Cinta Yang Tertunda (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 December 2017

Hari ini kami akan berangkat liburan Vino menjemputku, kami kumpul di rumah Darko. Kami akan pergi ke villa milik keluarga Jesi. Semua sudah hadir kami lalu berangkat dengan mobil Darko. Aku sedikit lelah hari ini jadi aku tidur di mobil. Setelah tiga jam kami akhirnya samapi di villa Jesi. Udara malam menusuk kulitku aku kedinginan. Lalu berlari masuk ke dalam villa. Aku takut alergi kambuh. Setelah pembagian kamar kami kumpul di ruang tengah Vino menyalakan perapian. Daerah ini memang dingin dan villa Jesi di bangun dengan gaya Eropa dan pemandangan dari villa ini sangat bagus sehingga kami nggak pernah bosan untuk liburan kemari. Aku pakai jaket dan selimut brrrr.. dingin. Jesi dan Cesil membawa minuman hangat dari dapur. Lalu Cesil mendekati Vino depan perapian. Karina duduk tak jauh dariku di dekat Jesi, begitu juga dengan Darko dan Andara.

“Ayo minum biar hangat.” ucap Karina. Aku malas bangkit jadi tetap diam di balik selimutku. Andara mendekatiku dan duduk di sisiku.
“Ini minum coklat hangatnya supaya alergi kamu tidak kambuh di sini dingin banget..” ucap Andara sambil menyodorkan secangkir coklat panas.. Aku kaget dan menerimanya lalu meneguknya sedikit tapi.. Andara ingat aku alergi udara dingin? Aku menatap Andara.. Andara pun menatapku.
“Kamu alergi udara dingin?” tanyanya, aku mengangguk.
“Masih selalu dengan mengangguk..” ucapnya.. Apa.. Andara mengingat satu lagi kebiasaanku. Andara pun sepertinya kaget.
“Kenapa aku tahu alergimu dan kebiasaanmu sepertinya itu sangat akrab bagiku..” ucap Andara penasaran.
“Kenapa kalian kok serius amat bicaranya..” ucap Karina.
“nggak ada apa-apa..” ucap Andara lalu duduk agak menjauh dariku. Karina duduk di dekat Vino dan Cesil. Andara mulai mengingatku, aku melirik Andara dia sedang menatap kosong ke arah perapian.. Apa yang dia pikirkan saat ini.. Setelah menjelang tengah malam kami masuk ke kamar masing-masing.

Sabtu pagi semua sudah kumpul di ruang makan untuk sarapan.
“Kita keliling desa yuk, jumpai penduduk desa sudah kangen dengan mereka” ucap Jesi.
“Iya.., sambil beli persiapan untuk ntar malam, api unggun” ucap Darko.
“Yuk..” ucap kami lalu kami berkeliling desa.

Karena sudah sering kemari kami jadi kenal dengan penduduk desa sekitar villa. Setelah lelah berkeliling dan ngobrol dengan penduduk desa kami pulang ke villa. Setelah makan siang semua langsung ambil posisi ternyaman untuk tidur, tentu aja aku di sofa yang empuk hehe.. Aku lihat Andara sedikit pucat, Andara sakit? setelah istirahat siang, sore kami sibuk dengan persiapan api unggun ntar malam. Tapi sepertinya alergiku mulai kambuh. Aku langsung makan obat dan memutuskan ntar malam nggak ikut api unggun, padahal ada beberapa pemuda-pemudi desa yang kami undang pasti seru hu..uh.. alergiku…

“Kak ada bawa obat?” tanya Cesil.
“Obat apa?” tanyaku.
“Obat demam, bang Andara mulai meriang tu..” ucapnya.
“Andara sakit?” tanyaku Cesil mengangguk, lalu aku memberikan obat demam pada Cesil.
“Memang sebelum berangkat bang Andara kurang fit sih..” ucap Cesil lalu pergi memberi obat untuk Andara.

Malam tiba semua pada siap-siap pergi.
“Amelia nggak ikut ya?” ucap Jesi.
“Iya nih, padahal sudah makan obat tapi tetap aja kambuh..” ucapku.
“Kalau gitu kakak lihatin bang Andara ya, dia nggak ikut juga. Demamnya belum turun.” ucap Cesil
“Ya..” jawabku jadi kami akan berdua di dalam villa ini?
“Ada apa-apa panggil kami ya, kan kami di luar..” ucap Darko, aku ngangguk. Andara muncul di ruang perapian.
“Loh kok keluar dari kamar bang?” tanya Cesil.
“Lebih enak di sini sepertinya, ada perapian lagi biar hangat.” ucapnya lalu tiduran di sofa kesukaanku.
“Ya sudah, abang ditemani kak Amelia ya dia nggak ikut juga alerginya kambuh.” ucap cesil, Andara melihatku. Lalu mereka pergi sebelum pergi Vino mengacak rambutku
“Cepat sembuh ya..” ucapnya aku senyum.

Setelah kepergian mereka suasana jadi sepi.
“Kamu bisa mendekat ke sini nggak? Kalau lagi nggak enak badan gini aku nggak nyaman sendiri.” ucap Andara, aku mendekat padanya.
“Sorry ya aku ambil sofa favoritmu..” ucapnya lalu hening, sepertinya dia tertidur.
Huh bosan banget begini, aku perhatikan Andara apa demamnya tinggi. Aku memegang keningnya panas banget.. Aku lalu ke dapur mengambil air dingin dan handuk lalu aku mengompres Andara. Aku duduk di sisi sofa, mudah-mudahan demamnya segera turun. Aku terus menganti kompresnya. Andara terlihat gelisah Aku memegang kakinya dan mengurutnya pelan begitu juga tangannya. Sebaiknya aku panggil teman-teman. Saat aku mau berdiri Andara memegang tanganku kuat.
“Jangan tinggalkan aku, tetap di sini..” ucapnya pelan
“Aku panggil teman-teman dulu ya..” ucapku
“Tetaplah di sini, berjanjilah..” ucapnya lagi
“Baiklah..” ucapku Andara mengengam tanganku kuat, aku nggak bisa melapaskan tanganku. Gengaman tangan Andara terasa hangat. Aku menatap Andara kami sedekat ini tapi… ah aku lelah lalu menyandarkan tubuhku di sisi sofa. Kusentuh keningnya panasnya mulai turun. Andara mulai tenang dan tertidur, syukurlah.. Aku menyandarkan kepalaku di sofa dan nggak terasa aku tertidur..

Saat pagi hari aku terbangun dan ada selimut di tubuhku. Tanganku masih dipegang Andara. Aku melihat sekelilingku teman-teman pada tidur di sini rupanya. Aku kembali menatap Andara.. Tangan Andara memegang tanganku.. Eh.. berarti teman-teman melihat kami seperti ini. Aku langsung menarik tanganku dan Andara bergerak tapi tidak terbangun. Aduh jangan-jangan mereka berpikir yang tidak-tidak nih.. Aku langsung berdiri alergiku juga sudah sembuh. Kusentuh kening Andara panasnya sudah turun, sepertinya suhu tubuhnya sudah normal. Aku lalu berjalan ke teras depan villa hmm.. sebentar lagi kami akan pulang itu artinya berpisah dengan Andara. Ada perasaan tenang saat aku di dekat Andara semalam. Tanganku terasa hangat berada dalam gengaman tangannya, perasaan yang sudah lama tidak kurasakan..

“Hei..” Vino sudah ada di sisiku.
“Sepertinya kalian sudah baikan ya.. bergengaman tangan sambil tidur” ucap Vino.
“Itu karena andara saat demam tinggi ngigau dan memegang tanganku erat aku nggak bisa lepasin.” Ucapku menjelaskan.
“nggak usah dijelaskan, aku memang cemburu tapi aku nggak bisa menghalangi sesuatu yang secara natural terjadi. Mungkin mereka tidak tahu tapi aku tahu tentangmu dan Andara. Mungkin dia lupa sama kamu tapi perasaanya tetap sama meski dia nggak ngerti apa yang dia rasakan. Kamu menuntutnya mengingat perasaan yang tidak pernah dia lupa..” ucap Vino, aku menatap Vino. Vino memalingkan wajahnya padaku dan tersenyum.
“Perasaannya tetap ada di hatinya buat kamu..” ucap Vino.
“Seperti kamu terhadapnya..” ucap Vino lagi.
“Vino..” ucapku.
“nggak usah terharu gitu donk biasa aja lagi.” ucap Vino aku senyum.
“Hei yuk sarapan..” ucap Jesi dari pintu kami menoleh dan mengangguk lalu kami masuk dan kumpul dengan teman-teman di ruang makan. Andara kelihatan lebih segar.
“Siang ini kita berangkat pulang ” ucap Darko.
“Kurang panjang rasanya liburannya” ucap Cesil.
“Lain kali kita kemari lagi..” ucap Darko, semua mengangguk setuju. Siangnya kami berangkat pulang kembali ke rumah.

Hari ini aku menemani Andara mengnjungi sekolah SMU kami dahulu. Teman-teman yang lain nggak bisa menemani jadi kami berdua aja. Suasana sekolah sudah mulai sepi hanya siswa yang ikut ekstra kurikuler yang masih asyik di sekolah. Aku dan Andara berjalan di koridor sekolah. Tadi kami menemui penjaga sekolah dan pak Sarmo masih menjadi penjaga sekolah ini. Pak Sarmo senang atas kunjungan kami, meski Andara tidak ingat masa-masa SMU tapi dia masih seperti dulu akrab dengan pak Sarmo. Mungkin benar yang Vino katakan mungkin dia tidak ingat tapi hatinya masih bisa merasakan.

“Mel..” tegurnya aku menoleh padanya
“Dulu apa aku suka bermain basket di lapangan ini..” tanya Andara saat kami berjalan di dekat lapangan sekolah. Ada siswa yang bermain basket di lapangan.
“Iya, kamu suka sekali bermain basket..” ucapku
“Aku dan Cesil sudah pernah kemari.. tapi aku nggak merasakan apa-apa..” ucap Andara
“Tapi kali ini aku merasa melihat aku bermain di lapangan itu..” ucap Andara lagi masih dengan menatap lapangan sekolah. Aku menatapnya.. mungkinkah dia mulai ingat..
“Tapi.. rasanya jauh banget..” ucapnya pelan.. wajahnya kelihatan sedih.. Andara…
“Jangan terlalu memaksakan diri, kamu harus secara perlahan mengingat dan merasakannya..” ucapku pelan. Lalu dia berjalan ke lapangan aku mengikutinya. Dia menyapa siswa-siswa yang bermain basket di lapangan itu lalu masuk ke lapangan. Aku berdiri di pinggir lapangan. Dan akhirnya Andara bermain basket dengan siswa-siswa itu. Andara kelihatan senang banget dan aku seperti melihatnya saat bermain basket bersama teman-temannya dulu.

Andara asyik sekali bermain siswa-siswa itu juga senang bermain dengan Andara yang masih lihai aja bermain basket. Andara berpaling ke arahku aku senyum. Dia berhenti bermain dan berdiri di lapangan sambil menatap ke arahku. Andara kenapa… lalu salah satu siswa itu nggak sengaja menendangnya dan Andara terjatuh.. Eh.. aku mau mendekatinya tapi siswa-siswa itu membantunya berdiri. Aku mengurungkan niatku mendekatinya. Andara menatapku dan mengacungkan jempolnya tanda dia baik-baik saja. Lalu dia kembali bermain dengan anak-anak itu dan uuppsst.. bola mereka bergerak mengarah ke aku. Aku menghindar.. waduh jangan kena deh jadi ingat saat SMU dulu.. Andara mendekatiku sambil memungut bola

“Kamu sudah bisa menghindar sekarang ya, dulu diam aja saat bola mendekatimu untung saat itu juga bolanya nggak kena kamu…” ucap Andara, aku senyum tapi… Andara ingat saat itu.. Senyum hilang dari bibirku karena kaget. Begitu juga Andara, kami berdiri berhadapan dan saling menatap. Sesaat sepertinya waktu terhenti dan cuma ada aku dan Andara saat ini.
“Bang..” suara teriakan siswa-siswa itu mengagetkan kami, Andara menoleh pada mereka.
“Iya..” jawab Andara sambil tetap melihatku lalu berbalik dan berjalan ke lapangan sekali lagi Andara menoleh padaku.. Lalu dia kembali bermain dengan siswa-siswa itu. Sepertinya Andara sedikit-sedikit mengingat masa-masa itu. nggak lama kemudian andara berhenti main dengan siswa-siswa itu lalu mendekatiku
“Cuaca mendung ni Mel, yuk pulang ntar kehujanan lagi.” ucapnya aku mengangguk lalu kami berjalan keparkiran Eh.. gerimis turun..
“Yuk cepat Mel..” ajak andara lalu aku naik ke boncengan Andara. kami keluar dari lingkungan sekolah.

Karena hujan jadi deras aku dan Andara akhirnya berteduh di halte dekat sekolah. Kami duduk berdua di halte.
“Tunggu bentar ya..” ucap Andara.
“Mau ke mana?” tanyaku.
“Beli minuman hangat dulu..” ucapnya sambil menunjuk sebuah cafe tak jauh dari halte.
“Eh.. basah ntar..” ucapku.
“Ni juga sudah basah..” ucapnya lalu berlari ke cafe itu aku mendesah pelan.. Angin berhembus kencang, dingin banget aku melipat tanganku di dadaku sambil mengusap-usap lenganku. Mudah mudahan hujan segera reda.. Kulihat Andara berlari mendekati halte sambil membawa dua cup minuman.
“Ni..” ucap Andara menyodorkan cup minuman padaku saat sudah dekat. Aroma coklat menyergap hidungku hemmm hangat. Aku menerimanya, Andara duduk di sisiku. Aku menoleh padanya dulu juga begini kamu beri aku secangkir coklat panas, sehingga alergiku tidak kambuh karena tubuhku menjadi hangat. Andara menoleh aku langsung berpaling lalu meminum minumanku hemmm nikmat dan hangat.. Aku senyum
“Selalu tersenyum kalau lagi minum coklat hangat..” ucapnya aku menoleh padanya Andara menatapku. Aku senyum tapi dia tidak senyum.
“Ada apa?” tanyaku.
“Sepertinya aku pernah mengalami saat seperti ini, di tempat ini.” ucapnya aku diam dan kami kembali saling menatap.

Suara klakson kendaraan yang lewat di depan kami menyadarkan kami. Aku lalu kembali meminum coklat di tanganku. Andara mengingatnya tapi kenapa dia tidak bertanya apa-apa padaku. Kami saling diam sampai hujan reda dan Andara mengajakku pulang. Andara mengantarku pulang sampai rumah, saat aku turun di depan rumahku. Andara tidak langsung pergi dia menatapku, aku senyum. Andara hanya diam, kenapa lagi dia.. lalu..
“Aku pulang dulu..” ucapnya aku mengangguk lalu motornya melaju meninggalkanku yang terdiam menatap kepergiannya. Andara cepatlah kembali, ingatlah aku… ucapku dalam hati lalu aku masuk ke dalam rumah.

Kami Kembali berkumpul tapi kali ini di rumah Vino. Kami ngobrol di ruang tamu Vino, Andara terlihat lesu. Apa Andara sakit?
“Aku kemaren ketemu Casi..” ucap Darko, kami langsung ngelirik Vino. Vino menatap kami..
“Kenapa lihat aku..” ucap Vino protes kami senyum.
“nggak teringat aja, Casi dulu kan dekat sama kamu.” ucap Jesi
“Iya terus kenapa..” ucap Vino
“Ya nggak apa-apa..” ucap Karina lalu kami senyum, Vino menyadarkan tubuhnya di kursi kayaknya nggak senang gitu hehehe.. Teringat dulu Vino akrab dengan Casi dan saat Casi pacaran dengan Brian mereka renggang. Kami pikir mungkin dulu Vino ada rasa sebenarnya pada Casi tapi keburu diduluanin Brian.
“Siapa tu kak?” tanya Cesil pada Jesi
“Tu dulu, kami kira vino suka sama Casi.” ucap Jesi.
“Sudahlah jes, masa lalu nggak usah dibahas.. Ngapain lagi diceritain.” ucap Vino, Jesi senyum.
“Jadi karena itu bang Vino sampai sekarang belum menentukan siapa pacarnya.” ucap Cesil
“Ya nggak tahu deh..” ucap Karin
“nggaklah..” ucap Vino sambil melihatku
“Kok ngelihat Amelia, apa maksudnya sekarang hatimu sudah tertuju pada Amel…” ucap Darko nah mulai deh Darko.
“Ehem..” ucap Jesi
“Bisa nggak bahas yang lain.” ucap Vino aku ngelirik Andara, Andara menatap Vino. Apa yang ada di pikiran Andara apa dia berpikir kalau aku dan Vino ada hubungan? Darko dan yang lain kan sering ngegodain kami. Aku mengalihkan perhatianku dari Andara, aku nggak sengaja lihat Cesil sedang menatapku tanpa ekspresi. Kenapa Cesil… Apa dia nggak suka tentang aku dan Vino…. Maaf Sil..

Jam menunjukkan pukul sembilan aku bersiap tidur aku lelah. Tapi Jems mengetuk pintu kamarku. Aku membuka pintu kamarku. Jems berdiri di depan pintu kamarku.
“Ada apa Jems..” tanyaku.
“Tu ada bang Andara di depan” ucap Jems, Andara ngapain malam-malam ke sini. Aku lalu berjalan ke depan, Andara duduk di kursi teras.
“Andara..” ucapku, dia menoleh. Aku duduk di sisinya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Sudah beberapa hari ini aku nggak bisa tidur..” ucapnya.
“Kenapa?” tanyaku pantes akhir-akhir ini dia lesu banget.
“Karena kamu..” ucapnya aku kaget.
“Bayang-bayang kamu mengangguku. Saat kita pergi ke sekolah itu aku teringat beberapa kejadian.. Dan itu datang silih berganti membuatku berpikir sebenarnya kamu itu siapa bagiku di masa itu..” ucap Andara, aku diam menatapnya.
“Kenapa aku merasa kalau ada hubungan dengan kamu, hubungan yang membuat hatiku bergetar setiap memikirkannya.” Ucap Andara lagi, kelihatan dia lelah sekali.
“Tapi kenapa kamu biasa aja dan justru lebih dekat ke Vino, sebenarnya ada hubungan apa antara kita berdua.” ucap Andara
“nggak ada” jawabku
“nggak mungkin..” ucapnya, aku mendesah pelan
“Kamu mau aku bilang apa, kita memang tidak ada hubungan selain pertemanan seorang senior dan junior..” ucapku, Andara menatapku
“Memang beberapa kejadian membuat kita akrab, kamu selalu baik padaku si cupu. Semua orang di sekolah heran dengan sikapmu yang baik padaku. Walau aku tahu itu dan sering minder di depanmu tapi aku suka dengan kebaikanmu.” Ucapku pelan sambil menatap ke depanku.
“Kamu membuatku selalu semangat ke sekolah. Hingga akhirnya kamu menghilang.. menghilang tanpa jejak. Aku menunggumu berharap kamu akan muncul dan kembali menjadi temanku tapi itu semua hanya mimpiku selama 7 tahun hingga pesta ulang tahun Cesil..” ucapku.
“Kamu muncul dan cuek padaku aku sakit..” ucapku lagi.
“Jadi kamu menungguku..” ucap Andara, aku diam.
“Aku nggak ingat masa itu dan maaf karena telah menghilang.” Ucapnya.
“Aku nggak tahu perasaan seperti apa di hatiku saat itu, yang kutahu aku merasakan kalau ada hubungan antara kita. Bukan hubungan biasa..” ucap Andara, kamu janji menemuiku saat itu selesai upacara sekolah Andara.. tapi kamu nggak datang dan aku nggak mau ungkit itu karena sama saja kamu juga nggak ingat… Aku nggak tahu kenapa kamu menyuruhku menunggumu setelah upacara di sekolah saat itu.. Aku tertunduk.
“Mel, Aku berharap aku bisa mengingat lagi ingatanku yang hilang. Terkhusus ingatan tentang kamu..” ucap Andara aku menoleh padanya.
“Sehingga aku paham dengan semua perasaan ini.. Perasaanku membuatku bingung.” ucap Andara lagi.
“Maaf sudah menganggumu malam seperti ini, aku permisi dulu ya..” ucapnya lalu berdiri dari duduknya aku ikut berdiri.
“Selamat malam…” ucapnya.
“Selamat malam..” ucapku, Andara menatapku sejenak lalu berbalik dan berjalan ke motornya yang di parkir di depan rumahku.
“Hati-hati..” ucapku Andara mengangguk lalu pergi.. Aku berdiri di teras menatap kepergiannya.. Andara aku pun sangat berharap kamu bisa mengingatku kembali…

Aku dan teman-teman lagi di rumah karina, hari ini dia ulang tahun. Kami duduk di taman belakang rumah karina yang sejuk. Mama karina menyiapkan banyak makanan dan minuman padahal kami Cuma ada bertujuh. Tentu aja ini membuat darko sangat bersemangat karena dia suka makan hehehe.. Handponeku berbunyi, dari Jems adikku. Aku berdiri dan agak menjauh dari teman-teman.

“Hallo Jems, ada apa?” tanyaku
“Kak, mama en papa pergi mungkin malam pulang. Aku juga pergi ni aku nginap tempat temanku Gian ya kak.” Ucapnya.
“Oke..” ucapku.
“Oke, bye..” ucap jems.
“Bye..” ucapku lalu obrolan kami berhenti. Aku lalu masuk ke rumah Karina, toilet dulu ah… Selesai dari toilet aku berjalan menuju taman belakang rumah Karina mau gabung dengan teman-teman. Saat berbelok aku bertubrukan dengan Andara. Aku hampir jatuh, tapi Andara langsung menangkap lenganku dan menarik lenganku mendekatinya.
“Eh.. sorry…” ucapnya, kami berhadapan sangat dekat. Kami saling menatap. Suara Jesi yang memanggilku mengagetkan kami, Andara langsung melepas pegangannya di tanganku.
“Amel..” panggil Jesi
“Ya Jes..” ucapku, Jesi mendekat.
“Kirain kamu ke mana dari tadi nggak muncul.” ucap Jesi.
“Ke toilet..” ucapku lalu Jesi melihat ke Andara.
“Loh Andara ngapain kok bengong di situ.” ucap Jesi.
“Mm.. mau ke toilet tapi tadi ketemu Amel.. di sini.” ucap Andara.
“O..” ucap Jesi lalu Andara pergi masuk ke rumah Karina.
“Yuk gabung lagi dengan teman-teman..” ucap Jesi
“Yuk..” ucapku lalu kami gabung dengan teman-teman. Aku selalu nggak bisa mengontrol hatiku bila dekat Andara… Andara selalu menatapku semenjak kejadian tadi, apa yang ada di pikiran Andara apa dia tahu kalau aku sebenarnya mencintai dia?

Aku dan vino lagi ngobrol di teras rumahku.
“Gimana perkembangan Andara apa dia sudah mulai mengingat masa lalunya?” tanya Vino.
“Aku nggak tahu pasti, tapi sewaktu ke sekolah waktu itu dia katakan ada beberapa kejadian yang terlintas di pikirannya. Tapi dia sendiri masih belum mengingat benar.” ucapku
“Itu sudah ada kemajuan berarti tapi mungkin akan lambat untuk bisa mengingat semua.” ucap Vino.
“Kalau dia sudah mengingat masa lalunya, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Vino.
“Aku nggak tahu.” Jawabku.
“Apa kamu nggak mau mengatakan semua apa yang kamu rasakan..” ucap Vino.
“Aku belum tahu..” ucapku.
“Sebaiknya kamu cerita aja, mengenai bagimana perasaannya kamu nggak perlu khawatir. Dari pada kamu pendam terus, mungkin akan terasa lebih plong kalau kamu terus terang padanya.” ucap Vino.
“Aku malu dan aku merasa memanfaatkan kebaikannya jika aku berterus terang tentang perasaanku padanya.” ucapku. Kami diam lalu..
“Itu keputusanmu, lakukanlah apa yang menurutmu baik..” ucap Vino.
“Aku masih bingung dengan semua ini..” ucapku, setelah lama ngobrol Vino permisi pulang. Aku masih berdiri di teras rumahku, terpikir tentang apa yang dikatakan Vino tadi.

“Amelia..” suara Andara, ah.. aku terlalu memikirkannya sampai berhalusinasi begini..
“Amel..” suara Andara lagi. Aku menaikkan wajahku andara.. dia ada di hadapanku.
“Andara..” ucapku, Andara berdiri di depanku dan tersenyum..

Bersambung

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Cinta Yang Tertunda (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Gokil di SMA

Oleh:
Ku tatap nanar sebuah album foto dengan sampul hijau muda di halaman depan dan sampul hitam di belakangnya. Tampak kusam dan berdebu. Perlahan jari-jemari yang lancip meraba album ini.

Bibir Senja

Oleh:
Aku rindu pada bibir senja, adakah ia kan hadir kembali setelah sekian hari ia tak pernah aku jumpai. “widia” dialah sahabatku yang biasa ku tulis dalam diariku bibir senja.

Sahabat

Oleh:
Gubraakkk!! Huuh, cape seharian sekolah. Nama gue Tasya sering dipanggil Caca. Gue punya sahabat nama Eza dan Cinta. Dan gue punya Teman yang kurang senang sama gue namanya Mikha,

Selamat Jalan Sahabat Ku

Oleh:
Ini kisah gue saat-saat sekolah. Nama gue Doni sekarang gue duduk di bangku kelas 3 SMA. Satu kelas kami berjumlah 30 orang, gue mempunyai 5 orang teman bisa gue

Senyuman Itu

Oleh:
Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Tapi ternyata proses panjang itu tidak terjadi padaku, pada saat pertama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *