Dia, Si Mayla Yang Malang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 November 2015

Minggu sore, di kediaman sepupu Mayla. Aku sudah satu jam berada di sini, mendengarkan ungkapan rindu dan amarah Mayla. Ada rasa sesal terhadap apa yang diucapkannya, bagaimanapun juga aku yang mengenalkannya pada Robin, si bodoh itu.
“Ini semua tentang sakit yang menjerit Ra, rasa yang menderita minta dibebaskan, perih yang bertubi-tubi mendera,” lirihnya padaku.

Aku menghembuskan napas gusar, bukannya aku tak tahu bagaimana rasanya. Aku pun pernah berada di posisi yang sama dengannya, meski juga pernah berada di posisi yang ku pikir sama dengan Robin. Tapi tak serumit ini, aku tak seperti Mayla yang dengan gampangnya jatuh dan tak berdaya. Aku tergolong kuat kata Robin, dibanding perempuan-perempuan yang dianggap lemah olehnya. Keadaan yang membuatku seperti ini, tak ada waktu yang bisa aku luangkan untuk terus meratap.

Ku elus punggungnya perlahan, membiarkan tangis yang sudah pecah sedari tadi kembali menggenang dan tumpah. Dia kembali berucap “pisau saja yang tumpul jika diasah akan tajam juga, gitu juga kami ra. Bukahkah jika cinta terus diasah akan menajam rasa itu? Kenapa dia tidak mau mengerti?” Aku menarik sudut bibirku dan bergumam pelan, “pisau yang tajam jika terus menerus diasah akhirnya akan habis juga. Dia akan lenyap,”

Dia dan aku sama-sama terdiam, membiarkan pikiran-pikiran kami beradu suara. Dua cangkir teh yang ada di depan kami tak tersentuh sama sekali, tak ada lagi suara isak tangis dan tak ada lagi suara tepukan dan elusan di punggung, yang terdengar hanya desiran angin yang perlahan seakan ingin turut bersedih mengikuti alur hati seorang Mayla. Kami sama-sama menatap ke arah depan, tak ada pemandangan yang luar biasa di depan kami hanya ada hamparan atap-atap rumah orang yang terlihat dari balkon lantai dua ini.

“Dulu semuanya indah ra, entah mengapa bisa jadi seperti ini. Dia yang perlahan datang padaku, dan sekarang dia juga yang perlahan pergi dariku. Ini salah ra, keadaan tidak boleh berbalik memusuhiku seperti ini. Aku sudah rapuh ra, aku sudah terlalu jatuh hati padanya,” suara lirih Mayla terdengar lagi. “Dia bilang dia menyayangiku, tapi mengapa malah pergi menjauh, bahkan untuk bertemu denganku saja dia tak mau. Kalau aku mau ya ra, aku datang ke rumahnya untuk minta penjelasan. Tapi aku masih berharap dia yang datang kepadaku sama seperti dulu. Kalau dia bilang dia tak menyayangiku lagi, aku bisa mundur, meski harus terseok bangkit sendiri,” tambahnya.

Napas gusar kembali aku hembuskan cepat, berbagai kalimat terangkai di dalam kepalaku tapi tak ada satupun aku keluarkan dan ku suguhkan ke Mayla yang malang, ya, dia Mayla si malang. Yang terbuang oleh kekasihnya sendiri. Aku bukan orang yang bisa memberikan kalimat menenangkan ke orang lain, aku hanya bisa memberikan pelukan hangat untuk temanku dan menangis bersamanya jika dia bersedih. Tapi kali ini, aku hanya memberikannya pelukan yang aku pikir hangat, tak menangis juga bersamanya. Aku tak akan rapuh lagi, aku tak akan menyerah untuk kehilangan lagi.
“May, jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.
“tak ada, mungkin aku belum bisa melanjutkan hidup. Ini terlalu sakit, seumur hidupku aku baru sekali seperti ini. Mungkin aku sudah terlalu jauh menitipkan hatiku padanya sedangkan dia tak ingin lagi aku titipi. Sudah dua bulan sejak dia tak begitu memperhatikanku lagi, makanya aku ke mari untuk meminta penjelasan tapi apa yang aku dapat. Dia bahkan tak pernah membalas ataupun mengangkat telepon dariku, aku hanya ingin bertemu walau hanya sekali,”

“jika telah bertemu apa yang akan kau lakukan?”
“ku peluk dia erat, aku rindu dia Ra. Amat sangat,” dia kembali terisak.
“tapi sayangnya dia tak mau bertemu lagi denganmu,” tembakku langsung.
Dia tambah terisak, kalimatku hanya makin membuatnya sakit tapi niatku sebenarnya hanya ingin membuatnya lebih kuat karena kita tak tahu apa yang benar-benar akan dihadapinya setelah ini. Menurutku hidup bukan sekedar sedih dan jatuh serta meratap, setidaknya dalam sedih itu kita bisa memilah dan hanya sedih di satu waktu tak berkelanjutan. Ini hidup, dan hidup jangan terlalu kebanyakan drama. Ini realita, bukan sekedar fatamorgana yang jika dilihat benar akan hilang dengan sendirinya. Bukan.

Tanpa ku duga, Mayla malah melempar cangkir berisi penuh yang ada di hadapan kami ke luar balkon, ke arah kolam renang di bawah. Setelah itu dia malah berniat melempar kursi yang didudukinya. Tapi ku tahan dia. Aku rasa dia gila. Dia berteriak gusar, kemudian masuk ke kamar dan membuka sebuah laci. Mengeluarkan sebuah tas dan sebuah kotak. Aku hanya memperhatikannya dari jauh, tak berniat untuk mendekat. Perlahan dia mengeluarkan tumpukan kertas dari kotak itu dan mulai berbicara.
“ini surat yang dia tulis untukku waktu ulang tahunku. Beberapa bulan lalu. Akan ku buang ini semua. Aku benci dia!”

Dia kemudian menyobek-nyobek kertas itu dengan kasar dan membuangnya begitu saja di lantai kamar. Kemudian dia melempar apa saja yang ada di depannya, dia mengamuk. Dia berteriak seperti kesetanan, dan aku masih tetap tak bergeming. Ada sedikit rasa takut, tapi aku beranikan diriku menghampirinya. Menariknya kasar ke dalam pelukanku. Dia butuh ketenangan. Dia terlalu rapuh.
“Sudahlah May, aku tak suka melihatmu seperti ini. Jangan buat aku merasa bersalah. Kau masih bisa mendapatkan orang lain. Bukan dia,”
“tidak Ra, aku mau dia Ra. Kalau perlu aku saja yang melamarnya sekarang. Aku siap,” ucapnya yakin.
Aku menganga tak percaya, Mayla begitu tak dapat aku tebak. Tadi dia begitu rapuh, kemudian dia mengamuk dan sekarang dia malah semacam berbicara tak tentu arah.

“Kau tak tahu rasanya ra, percuma aku bicara padamu!!! Yang kau lakukan dari tadi hanya memelukku dan menyuruhku mencari orang lain, aku tak mau ra. Tak mau. Aku mau dia!!” dia malah berteriak padaku padahal aku belum sempat membuka mulutku untuk menanggapi ucapannya.
“Aku tak mau jadi sepertimu ditinggalkan begitu saja oleh seorang pria. Aku lebih baik, nasibku lebih baik darimu!! Aku tak akan pernah mau jadi sepertimu yang menyedihkan, walau sepertinya kau tegar, aku tahu kau lemah ra!!! Kau lemah. Buat apa aku berpura-pura sepertimu ra, aku bukan patung kaca!!” cercanya.

Hatiku panas mendengarnya, percuma saja aku bersikap baik padanya, berempati padanya sedari tadi. Kalau aku mau sudah ku tinggalkan dia sejak tadi. Apa salahnya aku berusaha tegar, tak menunjukan sosokku yang sesungguhnya lemah. Aku hanya tak ingin dianggap bodoh oleh diriku sendiri, tapi apa, orang lain yang malah mengganggapku bodoh. Orang yang aku anggap temanku. Sebelum dia malah menjadi dan makin membuat hatiku mendidih, ku keluarkan sesuatu dari tasku dan langsung ku letakkan di atas tempat tidur.
“ini untukmu, silahkan datang jika kau berkenan. Selamat tinggal,” dan aku pun melangkah ke luar dari kamar itu. Samar-samar ku dengar jeritan dari dalam kamar. Ku rasa dia memang sudah gila.
Dan kalian tahu apa yang ku berikan padanya tadi? Sebuah amplop tebal dengan pita emas yang di depannya berinisial R dan R. Rara dan Robin.

Manusia lain boleh mengalah, manusia lain boleh egois. Jika kau mengalah, yang lainlah yang akan memegang kendali. Tapi jika tak ada yang mengalah, bertarunglah sampai ada yang benar-benar kalah dan jatuh. Begitulah perputarannya, dan kau bisa menggunakan berbagai cara untuk menang, selagi kau bisa.

Sekian

Cerpen Karangan: Listya
Blog: Listyasekars.wordpress.com
Ditulis oleh Listya, lahir 16 oktober.

Cerpen Dia, Si Mayla Yang Malang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


A Little Fake (Part 1)

Oleh:
“Kikan, aku punya hadiah spesial buatmu,” Tanya tiba-tiba muncul di hadapanku sesaat setelah aku menutup buku Oliver Twist. Sejenak aku menunggu dan gadis itu sudah menghilang di balik rak

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Gua adalah seorang siswi sekolah negeri di tempat gua, gua sedikit tomboy, cuek dan menyebalkan kata teman-teman, hee… oh.. ya sampai lupa nih nama gua Andine Beberapa tahun yang

Cinta Yang Terkunci

Oleh:
Pagi yang cerah sudah menyapaku yang tengah tidur nyenyak dan suara kicauan burung yang mulai membangunkanku, aku bangun dengan langkah terkantuk-kantuk dan langsung mandi karena hari ini adalah hari

Terima Kasih Shisil

Oleh:
“aku masih ingin di sini” kataku bersikukuh tanpa bergerak sedikit pun dari tempat aku duduk. “haha… apa kamu gila, come on Ge… move on, kamu masih mau nunggu orang

Fattan dan Johan

Oleh:
Fattan tinggal di kampung hilir sementara Johan di kampung hulu. Fattan berkulit putih dan setiap sore rajin mengaji di surau pak Udin. Sementara Johan berkulit gelap, berambut keriting dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *