Dear Friend, Forgive Me (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 April 2016

“Selamat pagi!”
“Pagi!” Doni menyapa sosok perempuan di koridor kelas. Risa namanya. Mereka adalah sepasang teman yang dekat.
“Ada pr gak?” tanya Doni sambil menyeruput kuah bakso.
“Ada. Matematika halaman 12 nomor 1 sampe 5,” jawab Risa yang sedang membaca buku.
“Oh. Kamu udah?”
“Udah, kamu?” Doni lalu berhenti memakan baksonya karena sudah habis.
“Belum. Lihat boleh?” pintanya dengan ekspresi muka memelas.
“Boleh deh, tapi kapan-kapan kerjain sendiri ya. Nih,” Risa pun memberikan buku catatan matematikanya kepada Doni.

“Hehehe… Makasih Ris. Oh iya, kamu kenal kan sama Luna?”
“Kenal. Murid baru itu kan? Kenapa?” Risa menutup buku yang ia baca lalu mencoba mendengar cerita Doni.
“Aku suka sama dia Ris,” ucap Doni pelan, membuat Risa sedikit terperanjat.
“Hah? Kamu suka… Sama dia?” tanya Risa dengan tatapan seriusnya. Poninya yang rapi tertiup angin sepoi-sepoi.
“Iya, tapi, kalau aku tembak dia apa dia bakal nerima aku?” Doni menunduk. Kata-katanya kedengaran cemas. Risa berdiri dari posisi duduknya.
“Ah gentle ajalah, kamu kan cowok. Coba dulu aja. Ya udah aku mau ke kelas dulu ya. Bye!” tanpa menatap wajah Doni, Risa lalu pergi berlalu ke kelas meninggalkan Doni seorang diri di kantin.

Hari senin. Seminggu semenjak percakapan itu. Risa jarang berkomunikasi dengan Doni. Dia tahu, kalau sahabatnya itu sedang kasmaran. Pasti Doni sedang dekat dengan Luna, perempuan yang dicintainya. “Heh! Sendirian aja,” Risa terkejut setengah mati saat seseorang mengejutkannya.
“Ih, Doni. Kirain siapa, ngagetin aja sih,” gerutu Risa memanyunkan bibir mungilnya yang berwarna pink.
“Hehehe… Maaf deh, maaf. Kamu apa kabar?” tanya Doni menyernyihkan giginya sebagai senjata andalan jika Risa sedang kesal padanya.
“Baik, kamu? Oh iya, kamu kan lagi sibuk ngejar-ngejar Luna,” nada suara Risa terdengar kesal.
“Hehe… Bagus kalau kamu baik-baik aja. By the way, aku udah lumayan deket loh sama Luna,” Doni menyenderkan tubuhnya ke bahu Risa.
“Bagus dong. Terus?” ucap Risa sambil terus menatap buku biologinya.

“Dia susah dideketin sih awalnya, tapi akhirnya aku bisa deh deketin dia,” seru Doni menatap langit langit perpustakaan sambil tersenyum sumbringah. Risa hanya bergeming, dia terus fokus dengan buku biologinya. Doni pun mengacak-acak rambut Risa karena kesal tak direspon. “Ih Doni, apaan sih? Dasar usil,” gerutu Risa sambil berdiri dan membetulkan rambut lurusnya yang terlihat cantik itu.
“Kamu cuek sih, tadi kan kamu tanya gimana? Aku cerita, eh kamu malah diem,” ujar Doni beralasan.
“Kamu emang gak lihat ya? Aku kan lagi baca buku, nanti kan ulangan. Oh iya, kamu kan cuma mentingin diri sendiri, gak pernah ngertiin keadaan temen,” Risa lalu pergi dari perpustakaan. Meninggalkan Doni sendirian di sana yang sedang duduk merasa keheranan akan sikap sahabatnya itu.

“Risa! Heh, kamu pelit banget sih tadi. Aku tanya jawabannya kamu malah diem aja,” protes Doni.
“Terus apa efeknya buat aku?” Risa membalas dengan nada sinis.
“Kamu kenapa sih? Kamu masih marah sama aku?” Risa tak menjawab. Langkah kakinya kian laju. Doni setengah berlari mengejar Risa, lalu ia pun memegang tangan kanan Risa dengan paksa. “Ih lepasin, aku mau pulang, buru-buru!” sanggah Risa mencoba melepaskan cengkeraman tangan Doni.
“Eh Doni, jadi kan kita pulang bareng?” tiba-tiba Luna menghampiri mereka. Doni pun melepaskan cengkeramannya. Risa yang kesal, lalu pergi menjauhi Doni tanpa menatapnya. “Iya, iya ayo!” jawab Doni mengukuhkan pertanyaan Luna. Gadis berambut ikal sebahu itu pun tersenyum puas. Akhirnya mereka berdua pun pergi pulang bersama-sama.

Triing! Triing!

Bunyi handphone Risa berdering. Dilihatnya layar handphonenya tertera nama kontak ‘Doni’, seketika wajahnya murung. Dengan ragu ragu, ia pun menerima panggilan dari sahabatnya itu. “Halo, Ris! Ris! Kamu masih marah ya sama aku?” ucap Doni membuka percakapan.
“Risa, jawab dong. Masa gitu sih? Aku minta maaf deh, iya aku emang egois. Aku cuma mentingin diri aku sendiri. Gak pernah peduli sama kamu,”
“Ris! Aku mau ngajak kamu makan malem entar di kafe favorit kita. Udah lama juga gak ke sana kan? Ya… Sebagai ungkapan maaf aku. Mau ya! Please!” bujuk Doni terdengar yakin.

“Hmm… Iya deh iya, jam berapa?” jawab Risa dengan nada datar.
“Alhamdulillah. Jam 7 malem aja, seperti biasa,” ucap Doni.
“Iya udah deh, jangan lupa. Bawa buku fisika sama sejarah ya, sekalian kita kerjain pr-nya,”
“Oke oke, siap!”
“Ya udah deh, bye!”
Tuut! Tuut! Tuut!

Risa mengakhiri percakapannya dengan Doni. Wajah murungnya berubah menjadi wajah dengan rona-rona yang bahagia. Pipinya yang sedikit cabi tampak memerah. Dia senang akhirnya bisa kembali dekat dan damai dengan Doni. Cepat-cepat ia mematikan lampu kamarnya dan segera tidur. Ia tak sabar untuk menyambut hari esok yang akan tampak indah, seindah sinar lembut mentari pagi. Esok pagi yang cerah. Doni sedang membaca baca buku di bangku taman sekolah bersama seseorang.

“Wah, bagus banget novelnya. Aku boleh pinjem,”
“Boleh,”
“Hehe… Makasih ya!”
“Iya,”
“Entar malem jadi kan?”
“Jadi dong. Eh iya, aku mau ke kelas dulu ya, si Aldo nungguin deh kayaknya,”
“Iya udah deh. Sampai nanti!” Doni pun pergi menuju kelasnya. Perawakannya yang lumayan tinggi ditambah bentuk fisiknya yang sporty. Juga tampangnya yang tampan, acapkali membuat gadis-gadis terpesona. Tapi dia belum pernah berpacaran sama sekali.

Pukul 6.35, Risa sudah berada di kafe favoritnya. Dengan menggunakan pakaian kasual, dia terlihat sangat elegan dan manis. Rambutnya yang hitam lurus berponi membuatnya semakin imut saja. “Doni mana sih? Telepon ah,” Risa pun menelepon Doni.
“Gak aktif. Mungkin dia lagi di jalan,” Risa pun menyimpan handphone-nya ke dalam tas mungilnya.
“Mau pesan apa Mbak?” tanya seorang pelayan kafe.
“Nanti deh Mbak, soalnya lagi nunggu temen,” jawab Risa diselingi senyuman. Pelayan itu pun mengangguk mengerti lalu pergi.

Pukul 7.45. Doni masih belum datang juga. Risa pun Risau dan mulai bosan menunggu Doni.
“Doni mana sih? Ditelepon gak aktif aktif,” gerutunya kesal. Saat melihat arloji di lengannya, menunjukkan pukul 8.10 malam. Ia pun berdiri dan mulai pergi dari kafe itu.
“Mending aku di rumah deh, ngerjain pr bahasa inggris daripada kayak gini,” ketusnya sambil melepaskan pakaiannya kemudian menggantinya dengan piama.

“Bye Doni! Hati-hati…” teriak Luna seraya melambaikan tangannya. Doni pun melesat dengan motor ninja birunya. Setibanya di rumah, Doni tiduran di atas kasurnya yang empuk. “Aduh!!! Aku lupa, Risa!” Doni baru ingat kalau ia punya janji dengan sahabatnya, Risa.
“Halo… Risa! Ris, maaf ya aku lupa Ris. Beneran deh,” celetuk Doni penuh penyesalan.
“Udah ya, aku mau tidur,”
“Eh… Ris, kamu tambah marah ya? Aduh… Maaf ya, tadi aku main sama Luna. Terus lupa kalau aku sama kamu ada janji,” ucap Doni blak-blakan.
“Oh, gitu. Bagus. Utamain terus ya Lunanya,”
“Halo… Ris… Ahh,” Risa menutup teleponnya dengan cepat. Doni pun kini mulai risau. Karena sudah larut malam, dia pun memutuskan untuk tidur saja.

“All the wishes, you can make it real!” terdengar seseorang membacakan penggalan kata-kata itu berulang-ulang. Luna yang sedang membaca buku di serambi sebelah mulai penasaran dan mengintip seseorang itu.
“Siapa dia?” gumamnya dalam hati. Orang itu pun memalingkan pandangannya ke arah Luna. Sehingga membuat Luna menghentikan aksi mengintipnya.
“Hei, kamu Luna kan?” orang itu bertanya.
“Iya, maaf ya, aku tadi ngintipin kamu,” pinta Luna.

“Gak apa-apa kok, oh iya. Aku tahu kok kamu itu pacarnya Doni kan?”
“Iya, kamu temennya ya?”
“Iya, tapi kayaknya bakalan jadi cerita lama deh. Oh iya, ini buat kamu! Tolong bacanya nanti ya di rumah kamu. Aku mohon. Itu cuma surat biasa kok,” orang itu pun memberikan sepucuk surat yang di apisi amplop pink kepada Luna.
“Iya. Aku pasti baca ini di rumah kok. Oh iya, nama kamu siapa? Kenalin, aku Luna Estefiana,” Luna pun mengulurkan tangannya. Orang itu pun menyambut uluran tangan Luna dengan baik. “Aku Risa Hana Latiffa. Salam kenal ya,” mereka pun saling melempar senyuman manis.

“Udah seminggu nih, aku gak lihat temen aku,” ucap Doni.
“Siapa?” tanya Luna.
“Risa, aku khawatir sama dia,” Doni lalu menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Dia marah sama aku, aku ingkar janji sama dia. Pengen minta maaf tapi kemaren-kemaren dia ngehindar terus,” sambung Doni terdengar menyesal.
“Sabar ya. Mungkin dia lagi butuh waktu sendiri. Cewek kan dia? Aku ngerti kok apa yang dia rasain,” ujar Luna mencoba menenangkan suasana hati kekasihnya itu.
“Iya. Makasih ya nasihatnya,”
“Iya, sama-sama,” Luna memberikan senyumannya yang manis.

“Dia udah semingguan loh gak sekolah. Apa iya sampe segitunya buat nenangin diri?” ucap Doni membuat Luna berubah raut wajahnya.
“Mungkin lagi ada halangan. Dia lagi ada acara keluarga kali,” Luna berdalih.
“Mungkin sih. Kita pulang aja yuk! Udah sore,” ajak Doni lalu menggenggam tangan Luna.
“Yuk!” mereka pun pulang bersama disaat senja hendak terbenam.

“Pak, emang bener. Risa pindah sekolah?” tanya Doni kepada pak Damar selaku wali kelas.
“Iya Doni. Risa sudah resmi pindah tiga hari yang lalu,” jawab pak Damar, guru berkacamata minus itu.
“Hah? Terus dia pindah ke mana Pak?”
“Katanya ke malang. Sudah ya Bapak mau ke kantor dulu,” jawab pak Damar lalu berlalu menuju kantor. Doni terdiam. Luna di sampingnya juga ikut terdiam. Dalam hati kecilnya, Luna merasa iba. Dan ingin jujur. Tapi dia belum bisa untuk itu.

“Doni, andai kamu tahu. Risa sebenernya tak cuma sekedar pindah. Dia memang sahabat kamu yang hebat. Aku bakal beruntung kalau kenal dia sejak lama kayak kamu,”
“Luna! Luna!”
“Eh, iya,” Luna pun tersenyum.
“Pulang yuk! Nanti aku mau ke rumah Risa. Ikut ya,” ajak Doni.
“Iya iya! Aku ikut,” setuju Luna disertai anggukan.

Pukul 4.27 sore. Doni dan Luna tiba di rumah Risa. Dilihatnya, rumah yang berukuran lumayan luas ini tampak sepi. Tiba-tiba, seorang tukang kebun di rumah itu menghampiri mereka.

“Eh mau cari non Risa ya den Doni?” tanya tukang kebun itu.
“Iya Mang, Risanya ada? Katanya dia pindah?” Doni balik bertanya.
“Iya emang bener, non Risa udah pindah ke malang,”
“Sejak kapan Mang?”
“Udah lama den,” jawab tukang kebun itu.
“Oh gitu ya, ya udah deh Mang, Doni pamit dulu ya,” Doni pun berpamitan. Sambil menggandeng tangan Luna. Ia merasa gusar karena sahabat terbaiknya itu telah pindah ke kota yang jauh dengan kotanya saat ini.

“Kamu nangis?” tanya Doni saat melihat Luna meneteskan air mata.
“Nggak kok, nggak!” dusta Luna sambil mengusap bulir bulir air matanya di pipi.
“Kenapa? Cerita aja kalau kamu sedih?” bujuk Doni sambil memegang tangan Luna dengan lembut.
“Nggak kok. Aku cuma terharu aja, soalnya udah 5 bulan kita pacaran, nggak kerasa,” ucap Luna.
“Iya, semoga kita langgeng ya!” sambung Doni penuh harapan. Beberapa saat keadaan menjadi hening.
“Aku mau pulang, anter ya!” pinta Luna tiba-tiba. Doni merasa heran, kenapa Luna tiba-tiba ingin cepat cepat pulang. “Ya udah, yuk!” Doni pun mengantar pujaan hatinya itu pulang.
Dengan mengendarai motor, Doni dengan hati-hati mengemudikan kuda besinya itu menuju kediaman sang kekasih.
“Bye! Hati-hati ya!” Luna melambaikan tangannya seiring perginya Doni. Dia sedikit melamun sebelum akhirnya masuk ke dalam rumahnya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: Fauzi We Lah

Cerpen Dear Friend, Forgive Me (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesal Tak Terduga

Oleh:
Hujan tak surut terhenti, suara petir pun terus menggelegar. Hujan semakin mendinginkan badan, apalagi jika sampai harus menunggu hujan itu reda. Iya cerita ini dimulai ketika hujan turun di

Sahabatku Kekuatanku

Oleh:
Pertemuan awal yang indah, Yang membuat aku merasakan dua hal yaitu kebahagiaan dan kesedihan Hujan yang lebat menguyur kota Jambi yang terkenal memiliki Sungai yang terpanjang di sumatera. Di

Sahabat Gak Pernah Ketemu

Oleh:
Temenku yang satu ini setengah feminim dan setengah tomboy persis kayak aku. Oh ya hampir aja lupa namanya Dhita, emang dia agak manja tapi aku senang punya temen kayak

Jilbabku Kehormatanku (Part 2)

Oleh:
Lebaran idul fitri pun tiba dan biasanya libur lebaran selama seminggu, aku tidak pergi kemanapun karena saudara-saudaraku pulang kampung, dan rumahku dijadiakan bese camp (penginapan), aku sengaja untuk tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *