Cinta Yang Tertunda (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 December 2017

Andara… kenapa kamu tiba-tiba ada di sini…
“Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Ada apa, kamu baik-baik aja?” tanyaku heran sudah jam segini Andara datang ke rumahku.
“Maaf mengganggumu, aku terlalu malam bertamu ya.” ucapnya.
“Mmm.. ada apa, ayo duduk dulu..” ucapku.
“nggak usah Mel, aku sebenarnya dari tadi sudah di sini tapi kulihat kamu dan vino ngobrol aku takut menganggu.” ucapnya, jadi dia menunggu sampai Vino pulang.
“Aku cuma katakan, kalau aku merindukanmu.. Aku nggak bisa menahanya karena itu aku ada di sini dan melihatmu berdua dengan Vino membuat hatiku sakit. Maaf..” ucapnya, aku melihat Andara dia terlihat sangat sakit. Kenapa Andara apakah kamu memiliki perasaan yang sama seperti perasaanku juga.
“Aku pulang dulu..” ucap Andara, sambil berbalik.
“Andara..” panggilku.
“Kamu nggak perlu mengatakan apa pun saat ini. Besok mungkin hatiku lebih baik dan saat itu kamu boleh mengatakan apa pun yang kamu mau..” ucapnya sambil tetap membelakangiku. Kenapa aku merasa Andara akan pergi seperti saat itu.. Saat dia berjanji akan menemuiku selesai upacara di sekolah..
“Andara..” panggilku lagi, tapi Andara melangkah pergi. Ternyata motornya diparkir di luar pagar. Aku berjalan mendekatinya tapi sebelum aku sampai ke dekatnya motornya melaju pergi. Andara…

Aku nggak konsentrasi dengan pekerjaanku hari ini, teringat Andara. Sepulang kerja hari ini, aku menelepon Andara tapi handponenya non aktif. Aku mau menelepon Cesil tapi.. Dan aku kaget saat handponeku berbunyi dari Cesil.
“Hallo..” ucapku
“Kakak.. datang ke Rumah Sakit Permai sekarang..” ucapnya
“Ada apa?” tanyaku jantungku berdetak lebih cepat.
“Bang Andara kemarin kecelakaan..” ucap Cesil.. Aku kaget, tanganku gemetar Andara..
“Kak..” suara Cesil memanggilku
“Ya..” ucapku lalu segera pergi ke rumah sakit.

Saat di rumah sakit, keluarga Andara berdiri di depan ruangan Andara. Cesil ada di antara mereka lalu Cesil menghampiriku. Lalu mengenalkan aku pada keluarga Andara.
“Kak, bang Andara belum sadar..” ucapnya lalu kami melihat Andara dari balik pintu kaca. Andara terbaring lemah, kepalanya di perban, kakinya juga.
“Kapan dia kecelakaan..” ucapku.
“Tadi malam kak.. tapi Cesil juga baru tahu tadi siang.” ucap Cesil. Apakah saat pulang dari rumahku.. teringat raut wajah Andara semalam.. Andara..
“Boleh aku melihatnya ke dalam..” ucapku.
“Kalau satu orang boleh..” ucap Cesil. Aku lalu masuk ke dalam. Aku mendekati Andara..
“Andara..” ucapku lalu berdiri di sisinya. Air mataku mengalir..
“Andara kamu katakan hari ini aku boleh mengatakan apa pun yang kumau. Tapi kenapa kamu seperti ini bagaimana aku bisa bicara padamu..” ucapku air mataku semakin deras mengalir
“Kamu meminta maaf karena telah menghilang sekarang kenapa kamu seperti ini lagi.. Jangan pergi lagi and.. Aku belum bicara apa pun sama kamu. Kamu juga janji akan menemuiku setelah upacara pagi itu di sekolah tapi kamu nggak muncul. Semalam kamu katakan aku boleh katakan apa pun yang ku mau hari ini tapi kenapa kamu terbaring seperti ini.” Ucapku terisak.
“Kamu buat aku takut.. Takut kamu pergi dan kali ini nggak kembali lagi.. Jangan pergi lagi andara..” ucapku sambil mengenggam tangannya.
“Maaf kalau selama ini aku nggak mau cerita tentang masa lalu kita aku hanya nggak ingin kamu hidup dalam kekosongan karena hanya mendengar cerita tapi tidak merasakannya..” ucapku
“Aku egois..” ucapku lagi.
“Andara..” ucapku, oh Tuhan haruskah aku kembali kehilangannya..

Tiba-tiba aku merasakan tangan Andara mengenggam tanganku. Aku melihat tangan Andara..
“Andara..” ucapku Andara bergerak
“Andara..” ucapku lagi, aku menoleh keluar, Cesil masih di pintu itu rupanya.
“Cesil..” panggilku, Cesil menatapku mungkin dia nggak dengar. Aku mau keluar memanggil dokter tapi tanganku digenggam erat Andara.. Aku melihat Andara.
“Ada apa kak..” Cesil masuk mungkin dia melihat kepanikanku.
“Andara bergerak..” ucapku lalu menunjuk tanganku yang di gengam Andara
“Bang..” ucap cesil lalu berlari keluar. nggak lama dokter dan perawat datang. Aku melepaskan genggaman Andara.. Matanya mulai membuka.. Aku disuruh perawat menunggu di luar Tuhan kuharap Andara benar-benar sadar.. Aku keluar dan berdiri di depan ruangan Andara bersama Cesil dan keluarga Andara yang terlihat sangat cemas.

Setelah beberapa lama dokter keluar.
“Gimana dokter..” tanya papa Andara. Dokter tersenyum.
“Kondisi Andara sudah stabil, dia sudah sadar.” jawab dokter.
“Puji Tuhan” ucap mama Andara.
“Terima kasih dok..” ucap papa Andara. Dokter itu mengangguk lalu pergi. Kami masuk melihat Andara, dia tersenyum melihat papa dan mamanya. Aku berdiri di belakang Cesil. Lalu Andara melihatku dia menatapku lama. Lalu kembali melihat ke orangtuanya yang berbicara padanya. Aku mundur dan keluar. Tuhan terimakasih sudah membuat Andara sadar. Aku duduk di bangku di depan ruang Andara.
“kak..” Cesil sudah ada di dekatku, aku noleh.
“Kenapa kak..” ucap Cesil.
“nggak apa-apa, aku pulang dulu ya.” Ucapku.
“Ya kak.” ucap Cesil lalu aku berdiri
“nggak permisi dengan bang Andara dulu.” Ucapnya.
“nggak usah, salam aja untuk dia..” ucapku lalu pergi meninggalkan Cesil.

Sudah seminggu Andara di rawat di rumah sakit, tapi aku nggak pernah jengguk dia setelah dia sadar. Aku nggak tahu kenapa aku enggan untuk bertemu Andara. Sudah berapa kali Cesil meneleponku menanyakan kenapa nggak jengguk Andara. Aku mengatakan kalau aku belum bisa aku sibuk. Vino tahu itu semua cuma alasan dia tahu aku menghindari Andara. Tapi Vino nggak tahu kenapa aku ngehindari Andara. Saat di rumah sakit waktu itu, Andara menatapku dengan tatapan yang berbeda seakan dia tidak mengenaliku. Apakah dia marah karena malam itu? Aku nggak tahu kenapa tapi aku sakit dan nggak ingin bertemu dia… Namun Karina muncul di rumahku sore ini, dan membujukku menemani dia menjenguk Andara. Aku menolak pergi tapi karina membujukku karena dia belum pernah menjenguk Andara. Akhirnya aku pun pergi dengan Karina dengan perasaan yang tak menentu.

Di rumah sakit, ada Cesil. Cesil sepertinya selalu ada di sini, dan dia sangat perhatian pada Andara. Kok aku jadi nggak enak hati apa aku cemburu.. Ah.. bodohnya aku.
“Hai Andara, sorry baru bisa jenguk sekarang..” ucap karina. Andara senyum lalu ngelihat aku. Aku senyum…
“Gimana kondisi kamu?” tanya Karina.
“Sudah lebih baik, lukanya juga sudah mulai mengering.” Jawabnya.
“Syukur deh..” ucap karina
“Cesil setia banget nemani kamu ya..” ucap Karina
“Iya donk kak, abang tersayang..” ucap Cesil
“Huss ntar didengar Darko bisa marah dia.” ucap Karina kami tertawa.
“Hei.. siapa tu yang nyebut namaku..” Darko sudah ada di depan pintu ruangan Andara.
“Uppss..” ucap karina sambil senyum. Lalu muncul Jesi dan Vino di belakang Darko. Teman-teman rupanya sudah janjian njeguk Andara.
“Hai bro..” ucap Darko pada Andara, Andara senyum.
“Senang melihatmu lebih baikan. Kepala nggak diperban lagi.” ucap darko
“Ya wajah gantengmu sudah kelihatan sekarang ” ucap Jesi
“Ehem…” suara Karina, Darko melirik Karina yang meliriknya.
“Kenapa lo..” ucap Darko
“nggak, tenggorokan lagi gatal..” ucap Karina kami senyum. Vino mendekatiku.
“Sudah muncul nih..” ucapnya pelan aku senyum. Yah kalau nggak karena Karin aku nggak akan muncul ni ucapku dalam hati.
“Lah.. langsung nempel aja..” ucap Darko, semua melihat aku dan Vino termasuk Andara. Aduh.. Darko teringat kalau Andara pernah bilang kalau dia sakit melihat keakrabanku dengan Vino.
“Udah deh Ko..” ucap Vino, Darko senyum.
“Eh jangan pada ribut ya. Ni rumah sakit lo.. ntar yang sakit makin sakit..” ucap Cesil.
“Iya, adikku..” ucap Darko
“nggak apa Sil, suara-suara mereka buat aku semakin yakin kalau aku masih hidup..” ucap Andara semua jadi tertawa.
“Wah.. ni namanya nyindir ni..” ucap Jesi, Andara tertawa.
“Mel bersuara donk.. kok diam aja..” ucap Darko, aku cuma senyum aja.
“Amel lagi sariawan..” ucap Karina, aku hanya bisa senyum aja dengan gurauan-gurauan mereka. Andara kelihatan semakin sehat, tapi Andara seperti nggak mengangap aku ada. Dia nggak pernah menatapku lagi.. Apa dia marah padaku. nggak lama aku permisi pulang dengan alasan capek.
“Kok cepat Mel..” ucap Vino.
“Ya aku capek ni..” ucapku.
“Biar aku antar.” ucap vino.
“nggak usah..” ucapku.
“Sudah malam ni, teman-teman aku pulang bareng Amel ya..” ucap Vino.
“Oke hati-hati ” ucap mereka.
“Aku pulang dulu Andara..” ucapku, Andara menatapku seperti kaget. Dia kenapa sih..
“Ya..” jawabnya.
“Gitu aja, bilang cepat sembuh kek..” ucap Jesi
“Mmm ya, cepat sembuh ya Andara..” ucapku dia mengangguk dan tersenyum lalu aku dan Vino pulang.

Sesampai di rumah Vino nggak langsung pulang.
“Kamu kenapa, kok sikapmu aneh..” ucap Vino, aku mendesah pelan.
“Ada apa?” tanya vino lagi, aku menunduk.
“Saat Andara sadar, aku melihatnya menatapku bingung seperti nggak kenal aku.” ucapku.
“Aku sedih karena di malam kecelakaan itu Andara menemuiku dan mengatakan kalau dia merindukanku dan dia sakit melihat aku begitu akrab denganmu. Saat itu dia nggak mau mendengar penjelasanku katanya besok aku boleh mengatakan apa pun yang ingin kukatakan malam itu. Tapi ternyata dia kecelakaan dan aku takut banget kalau dia akan menghilang seperti dulu bahkan lebih parahnya dia tak akan kembali. Saat dia sadar aku malah melihatnya seperti tidak mengenalku dan aku pikir dia marah padaku. Tapi kenapa sampai hari ini pun sikapnya aneh padaku, saat aku bicara padanya sepertinya dia kaget, seperti baru kali ini aku bicara padanya.. Vin, aku capek dengan semua ini rasanya aku pengen menyerah..” ucapku.
“Aku nggak tahu ada apa dengan Andara tapi kamu harus sabar Mel, seperti kamu sabar menantinya selama ini.” Ucap Vino, aku diam.
“Jangan menyerah..” ucapnya.

Aku dengar Andara sudah di rawat di rumah. Syukurlah berarti keadaannya semakin baik. Aku berharap dia segera sembuh. Lagi kerja gini teringat Andara huh… Tiba-tiba handponeku bunyi Cesil.. lalu kujawab.
“Hallo..” ucapku.
“Kak, bang Andara..” ucap cesil yang terdengar panik.
“Kenapa dengan Andara.” ucapku
“Itu, tadi dia ngotot ke sekolah SMU nya lalu kuantar ke sana tapi tiba-tiba dia pingsan.” ucap Cesil
“Loh, cepat di bawa ke rumah sakit Sil.” ucapku
“Dia lagi di rumah penjaga sekolah kak, cepat kemari kak..” ucap Cesil
“Iya..” ucapku, lalu aku langsung bergerak ke sekolah setelah permisi pulang ke pimpinanku.

Suasana sekolah sepi jam segini anak sekolah pasti masih di kelas. Rumah penjaga sekolah tutup, aku mengetuk pintunya tapi nggak ada jawaban. Apa sudah di bawa ke rumah sakit.. Lalu aku nelpon Cesil
“Ya kak..” jawabnya.
“Kamu di mana?” tanyaku.
“Di lapangan kak..” ucapnya.
“Loh ngapain di lapangan..” ucapku tapi handponenya keburu mati. Aku jalan ke lapangan, mungkin Andara sudah sadar. Tapi ngapain ke lapangan.. Aku lihat ke lapangan sekolah ada orang berdiri di tengah lapangan. Itu Andara dia membelakangiku.. aku mendekatinya.
“Kamu kok di sini?” tanyaku saat sudah dekat dengan Andara, Andara berbalik dan menatapku lembut.
“Kamu sudah datang?” ucapnya.
“Sebaiknya kamu pulang istirahat.” ucapku sambil menatapnya cemas.
“Iya, tapi sebelumnya aku mau menepati janjiku padamu..” ucapnya.
“Apa?” tanyaku heran.
“Mungkin sudah lewat 8 tahun tapi aku berharap kesempatanku masih sama. Saat itu aku janji menemui setelah upacara di sekolah tapi aku nggak pernah muncul bahkan ketika aku muncul lagi aku nggak ingat siapa kamu?” ucapnya, Andara ingat..
“Aku saat itu mau mengatakan kalau aku suka kamu.. Cinta kamu dan ingin kamu mau jadi pacarku.” ucap Andara, aku kaget.
“Sekarang aku juga ingin mengatakan itu, aku cinta kamu dan mau kah kamu menjadi pacarku?” tanyanya aku kaget dan bingung.
“Mel..” ucapnya.
“Kamu sudah ingat semua?” tanyaku.
“Iya, aku ingat semua dan aku kaget gadisku yang dikatakan orang cupu kenapa sekarang berubah banget sampai aku nggak kenal..” ucapnya wajahku pasti memerah.
“Kamu serius..” ucapku, masih kaget dengan semua ini.
“Iya, oke untuk mengetes aku kasi tahu ya.. Sebenarnya saat aku ke rumahmu meminjam buku untuk tugas aku cuma cari alasan karena sebenarnya aku sudah pinjam buku itu dengan adik temanku. Tapi supaya bisa ngobrol dengan kamu jadi aku buat alasan itu. Terus.. kamu itu cantik matamu yang coklat, hidungmu yang mancung dan tubuhmu yang tinggi kalau dipoles dikit pasti kamu cantik itu yang ku katakan terakhir kita mengobrol.” ucap Andara aku menatapnya. Andara benar-benar sudah ingat. Andara mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku menarik wajahku ke belakang.
“Masih sama, matamu, hidungmu.. tapi sekarang tidak cupu lagi..” ucapnya, aku jadi gugup lalu Andara menarik wajahnya dan memperbaiki berdirinya.
“Mel, hari ini hari senin meski sudah siang yang pasti upacara bendera sudah selesai dan.. tolong jawab pertanyaanku..” ucap Andara. Sudah pasti aku kan menjawabnya Andara.. Aku sudah menunggumu begitu lama dan aku tidak akan melewatkan momen yang kunantikan ini.
“Aku.. Aku sudah lama menunggumu dan kamu berdiri di depanku saat ini.” ucapku lalu menatap Andara yang terus menatapku.
“Ini adalah suatu keajaiban bagiku.. dan aku nggak akan melewatkan keajaiban ini. Aku suka kamu dan bersedia menjadi pacarmu..” ucapku, Andara senyum dan aku pun tersenyum.
“Sejak kapan kamu suka aku.” ucap Andara
“Sejak secangkir coklat hangat kamu berikan padaku..” ucapku sambil senyum.
“Apakah hanya suka..” ucap Andara.
“Seiring berjalan waktu dan terjalinnya persahabatan kita aku mulai jatuh cinta padamu..” ucapku lagi.
“Sejak kapan kamu suka aku?” tanyaku pada Andara.
“Sejak aku melihatmu sendiri di halte dan kehujanan hatiku terdorong untuk memberikan secangkir coklat hangat kesukaanku..” ucapnya.
“Sejak kapan kamu mencintaiku?” tanyaku.
“Sejak kamu selalu ada di pikiranku, sejak aku suka lihat kamu yang pendiam dan suka tersipu malu bila bicara denganku.” ucap Andara aku senyum.
“Dan saat ku melupakanmu dalam ingatan yang kosong. Aku kembali jatuh cinta padamu dan sangat cemburu dengan Vino yang selalu ada di sekitarmu..” ucap Andara, lalu mengengam tanganku.
“Mari kita menjalani hari bersama dan mengisi hari-hari kita dengan cinta yang sempat tertunda.” ucap Andara, aku menganggu. Andara menarikku ke pelukannya. Tuhan..aku sangat merindukan saat ini, saat Andara mengingatku dan terimakasih karena telah mengembalikan Andara…

“Hei.. cut.. cukup..” suara Darko, aku menoleh. Darko, Jesi, Karina, Vino dan Cesil… Aku menatap mereka.
“Kalian nggak kerja..” tanyaku heran.
“Cuti..” ucap mereka kompak, cuti..
“Demi kisah cinta kalian yang sedikit rumit ini.” ucap Karina.
“Ya dan di sembunyikan dari kami lagi.” ucap Jesi.
“Kalian kok tahu..” ucapku.
“Bang Andara kan sudah ingat semua dan bang Vino juga bicara tentang kakak pada bang Andara.” ucap cesil, aku melihat Vino.
“Maaf Mel, aku nggak sabar melihat kalian jadi aku inisiatif bicara pada Andara dan untung aku kasi bocoran ke dia. Soalnya dia hampir menyerah karena Andara pikir kita pacaran.” ucap vino, aku jadi malu Andara tahu semua.
“Ah.. lega akhirnya berakhir bahagia..” ucap Darko
“Oke sekarang kita sampai pada acara syukuran yuk makan..” ucap Darko lagi, kami tertawa.
“Makan aja sih di pikiran abang.” ucap Cesil protes.
“Oke kita ke cafe dekat sekolah..” ucap Andara. Aku menoleh pada Andara.
“Kamu kelihatan lelah.” Ucapku.
“nggak apa, kumpul dengan kalian membuatku cepat sembuh..” ucap Andara lalu merangkul bahuku
“Ehem..” ucap Jesi
“nggak usah cemburu gitu Jes, kan ada aku..” ucap Darko sambil merangkul bahu Jesi.
“Suit.. suit..” ucap Karina. Darko cengegesan, senang tu Jesi nggak protes dirangkul Darko. Lampu hijau ni..
“Aku sudah rela And, tapi masih cemburu juga kalau kalian bemesraan di depanku..” ucap Vino jenaka, kami tertawa. Lalu bergerak ke cafe dekat sekolah.

Aku dan Andara duduk berdampingan dan memesan coklat hangat hmmm.. sambil mengenang saat pertama kami saling melihat satu dengan yang lain. Ternyata saat Andara sadar waktu itu dia sedikit sedikit sudah ingat masa lalunya tapi melupakan beberapa kejadian terakhir sebelum kecelakaan saat dia lupa ingatan. Andara lupa aku dan teman-teman tapi dia hanya diam mencoba untuk memahami situasi aneh yang dirasakannya. Andara tidak mengenalku karena Amelia yang diingatannya berbeda sehingga dia menatapku aneh saat itu.Dan aku tidak memanggilnya abang seperti dulu saat SMU jadi dia ragu. Tapi lama kelamaan ingatannya di masa dia lupa ingatan muncul lagi sehingga dia mengingatku. Dan saat aku bicara padanya dia kaget waktu itu karena katanya suaraku lah yang membuat dia berjuang untuk sadar. Dia semakin yakin kalau aku adalah Amelia cewek yang dia suka saat SMU.

Darko akhirnya berani menyatakan perasannya pada jesi. Dan.. Jesi menerima great..!!! darko berhasil. Nah kalau Vino masih sendiri tapi kuharap akhirnya dia melihat ke Cesil yang manis dan baik itu. Karina jadian dengan teman masa kecilnya sekaligus tetangganya, Raka. Sedangkan aku dan Andara.. sering nongkrong di Cacao untuk minum secangkir coklat hangat kesukaan kami hemmm.. menyenangkan sekali..

Tamat

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Cinta Yang Tertunda (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selalu Di Hati

Oleh:
“Yes. Diizinin lagi pergi pramuka tahun ini” tanpa kusadari ternyata di depanku sudah ada seorang wanita yang memperhatikan tingkahku yang aneh sedari tadi. Dia sosok yang amat kukenal, ya

You Are My Destiny (Part 1)

Oleh:
Sonia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Ia menghirup nafas panjang dengan lega. Kuliah semester ini telah berakhir dengan IP yang memuaskan. Ia menyambut liburan dengan penuh suka cita.

Hunusan Pedang tak Bermata

Oleh:
Lazimnya malam minggu di ujung bulan desa kecil, ABG hingga dewasa tanggung keluar dari gua beruangnya. Teresa hanya menghabiskan satnitenya bersama Vito dan Arman di ruangan kedap suara, yang

Kesenangan Dibalik Kesakitan

Oleh:
Suara adzan terdengar dari masjid yang letaknya tak jauh dari rumah tempat tinggalku. Ketika aku mau beranjak dari tidurku, aku mendengar suara yang tak asing dari dapur. Setelah kulihat

Pesan Terakhir

Oleh:
Buat Sahabatku… mungkin ini surat terakhir buatmu. Aku berharap ditemukan olehmu di saat aku masih bernafas. Aku hanya bisa mengutarakan perasaanku lewat surat ini. Bertahun-tahun perasaan ini ku pendam,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *