Dibalik Senyum Profesi Reporter

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengorbanan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 4 April 2018

Jum’at 18 juli tahun 2007 dimana hari ini aku alvita berprofesi sebagai reporter bersama teman lelaki pemegang kameraku taufiq, kita ditugaskan meliput dan mewawancarai salah satu masinis kereta krl jabodetabek yang melayani rute jabodetabek, dan baru saja selesai dengan baik. Dimana besok hari sabtu aku libur kerja dan akan bertemu teman lama smkku yang sudah 4 tahun tak bertemu.

“Vita, kamera sama mic nya jadiin satu aja besok kita libur” aku menjawab “Ok aku letakkan di bagasi belakang fiq, hore besok libur aku mau ketemuan dengan temen lama aku taufiq” taufiq menjawab kembali “Wahh sepertinya seneng itu hehe” di dalam mobil kru.

Tiba di kantor berjalan menuju lift teleponku berdering ternyata teman lamaku bernama sheren meneleponku “Assalammualikum alvita” aku menjawab “Waalaikum salam.. Sheren besok jadi ketemuannya di mana?” sheren menjawab “hmmp di kedai kafe star yuk tapi besok aku tidak bisa lama hanya bisa satu jam karena aku harus cepat kembali ke kanada untuk kerja lagi” aku mulai berpikir dan berkata “hmmp baiklah temanku”

Tiba-tiba taufiq mengagetkanku berkata “alvita, produser kita pak jaya seneng dengan liputan kita” aku senyum “Alhamdulilah bagus, oh ya aku pulang duluan taufiq, bye” dia berkata “hati hati”.

Tiba di rumah yang melelahkan tapi rasa senang tak terbalas karena produser aku senang dengan hasil kerjaku dan taufiq, juga besok hari dimana aku bertemu teman lama.

Hari mulai pagi dengan bersinar sosok matahari
Jam 09.30 WIB aku sudah mandi, sudah cantik mengambil telepon dan langsung menelepon sheren “Pagi sheren, udah di kedai kafe star ya, tunggu aku, aku tinggal membawa buku reporter” sheren tertawa dan berkata “Hahaha iya tenang aja aku tunggu kok alvita”. Aku matikan telepon dan saatnya mulai berangkat, mengambil tas, helm karena aku membawa motor.

Di tengah perjalanan melihat waktu dengan jam tanganku sudah terlambat sepuluh menit kemacetan yang entah kenapa di pertigaan jakarta, tak lama mulai membaik berjalan lagi tapi mulai kembali berhenti macet, aku binggung, penasaran dan akhirnya motor aku, kutitipkan ke tempat dekat warung dan aku bergegas berjalan yang kurang 700 meter dari tempat dimana aku menitipkan motor, dan setelah sampai aku melihat ternyata terjadi kecelakaan parah, melihat banyak polisi, 7 buah ambulan, warga-warga di sekitar, tapi aku tak melihat ada reporter yang meliput, aku binggung, ragu sudah lima belas menit lewat aku terlambat menemui temanku tapi di sisi lain ini kejadian penting yang harus aku liput karena eksklusif untuk semua orang mengetahuinya.

Akhirnya aku mengambil pulpen serta kertas untuk aku tulis apa yang terjadi, mewawancarai salah satu polisi dan aku menelepon taufiq tanpa basa basi “Taufiq sekarang lagi terjadi kecelakaan di jakarta pusat cepat ke sini mengambil gambar” taufiq berkata “Iya vita tunggu cari informasi yang penting”.

Tak lama kemudian taufiq datang “Alvita bagaimana, udah dapet semuanya?” aku menjawab “Sudah, aku kita mulai melaporkan langsung, aku bawa baju kerja kita” kembali taufiq menjawab” bagus, siap satu, dua, tiga” dan aku mulai melaporkan “Iya farhan dan kartika sekarang kami berada di jakarta pusat dimana anda bisa melihat kejadiaan kecelakaan antar bus pariwisata dengan mobil zebra, dimana bisa terjadi kecelakaan disebabkan rem pada bus pariwisata ini tidak terkendali dan menabrak mobil zebra yang berada di depan saat lampu merah, 30 penumpang yang berada di dalam bus dan 24 tewas di tempat juga bersama pengendara zebra, 6 orang luka luka parah, informasi yang kami dapat sekarang yang mengenai luka-luka parah langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, di sini juga banyak ada tujuh buah mobil ambulan, polisi sedang menangani dan warga yang ikut membantu, alvita dan juru kamera taufiq melaporkan”

“Baguss vita, kita dapat berita eklusif, terimakasih ya allah, oh ya kamu tidak jadi bertemu teman lamamu itu?” dua jam kita berada di kejadian kecelakaan dan aku langsung buru-buru mengambil telepon yang ada di dalam tas aku ternyata temanku sheren sms aku dia berkata “Alvita teman aku yang hebat, kamu reporter yang terbaik, kamu merelakan tidak bertemu aku demi kamu harus meliput secara tidak sengaja untuk banyak orang agar mengetahuinya, aku tadi melihat kamu liputan di tv kedai, maaf aku sekarang sudah di bandara lima menit lagi aku akan masuk pesawat, tidak apa-apa hari ini kita tidak jadi ketemu semoga tahun depan kita bisa bertemu dan lebih banyak waktunya lama hehe, semangat terus untuk menjaga profesi kamu, you my best frieds perfect miss reporter” aku lemas, binggung, sedih, menangis semua campur jadi satu, senang karena aku mendapatkan berita ekslusif dan sedih karena aku tak bisa bertemu teman lama, aku hanya bisa membaca sms dia aku tak tahu harus membalas apa.

Aku mulai tenangkan hati dan aku mulai berpikir, mungkin ini yang disebut dibalik senyum seorang profesi reporter ada pengorbanan yang harus dikorbankan dan dari pengorbanan tersebut ada sejuta kebahagiaan yang bisa kita dapat (sambil melihat ke atas awan dan melihat ada pesawat melintas).

Taufiq berteriak “alvita.. Pak jaya mau nraktir kita, inilah rezeki anak soleh” aku tertawa terbahak_bahak.

Cerpen Karangan: Kartika P.M.
Facebook: Kartika Aozora
hi si pembaca yang baik, Be yourself

Cerpen Dibalik Senyum Profesi Reporter merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salahku

Oleh:
Matahari mulai menampakkan diri, gelap kini berubah menjadi terang, bukan siang hari, tetapi masih pagi hari, masih dengan suasana yang sejuk dan dingin yang alami. aku terduduk di depan

Mencintai Walau Disakiti

Oleh:
Hay, namaku vika prasis, aku biasa dipanggil Vika, aku memiliki seorang kekasih yang beranama Dwi teguh arefianto panggil saja ia Reef, kita sudah pacaran lebih dari 4 tahun, dan

Ikatan Persahabatan

Oleh:
Malam begitu gelap, bahkan bulan yang sedang menggantung di langit itu tak bisa menyinarkan cahayanya, awan-awan hitam menutupinya dengan paksa. Sebuah mobil jeep hitam melaju dengan cepat menusuk ke

Sahabat atau Cinta?

Oleh:
Pagi yang mendung, aku segera merapikan dasiku. yang ber-motif kotak-kotak warna biru. dangan kemeja berompi kotak-kotak biru, dan rok di bawah lutut kotak-kotak biru juga. Di rompi nya terdapat

Penyemangat Hidupku

Oleh:
Fakri dan Nurul adalah 2 sejoli yang sudah bersama-sama sejak kecil. Bukan berarti mereka pacaran. Mereka telah mengenal satu sama lain. Dimulai dari kepindahan Fakri di sebuah rumah di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dibalik Senyum Profesi Reporter”

  1. Ridwan says:

    mungkin ini yang disebut dibalik senyum seorang profesi reporter ada pengorbanan yang harus dikorbankan dan dari pengorbanan tersebut ada sejuta kebahagiaan yang bisa kita dapat. Kenapa harus memakai kata ‘mungkin’, kenyataannya itu bukanlah karangan. Kata Cak Nun, ‘penulis terbaik adalah mereka yang tidak pernah mengarang!’

    Ternyata menjadi profesional sangat menyenangkan, walau banyak yang harus direlakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *