Crazy Best Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 31 March 2016

BRAK!

Terdengar pintu kelas dibanting oleh Mira yang berlari tergopoh-gopoh memasuki kelas menuju bangku paling belakang dan bersembunyi di bawah meja. Tak peduli meja-meja menjadi berantakan karena ditabrak olehnya. Bibirnya terus mengedumel tidak jelas seraya melirik ke arah pintu.

“Mira, kau kenapa?” tanya Nila menghampiri Mira. Sesekali gadis itu melirik ke arah pintu.
“Ssst.. Aku sedang dikejar Rio,” ucapnya sedikit berbisik.
“Kalian bertaruh lagi?” tanya Nila dijawab anggukan cepat dari Mira. Nila hanya menghela napas kecewa.
“Ku sarankan, lebih baik hentikan taruhan konyol kalian itu,” Nila melenggang pergi melanjutkan membaca komik kesukaannya di waktu senggang.

GREK!

“Skak Mat!”

Jendela ruang kelas terbuka menampakkan sosok Rio dengan senyuman mengembang mengarah gadis di bawah meja. Semua sepasang mata di ruang kelas menatap ke arah mereka berdua. Mira merutuki nasib dirinya, “Berakhir sudah, dompet beruangku,” Mengapa Rio bisa tahu dia bersembunyi di sana? Ukuran tubuh Mira yang kecil, bersembunyi di balik pintu pun ia yakin tidak akan ada orang yang dapat menemukannya. Pemuda itu cukup membuatnya frustasi. Sudah kesekian kali Mira kalah dalam taruhan konyol yang mereka sepakati. Mira tidak mau mengalah dari Rio. Pasalnya, Rio selalu menyebut dirinya ‘Mini’ atau ‘Gadis Otak Pendek’ yang tidak akan pernah mampu untuk melampauinya.

Gadis itu melompat kaget, menjauh dari sosok pemuda itu.
“Kyaa… bagaimana kau…” Mira terpaku dengan posisi menunjuk ke arah Rio.
“Saatnya penerimaan hadiah. Mana hadiahku?” Rio menengadahkan tangannya. Mira mendengus kesal sambil merogoh saku roknya mengeluarkan dompet beruang cokelat kesukaannya. Ini salahnya. Ia sudah terlanjur menjadikan dompet itu sebagai jaminan. Rio menyambar dompet beruang tersebut sambil tersenyum puas. Gadis itu hanya melenguh lemas. “Terima kasih. Sampai jumpa lagi, Mini!” ucap Rio kemudian menghilang dari ambang jendela. “Sudah ku bilang jangan sebut aku Mini!” umpat Mira geram menampakkan wajahnya yang memerah.

Mira tidak menyukai Rio yang selalu menyebutnya Mini. Sejak pertama mereka bertemu, perdebatan dua anak kecil yang cukup membingungkan terjadi. Tidak peduli rencana Tuhan seperti apa, tetapi mengapa mereka selalu dipertemukan dalam lingkungan yang sama? Keduanya berada di club yang sama, basket dan renang. Alasan Mira, semata-mata karena dia ingin menambah tinggi badannya. Tekadnya untuk mengalahkan Rio sangat tinggi. Segalanya dia jalani demi mendapatkan sesuatu di atas Rio, setidaknya peringkat pertama di kelas.

Mira memandangi kertas reminder di loker sepatunya. Tatapannya serius menimbang jadwal kegiatan yang sudah dia agendakan. “Pertandingan dua hari lagi. Festival boneka? Mungkin lain kali saja,” gumam Mira mencoret tanggal hari besok pada kalender. Kemudian, dia memakai sepatu olah raganya dan segera menuju lapangan basket. Tiga kali Mira berhasil melakukan shoot dengan baik. Waktu latihan pun berakhir, gadis itu merebahkan diri di tengah lapangan, pasrah dengan kelelahan yang melanda tubuhnya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Dadanya naik turun seirama dengan deru napasnya.

“Sepertinya kau berjuang keras,” ucap sebuah suara yang tak asing di telinganya. Mata Mira menangkap sosok Rio berdiri sambil tersenyum. Sontak dia segera menarik tubuhnya duduk. “Rio? Sejak kapan kau di sini?” tanya Mira.
“Sejak kau melakukan shoot,” Rio meraih bola basket tak jauh darinya. Mira menatap punggung Rio yang tengah memasukkan bola ke ring dengan sempurna. Gadis itu tersenyum kecut. Postur tubuh yang tinggi, pintar, tampan ada pada diri Rio. Tampan? Kriteria terakhir mungkin masih membuat Mira harus berpikir keras. Pasalnya, kadang Rio membuatnya kesal dan sekejap bayangan tampan itu lenyap membias.

DUK!

“Aww…sakit,” keluh Mira mengelus kepalanya.
“Kau sengaja melempar bola ke arahku?!” seru Mira kesal.
“Jauhkan pikiran kotormu, Dasar Otak Pendek!” ucap Rio. Alis Mira bertaut tak mengerti. Rio bisa membaca pikirannya? “Berhentilah menyebutku ‘Otak Pendek’! Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan. Akan ku buktikan pada pertandingan besok. Ku pastikan besok aku akan mendapat penggemar,” ucap Mira berlalu meninggalkan Rio yang terdiam memandangi sosok gadis itu pergi.
“Seberapa banyak penggemar yang akan kau targetkan? Dasar Mini!” gumam Rio tersenyum kembali memasukkan bola ke ring.

Mira berlari di sepanjang koridor menciptakan kegaduhan seperti biasanya, orang-orang langsung menatap ke arahnya. Matanya mencari sosok pemuda tinggi berantakan yang selalu mengganggunya tiap hari. Ia melihat Rio ke luar menutup pintu ruang kesehatan. Rio sempat kaget mendapati Mira tersenyum ke arahnya.

“Ada apa?” tanya Rio mengernyitkan dahi.
“Kau pasti bolos jam pelajaran lagi?” sergah Mira sedikit kecewa.
“Biologi,” jawab Rio singkat.
“Sepertinya kau sedang bahagia?” lanjutnya menatap wajah gadis itu. Mira terhenyak lalu tersenyum.
“Aku menang!” ucap Mira senang.
“Oh, selamat yah.”
“Hanya itu?” Mira memiringkan kepala, menunggu ungkapan berikut dari pemuda itu.
“Tubuhmu masih tetap sama. Pendek!” lanjut Rio sukses membuat gadis itu cemberut.

“Ya! Kau ini!” Ia hampir melayangkan jitakan di atas kepala Rio yang terus terkekeh.
“Hei, kau tahu? Seseorang mengirim surat padaku. Dia mengatakan bahwa dia mengagumiku karena permainan basketku luar biasa, beda dari pemain lain,” celoteh Mira sambil mendekap surat itu, pipinya bersemu merah. Meski hanya sebagai pengagum rahasia, ini cukup membuatnya berterima kasih karena dia telah memberikan perhatian padanya.
Rio membuang muka, menahan tawanya. “Hmph.. Haha.. Jelas dia bilang permainanmu beda dengan pemain lain. Dia pasti baru melihat kurcaci bermain basket,” ucap Rio dalam tawanya.

Seketika tangan Mira melempar kertas itu ke wajah Rio. Mengapa dadanya terasa perih? Tak sekali pun Rio bahagia atau sekadar menyenangkan hatinya. Kristal air mata terlihat terbendung di pelupuk matanya. “Kau benar-benar membuatku kesal, Rio!” Mira berangsur pergi dengan sederetan rasa kesal di hati meninggalkan pemuda itu. Rio memandang surat kecil biru di tangannya. Bibirnya mengerang kesal. Sejujurnya, jantungnya berdebar hebat melihat gadis itu tersenyum saat bercerita tentang surat itu. Setidaknya, semuanya membuat Mira tidak semengenaskan waktu kecil. Kecelakaan masa lalu membuat Mira hampir putus asa. Berhari-hari hanya wajah dingin yang Rio lihat. Rio tidak ingin gadis itu terus tenggelam dalam kesedihannya.

Tanpa Mira tahu, Rio telah menyamar sebagai pengagum rahasianya. Dengan meminjam nama Zero, ia mengirimkan surat ke dalam loker gadis itu. Dan kado berbentuk hati melengkapi layaknya perasaan seorang penggemar. Sedetik kemudian, dia mendengar derap langkah kaki gadis itu mendekat. Ia pun segera bersembunyi di balik tembok tak jauh dari sana. Melihat respon pertama Mira saat membuka loker, tersipu malu, perasaan Rio turut bahagia. Ia pun mengelabui gadis itu dengan berpura-pura terlihat tengah ke luar dari ruang kesehatan. Seperti yang dia duga, Mira akan mencium kebiasaan buruknya, membolos di saat jam Biologi.

Namun, mengapa hati Rio terasa sesak saat Mira menampakkan senyum dengan wajah bersemu merah sambil mendekap surat itu? Yah, seandainya Mira tahu dirinya yang menulis surat itu, apakah gadis itu akan tetap menampakkan wajah seperti itu? Sejak kejadian itu, Mira semakin menjauhi Rio. Tiap berpapasan, dia hanya membuang muka seolah tak melihat dirinya. Ini membuat dada Rio sakit. Hanya melalui kiriman surat rahasia Zero, ia menjadikan dirinya tetap berhubungan dengan Mira. Ia tetap melanjutkan perannya sebagai Zero, mengirimkan surat ke tempat-tempat yang sering dilihat oleh Mira seperti di laci meja, sepeda, loker sepatu, dan masih banyak tempat yang dapat dijangkaunya.

Rio menghela napas lega melihat gadis itu tersenyum kembali. Ia hanya bisa memandangi gadis itu dari balik kaca jendela. Sudah seminggu lebih, mereka tidak bertegur sapa ataupun saling bertengkar seperti biasanya saat taruhan konyol yang mereka sepakati bersama. Mira memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas. Sesuatu terjatuh ke lantai dari halaman bukunya. Ia memungut secarik kertas tersebut dan sejenak membacanya. Suasana menghening.

“Zero?! Tidak bisakah kita bertemu? Mengapa kau tahu apa yang sedang ku alami? Aku.. sungguh menyesal,” ucap Mira teringat sosok Rio yang biasanya mengkagetkan dirinya.
“Dasar sok tahu,” Mira tersenyum kecut.
“Mengapa tiba-tiba aku merindukan sosok dirinya? Ini salahku,” rutuknya sambil merebahkan kepala di atas meja.
“Apa yang harus ku lakukan? Beritahu aku Zero,” gumamnya dalam isak tangisnya.

Cring!

Bunyi koin berdenging cukup dekat di telinga membuat Mira mendongakkan wajahnya. Matanya membulat kaget menatap dompet beruang miliknya dan sosok Rio berdiri tersenyum di hadapannya. “Jangan pasang wajah suram seperti itu. Kau terlihat mengenaskan,” ucap Rio. Mata Mira mulai memanas. Apa yang terjadi? Mengapa dia ingin menangis? “Aku tidak suka melihat wajah surammu. Maaf, mungkin aku keterlaluan padamu. Maka dari itu, tersenyumlah. Aku sudah membeli wajah suram itu dengan dompet ini,” ucap Rio menyodorkan dompet itu. Mira terkekeh sambil mengusap matanya yang sudah terlanjur basah. “Kau ini memang selalu membuatku kesal yah,” ucap Mira tersenyum menerima dompet itu. Sejenak keduanya menghening.

“Rio, Maafkan aku. Sekuat apa pun aku berusaha menjatuhkanmu, aku selalu gagal dengan kemampuan yang ku miliki. Tetapi, aku sadar, semua proses itu membuatku terus belajar dan belajar menjadi sosok diriku. Ku harap kau mau memaafkanku dan ku minta jangan pernah berubah menjadi dirimu untukku. Tetaplah menjadi temanku, meski kau menyebalkan.” lanjutnya. Rio tersenyum meraih puncak kepala Mira, mengacak-acak rambut gadis itu yang berhasil membuat gadis itu sedikit menggeram kesal. Teman yah? Hanya sebatas itu? Tak apa. Ia yakin perasaannya tak akan pernah berubah. Biarlah untuk sementara perasaan ini tetap mengalir hingga suatu saat bermuara ke tempat yang tepat. Di saat itu, ia akan menyatakan perasaannya sebagai Rio bukan sebagai Zero.

Cerpen Karangan: Rindi Anisa
Facebook: Rindi Anisa
Seorang penulis awam yang terus belajar dan belajar dari dunia fantasinya.

Cerpen Crazy Best Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kotak Musik Untuk Mita

Oleh:
Messi dan Mita adalah dua sahabat yang terkenal dengan kemerduan suaranya. Banyak orang bilang, suara Messi dan Mita bagus dan merdu. Mereka berdua sering diikutkan lomba lomba menyanyi. Siang

Akhirnya Bertemu Lagi

Oleh:
“Duh, kenapa sih kakak harus pergi?” ujar Manda, sahabatku. Aku baru tahun lalu mengenalnya, tapi ku rasa seperti sudah lama bersahabat dengannya. “Ya kan ibuku ngambil kuliah di Aussie,

Without You

Oleh:
Rasanya masih hangat di ingatanku saat bersama dengannya namun jika kuingat kembali hari ini genap sepuluh tahun dia pergi meninggalkanku. Entah kenapa hari ini mentari tak bersinar, awan hitam

Drama Queen (Part 1)

Oleh:
Cinta itu indah, cinta itu kadang buta, cinta juga kadang menjadi misteri dan cinta pasti mempunyai akhir. Mungkin ada kalanya akan menjadi manis atau pahit. Tapi cinta itu ibarat

3 sekawan (Part 2)

Oleh:
“Liu?” panggilku mengawali pembicaraan. “iya, Gus?” tanya Liu heran. “emm.. aku ke toilet dulu, kebelet.” pamit Naya meninggalkan kami berdua. Di situ aku tambah grogi karena duduk berdua dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *