Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 July 2017

Kubuka novel misteri kesukaanku, aku ingin membaca lebih dalam lagi isi dari novel ini. Novel ini adalah novel yang pertama kali kubeli, karena sebelumnya aku tak tertarik dengan bacaan-bacaan aneh yang tak kunjung selesai. Dulu aku juga berpikir bahwa novel hanya membuatku cepat bosan. Ketika aku membalikkan lembaran novel ke halaman 78, mataku tertuju pada sosok laki-laki tampan yang berada di dekat pintu. Wajahnya keliatan cemas dan sepertinya menunggu seseorang.

Aku tak mempedulikannya dan terus membaca novelku. “Hei bro! lu kenapa?” “Gak, gue hanya nunggu lu aja. Ayo masuk!” “Lagian ada Jane kok di dalem..” Obrolan mereka sempat kudengar karena aku tak tuli. Apa laki-laki itu takut denganku? Apa karena wajahku yang aneh di matanya?

“Bro, lu mau jajan gak di kantin? gue laper nih!” Aku sempat melirik siapa yang mengajak ngobrol laki-laki tampan itu, ternyata Gardi. “Ah ya maulah, lagian di kelas juga gak ada kegiatan. Ayok cuss!” Laki-laki tampan itu merangkul Gardi keluar kelas dengan masih berbincang-bincang. Aneh memang, karena aku tak terlalu akrab dengan laki-laki tampan itu jadi aku tak mengetahui namanya. Lagian ini adalah hari ke enam pertama masuk SMA.

“Hei, namamu siapa?” Gadis berambut pendek itu menyapaku, “Oh hei!” Aku refleks menutup novelku dan menaruhnya di laci. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” “Eh ah iya? namaku? namaku Jane.” Jawabku agak gugup. “Jane? aku Sarah” Ia memperkenalkan diri dan kami satu sama lain mengobrol. Sarah duduk di depan bangkuku, terkadang juga Sarah berangkat pagi untuk membaca novel bersamaku.

“Eh Jane? tau Velo?” Sarah berbisik pelan di telingaku “Siapa Velo?” Suaraku tak kuatur sehingga keras, teman-teman di kelasku melihatku tajam. Lalu mereka juga berbisik-bisik, aku mengalihkan pandanganku. “Lu sih, eh tapi janji ya!” Aku menganggukkan kepalaku. “Gue suka sama Velo!” Ucapnya lebih pelan. “Wah.. hebat!” aku acungkan kedua jempolku padanya. Kami diam dan memandang satu sama lain, selanjutnya tertawa.

Baru kali ini aku mempunyai sahabat sehebat Sarah. Dia biasanya membelaku jika ada orang yang membuatku sedih. Bahkan Sarah pernah masuk BK gara-gara ia memukul Yuna, teman sekelasku. Aku dan Sarah juga membeli dan membaca novel bersama.

“Gardi, gue udah nembak cewek nih!” Ucap Velo keras di luar kelas. Memang kelas agak sepi dikala pagi. “Wuih! cantik gak? siapa namanya?” Gardi juga keliatannya ikut senang “Dia temen SMP gue, sekarang udah SMA. ya cantiklah kek bidadari” Velo pun memasang wajah kerennya. Tak sengaja Velo juga menatapku sekilas. Aku hanya mengabaikannya dan terus menunggu Sarah.

“Eh, Jane! lu tau gak? kita bakal punya temen baru! kan lu duduk sendiri jadi dia bakal duduk di samping lu! lu pasti gak kesepian lagi!” Cerocos Sarah panjang kali lebar, aku terkekeh pelan sambil melihat ekspresi wajahnya yang lucu. “Iya iya~” Aku tersenyum. Hingga tibalah Bu Ina dengan membawa gadis cantik, SANGAT CANTIK di depan kelas. Aku kagum padanya, cara bicaranya yang halus. Pasti dia adalah gadis yang sopan dan baik. “Nama saya Thaliya Fena, panggil saja Fena. Saya pindah ke sini agar bisa dekat dengan ibu saya. Terima kasih” Aku sempat melirik Velo, wajahnya berbinar. Laki-laki di kelas pun juga kagum. Siapa sih yang gak tertarik sama Fena?

Fena akhirnya duduk di sampingku dan berbagi cerita denganku dan juga Sarah. “Permisi ya, gue mau ke toilet. Duhh mules nih!” Aku melihat heran Sarah. Lalu aku mengejar Sarah. Di toilet, Sarah tiba-tiba menangis, aku tak tau apa sebab ia menangis. Berkali kucoba menanyakannya, tetapi ia hanya terus diam dan menangis. Aku menenangkannya dan ia memelukku “Terima kasih, lu adalah sahabat yang bisa ngertiin gue selama ini” Aku tersenyum dan mengusap punggungnya. Kami berjanji tak akan menangis hanya karena laki-laki kembali.

Aku tau alasannya, aku tau. Dia pasti menangis gara-gara Fena adalah kekasih Velo kan? Sudahlah Sarah, tak usah menangis. Aku saja tak menangis, bahkan aku mencintai Velo lebih dulu darimu. Aku tau hobi, makanan kesukaannya, bahkan phobianya. Tetapi sejak Velo kecelakaan dan harus dirawat di luar negeri, bahkan Velo sudah melupakanku. Aku tetap mencintainya dalam diamku.

END

Cerpen Karangan: Latania Rokhim
Facebook: Latania Rokhim

Cerpen Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja di Tepi Pantai

Oleh:
“Aku menyayangimu seperti halnya, aku menyayangi saudaraku, Ku tak kan Biarkan waktu dan Usia memisahkan persahabatan kita. Ku kan teriakan pada dunia bahwa kau adalah sahabat terbaikku” Aku masih

Rani Menanti

Oleh:
Hari ini Rani Berdiri di depan kaca, senyumnya selalu terpancar pagi ini. Mulai dari dia bangun tidur hingga mengenakan setelan seragam sekolahnya yang baru. Tentu saja, sekarang di akan

Sepi Dan Sunyi Tanpa Dinar

Oleh:
Dinar, begitulah nama sahabat sejatiku. Bahkan, kami berdua selalu bersama hingga aku lupa kalau kami bukanlah adik-kakak. Aku dan Dinar tinggal di Panti Asuhan Hikmah. Kami juga sekamar. Aku

Kisah Cerpen Kelima

Oleh:
Kududuk bersandar di bangku coklat. Tanganku menggenggam selembar kertas HVS dengan sebuah bacaan di atasnya. Kelas ini memang kosong. Karena ini hari bebas setelah seminggu kemarin aku melaksanakan ulangan

Khayalan Tingkat Tinggi

Oleh:
Waktu itu, aku dan teman-temanku pergi ke suatu tempat yang sangat indah, tempat yang jarang orang mengetahuinya. Tempat yang masih asri, pinggir-pinggir jalannya dipenuhi oleh pepohonan yang besar. Sehingga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *