Danau Sejuta Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 October 2017

Lagi-lagi aku termenung di tepi danau. Sendirian. Seharusnya, hari ini menjadi hari yang menyenangkan. Karena sebentar lagi aku akan resmi menjadi siswi sekolah menengah pertama di Yogyakarta.

Oiya, perkenalkan namaku Afdina, aku tinggal di Perumahan Pesona Gading Cibitung, Bekasi. Rumahku dekat dengan sebuah danau buatan yang diberi nama Danau Telaga Warna.
Danau Telaga Warna masih asri dan terawat, karena jauh dari hiruk pikuk kesibukan warga pinggiran kota Jakarta yang membanting tulang demi mencari nafkah. Setiap sore, banyak warga yang sengaja meluangkan waktunya untuk mengunjungi danau tersebut bersama keluarga. Mereka bersenda gurau bersama anggota keluarga sembari melepas penat setelah sehari penuh memeras keringat untuk menghidupi keluarga.

Biasanya sepulang sekolah, aku dan kedua sahabatku, Sinta dan Alfian, menyempatkan diri untuk sekedar bercengkrama di Danau Telaga Warna. Bahkan terkadang jika hari libur tiba, kami menghabiskan waktu untuk bermain dan berenang di tepi danau tersebut. Rumah kami terletak dalam satu kompleks, yaitu Kompleks Cempaka, kompleks yang paling dekat dengan Danau Telaga Warna. Maka tak heran apabila kami selalu bermain bersama di danau tersebut. Banyak sekali suka duka yang kami lalui bersama di danau itu. Danau tersebut seakan menjadi saksi bisu kisah persahabatan kami bertiga.

“Nduk, udah selesai belum beres-beresnya?” teriakan lantang ibuku membuyarkan lamunanku.
“Sedikit lagi siap, Bu.” Teriakku tak kalah lantang.
“Jangan kebanyakan melamun ya, sayang. Apa perlu ibu bantuin?” ibuku memperingatkanku.
“Hehe, iya Bu. Gak usah, nanti juga beres kok,” jawabku sembari meringis. Aku melirik kalender yang tergantung di sudut kamarku, tertera jelas tullisan super besar dengan tinta merah ‘H-5 GO TO YOGYAKARTA’. Aku memandang keluar jendela, menghela napas. Di luar sedang hujan. Terlihat bulir-bulir air hujan yang jatuh membasahi semua yang ditimpanya, membawa berkah tersendiri bagi yang membutuhkannya. Aku segera membereskan barang-barang yang ingin dan perlu aku bawa ke Yogyakarta.

Hujan mulai reda. Setelah memastikan tugas beres-beresku selesai, aku langsung ke luar dari rumah. Teriakan lantang ibuku yang masih memasak di dapur tak kuhiraukan. Pura-pura tidak dengar gak masalah kan? Hehe… Aku segera mengayuh sepedaku ke Danau Telaga Warna. Prediksiku tepat. Sudah ada Sinta di sana. Aku segera menghampirinya.

“Dor! Mikirin Fian ya? Hehehe,” godaku seraya menepuk bahu Sinta.
“Hush ngawur! Ya enggak lah, aku tuh lagi nungguin kamu sama Fian, ke mana aja sih, lama banget?” seloroh Sinta memasang muka bete.
“Iya deh, maaf. Fian mana?” tanyaku sambil memencet hidung Sinta. Sinta hanya manyun. Dari kejauhan terlihat Alfian yang sedang mengayuh sepedanya. Dia melambai ke arah kami.
“Kamu kenapa telat lagi sih Yan? Dikejar anjingnya Pak Widodo lagi?” ledek Sinta sambil menatap Fian tajam. Sinta memang paling tidak suka jika ada orang yang tidak tepat waktu.
“Wah wah wah, ada yang ngambek nih, maaf ya. Aku tuh tadi ke rumahnya Af dulu, tapi kata ibunya, Afdina-nya udah bablas ke danau. Terus aku ke sini deh,” ucap Alfian yang masih terengah-engah.
“Ngapain ke rumahku? Aku kan gak minta dihampiri,” ucapku memperpanas suasana.
“Aku kan setia kawan. Wlek,” balas Fian sambil menjulurkan lidahnya. Sinta hanya geleng-geleng kepala.
“Nah, sekarang aku yang tanya, kenapa kamu nyuruh kita ke sini?” selidik Sinta langsung pada apa yang ingin diketahuinya. Aku diam seribu bahasa. Pikiranku kembali menerawang jauh, jauh sekali. Hingga aku tak sadar bahwa Sinta dan Alfian masih menantikan penjelasanku.

“Af?” seru Fian sembari mengibaskan tangannya di depan wajahku.
“Aku… pengen ngomong sesuatu ke kalian. Dan aku harap kalian gak marah…” ucapku lirih.
“Gak akan, kita gak bakal marah,” potong Fian dengan tegas.
“Aku.. diterima sekolah di Yogyakarta. Jadi rencananya aku akan pindah ke sana sekitar empat hari lagi. Aku minta maaf kalau aku punya banyak salah sama kalian,” ucapku terisak. Sinta segera memelukku. Mungkin ia mengerti apa yang sedang aku rasakan. Aku melirik Fian yang masih menatapku tak percaya. Ada raut kesedihan yang terlintas di wajahnya. Aku semakin merasa bersalah.

Setelah tangisku mereda. Sinta melepas pelukannya.
“Udah dong, jangan nangis lagi. Aku pengen lihat Afdina yang ceria kaya dulu lagi. Kita ikut seneng kok kamu bisa diterima di sana, iya kan, Yan?”
“Eh, i-i-ya kok, Af.” ucap Fian kikuk.
“Kalau balik ke sini jangan lupa oleh-olehnnya lho, Af.” celoteh Sinta berusaha untuk tetap riang. Aku tersenyum lega.

“Pulang yuk, udah mau malam nih,” pinta Sinta. Maklum, diantara kami bertiga, rumah Sinta lah yang terletak paling jauh dari danau.
“Oke!” ucapku dan Alfian serempak. Aku, Sinta, dan Alfian segera mengayuh sepeda masing-masing dan pulang ke rumah dengan diiringi keindahan senja yang mulai menghilang tergantikan oleh malam.

Hari-hari terakhir sebelum kepindahanku ke Yogya, kuhabiskan dengan termenung di tepi danau, tempat yang penuh dengan sejuta kenangan. Seperti hari itu. Hari itu adalah hari terakhirku bisa memandang danau ini, karena besok sore aku akan pergi meninggalkan tempat ini, memulai kehidupan yang baru. Selepas dzuhur, aku pergi ke danau, lagi. Tapi kali ini, aku sendiri. Tidak bersama kedua sahabatku. Aku ingin mengenang kenangan-kenangan indahku sendiri.

Kurebahkan tubuhku di bawah pohon yang rindang. Kupejamkan mataku. Kubiarkan angin sepoi-sepoi membelai rambutku. Gemerisik dedaunan membawaku kembali ke masa lalu. Mengingat kenangan-kenangan indah selama aku duduk mengenyam bangku sekolah dasar. Perlahan, aku membuka mataku, menatap langit nan biru. Memantapkan pilihanku. Lamunanku memutar kembali memori-memori masa laluku.

Sayup-sayup terdengar alunan lagu yang tak asing di telingaku. Aku segera kembali ke alam sadarku. Semakin lama, semakin jelas terdengar.

Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah tanganku sahabat
Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hati mu sahabat
Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemani mu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra
Yang ‘kan membelai mu sahabat

Aku segera menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Sinta dan Alfian yang sedang berjalan perlahan ke arahku. Aku segera menghambur ke arah mereka. Pecah sudah isak tangis kami bertiga.
Sinta segera mengajak kami berdua untuk duduk di bawah pohon. Kami terdiam beberapa saat, sibuk dengan isakan masing-masing. Karena terlalu lama terdiam, suasana menjadi semakin canggung. Akhirnya, Alfian membuka pembicaraan.

“Af, aku minta maaf kalau aku punya banyak salah sama kamu, aku sering iseng sama kamu, aku sering ngambek gak jelas sama kalian. Dan satu lagi, mungkin ini terakhir kalinya kita bisa kumpul bareng di sini, aku diterima di Pondok Pesantren, Bogor.”
“Aku juga Af, aku minta maaf kalau aku punya banyak salah sama kamu. Kesalahanmu juga udah aku maafin kok, kamu yang sering pencet hidung aku, kamu yang sering telat, dan lain-lain. Mungkin Fian benar, ini terakhir kalinya kita bisa bareng ke danau ini, ini terakhir kalinya kita bisa lihat senja bareng-bareng.” sambung Sinta.
“Aku.. juga minta maaf sama kalian, karena aku tahu aku punya banyak salah sama kalian. Kesalahan kalian juga sudah aku maafin kok, kalian yang sering nyontek PR aku, kalian yang pernah nyeburin aku ke danau, dan lain-lain.” Kami tersenyum seraya memandang langit nan biru. Memantapkan pilihan hati masing-masing.

Sekarang aku sadar. Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, justru perpisahan adalah awal untuk memulai hidup yang baru. Jangan jadikan perpisahan sesuatu yang menyedihkan, tapi jadikan perpisahan suatu peristiwa yang mengharukan, penuh dengan isak tangis kegembiraan. Yakinlah bahwa akan ada pelangi setelah hujan. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan secuil kebahagiaan yang sangat berarti bagiku.

Cerpen Karangan: Afdina Melya G.F
Blog: afdinamelya.blogspot.co.id

Cerpen Danau Sejuta Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terpenting

Oleh:
Hai perkenal namaku Hayako Ririmi umurku 15 tahun aku masih duduk di kelas 9 SMP dan aku punya satu sahabat yang aku sayang dia sangat baik namanya Yuko Ayame.

Maafkan Aku Sahabatku

Oleh:
Hari itu, hari waktu dimana aku, pristi dan Rani (Sahabatku) memulangkan buku perpustakaan di sekolah Kami. Tetapi, Pristi telah memulangkan buka lebih dulu. “pris lo udah balikin buku perpus”

Maafkan Kakak Bu

Oleh:
Terlihat 2 orang adik kakak yang sedang bercanda di kamarnya yang serba ungu itu. Dia bernama Alisha Nadia Desire (Adik Ashilla) yang masih berumur 15 tahun dan Ashilla Veronica

Sahabat Hingga Ke Surga

Oleh:
Malam semakin larut suara jangkrik di halaman terdengar jelas mengalun alun seolah mereka sedang asyik menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur yang mampu menyihir para pendengarnya sehingga mereka tertidur dengan

Inikah Yang Dinamakan Sahabat?

Oleh:
“Sahabat adalah orang yang selalu menemani kita dalam suka maupun duka” adalah kata yang tak asing lagi untuk didengar. Kata tersebut mengingatkanku dengan seseorang yang “memanfaatku dengan sebutan sahabat.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *