara ada perih di hatiku… Andara berpaling ke arahku dan menatapku juga. Kali ini aku tidak menghindar aku menatap matanya tajam.. Hatiku sakit.. tujuh tahun aku menantinya dan tidak ada satu pria pun yang kubiarkan menggantikannya lalu apakah ini yang kudapat dari penantianku.. Kalau pun kamu tidak kembali untukku setidaknya kamu harus tetap mengenalku.. Tetap hangat.. ini nggak adil Andara..

“Mel..” Vino sudah ada di sisiku tanpa ku sadari.
“Ayo kita pulang” ucapnya pelan, Vino tahu saat ini aku begitu emosi.
“Aku akan pulang sendiri.” ucapku berusaha menahan emosi.
“Tapi..” ucap Vino.
“nggak enak dengan Cesil kalau kita pulang lebih baik aku sendiri saja.” ucapku pelan sambil berdiri.
“Mau ke mana Mel?” tanya Jesi.
“Aku pulang dulu ya.” ucapku.
“Loh cepat amat..” ucap Darko.
“Iya aku..” kepalaku sedikit pusing, aku memegang kepalaku.
“Kamu kenapa?” tanya Vino, kulihat Andara ikutan berdiri kenapa? Apakah masih ada tersisa rasa kasihanmu padaku?
“nggak apa-apa, aku pulang dulu.” ucapku.
“Antarin Vin..” ucap Darko.
“nggak usah aku pulang sendiri aja..” ucapku lalu berjalan keluar Vino mengikutiku dari belakang. Sesampai di luar aku menyetop taksi lalu masuk ke taksi dan meninggalkan Vino yang terus menatap taksi yang kunaiki di depan Cacao. Rasanya sangat sakit, air mataku jatuh di pipi..

Aku berjalan di jalan setapak taman kota lalu berhenti melangkah dan berdiri di jalan setapak ini menikmati suasana taman. Pohon-pohon yang rimbun dan besar membuat taman ini teduh dan nyaman. Aku melihat ke atas pepohonan dan juga menatap langit yang biru. Lalu aku kembali berjalan dan kaget melihat ada Andara di depanku menatapku.. Ini bukan halusinasiku aja kan.

“Amelia..” ucapnya aku tidak menjawab dan hanya menatapnya.
“Apa kamu kenal aku sebelumnya?” tanyanya aku kaget kenapa dia bertanya padaku seperti itu.
“Kulihat kemarin kamu menatapku dengan tatapan yang sangat marah, aku yakin pasti kamu ada alasan melakukan itu. Apa kita saling mengenal?” ucapnya, ada apa sebenarnya ini.. Aku menatapnya heran.
“Maaf, aku lupa dengan masa laluku.” Ucapnya aku semakin kaget.
“Karena kecelakaan yang aku alami saat SMU aku menjadi lupa siapa diriku..” ucapnya, jadi Andara lupa samaku.. jadi selama 7 tahun ini dia tidak sedikit pun mengingatku. Jadi.. kakiku gemetar, tubuhku lemas..
“Kamu baik-baik saja?” ucapnya. Bagaimana aku bisa baik-baik saja mendengar semua ini..
“Amelia..” panggil Andara, aku melangkah ke bangku taman yang tak jauh dari kami dan duduk di bangku itu, jadi semua ini sia-sia.. Andara ikutan duduk di sisiku.
“Kamu melupakanku itu artinya aku tidak penting.” ucapku.
“Kita memang saling kenal, aku pikir selama ini kamu hanya pura-pura..” ucapku lagi.
“Aku nggak pura-pura..” ucap Andara.
“Kita kenal di mana?” tanya Andara.
“Di sekolah saat SMU..” jawabku pelan.
“Kita kenal dekat?” tanyanya.
“Sebaiknya kita tidak perlu bicara tentang masa lalu yang sudah kamu lupakan, nggak ada artinya. Karena kalau pun kamu tahu semua akan terasa hambar karena kamu nggak akan merasakan masa itu.” ucapku.
“Setidaknya aku ingin tahu..” ucapnya.
“Sudahlah..” ucapku.
“Kenapa kamu menyembunyikan kisah kita..” ucap Andara.
“Kisah kita..?” ucapku sambil tersenyum kecil.
“nggak ada kisah kita..” ucapku lagi.
“Apa kita pernah pacaran..?” tanyanya.
“Tidak, kenapa kamu berpikir seperti itu.” ucapku.
“Karena saat mengenalmu aku merasa seperti ada hubungan denganmu.” ucap Andara, haruskah aku senang dengan sedikit perasaanya itu.
“Kita tidak punya hubungan apa pun..” ucapku.
“Aku nggak percaya, kalau kita tidak punya hubungan apa pun kenapa kemaren kamu menatapku penuh amarah..” ucapnya.
“Karena kita musuh sewaktu SMU..” ucapku asal.
“Musuh..” ucapnya sambil menatapku.
“Itu nggak mungkin perasaanku tidak mengatakan begitu.. dan aku nggak mungkin punya musuh seperti kamu. Kamu pendiam, tapi hangat dengan teman-temanmu selalu menjaga perasaan mereka. Kamu tulus dan apa adanya.” Ucap Andara kenapa dia bisa menilaiku seperti itu.
“Kalau aku musuhmu pastinya aku sangat jahat saat SMU..” ucapnya.
“nggak, kamu nggak jahat..” ucapku aduh kenapa aku harus meralat omongannya sih..
“nggak mungkin aku musuhmu kamu membelaku kamu begitu baik..” ucapnya.
“Kalau nggak percaya ya sudah aku mau pulang.” ucapku.
“Amelia..” ucap Andara aku cuek aja lalu aku berjalan cepat. Kenapa aku bertemu dia di sini di saat aku ingin menenangkan diriku.. Dan ide dari mana lagi mengatakan kalau kami musuh.. apakah karena aku marah padanya, kenapa aku harus marah ini bukan salahnya. Ini diluar kendalinya.. tapi aku begitu sedih dia melupakanku. Dan lagi apa gunanya aku katakan kalau kami akrab toh dia nggak merasakan apa-apa lagi tentang masa itu, biarlah dia membuka lembaran baru hidupnya…

Andara sudah melupakan aku itu artinya aku harus memulai kehidupanku yang baru tanpa Andara. Ini sulit tapi aku harus.. Andara… kita kembali menjadi orang asing. Aku berbaring di tempat tidurku, selamat tinggal masa lalu.
Sudah dua hari aku nggak ke kantor karena sakit tapi hari ini sudah lebih baikan, Vino mengunjungiku.

“Ini yang kamu bilang mau melupakan kisahmu dengan andara, yang ada kamu sakit.” ucap Vino
“Aku sakit bukan karena itu..” ucapku. Kami duduk di ruang tamu.
“nggak usah berdebat denganku..” ucap Vino. Sepulang bertemu Andara di taman kemaren aku menelepon Vino menceritakan pembicaraan aku dan Andara di taman.
“Kamu harus cerita sebenarnya..” ucap Vino.
“Kamu gila.. apa aku harus bilang kalau aku selama ini menunggunya.. Atau aku mencintai dia sedang dia aku nggak tau bagaimana perasaannya.. Itu hanya pembicaraan sia-sia Vin, dia nggak ingat lagi dan dia nggak ngerasakan apa-apa lagi..” ucapku.
“Setidaknya dia tahu..” ucap Vino.
“Lalu setelah itu apa?” ucapku, Vino diam.
“Biarlah semua kisah ini menghilang.” ucapku.
“Aku nggak yakin kamu bisa.. Baru rencana aja sudah sakit.” ucap Vino.
“Aku sudah bilang aku sakit bukan karena itu..” ucapku cemberut, Vino tertawa aku mencubitnya kesal.
“Aduh sakit banget kamu nyubit.” ucap Vino.
“Biarin.. sini aku tambahin..” ucapku lalu mencubit lengan Vino, Vino menangkap lenganku aku tertawa. Vino ngehindari cubitanku.

“Aduh mesranya..” aku dan Vino kaget dan menoleh ke pintu. Karina.. Darko, Jesi, Cesil dan.. Andara.
“Katanya sakit eh ternyata..” ucap Karina sambil duduk di sisiku aku diam.
“Iya dia sakit tapi masih punya tenaga untuk mencubit.” ucap Vino.
“Ngeganggu neh..” ucap Darko sambil duduk di sisi Vino lalu merangkul bahu Vino.
“Apaan..” ucapku. Jesi, Cesil dan Andara pun ikut duduk. Kenapa ada Andara sih..
Lalu muncul Jems adikku.
“Loh.. jadi rame..” ucapnya.
“Iya Jems kami datang menyerbu kakakmu..” ucap Darko, Jems senyum.
“kalau gitu tunggu ya kak en abang Jems ambil minuman dulu.” ucap Jems.
“Sekalian cemilannya ya Jems..” ucap Jesi kami semua jadi tertawa.
“Beres kak..” ucap Jems lalu ke belakang.
“Jadi tuan putri sudah sembuh ni.” ucap Darko, aku senyum.
“Itu karena dikunjungi pangeran Vino..” ucap Karina. Mereka tertawa dan terus menggoda kami. nggak sengaja aku melihat Andara.. dia menatapku tidak ikutan tertawa bersama teman-teman. Aku memalingkan mataku. Lalu Jems datang membawa minuman dan cemilan.
“Ayo silahkan di minum kak en abang.” ucap Jems.
“Terima kasih Jems..” ucap teman-teman.
“Ya..” ucap Jems sambil senyum dan tiba-tiba raut wajah Jems berubah.
“Bang Andara..” ucapnya, Andara kelihatan kaget Jems mengenalnya. Aduh Jems..
“Kapan abang kembali..” ucapnya.
“Kamu kenal aku..?” tanya Andara.
“Kamu kenal sama bang andara?” tanya Cesil.
“Iya..” ucap Jems lalu melihatku, aku menggeleng pelan memberi kode pada Jems.
“Kenal di mana?” ucap Cesil.
“Itu.. aku pernah lihat bang Andara main basket di pertandingan basket. Saat SMP aku juga pemain basket kami ketemu di pertandingan basket.” ucap Jems sedikit gugup.
“O ya..” ucap Cesil, Andara melihatku lalu melihat ke Jems.
“Tapi kok kayaknya Andara nggak kenal..” ucap Jesi.
“Itu..” Cesil tidak meneruskan perkataannya.
“Maaf Jems, aku nggak ingat kamu. Saat SMU aku pernah kecelakaan dan aku lupa siapa diriku.” Ucap Andara menerangkan, teman-teman kaget mendengarnya.
“Jadi karena itu abang nggak pernah muncul lagi?” tanya Jems.
“Ya, karena aku sendiri pun tidak tahu semua hal yang pernah kualami. Orangtuaku yang menceritakan kalau kota ini adalah kota asal kami.” ucap Andara, Jems melirikku.
“Jadi sedikit pun kamu nggak tahu tentang masa lalumu?” tanya Karina.
“Iya, karena itu aku kembali ke kota ini, berharap aku bisa ingat lagi akan masa laluku..” ucap Andara sambil melihatku, aku menunduk.
“Semoga kamu bisa kembali mengingat kembali masa lalumu..” ucap Jesi, Andara senyum.
Andara berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Jems.
“Kita akan kembali memulai pertemanan kembali, mungkin aku nggak bisa mengingat masa laluku tapi aku bisa kembali membuat ingatan yang baru tentang kamu..” ucap Andara pada Jems.
“Tentu bang..” ucapnya lalu mereka bersalaman.
“Ya.. itu benar..” ucap Cesil.
“Oh mengharukan..” ucap Jesi.
“Jangan lebay deh..” ucap Karina, Jesi tertawa. Mungkinkah bila semua di mulai dari awal akan seindah masa itu.. akankah Andara sehangat dulu..

“Okey kita juga bisa bantu Andara mengingat masa lalunya dengan membantu dia untuk mengunjungi tempat yang pernah dia kunjungi.” ucap Darko.
“Iya, bang Andara juga ada kasi nama tempat-tempat yang mau dia kunjungi. Tapi sebagian besar aku nggak tahu tempatnya.” Ucap Cesil.
“Kita kan baru lima tahun terakhir ini tinggal di sini.” ucap Darko.
“Mungkin kami bisa bantu, siapa tahu kami tahu tempatnya kami kan asli dari sini.” ucap Karina.
“Iya benar.” ucap Jesi. Aku dan Vino diam.
“Bang Vino dan kak Amelia juga mau bantu kan” ucap Cesil.
“Iya..” ucapku dan Vino tanpa menatap Andara.
“Oke ini sesuatu yang mengembirakan karena selama ini cuma aku yang tahu tentang ini sekarang semua tahu dan siap membantu. Sengaja kemaren merahasiakan ini takut kalau banyak yang tahu justru bang Andara akan diceritakan tentang hal yang tidak benar.” ucap Cesil.
“Iya, siapa tahu ada yang niat jahat.” ucap Karina.
Kalau sudah seperti ini, maka Andara akan selalu bareng kami dan jadi sahabat baru kami. Kenapa disaat ku ingin melupakannya dia justru selalu ada di sekitarku…

Teman-temanku yang baik itu bergantian menemani andara mengunjungi tempat-tempat yang mau di kunjungi Andara. Tapi belum ada hal apa pun yang bisa mengingatkan Andara tentang masa lalunya. Hari ini sepulang kerja aku melihat Cesil menungguku di rumah. Ternyata Andara menceritakan kepada Cesil kalau aku mengenalnya. Cesil bertanya kenapa aku nggak jujur dan ceritakan tentang kisah aku dan Andara di SMU. Aku menjelaskan ke Cesil kalau aku nggak ingin Andara hanya mendengarkan cerita kosong tanpa merasakan apa-apa. Aku ingin Andara mengingat semua dalam ingatan perasaannya sendiri. Lebih baik seperti yang Andara katakan pada Jems, mari memulai lagi semua dari awal. Cesil mengatakan kalau Andara hanya ingin mengetahui siapa aku di masa lalu Andara. Aku katakan kalau aku bukan siapa-siapa hanya seorang junior dari Andara. Aku berjanji akan bantu Andara tapi bukan dengan menceritakan masa lalunya. Cesil pun menyerah dengan kekerasan kepalaku. Cesil pulang..

Sepulang Cesil aku masuk ke kamar duduk di depan mejaku. Aku mengambil buku harianku dari laci mejaku dan membukanya perlahan.. Ini bukti kalau aku dan Andara punya masa lalu bersama.. Aku ingin kamu mengingat aku Andara.. Aku sangat ingin.. Hatiku terasa sakit.

“Kak..” Jems sudah ada di kamarku, aku menoleh.
“Kenapa kakak keras kepala..” ucapnya aku menatapnya nggak ngerti.
“Bukakah kakak sudah lama menunggu bang Andara lalu kenapa setelah dia di depan kakak justru kakak menjauhinya. Aku sudah dengar pembicaraan kalian, maaf kak bukannya aku mau ikut campur tapi kalau begini terus kakak yang sakit.” ucap Jems.
“Dia sudah melupakanku..” ucapku.
“Itu bukan keiinginannya.. Itu bukan salahnya.. Keadaan yang buat seperti itu kak..” ucap jems.
“Aku tahu, tapi aku nggak ingin dia mengingatku hanya dalam kenangan yang sudah berlalu.. Seandainya dia tahu semua lalu apa.. Dia nggak merasakan apa-apa.. Lebih baik dia tidak tahu sama sekali.” ucapku.
“Kak, kakak kecewa bertemu dengannya seperti ini?” ucap jems air mataku keluar.
“Kak, segala sesuatu di dunia ini Tuhan yang mengatur.. Kakak harus menerima setiap kejadian dengan ihklas. Tuhan punya rencana yang terbaik untuk kita kak.” ucap Jems berkata dewasa lalu jems merangkul bahuku aku menangis.
“Sabar kak, aku tahu ini sangat sulit tapi kita harus berharap pada Tuhan dan menjalani semua dengan ihklas.” ucap Jems.
“Terima kasih Jems..” ucapku.

Bersambung

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Cinta Yang Tertunda (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Slamanya

Oleh:
Senja yang dulu indah sekarang seakan tak berarti lagi pada seorang gadis yang sedang merenung karena telah kehilangan sahabat-sahabatnya yang slalu menemani suka maupun duka. Dulu sewaktu aku duduk

Persahabatan Halilintar

Oleh:
Matahari menjerang dan ayam pun berkukuk, mataku perlahan terbuka badanku pun susah untuk bergerak. Banyak perkataan dan pikiran yang menghantui pikiranku hanya untuk menjawab satu pertanyaan ini, apa maksud

Kehilanganya

Oleh:
Aku memcoba membukakan mata ku, yang terbangun dari mimpi indah ku, sorotan sinar mentari memantul ke arah jendela kamar “ya ampun sudah siang” gumam ku dalam hati segera ku

Cinta Untuk Sahabat

Oleh:
Aku (Rangga), Rio dan Randi adalah 3 sekawan sehidup semati. Kemana-mana kita pasti bareng. Kita kuliah di satu kampus yang sama, tempat makan favorit kami pun sama. Akan tetapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *