Diary of a Secret Admirer

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 July 2015

Nemyca Jelivia, wanita berjilbab yang akrab dipanggil Nem. Kini ia menduduki bangku kelas IX di salah satu SMP di kotanya yang terbilang unggul untuk saat ini. Nem memang hobby menyukai seseorang secara diam-diam. Ia lebih memilih untuk menjadi secret admirer seseorang. Saat ini dia menyukai temannya bernama Luthfi

“Dinara? Sini deh” panggil Nem dengan wajah ceria.
“Kenapa Nem? Kok mukanya ceria gitu? Ada cerita baru yah?” Tanya Dinara sahabatnya.

Dinara sahabat yang selalu setia bersama Nem. Mereka berdua kemana-mana pasti kompak, foto bareng terkadang gaya mereka sama. Bahkan mereka berdua memiliki banyak kesamaan. Suka baca novel, denger lagu, jalan pasti bareng, pakai baju juga sering kompak tanpa janjian, sampaaiii, *cowok yang ditaksir Dinara dan Nem juga sahabat karib*. Hanya ada 1 perbedaan mereka, Nem lebih aktif di dunia bahasa, sedangkan Dinara lebih aktif untuk mata pelajaran perhitungan. Terkadang sih mereka berdua berantem, tapi itu dulu. Waktu jamannya mereka berdua masih labil. Sekarang mulai berpikir dewasa dan saling melengkapi.

“Kantin yuk? Laperr, heheh..” ajak Nem.
“Yaelah, kirain ada cerita baru, tahu-tahu Cuma ngajak ke kantin doang. Tumben pagi-pagi udah mau ke kantin?” wajah Dinara mulai cemberut dibuatnya, mereka pun berjalan ke kantin.
“Idiiih, nggak pakai muka cemberut juga kali. Emang aku punya cerita baru kok. Sekalian aja ke kantin buat liatin orangnya, hehehe” balas Nem dengan senyum manisnya.
“Cieh yang udah move on dari kak Reza niyee” gombal dinara
“Apaan sih? Tapi emang iya sih, nah itu dia orangnya”. Nem menunjuk Luthfi yang sedang berdiri di depan kelasnya.
“hah? Kamu nggak salah Nem? Diakan teman kursus kita kalau nggak salah deh? Iya kan?” Dinara menyipitkan matanya untuk melihat jelas sosok yang dimaksud Nem.
“iya, dia teman kursus kita. Namanya Luthfi, kelas IX.D orangnya manis kan?” tanya Nem
“Iya sih, dia juga lumayan dari pada kak Reza. Tapi kok kamu bisa suka sama dia?” tukas Dinara sambil melanjutkan perjalanannya sebelum Luthfi menyadari keberadaan mereka berdua.
“Nggak tahu juga sih, namanya juga sayang. Terkadang cinta memang tak kenal alasan” Jelas Nem.

Seiring berjalannya waktu, Nam dan Luthfi semakin akrab. Hanya saja Luthfi bukan tipe cowok yang suka pegang HP, kalau ada yang penting barulah ia menyentuh HPnya. Sejauh ini Nem selalu saja mengumpulkan informasi yang berkaitan tentang Luthfi. Utamanya foto, itulah ciri khas Nem jika ia mengagumi seseorang. Tak pernah sedikitpun ia mau ketinggalan informasi tentang Luthfi. Bahkan teman-temannya terkadang dibuat menggeleng olehnya. Nem juga selalu mengabadikan setiap kejadian khusus yang dianggapnya berkesan dan penting dalam hidupnya dalam buku harian. Tak pernah sedikitpun Nem merasa lelah menuliskan kisah di buku diarynya.

Aku tak ingin terpuruk dalam kepedihan masa laluku. Aku percaya, akan selalu ada cinta yang datang menghampiri. Dengan atau tanpa kesadaranku. Aku semakin dekat dengan Luthfi, dan aku memilih menjadi secret admirer-nya. Aku merasa nyaman berada di posisi seperti ini.

Tulis Nem di buku diary-nya yang bersampul warna ungu lembut dengan tulisan tangannya yang miring. “aku hanya berharap bisa lebih mengenal mu lebih dekat Luth, nggak lebih kok” ucap Nem dalam harapnya.

Sebelum dekat dengan Luthfi, Nem sempat akrab dengan cowok yang akrab dipanggil Maurer. Orangnya baik, lucu dan manis. Maurer selalu berhasil membuat Nem tersenyum dan tertawa. Setiap kali Nem berada di dekat Maurer, tak pernah sedikit pun ia merasa sedih. Ia bahkan Nem lupa dengan semua masalah pribadinya. Yang jelas Nem merasa nyaman jika berada di dekat Maurer. Ia memang pernah suka sama Maurer, tapi itu dulu. Setelah Nem tak lagi mempunyai perasaan terhadap Maurer, Dinara menyukai Maurer. Hal ini sempat membuat Dinara dan Nem mengalami perdebatan sengit.

Hampir sebulan Nem jaga jarak dengan Dinara. Bukan karena Nem tidak mau berteman dengan Dinara lagi. Dinara salah paham, ia mengira Nem masih menyukai Maurer. Padahal kenyataannya, Nem berusaha sekeras mungkin untuk mendekatkan sahabatnya ini ke Maurer, agar mereka berdua lebih akrab lagi. Yang terjadi malah sebaliknya, malahan Maurer lah yang menjadi korban dari semua ini.

“Maaf Rer, sebenarnya kamu nggak salah, kamu nggak tahu apa-apa. Tapi maaf, untuk saat ini jaga jarak dengan mu benar-benar harus ku lakukan demi persahabatanku. Aku janji suatu saat nanti aku akan menceritakan mu tentang ini”. Desah Nem dalam pikirannya.

Ia benar-benar kacau waktu itu. Persahabatannya hampir putus dan ia harus menjauh dari orang yang ada di balik semua masalah itu yang sebenarnya ia tak tahu apa-apa. Namun setelah hubungan Dinara dan Nem bersatu lagi, Nem tetap jaga jarak dengan Maurer. Tapi ia tetap menjalin tali silaturahmi dengan Maurer.

*back to Luthfi*

Nem benar-benar kacau. Pikirannya gundah. Entah apa yang membuatnya kepikiran. Bahkan diary yang biasanya menjadi senjata ampuh untuk menghilangkan beban pikirannya pun tak lagi bisa menolongnya dari jurang kehidupan Nem.

Maaf Luth, entah apa yang aku rasakan saat ini, ada yang bebeda. Entah perasaan ku tumbuh untuk siapa? Kamu? Atau Maurer? Aku tak tahu. Dinara bilang aku jatuh di dua hati, antara kamu dan dia. Tapi sebenarnya aku benci dengan dia? Tapi aku akan tetap mempertahankan perasaan ku untuk mu.

Maurer berbohong. “Aku nggak mau pacaran dulu, aku pengen fokus sama sekolah dulu” kata-kata Maurer yang selalu terngiang-ngiang di telinga Nem. Awalnya Nem senang membaca pesan singkat Maurer yang dikirim untuknya. Berita baik untuknya, pertanda ia hanya akan menjalin hubungan sebatas sahabat seperti yang dikatakan Maurer sendiri kepadanya. Tepat seperti harapan Nem dengan Maurer. Sahabat dan tidak lebih.

Tapiii… Mendengar sendiri pernyataan Olivia dan Avi, perasaan Nem menjadi hancur. “Maurer itu mantanan dengan Aidina teman kelasku”, ungkap Avi yang sekelas dengan Aidina di IX.C . Nem merasa dibohongi dengan Maurer. Pantas saja Maurer akhir-akhir ini menjauh. “Ternyata ada orang lain Rer” bisik Nem dalam sedihnya.

Sulit bagiku untuk aku menangis Rer, kau telah melukai perasaan ku. Aku tak menyangka kau akan sekejam ini kepadaku. Mungkin aku memang tidak berarti untuk mu, dan aku hanya figuran yang numpang lewat gitu aja dalam hidupmu. Sikap mu terhadapku akhir-akhir ini memang berbeda. Kau seakan berubah dan menjauh dariku. Tapi perkataan mu yang tidak dapat aku percayai lagi. Kau sendiri yang telah menodainya dengan dusta. Ingat Rer, kepercayaan itu seperti kertas. Sekali remas, nggak bakalan bisa seperti semula lagi. Aku kecewa, makasih kebohongan mu. Maaf, mungkin aku akan menjauh bahkan pergi dan tak akan mengenal mu lagi.

“walau sebenarnya aku tahu Rer, aku akan sulit melakukan itu. Tapi aku percaya, menjauh adalah jalan terbaik. Kau tak pernah tahu betapa aku sangat menjaga mata dan hatiku untuk mu. Agar tak lagi berpaling padamu. Dan saat ini tiba-tiba kau datang memperparah luka yang tengah aku obati saat ini. Kau memang sulit untuk ku raih, tapi aku sudah cukup kecewa dengan semua ini. Maaf Rer, aku pergi” ucap Nem dalam tangisnya di sudut kamar. Sampai saat ini, Nem masih menjaga mata dan hatinya untuk tak lagi ingin melihat Maurer. Ia sudah cukup menorehkan luka dalam hidup Nem.

“Nem, udah dong jangan sedih lagi. Aku juga udah ngalamin hal yang sama kok. Terkadang orang yang pernah kita sayang, akan menjauh disaat kita menyayanginya. Namun suatu saat, ia akan datang dengan penyesalan disaat kita mulai pergi dari kehidupannya. Kalau menurutku, berikanlah Maurer kesempatan 1 kali lagi untuk ia bisa dekat dengan mu. Melihat perkembangan mu saat ini, sepertinya kau jatuh di dua hati. Daripada nantinya kamu menyesal sendiri?” Dinara memberikan saran pada Nem. Sedangkan Nem larut dalam pelukan sahabatnya yang sangat mengerti perasaannya.

“Tapi Ra, apa hal itu nggak ngebukain hati buat Maurer?” tanya Nem
“Insyaallah nggak Nem, selama kamu masih bisa menjaga hati mu untuk Luthfi ”
“Oke deh, ntar aku coba” senyum Nem merekah.

Luthfi, aku janji akan selalu menjaga hati, mata, dan perasaan ku untuk mu. Dan aku akan tetap menjadi pengagum rahasia mu. Sampaii… entah kapan. sekali lagi, aku merasa nyaman berada dalam posisi seperti ini. Tapi, suatu saat aku akan jujur terhadap mu. Insyaallah. Untuk saat ini, aku takut kamu mengetahuinya. Takut kalau semuanya akan berbeda dan takkan pernah lagi sama. Biarkan rasa kagum itu tetap tumbuh dan terselipkan di balik keseharianku

Cerpen Karangan: Ainun Dwi Cahyani
Facebook: Ainun Dwi
Masih belajar menulis 🙂 kalau jelek harap maklum, thank’s before.

Cerpen Diary of a Secret Admirer merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan yang Runtuh

Oleh:
Suatu ketika, dulu, waktu aku masih kesal 6 SD, aku merasa sangat senang sekali karena ada sahabat-sahabat ku, yang sangat menyenangkan. Kami setiap hari selalu bermain dan kerja kelompok

Kau Tetap Sahabatku

Oleh:
Persahabatan itu memang indah, siapa pun ingin memiliki sahabat yang selalu mengerti dan memahami perasaan sahabatnya, rela berkorban dan selalu ada dalam suka dan duka. Pagi ini aku merasa

My Last Best Friend

Oleh:
Bersahabat bukanlah hal yang mudah seperti apa yang kita bayangkan. Kenapa? Karena, satu sama lain harus saling menjaga perasaan dan kebersamaan di antara mereka. Namaku Angelia Vaira, dan aku

Aku dan Pelangiku

Oleh:
Ku ingin jumpa dia, berjumpa dengan mereka sahabat kecilku. Mereka bagaikan pelangi dengan lima warna yang berbeda, tapi perbedaan itu seperti saling melengkapi, aku sangat senang jika dapat bertemu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *