Datanglah Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 August 2016

Saat aku melangkah menuju kelas baru yang akan kutempati, tiba-tiba seorang anak perempuan memanggilku dengan teriakan yang cukup keras, dia temanku waktu di SD.
“Raisha…!” panggil Binar.
“Apaan sih teriak-teriak? Panggil aja pelan-pelan, aku kan bisa denger.” ucapku dengan nada kesal.
“Iya, maaf deh, tante. Hehe…” kata Binar sambil tertawa dan seraya menggandeng tanganku. Aku diam saja tak mau berdebat. Sudah biasa aku menghadapi Binar yang sifatnya seperti itu.

Aku pun sampai di kelas. Aku tak melihat ada bangku yang masih kosong di barisan bangku terdepan. Padahal aku ingin sekali duduk di depan. Dengan kecewa aku mengajak Binar duduk di barisan ketiga. Namun, ada seorang anak perempuan menegur aku dan Binar.
“Kalian ingin duduk di depan, ya? Kalau ya, biar aku bilang sama dua anak laki-laki itu agar pindah ke belakang. Atau salah satu dari kalian duduk denganku di barisan pertama ini. Pilih yang mana?” kata seorang anak perempuan yang belum ku kenal yang seolah-olah bisa membaca pikiranku.
“Iya, aku ingin duduk di depan. Tolonglah kamu bilang pada dua anak laki-laki itu agar pindah ke belakang. Soalnya jika salah satu di antara kita duduk denganmu itu bukanlah keinginan kita. Kita gak mau berpisah. Ya kan, Nar?” ucapku sambil melirik pada Binar yang dari tadi hanya diam sambil melihat-lihat seisi kelas. Saat kutanya, ia pun tersentak kaget.
“Iya iya.” jawabnya pendek.

Saat istirahat, aku dan Binar segera menghampiri anak perempuan yang telah membuatku tersenyum senang karena bisa duduk di depan. Aku ingin berterima kasih padanya. Aku menghampirinya di bangku taman sekolah saat ia sedang menikmati jus alpukat.
“Maaf ganggu. Boleh kita duduk di samping kamu?” tanyaku padanya.
“Hmm, silahkan saja kalian duduk di sini. Tidak masalah untukku. Mau duduk di sini kek, di sana kek, apa urusannya sama aku.” jawabnya seperti acuh tak acuh.
“Heh! Kita minta ijin baik-baik. Kok kamu malah cuek aja. Kita ini di sini cuma mau berterima kasih sama masalah tadi pagi. Jangan mentang-mentang kamu berhasil membantu terus jadi sombong plus judes!” ucap Binar yang langsung emosi.
“Binar, kita ini harus bicara baik-baik. Jangan langsung emosi, donk! Sini duduk!” kataku sambil menarik tangan Binar agar ia mau duduk. Akhirnya pun, kita bisa mulai berkenalan dan bercakap-cakap. Ternyata, jika orang judes kalau diajak ngomong baik-baik, pasti dia jadi baik dan penuh perhatian, lho.
“Kenalkan, namaku Raisha Zizah Fahrana. Biasa dipanggil Raisha.” ucapku memperkenalkan diri. Dan disusul oleh Binar.
“Kenalkan, namaku Binar Syafi Mentari. Biasa dipanggil Binar.” ucap Binar dengan terpaksa karena aku yang memaksanya.
“Ya, ya. Namaku Melani Kenanga Putri. Biasa dipanggil Kenanga.” ucapnya dengan mulai tersenyum ramah.
“Mau kan, jadi teman kita?” tanya Binar seperti mulai senang dengan sikap Kenanga. Aku pun hanya menggangguk tanda setuju akan pertanyaan Binar.
“Pasti donk. Aku belum punya teman. Yang tadi duduk denganku belum begitu akrab denganku. Kalian mau bantu aku agar akrab dengan dia? Nanti kan, kita jadi punya banyak teman.” jawab Kenanga.
“Iya, nanti biar kita coba, ya!” jawabku.
Kami pun bercakap-cakap dengan sangat asyiknya tentang diri masing-masing. Meski baru kenalan, kami sudah cukup akrab. Ya, paling tidak aku bisa menganggap Kenanga bukan sekedar teman, tapi, Sahabat. Aku belum bisa menganggap Binar sebagai sahabat. Nyatanya aku masih sungkan untuk curhat sama Binar. Entah mengapa, tapi aku harap semakin aku lama di dekat Binar, aku mulai bisa menerimanya sebagai sahabat sejati untuk selamanya. Akan aku coba mencari sahabat di SMP ini. Aku yakin pasti ada! Aku tak tahan lagi ingin punya sahabat. Datanglah Sahabat!

Pagi ini aku berangkat sekolah sendirian. Aku sudah seminggu lebih sekolah di sini. Tapi, baru hari ini aku berangkat sendiri ke sekolah yang baru. Aku biasa berangkat dengan Binar. Kalau tidak, Kak Iven, kakak sepupuku yang menemani aku berangkat. Kebetulan satu sekolah, namun dia kelas 8. Kata ibunya Binar, Binar sudah berangkat pagi-pagi sekali karena dia piket. Kak Iven pun demikian. Mereka sama hari piketnya, sehingga aku harus berangkat sendiri.

Aku terkejut saat memasuki kelas. Binar duduk di belakang bersama Kenanga. Aku benar-benar tidak menyangka. Apa Binar tak betah duduk bersamaku? Padahal ku harap dia selalu ada di sampingku. Karena aku sedang berlatih untuk menganggapnya sebagai sahabat. Tapi, mungkin takdir berkata lain, karena sahabat itu lari mendekat dengan orang lain. Apa jika begitu Binar dikatakan sahabat untukku? Dengan kekesalan aku langsung duduk di tempat biasa aku duduk. Tiba-tiba, Nikita duduk di sampingku sambil meletakkan tasnya.
“Hai! Aku yang waktu itu duduk sama Kenanga. Kita kan belum terlalu akrab, jadi aku boleh ya duduk sama kamu? Jadi kita makin akrab, dan kita jadi sahabat. Okey!”
“Mmm, iya, silahkan saja.” jawabku pendek.
“Udahlah, jangan kamu pikirin Kenanga sama Binar. Mereka lagi pengin akrab. Masa kamu gak ijinin? Kasihan mereka. Mereka kan juga punya hak buat jadi sahabat.” Tiba-tiba Nikita bicara padaku seperti tahu pikiranku.
“Ya. Tapi, aku kecewa sama Binar. Dia gak ngomong dulu sama aku. Aku jadi kaget buat nerimanya. Mereka emang punya hak buat jadi sahabat, tapi aku juga berhak buat ikutan jadi sahabat mereka. Jadi aku punya tiga sahabat. Nikita, Kenanga, dan Binar, aku ingin sekali…” ucapku.
“Kalau mau kamu itu, gak masalah. Ayo!” kata Nikita sambil berdiri dan menarik tanganku.
“Ayo ngapain? Mau kemana?” tanyaku dengan raut muka bingung dan penuh pertanyaan.
“Kita mau sahabatan sama Kenanga dan Binar. Bukannya itu mau kamu?” jawab Nikita.
Aku hanya diam. Bingung harus bilang apa. Melihat aku diam, Nikita pun segera menarik tanganku dan berjalan menuju bangku tempat Binar dan Kenanga yang sedang asyik mengobrol.
“Nga, Nar, nih Raisha mau ikut ngobrol. Mungkin ada hal penting yang mau Raisha katakan sama kalian. Aku sih, cuma nemenin Raisha dan ngejagain dia. Jangan sampai dia sakit hati karena kalian!” kata Nikita dengan gaya yang sok jadi pengawalku.
“Ya, ampun! Maaf, maaf, maaf, Raisha, maafin aku. Aku baru tahu kamu udah berangkat. Maaf ya, aku belum ijin sama kamu mau duduk sama Kenanga. Tiba-tiba Kenanga ngajak aku duduk sama dia. Aku penasaran juga duduk sama Kenanga rasanya kayak apa. Jadi, aku mau deh duduk sama dia. Maaf banget! Kamu gak papa kan duduk sama Nikita? Dia juga baik kok. Aku yakin kamu bakal betah duduk sama dia. Dia kan perhatiannya penuh sama kamu.” kata Binar sambil terus minta maaf dan memegangi tanganku.
Aku senang mendengar ucapan Binar yang menunjukkan maaf. Tapi, setelah mendengar ucapan Binar “aku yakin kamu bakal betah duduk sama dia.” Aku langsung gak bergairah seperti semula. Aku pikir, ucapan Binar yang itu sangat menyakitkan. Ucapan itu seperti menggambarkan kalau dia ingin aku duduk sama Nikita terus dan gak duduk sama Binar lagi. Padahal aku merasa cukup betah duduk dengan Binar. Tapi, aku putuskan untuk mencoba duduk dengan Nikita. Siapa tahu dia lebih baik dari pada Binar. Bukannya aku membeda-bedakan, tapi, karena aku sangat kecewa pada Binar sehingga aku memutuskan begitu.
“Lagipula duduk sama Kenanga asyik, lho. Dia sama-sama cerewet kayak aku. Cocok banget buat keadaanku ini. Kalau kamu pengin coba duduk sama Kenanga, kapan-kapan kita gantian deh. Dijamin kamu bakal betah kayak aku. Tapi, kamu coba duduk sama Nikita dulu, ya. Mungkin kamu merasa lebih betah sama Nikita. Kan anggapan orang gak tentu sama, Sha.” ucap Binar.
“Kok malah tambah murung sih, Sha? Bukannya kata-kata Binar itu betul? Lagipula cuma masalah tempat duduk. Kan masalah sepele, Sha. Jangan dibesar-besarin.” kata Kenanga.
“Ya udah. Siapa yang mau besar-besarin masalah? Yuk, nik, kita ngobrol aja berdua! Aku memutuskan untuk bersikap kecewa dan marah pada Binar dan Kenanga. Aku akan menguji mereka, apakah mereka memperhatikanku?

“Nik, istirahat pertama temenin aku ke perpustakaan mau gak? tanyaku saat Nikita baru saja berangkat.
“Mmm, gimana ya, Sha? Aku males ke perpustakaan. Aku mau ke kantin aja deh sama Binar dan Kenanga. Kamu sama…” jawab Nikita terputus karena ia bingung menyuruh siapa untuk menemaniku.
“Gitu ya? Ya udah, gak papa. Aku sendirian aja.” kataku santai meski sakit hati.
“Sorry ya… aku dah pernah bilang sama kamu kan, kalo aku paling gak betah di perpustakaan. Ada tugas di sana pun aku pasti gak bisa dan nilainya jelek. Gak cuma di perpustakaan sih, pokoknya kalau baca, aku gak suka. Kecuali kalau mau ulangan, aku malah rajin banget baca buku. Entah mengapa, Sha.”
“Iya, kamu dah pernah bilang gitu kok. Aku ngerti, kok. Udah gak usah dipikirin, aku tuh orangnya pengertian, kok. Hehe…
“hahaha…”

Saat istirahat pertama, aku bergegas ke perpustakaan. Aku tak sabar mencari buku yang menurutku bagus dan meminjamnya. Tiba-tiba…
Brukkk…! Suara orang terjatuh dari arah belakang tempatku berdiri. Ku tengok dan ternyata Nikita yang terjatuh. Orang-orang yang lewat langsung menertawakan Nikita. Aku menghampiri Nikita dengan wajah panik.
“Nik? Kamu gak papa? Hati-hati donk.” kataku sambil membantu Nikita berdiri.
“Iya, gak papa sih. Aku cuma mau nemenin kamu aja pergi ke perpustakaan.. yukz!” kata Nikita dengan wajah bersemangat.
Aku hanya bengong. Menurut saja pada Nikita. Aku tak pernah menyangka Nikita berubah cepat sekali. Aku senang sekali. Kujalani hari-hariku bersama Nikita dengan penuh canda tawa meski tanpa Binar dan Kenanga.

“Nik, kamu mau kemana?” tanyaku saat Nikita akan beranjak pergi.
“Aku mau sama Binar dan Kenanga, kamu mau ikut? Soalnya bosen nih, Cuma diem aja gak ngobrol.” jawab Nikita.
“Enggak. Aku di sini aja.” kataku. aku agak tersinggung dengan ucapan Nikita. Aku jadi merasa pendiam dan sangat pendiam di depan Nikita. Tapi, memang beginilah aku. Mungkin aku memang pendiam dan gak bisa jadi sahabat yang asyik. Huh! Apa yang harus kulakukan?

Begitulah seterusnya, Nikita selalu saja mengobrol bersama Binar dan Kenanga hampir setiap saat. Jika aku ikut bergabung, rasanya aku hanya jadi patung di antara mereka. Tentu karena aku hanya menjadi pendengar setia yang tak punya banyak cerita. Mungkin inilah aku, aku yang tak bisa menjadi sahabat yang baik buat mereka. Lebih baik aku duduk menyendiri sambil membaca buku. Mungkin itu lebih menjadikan diriku berguna daripada aku menjadi pendengar setia yang tak berpartisipasi untuk ikut bercerita, sehingga aku tak berguna untuk sahabat-sahabatku. Tapi, apa aku terlalu egois jika aku memilih menyendiri? Entahlah. Aku nikmati hari-hari pahitku yang sungguh tiada manisnya. Aku benar-benar kini menjadi orang yang tak punya teman. Kemana-mana sendiri, tiada tangan sahabat yang menggandengku di setiap saat, tiada canda tawa, tiada senyum manis dari seorang sahabat, yang ada hanya aku seorang yang ditemani angin, benda-benda, dan hanya pemandangan orang berlalu lalang yang seolah-olah mengejekku dan berkata “cari sahabat donk! Kasian amat sendiri mulu! Hahaha…” kata-kata itu bagai terlontar dari setiap mulut orang yang melihatku.
Hari-hariku di sekolah semakin membuatku minder dan tak betah ada di sekolah. Semua sahabatku, Binar, Kenanga, dan Nikita, kini seakan tak mempedulikanku. Seakan menganggapku bagai angin… atau bahkan menganggapku bagai debu yang mengganggu suasana canda tawa mereka. Betapa sakit hatinya aku. Kukira di SMP aku kan mendapatkan seorang sahabat atau banyak sahabat yang kan benar-benar menjadi sahabat tuk slamanya. Tapi, yang kudapat hanyalah persahabatan yang sementara. Yang tak lagi bisa dibilang “persahabatan”. Yang hanya membuatku semakin tersiksa.

Kini aku tiba-tiba tersadar dari keputus asaanku. Aku berharap dengan kesadaran ini, aku bisa bangkit dari keterpurukanku. Kini aku selalu termotivasi dengan kata-kata “mencari sahabat memang susah. Jangan menyerah! Berusahalah mengenali keadaan di sekelilingmu, pasti di antara banyak orang di sekelilingmu, ada beberapa yang kan menjadi sahabatmu yang sejati, abadi dan selamanya.” Ya, aku yakin itu.

Bel pulang berbunyi. Aku bergegas berjalan ke tempat parkir sepeda. Saat aku hendak menaiki sepedaku, tiba-tiba Nikita datang menghampiriku.
“Hai, Sha! Nanti aku, Binar sama Kenanga mau kumpul. Kita bertiga ngundang kamu, lho. Kan kamu bagian dari persahabatan aku, Binar sama Kenanga. Yang paling utama, ntar kamu dateng ya. Jangan pulang dulu kalo bisa. Kamu langsung ke sekitar kebun pisang milik ayah Kenanga. Kamu tau kan dimana letaknya? Aku tunggu kamu di depan kebun ya! Assalamu’alaikum.” kata Nikita panjang lebar tanpa berhenti. Tapi aku bisa memahami.

Aku bergegas mengayuh sepedaku. Aku penasaran ada apa mereka mengadakan kumpul-kumpul, ya? Entahlah. Nikita telah mendahuluiku. Aku pun jadi semakin bersemangat untuk mengejar Nikita.

Sesampainya di kebun mangga yang dimaksud, aku melihat ayah Kenanga berdiri di depan kebun sambil berbincang dengan anak buahnya. Aku tak melihat ada Nikita. Tadi, dia bilang akan menunggu di depan. Sudahlah, aku tanya saja pada ayah Kenanga.
“Assalamu’alaikum, pak. Maaf mengganggu.”
“Eh…wa’alaikum salam. Temannya Kenanga, ya? Siapa ya namanya? Bapak jarang melihat kamu.”
“Iya pak. Saya Raisha, temannya Kenanga. Kenanganya ada pak?”
“Oh, kamu yang namanya Raisha. Tadi Kenanga dan dua temannya berpesan agar anak yang namanya Raisha suruh masuk kebun. Lurus saja sampai ada kursi taman di tengah-tengah kebun. Silahkan masuk saja, pasti nanti lihat kursi taman. Mungkin Kenanga menunggu di sana.”
“Oh, begitu, ya pak. Terima kasih pak. Maaf sudah mengganggu.”
“Ya, tak apa-apa.”

Saat aku masuk, berjalan beberapa meter dari pintu depan, terlihat kursi taman yang dimaksud. Aku mendekati kursi itu sambil mencari ketiga sahabatku. Tiba-tiba…
“Hai, Raisha sahabatku yang puallliiinggg baik!” teriak Binar sehingga mengagetkanku. Disusul Kenanga dan Nikita, mereka bertiga mendekatiku dan memberiku seikat bunga anggrek bulan yang masih segar. Aku begitu terkejut dan sangat merasa terharu bercampur senang karena bunga kesukaanku adalah bunga anggrek bulan. Apalagi wajah ketiga sahabatku terlihat ceria dan ingin bersahabat. Lalu, kami bertiga duduk di kursi taman sambil menikmati piscok (pisang dicampur coklat, dibalut kulit lumpia dan digoreng) yang masih hangat.
“Sha, maaf selama ini kita cuekin kamu terus. Kita bagaikan gak sahabatan sama kamu karena kita jarang bareng. Kamu menyendiri terus juga pasti karena tertekan dan sakit hati. Kita baru sadar, Sha.” kata Kenanga memulai pembicaraan.
“Iya, Sha. Kita sadar karena kita gak sengaja liat puisi kamu tentang luapan perasaan kamu waktu itu. Kalau kita gak baca puisi itu mungkin kita gak sadar dan kita gak mungkin kumpul di sini. Sekali lagi maaf ya.” kata Nikita dengan muka serius.
“Sha, akulah yang merasa paling bersalah. Aku dan kamu kan yang paling lama kenal dan paling dekat. Kita juga pernah saling janji tuk tetap bersama di SMP dan tuk slamanya. Tapi, aku yang nglanggar. Aku janji bakal perbaiki semuanya, Sha. Maaf ya.” kata Binar dengan mata berkaca-kaca seakan air matanya akan membanjiri pipinya.
“Iya, sahabatku… yang lalu biar berlalu. Kita jadikan masa lalu itu untuk amanat agar kita bisa menjadi lebih baik di masa depan.” kataku sambil mengusap air mata yang terlanjur jatuh.

Saat itu, aku sadar bahwa kini aku telah mendapatkan sahabat. Ternyata impianku agar sahabat datang menghampiriku telah menjadi kenyataan. Aku yakin persahabatan Raisha, Binar, Kenanga dan Nikita kan slalu langgeng tuk selamanya tak terhapus ruang dan waktu. Kini lembaran baru kubuka bersama ketiga sahabatku yang sejati! Akhirnya, Sahabat Kan Selalu Menghampiri Orang Yang Sabar dan Slalu berjuang. PASTI!

Cerpen Karangan: Rani Febrina Putri
Facebook: Rani Febrina Putri

Cerpen Datanglah Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebaikan Kecil Yang Bermakna

Oleh:
Siapa sih yang akan merasa bahagia jika akan dihadapkan dengan ujian praktek yang sangat susah? Itulah nasib Alyssa, sepertinya ujian seni musik -pelajaran yang tidak pernah ia kuasai- akan

Awal Ku Mengenal Cinta

Oleh:
Awal pertama aku menjadi anak SMP aku beserta teman-temanku yang lain melanjutkan ke sekolahan yang berbeda-beda, ada yang di SMP negeri, swasta dan ada juga yang di madrasah tsanawiyah.

Miracle

Oleh:
Attha fina insani (attha) Ia adalah seorang pelajar yang kini sedang menyelesaikan study nya di high school miracle’s, ia bukan lah anak yang pandai, ibu nya telah lama meninggal

Masa Masa di SMP

Oleh:
Hmm.. gimana yah dikerjain sama kaka kelas yang mukanya kaya jenglot, nyebelin, kepalanya bertanduk, baju dekil dan ditambah lagi sok sokan tuh kakak kelas mantan mafia kelas kakap.. *bayangkan..

Lupakan Dia Tuk Selamanya

Oleh:
Semenjak kedatangan anak baru di kelas sebelah, dia berubah. dulunya dia baik dan ramah kini hilang, yang ada hanya egois dan emosi. entah apa yang membuat dia berubah, kata-katanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *