Commen Sa Va? Je Va Bien Merci

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 April 2017

Hari itu, Jum’at, 26 September 2008, terlihat seorang pria foreign sedang berjalan menuju ke sebuah warung kecil yang menjual kudapan seperti tempe goreng, tahu isi, risol, molen, dan lain lain. Tampak juga peci putih dengan balutan baju gamis putih menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia berjalan mendekati warung itu tepat berada di depan Pasar Payaman. Sebuah pasar tradisional yang terletak di Utara kota Magelang yang biasanya orang-orang berbelanja pangan sehari-hari. Sementara itu, di seberang pasar payaman berbataskan jalan Raya, aku duduk di depan Toko Classical Book milik pesantren memperhatikan pria bule itu dengan seksama, tampak pria itu kesulitan saat berkomunikasi kepada penjual kudapan. Pada akhirnya, dengan bahasa isyarat yang ia miliki, pria tersebut berhasil membeli tempe goreng seharga 5.000 rupiah beserta rawitnya. Kemudian ia datang menghampiriku dan berkata: “Do you want?” sambil menawarkan bungkusan plastik biru. “Yes, Thanks, Sir” jawabku.

Hari itu merupakan hari pertamaku bertemu dengan pria bule itu. Namanya adalah Abdullah, seorang pria lajang berkebangsaan Perancis yang datang ke Indonesia. Rupanya, bule ini adalah muallaf yang sedang belajar membaca Alquran di salah satu cabang pesantren kami yang terletak di Kerincing. Ia mengawali menjadi seorang muslim setelah melakukan diskusi panjang mengenai agama Islam dengan seorang ‘Amir (ketua kelompok) dari kelompok Jamaah Dakwah (Jamaah Tabligh) yang datang ke Eropa untuk mengajak muslim Eropa agar salat berjamaah bersama-sama. Semula namanya adalah Sadrick, setelah ia memeluk Islam maka diganti menjadi Abdullah, memang sejak belasan tahun yang lalu ia sudah memiliki ketertarikan terhadap Islam. Namun hatinya tergugah dan mantap memeluk Islam setelah mendengar penjelasan dari ketua jamaah tersebut. Tibanya ia ke pesantren kami juga karena arahan ketua itu, sungguh apresiasi yang tak ternilai harganya patut diberikan kepada para jamaah ini, dakwah yang dilakukan begitu menyentuh kalbu, untaian-untaian mutiara hikmah yang disampaikan membuat orang yang mendengarnya hanyut dalam keimanan, patuh terhadap ulil amri, tidak radikal apalagi rasism, penuh perjuangan dalam berdakwah sampai ke daerah terpencil sekalipun. Pantas saja, sangat banyak sekali dari jamaah ini yang sudah mengislamkan umat belahan dunia.

Setelah perjumpaan itu, kami semakin akrab. Hampir setiap saat aku selalu bertemu dengan beliau, bercerita dan berbagi pengamalan satu sama lain. Terlebih lagi beliau adalah salah satu tentor bahasa Inggris di pesantren kami, kemudian aku pun tak menyiakan-nyiakan waktu bersama beliau. Aku mempelajari bahasa Inggris dengan beliau dan beliau mempelajari bahasa Indonesia denganku. Maklum saja, dia sama sekali tak pandai berbahasa Indonesia.

Bulan demi bulan kami jalani, aku pun mulai bosan belajar bahasa Inggris sebab keseharian kami menggunakan bilingual. Aku pun meminta beliau untuk mengajarkan bahasa Perancis kepada aku.
“Excusme, Sir. I wanna learn French with you” ujarku dengan nada bercanda.
“Ha ha. Of course, but why you feel interest with our language?” tanya bule.
“I dunno exactly, but I have a plan gonna travelling to your country, then will take studying overthere, Insyaallah” jawabku.
“Are u sure? Look at this!” Ia berkata dan memperlihatkan gambar-gambar dan video yang ada di dalam handphonenya. “This my home and that’s Eiffel” sambil memperlihatkan jendela ruangan apartemen dan tampak menara Eiffel di depannya.
“Wow, really, that’s wonderfull” kataku dengan kagum.

Terlihat sebuah menara Eiffel dicapture dari ketinggian 50 meter di atas permukaan bumi, di dalam video juga terlihat menara Eiffel memancarkan kelap-kelip warna-warni lampu yang berubah tiap menitnya. Ah, sepertinya ia ingin menunjukkan bahwa negaranya punya tempat eksotik untuk dinikmati.
Kemudian ia menutup handphonenya dan berkata: “Ok, I’ll teach you, we will start with ‘how are u?’ In French ‘commen sa va?”.
“Commen sa va?” kataku.
“Yes, je va bien merci. Uno por te mengkueledo bi supreso continue… blaaa… blaaa…” katanya, mengawali kalimat dengan bahasa negaranya, mulutnya komat-kamit berbicara panjang lebar tapi aku tak paham artinya, aku pun membiarkan ia berbicara. Setelah beliau berbicara, menurutku vokal “R” sepertinya tidak terdengar jelas, hal ini mengingatkanku pada temanku di kampung tatkala ia berbicara bahasa daerah mereka. Ha ha.

Semenjak liburan semester tiba, aku dan pria bule muallaf itu pun berpisah. Aku menghabiskan liburanku dengan keluargaku di Sumatera, sementara beliau masih berjuang untuk mempelajari bacaan Alquran dengan sisa waktu 1 bulan lagi. Namun sayangnya, setelah masa liburan selesai dan aku kembali lagi ke Jawa, beliau sudah tidak lagi berada di Pesantren. Masa Visa-nya habis dan ia harus pulang ke negara tercinta. Akhirnya sampai saat ini kami tak pernah lagi bertemu tapi tetap berkomunikasi. Hanya satu yang dapat kuambil dari pelajaran bahasa Perancis yang ia ajarkan yaitu: “Commen sa va? (Apa kabar teman?), je va bien merci (Kabarku baik-baik saja)”.

Salam, May Allah always blessing you Mr. Sadrick. Remember that Allah has placed the success of human life in this world and hereafter only in the perfect dien.

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Eric Suwandynata

Cerpen Commen Sa Va? Je Va Bien Merci merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Larutnya Senja

Oleh:
Ada yang berbeda dalam detak jantungku, membuat setiap nafasku terasa berat. Rasa sakit di hati kian menggebu di balut goresan luka yang telah mengelupas dan terbuka lagi. Tersentak kaget

Yume Dan Persahabatan Yang Manis

Oleh:
Hari itu hari minggu siang. Terlihat Yume yang berlari riang sambil mendekap karangan bunga lili menuju taman di mana kedua sahabatnya menunggu. Michiko Sakura dan Kazuto Tetsuya. “Hoiii!!!” Gadis

Unconditional (Part 3)

Oleh:
Sesunggunya, yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan adalah karena kehilangan yang tiba-tiba. Seperti halnya seorang perok*k yang dipaksa berpisah dengan rok*knya. Atau pecandu nark*ba yang suplainya dihentikan tiba-tiba oleh

Sahabat Mungil

Oleh:
Hari itu, ada tugas Bahasa Indonesia, karena tugasnya masih banyak, kami ngadain belajar kelompok di rumah salah satu temanku, yaitu Ella. Karena rumahku jauh, menuju ke rumah Ella, harus

Kamu, Aku, Dia Adalah Kita

Oleh:
Bila waktu mempertemukan kita lebih awal mungkin aku yang akan menjadi sahabatmu yang pertama. Tapi, tak apa lah aku tetap menyayangimu dan begitu pula mereka. Alsya adalah anak yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *