Dear Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

“Teman… bolehkah kau ku panggil Sahabat? Meski sikapku padamu dulu tak bersahabat!”

Aku menuliskan kata itu di sebuah mading sekolah sebagai tanda isi hati sekaligus penyesalanku pada sosok teman yang bernama Angga. Kini ia tinggal di Pontianak sana. Aku ingin sekali menemuinya dan berterima kasih padanya. Sebab, tanpa pertolongannya yang tulus aku mungkin tak akan melihat dunia ini lagi. Ini adalah kisahku. Kisah yang masih ku ingat namun ku sesali.

Pagi buta ku lihat, Angga sedang berjalan jalan kecil di jalan depan rumahnya seorang diri. Kacamata yang dikenakannya mengkilap kala disorot cahaya lampu yang berdiri tegak di dasar jalan. Aku bergidik, kenapa dia begitu nyaman menggunakan kacamata yang tebalnya nyaris 1 cm itu. Pagi semakin cerah oleh sinar mentari yang menembus dedaunan di pohon pohon sehingga serat serat cahayanya terpancar ke segala arah. Aku yang sudah bersiap-siap berangkat sekolah memanaskan mesin motorku dahulu.

BRENGG! BRENGG!

Suaranya terdengar nyaring dengan kepulan asapnya yang tak terlalu pekat, hal itu membuat tenggorokanku tersedak lalu batuk dibuatnya. Tanpa pikir panjang ku keluarkan motor kesayanganku yang berwarna biru itu. Sekejap ku naiki dan motorku melesat menapaki jalanan aspal menuju sekolah. Bersama kawan kawan karibku. Aku bercengkerama ala-ala anak muda zaman sekarang dengan tawa dan gaya bahasa yang kekinian.

“Yo, lihat tuh tetangga Lo! Buseet cupunya minta ampun!” ujar Yuda mengarahkan pandangannya pada sosok Angga yang berjalan menuju gerbang sekolah. Aku pun menghentikan laju jalannya dengan paksa. “Eh lo, mau ke mana? Mana tugas Kimia gue? Udah belum?” tanyaku dengan bengis.

Angga tak berucap, lalu ia membuka tas abu abunya dan memberikan buku Kimiaku. Aku cek isinya, dan ya! Bagus. Sambil mengejek dan mengolok-oloknya aku dan dua sahabatku tertawa puas usai mengerjainya. Sungguh, perlakuanku yang sangat tak dewasa dan tak pantas.

Hari-hari di sekolah, ku lalui dengan mem-bully dan mem-bully Angga. Anehnya, ia hanya diam tanpa melawan sedikit pun saat aku dan para sahabatku mengerjainya. Benar-benar kesabaran yang hebat dari dirinya. Dia memang pintar, kutu buku, dan ku akui dia juga memiliki wajah yang tampan, tubuhnya atletis tapi di pikiranku kala itu, percuma dia punya itu semua karena dia terlalu pendiam dan cupu. Sehingga aku merasa benci dengannya. Aku! Tak akan pernah memaafkan diriku sendiri kala mengingat perlakuanku yang tak manusiawi padanya.

Kala itu aku sungguh di luar kendali. Saat bel pulang berdering, aku dan tiga sahabatku menyeret paksa Angga ke sebuah gudang kosong. Di sana, kami berempat memukulinya habis-habisan. Sampai dia tersungkur ke lantai dengan luka-luka di wajah dan beberapa anggota tubuhnya. Penyebabnya karena dia lupa mengerjakan tugas Fisikaku dan akhirnya aku dihukum habis-habisan oleh Pak Anang guru Fisika yang terkenal kejam saat menghukum muridnya yang tak disiplin. Aku yang sudah puas pun ke luar bersama Yuda, Leo dan Jodi dari dalam gudang lalu menutupnya rapat-rapat.

Esoknya, aku lihat Angga bersekolah dengan berjalan pincang, tangan kirinya dibalut perban dan wajahnya penuh dengan luka lebam. Benar-benar laki laki yang hebat! Aku pun menghampirinya dan mengancamnya untuk tidak mengadu pada siapa pun. Dia mengangguk seraya memberikan sebuah kertas yang bertuliskan, “Tenang Rio! Aku tak akan mengadu. Maaf Aku harus menulis di kertas ini, karena suaraku terganggu akibat kemarin,” sontak membuatku tiba-tiba merasa bersalah namun egoku mengalahkan rasa ibaku. Tetap saja aku benci dia.

Sore hari adalah saat-saat yang penting. Aku ada jadwal balapan yang tergolong balapan liar. Aku tak peduli, karena kala itu aku masih diliputi ego yang besar. Sorak orang orang yang menonton membuatku semangat. Perlahan balapan pun dimulai dan sementara aku memimpin dengan laju motor yang sangat kencang. Tiba-tiba!

BRUSHH!! BRUAK!!

Motorku menabrak pembatas jalan dan aku jatuh terpental setelah itu aku tak sadar. Samar-samar, ku buka mataku dan ku lihat ada Ayah dan Ibuku. Mereka tersenyum bahagia kala melihatku tersadar. Mereka menceritakan semuanya. Dan ternyata aku tak sadar selama 3 hari. Dan! Aku tertegun kala mendengar cerita Ibuku, saat ku kritis. Anggalah yang pertama kali memboyongku ke rumah sakit. Dia mendonorkan darahnya untukku karena aku kehilangan banyak darah. Selama 2 hari pula, Angga yang menanggung biaya rumah sakit untukku.

Tetesan air mata tiba-tiba jatuh. Aku sangat salah padanya. Aku sudah banyak dosa padanya. Tapi dia! Membalasku dengan kebaikan ini. Aku bangkit dari ranjangku dengan perlahan dan menanyakan Angga ada di mana. Namun, Ibuku bilang Angga sudah pindah ke Pontianak untuk menetap di sana. Perasaan bersalah kembali menyelimuti hati ini. Dia orang yang ku dzalimi selama ini justru telah menyelamatkan hidupku. Sementara mereka yang ku sebut Sahabat? Tak ada yang peduli.

Sobat! Terima kasih atas segalanya. Dan maafkanlah aku ini. Sobat! Semoga Tuhan membalas kebaikanmu.

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: www.facebook.com/fauzimaulana.sukidakara

Cerpen Dear Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dhan, The Damn and The Bestday

Oleh:
Huh… seseorang dari atas langit “Gooood mooorniiiing Dhaaann” “Arrrrghhhh…” Brukkk. “sialan!!!, berani sekali ayah pagi-pagi begini sudah mau mematahkan leherku!” aku bicara setelah menjatuhkan ayahku di lantai. “masih pagi

I Like Your… Angry

Oleh:
Dia sangat manis saat bicara dan senyumannya membuat semua orang ingin memujinya. Dia adalah Sio, dengan panggilan itu dia merasa paling hebat. Semua orang memang memujinya tapi tidak dengan

Permen Cokelat Keberuntungan

Oleh:
“Huft.. Akhirnya..!!” kataku dalam hati sambil mengusap keringat yang mengucur deras dari wajahku. “Gimana Ta? lumayan bagus kan?” kata mamaku seraya melihat toko permen yang akan aku buka dengan

Karena Kebersamaan

Oleh:
Hari-hariku berlalu lebih cerah. Sebuah cahaya menerangi sebuah ruang kosong yang tadinya gelap. Tak hanya menerangi, tapi juga mengisinya. Dia bukanlah pengunjung pertama yang singgah, namun hadirnya itu sedikitnya

Hitam Putih Pergaulan

Oleh:
Dalam kenangan masa lalu yang sangat buruk tentu Naila tak mau lagi jatuh ke jurang yang sama. Karena salah memilih sahabat, ia menjadi anak pemalas dan boros. Sebelumnya ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *