Desa Horseville

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 29 May 2017

Tangisan pertamaku terdengar di Desa Horseville. Sesuai dengan namanya, desa ini dipadati dengan kuda-kuda, walaupun jumlah penduduknya lebih banyak, sih. Hampir semua penduduk desaku mempunyai kuda. Di samping kanan setiap rumah terdapat kandang kuda. Mengapa di desa ini banyak sekali kuda? Konon, dahulu desa ini diperintah oleh seorang jenderal dari negeri antah berantah (kita tidak mengetahuinya) yang sangat menyukai kuda. Ia berpikir, kuda adalah hewan pembawa keberuntungan. Maka dari itu, ia menyuruh seluruh masyarakat untuk memelihara kuda. Mereka diajari cara menunggang kuda, memberi makan, dan beberapa hal lainnya. Semenjak wafatnya jenderal ini, para warga mengenang kepergiannya dengan tetap memelihara kuda sampai akhir hayat desa ini.

Apa kalian tahu? Aku juga sangat menyukai kuda! Hewan ini bak sahabat terbaikku. Padahal sebenarnya aku mempunyai sahabat manusia, tetapi menurutku kuda lebih menyenangkan daripada mereka yang agak menyebalkan.
Kuda milikku bernama Pony, yang memang berponi, tetapi lumayan besar. Warnanya putih seputih salju, sampai-sampai aku repot untuk membersihkan badannya hanya karena terkena lumpur setitik. Tetapi aku tetap mencintainya, kau tahu kan, seperti sahabat sendiri.

Ayah dan Ibuku juga mempunyai kuda, kuda mereka besar dan gagah. Kuda Ayahku bernama Albert dan berwarna hitam gelap, sedangkan kuda Ibuku bernama Roberta dan berwarna coklat pekat. Sebenarnya, aku sangat menyukai potongan rambut kuda Ibuku. Rambutnya panjang dan bergelombang alami. Tidak seperti Pony, dia memiliki rambut pirang yang dikepang setiap bagiannya. Aku ingin mengubah gaya rambut itu, namun sahabatku melarangku karena kuda poni tidak akan bagus dengan gaya rambut seperti Roberta. Ah, omong kosong. Tetapi apa boleh buat, aku harus menurutinya karena jika tidak ia akan mengadu pada ayahnya yang seorang kepala desa. Nanti kepala desa akan mengomeli orangtuaku, dan aku akan terkena bantahan mereka. Lihat kan? Manusia itu memang menyebalkan.

Setiap hari aku selalu berkeliling dengan Pony, ke padang rumput, ke jalan-jalan setapak yang selalu sepi di sore hari, ke tepi hutan, ke ladang, sering juga menyusuri sungai, ataupun berjalan di bawah pepohonan teduh dan sejuk, sekalian menangkapi apel-apel yang sudah matang. Pony juga terlihat sangat senang sekali saat aku mengeluarkannya dari kandang untuk berjalan-jalan. Benar, kok, sebagai anak yang bukan ahli kuda saja aku tahu bahwa Pony sangat bergembira.

Terkadang juga ada kenangan-kenangan yang menyedihkan, seperti saat Pony pincang, karena kakinya digigit seekor harimau di dalam hutan. Saat itu aku menyuruhnya untuk makan rumput di ladang milik pamanku. Namun tiba-tiba langit berubah mendung dan petir bersahut-sahutan. Pony sangat ketakutan lalu berlari tak tentu arah. Aku hendak mengejarnya, namun Ayah melarangku. Ia berjanji Pony akan kembali. Pony berlari ke dalam hutan, lalu ia diserang seekor harimau. Karena Pony terus melawan, harimau itu menggigit kakinya. Begitulah kira-kira cerita dari seorang pemburu yang menemukan Pony. Begitu melihat Pony yang meraung-raung, ia segera membius harimau itu. Ia memerban kaki Pony lalu membawanya ke desa sambil menuntunnya dengan susah payah karena kaki Pony terluka.

Saat sampai di desa, aku sangat panik dengan keadaannya. Tapi aku juga sangat berterimakasih kepada pemburu itu. Begitu juga Ayah dan Ibu, mereka sangat berterimakasih lalu hendak memberi pemburu itu imbalan. Tapi pemburu itu menolak lalu berkata, “Saya sudah mendapat imbalannya.” Ia menunjukkan sebuah karung dengan sesuatu di dalamnya. Ternyata itu harimau yang tadi dibiusnya! Pemburu itu bilang, “Saya sangat kelelahan memburu harimau dari pagi hingga sore, tetapi hewan itu tidak muncul juga. Dan sekarang, saya mendapatkannya karena menemukan seekor kuda poni yang sedang berjuang dalam konflik (perkelahian/peperangan)!” Rupanya, kebaikan dibalas kebaikan. Pemburu itu manusia yang baik hati.

Pernah juga, aku mengikuti Pacuan Kuda Anak di lapangan Horseshoe. Jalanan untuk balapan benar-benar membentuk horseshoe (tapal kuda). Kami akan balapan menyusuri jalan dengan pagar membatasi padang rumput di tengahnya. Sebetulnya aku tidak terlalu baik dalam mengendalikan kuda di pacuan kuda. Pony juga tidak terlalu berbakat dalam permainan ini. Tapi aku sangat suka melihat orang-orang yang menunggang kuda yang berlari sekencang mungkin. Suara kaki kuda yang berlari juga sangat enak untuk didengar. Keteplak-keteplok..
Karena kelewatan menyukai, aku memaksa untuk ikut. Akhirnya orangtuaku menyerah lalu memberiku perlengkapan sederhana khusus untuk orang-orang desa, topi pelindung, pelindung siku, dan pelindung lutut.

Awalnya, aku merasa sangat bersemangat. Ayah juga sudah mendaftarkan diriku di permainan ini. Aku dan Pony pun sudah latihan sekeras mungkin, berlari kencang di jalan setapak pada sore hari. Tapi, semangatku mulai menurun saat aku melihat berita bahwa perlombaan kali ini kebanyakan pesertanya sudah profesional dan berlatih berbulan-bulan. Coba bandingkan dengan aku, yang baru berlatih selama dua minggu. Tidak mungkin aku akan menang. Hatiku pun mulai diselimuti ketakutan dan kekhawatiran. Tunggu, satu lagi, bagaimana jika aku tertinggal di belakang dan, seluruh warga desa akan memperhatikanku, lalu aku akan…, ditertawakan!

Hari itu datang. Aku sudah berdiri di lapangan ini. Aku sudah memakai topi pelindung, pelindung siku, dan pelingdung lutut. Aku.., sangat ketakutan.
Ayah menyemangatiku. Ibu pula begitu. Aku semakin sedih saja melihat mereka. Entahlah, aku tahu aku tak akan memenangkan ini. Tetapi, aku tak ingin mengecewakan mereka. Maka, aku pun berusaha untuk percaya diri saat bertumpu pada sanggurdi, sampai duduk di pelana Pony. Aku mengelusnya pelan. Aku berkata, “Kita tak akan memenangkan ini, Pony. Tapi setidaknya kita berusaha.” Pony mengangguk seolah mengerti apa yang kuucapkan. Akhirnya, perlombaan sudah sampai di hitungan aba-aba. “Tiga.., dua.., sa.., TU!”

Kuda-kuda kami melaju kencang di lapangan. Aku mencondongkan badan ke depan, berusaha membuat Pony berlari lebih cepat. Tapi itu tidak membuahkan hasil. Mencondongkan badan ke depan itu ada tekniknya. Bukan sekedar mencondongkan saja. Maka badan Pony pun terbawa-bawa kuda peserta lain karena ia tak bisa berlari lebih kencang. Akhirnya tiba saatnya di mana aku harus merasakan hal ini. Aku tertinggal di belakang dan mendengar tawa keras warga!
Anak-anak nakal melempariku dengan akar rumput. Mereka biasa mencabuti rumput-rumput sampai akarnya untuk melempari anak-anak yang memalukan. Mereka benar-benar anak-anak jahat!

Aku meneteskan air mata. Sebenarnya aku tidak mengeraskan tangisanku, tetapi sepertinya orang-orang bisa mendengar isak tangisku. Tiba-tiba aku merasa beberapa orang mendekatiku. Lalu dua orang memelukku dengan penuh kasih sayang. Orang-orang lain menepuk-nepuk pundakku dan merangkulku. Siapa mereka? Tidak mungkin manusia! Pasti malaikat, atau bidadari, yang kasihan terhadapku. Tapi aku salah. Dua orang ini adalah Ayah dan Ibuku, sedangkan orang-orang lain adalah beberapa warga desa. Aku menebarkan senyum pada mereka berdua. Baru kali ini aku sadar, manusia tidak seburuk itu.

Aku pulang dengan kekalahan namun disertai kebahagiaan. Ayah dan Ibu tidak memedulikan aku menang atau tidak. Mereka masih merangkulku sampai tiba di rumah. Pony yang dari tadi melihat kejadian tadi mengikuti kami dari belakang. Senyum licik juga menyembul di wajahku karena mendengar orang-orangtua anak-anak jahat itu memarahi mereka dan menjewer mereka keras-keras. Rasakan itu, manusia jahat!

Tiga tahun berlalu. Aku sudah lumayan besar. Pony pun begitu. Ingin kuberi tahu salah satu kenangan dengan seorang anak lelaki? Mungkin kalian agak bingung, tetapi anak itu lumayan baik, walaupun agak menyebalkan. Ia tidak terlalu tampan, rambutnya juga acak-acakan, mungkin karena sering menunggang kuda kesana-kemari untuk mengantarkan kue yang dijual ibunya.

Ya, ia seorang penjual, mungkin lebih tepatnya pengantar, seperti pengantar piza. Tapi ini berbeda. Pengantar piza mengantar dengan motor, sedangkan ini dengan kuda. Ia sangat mudah sekali bersahabat dengan kuda. Kuda memiliki ketertarikan pada dirinya. Bahkan ia pernah, bukan, selalu, menunggang kuda tanpa pelana, dan alat-alat lainnya yang membelit-belit leher kuda. Baiklah, begini ceritaku.

Saat itu aku dan Pony bermain di hamparan rumput luas. Ia terus berlari-lari, sehingga aku bisa merasakan punggungnya yang “-”. Sedikit sakit, namun sangat menyenangkan. Karena terlalu senang, aku tidak menyadari ada batu besar yang tajam di depan. Pony tersandung sehingga aku ikut terjatuh. Kepalaku membentur tanah. Sakit sekali. Rasanya aku ingin pingsan, tetapi tidak begitu. Dengan kepala yang sangat pusing, aku membantu Pony berdiri lagi. Tetapi kakinya tergores batu. Ah, selalu ada saja yang terjadi pada kaki mungilnya. Kepalaku mulai memutar-mutar tak karuan, tetapi aku berusaha untuk bangkit. Nihil. Aku pun terjatuh dan tidak merasakan apapun, hanya langit yang perlahan-lahan menutup. Kegelapan.

Perlahan-lahan mataku terbuka. Aku melihat seseorang di sana. Seseorang bertopi koboi, dan, Pony! Aku langsung duduk tegap lalu mengelus Pony dan melihat keadaan kakinya. Ia mengangkat kakinya begitu aku menyentuhnya. Sepertinya masih sakit. Kepalaku menoleh ke arah seseorang itu. Anak lelaki kumal dengan rambut acak-acakan, wajah yang berdebu, dan sesuatu di tangannya. Keranjang yang penuh dengan kue!

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku bersikap sedewasa mungkin.
“Aku melihat dari kejauhan ada kuda dan majikannya yang terbaring lesu. Dengan cepat aku menghampiri kalian bersama kudaku,” Tetiba terdengar pekikan kuda dari arah yang jauh. Aku menengok. Ternyata itu kudanya, berwarna putih berbintik hitam, hampir sama dengan kudaku. “Ya, setelah melihatmu, aku tahu kau hanya pingsan, dan pasti akan bangun sebentar lagi. Aku melihat kudamu yang terlihat kesakitan, lalu memeriksa semua anggota tubuh. Ternyata kakinya. Maka aku berusaha menyemangati dan membantunya berdiri.“ Anak itu mengelus leher Pony dan kelihatannya Pony merasa gembira.
Aku mengangguk perlahan. Agak iri juga melihat mereka.

“Mm, siapa namamu?” tanyaku.
“Das Lexio. Kau?”
“Des Laverda. Aku sangat berterimakasih atas bantuanmu,” Das Lexio tersenyum. Aku kembali melirik keranjang yang penuh dengan kue miliknya. “Apa itu, Lexio?”

Di desa kami semua orang memiliki nama panjang yang sama. Das untuk anak lelaki, sedangkan Des untuk anak perempuan. Sebenarnya nama wajib ini bisa berarti “tuan” atau “nyonya.” Tetapi terkadang kami suka memanggil nama belakangnya saja, yang sepertinya lebih singkat bila dijadikan nama panggilan, dan lebih akrab. Terkecuali kalian pasti tahu, untuk orang yang lebih tua atau orang terhormat, kami harus memanggilnya sekaligus dengan DasDesDosnya.

“Masa kau tidak tahu ini apa!”
“Ya, aku tahu itu kue. Tetapi untuk siapa?”
“Ibuku penjual kue. Beliau membantu ayahku mencari nafkah. Aku disuruhnya mengantar kue-kue ini kepada yang memesan,” katanya lalu mengelus-elus leher Pony lagi. Membuatku iri. Pony, kok, bisa dekat sekali dengan orang yang baru saja ditemuinya. “Kuda ini lucu sekali. Siapa namanya?”
“Jadi kau seorang deliver?” kataku berusaha mengubah arus pembicaraan. Jangan sampai Pony jadi miliknya. Sepertinya Lexio mengerti mengapa aku tidak menjawabnya. Ia mengangguk saja.
Aku melirik kudanya yang sedang merumput. Tadi aku tidak terlalu memedulikan keadaannya. Namun sekarang aku baru tahu bahwa kudanya tidak memakai perlengkapan apapun.

“Lho? Mengapa kudamu tidak memakai..”
“Aku tidak biasa memakaikan perlengakapan-perlengkapan itu. Merepotkan sekali. Biasanya ibuku selalu menyuruhku memakai pelana saja setidaknya, tetapi seringkali aku melepasnya saat sudah jauh dari rumah.” Aku ternganga.
“Kau bisa melakukan itu? Tidak takut celaka?”
Lexio mengangkat pundaknya. “Sudah biasa.”
Aku tersenyum. Ada maksud tersembunyi dibalik senyumanku. Aku bermaksud untuk diajari menunggang. Dan sepertinya Lexio mengerti, lagi. Ia benar-benar seorang mind reader!

“Tidak bisa sekarang! Aku harus mengantarkan kue ini kepada Das Alerando dan keluarganya. Hampir saja lupa. Untung mereka keluarga yang baik.”
“Ya sudah, sekalian saja aku ikut menunggang kudamu. Ya, untuk pengalaman. Pasti seru juga menunggang kuda tanpa perlengkapan,” Lexio memiringkan kepalanya heran. “Pony akan kutinggal di sini. Kumohon, ayolah..” Aku mengelus Pony.
“Apa kau yakin? Kau kelihatan tidak ahli.” ucapnya sombong. Aku melipat tangan di dada. Berusaha membuat ide agar ia membolehkanku.
“Oh, aku tahu. Kau pasti malu membawa gadis menunggang kuda bersamamu?! Hahaha.. Pengecut!” Wajah Lexio berubah. Aku berhasil, ideku cemerang juga. Ia segera berdiri dan mengarahkan tangannya kepadaku sambil tersenyum licik.
“Baiklah, Des Laverda.”
Oh, ini akan menyenangkan!
Sebaliknya dari kata itu.
Ini menyakitkan!

Tulang punggung kuda yang berlari menusuk-nusuk badanku. Menyakitkan sekali, aku terus menyuruh Lexio untuk menghentikan kudanya, namun ia semakin cepat saja. Ah, aku terjebak dalam keadaan ini. Aku berharap rumah Das Alerando semakin dekat!
“Kumohon, berhentilah! Waaa!!!”
“Sebentar lagi sampai tujuan, kok!”
Benar-benar jahil si Lexio ini. Aku harus menahan kesakitan selama lebih dari lima menit, yang katanya ia bilang “sebentar” itu! Ya, sebenarnya aku betul-betul menyesal mau ikut menunggang bersamanya. Bahkan aku tak sempat bicara dengannya karena terlalu sibuk berteriak. Huh..

Tiga menit berlalu, keajaiban terjadi. Aku tidak terlalu merasa sakit lagi! Ya, aku mulai beranggapan bahwa tulang punggung kuda ini adalah bantal, dengan arti aku sudah mulai terbiasa. Akhirnya mulutku terbuka. Aku membuka topik.
Kami bicara singkat-singkat. Tak terasa waktu berlalu.

“Akhirnya sampai! Bagaimana, kapok?”
Aku menggeleng. Lexio mengerutkan kening.
“Terserah lah. Anak aneh.” ledeknya keheranan lalu mengetuk pintu rumah Das Alenardo. Terdengar suara wanita yang kelihatannya menyuruh suaminya untuk membuka pintu. Munculah Das Alerando yang terkenal dengan janggutnya yang panjangnya tiga inci. Entah ada apa di dalamnya sehingga beliau selalu mengelusnya.
Perbincangan panjang terjadi, lalu setelah Das Alenardo mengambil kuenya, kami kembali ke tempat kuda Lexio berada. Kami kembali ke padang rumput itu. Pony menunggu kedatanganku di sana. Ia sedang merumput.

“Sampai. Silakan ambil kudamu kembali,” Aku turun lalu berterimakasih kepadanya. “Sama-sama. Tolong jawab pertanyaanku.”
Aku menatap matanya dalam-dalam.
“Siapa nama kudamu?”
“Pony.” kataku lepas. Tidak ada pikiran negatif yang menyangkalku untuk mengatakannya.
“Kudaku, Dessert.” Aku mengelus Dessert pelan. Ia kuda besar, aku takut ia akan menyerangku. “Kau tahu, kau mulai terbiasa menunggang kuda tanpa perlengkapan. Itu terlalu cepat untuk gadis manja sepertimu!”
“Aku tidak manja!” ucapku lalu mendengus. Ia terkikik.

Setelah melambai-lambai, aku pulang sambil menuntun Pony dengan kaki setengah pincangnya. Melambai-lambai sekali lagi, lalu berkata sesuatu yang sangat aneh dan aku sesali, apa yang terjadi dalam pikiranku?
“Hei, Das Lexio! Kau lumayan juga!” Lalu berlari dengan pikiran kosong. Oh, bodohnya aku! Aku yakin ia sedang terbengong-bengong saat ini. Anehnya, semenjak saat itu, setiap aku bertemu dengannya, dia pasti selalu salah tingkah. Terbata-bata ketika berbicara, lalu sesekali aku melihat pipinya memerah ketika aku tertawa. Manusia ini benar-benar aneh.

Waktu selalu berputar. Sekarang aku sudah remaja. Tetapi aku dan Pony tetap bahkan selalu, bersahabat. Badannya memang sudah tidak tegap lagi, tetapi ia masih bisa berlari, menemaniku berkeliling desa menikmati hari. Aku akan menceritakan sebuah kenangan Yah, inilah kisahku di Desa Horseville, desa penuh dengan kuda-kuda dan manusia yang berwatak beda-beda. Memang aku tak menceritakan semuanya, kenangan-kenanganku yang bercampur aduk ini, tetapi aku yakin kalian bisa mengambil sesuatu di dalamnya.

Aku dan Pony berdiri terpaku di tepi Danau Biru Kemilau, menatap ikan-ikan yang berlompatan. Suara burung berkicau makin mendamaikan hari ini. Suara tetesan embun terdengar begitu keras di telinga. Angin sepoi-sepoi cukup untuk menerbangkan rambutku dan Pony. Jantungku berdetak tenang di dada. Suasana pagi yang khas dan kalem.

Iseng saja, aku mencondongkan badanku dan Pony, dan kami melihat pantulan kami berdua. Hanya dua kata yang bisa diucapkan.

Kami bersahabat!

Cerpen Karangan: Alia Rahmani Dharma
Blog: storyseasonblog.wordpress.com
Kelas 1 SMP
Penulis pemula
Minta kritik dan saran ya, untuk cerpenku yang satu ini..

Cerpen Desa Horseville merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mawar Putih

Oleh:
Aku duduk di taman sekolah. Aku sedang memandang sebuah bunga yang sedari tadi menarik perhatianku. Bunga mawar, berwarna putih. Bunga kesukaan aku ini mengingatkan aku pada seseorang. Tiba-tiba seseorang

Kopi, Pagi dan Matahari (Part 2)

Oleh:
Radita Hari ini senin, hari yang sama saat pertama kali ia bertemu Gio, dia memasuki kampus dengan enggan, ditemani seorang lelaki yang sedari tadi memperlakukannya bak ratu : Favian.

Life is A War

Oleh:
Tepat jam 7 pagi, Hendra seorang mahasiswa universitas negeri semester 1 sudah mulai bersiap-siap untuk bergegas menuju kampus. Sebelum ia ke kampus, ia terlebih dahulu menemui kedua teman baiknya

Keheningan Putih

Oleh:
Pagi itu, semuanya putih berbalut keheningan pagi. Aku seakan tak berdaya dibuatnya. Hembusan angin pagi tak bisa kurasakan karena tak tertembus oleh jendela yang tertutup. Tepat di sebelah tempat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *