Dibalik Senyuman Desi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 May 2018

Di sebuah Komplek yang dikenal dengan Komplek Permata Jaya, hiduplah seorang anak bernama Hasan. Di sekolahnya, dia terkenal paling nakal karena setiap hari ada saja keluh kesah setiap guru yang mengajar Hasan. Walaupun dinasehati, Hasan tetap saja mengulangi kesalahannya tersebut. Kesalahan inilah yang membuat Hasan mempunyai teman yang sedikit. Mereka membenci perilaku Hasan yang menjengkelkan sekali.

Pada suatu hari, Bu Rani datang ke kelas dan memanggil Hasan. “Hasan, ikut Bu Rani ke Ruang Kepala Sekolah” ujar Bu Rani. Begitulah Hasan, setiap hari senin dia selalu dipanggil ke Ruang Kepala Sekolah untuk dibimbing perilakunya yang membuat jengkel itu.

Sesampainya di Ruang Kepala Sekolah, dia melihat seorang perempuan berkacamata cekung dan berambut hitam kepang yang duduk di depan meja Kepala Sekolah Pak Ben. Hasan kemudian duduk di kursi biru tepatnya di sebelah perempuan tersebut. “Hasan, kerjakan latihan ini!” kata Pak Ben. Hasan pun menurut dan mengerjakan latihan yang diberikan Pak Ben.

Sambil mengerjakan latihannya, dia menguping pembicaraan Pak Ben dengan perempuan tersebut. “Desi, begini nak. Kamu boleh bersekolah di sini selama 1 tahun.” ujar Pak Ben. “Oh, namanya Desi.” gumam Hasan di hatinya. “Tetapi, jika 1 tahun ini kamu menunjukkan bakat yang menakjubkan, kami pihak sekolah akan mempertimbangkan apakah kau boleh mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sini untuk kedepannya” sambung Pak Ben. “Hah?! Beasiswa?! Mengapa Pak Ben ingin memberikannya Beasiswa?” gumam Hasan di hatinya.

Esok harinya, Bu Rani pun ke kelas dan membawa Desi. “Anak anak, kita kedatangan murid baru bernama Desi Rudianto. Apakah ada yang ingin kau sampaikan, Desi?” ujar Bu Rani. Desi pun hanya tersenyum dan tidak menjawab apa apa. “Baiklah Desi, silahkan duduk di meja kosong yang tersedia” kata Bu Rani. Kebetulan sekali meja yang kosong adalah meja di samping meja Hasan. “APA?!! Di samping Cewek!!” teriak Hasan. “Hey, kamu seharusnya sopan dengan dia. Dia itu anaknya baik tidak seperti kamu” kata Bu Rani jengkel. Semua murid pun tertawa terbahak bahak karena Hasan yang dipermalukan Bu Rani.

Bel istirahat pun terdengar dari kelas, Hasan pun segera menuju ke Desi dan mengancamnya. “Hey, gadis kecil. Jangan sombong, lu ya! Mentang mentang dibela bukan berarti sombong, Ngerti gak!” marah Hasan. Desi pun hanya memberikannya senyuman tulusnya yang indah nan menawan. “Kamu tahu tidak mengapa aku hanya bisa memberikanmu senyum tulus?” bisik Desi. “APA?” tanya Hasan penasaran. “Tee Hee, Nanti Ya!” bisik Desi gembira. “Arghhh, ditipu sama gadis culun kecil” gumam Hasan di hatinya.

Pelajaran selanjutnya, Bahasa Indonesia. Pak Lukman membuat kelompok berisi dua orang untuk mengerjakan tugas dialog. “Oke, Bapak akan membagi kelompoknya.” ujar Pak Lukman. “Semoga aku berkelompok dengan Justin!” gumam Hasan. “Oke, bapak akan sebutkan! Asri dengan Justin, Aisyah dengan Bima, dan Desi dengan… Hasan!” ujar Pak Lukman. “APA??!! DENGAN DIA!?” gumam di hatinya. “Urghhhh, mengapa aku harus berkelompok dengannya!” keluh Hasan. “Kalian akan membuat tugas kelompok membuat percakapan antara kalian! Jangan lupa direkam!” kata Pak Lukman.

Keesokan harinya di rumah Desi, Hasan dan Desi sedang membuat rekaman percakapan. “Ughh, kenapa aku harus dengan gadis ini!” gumam di hatinya. Sementara Desi hanya bersenyum dan tidak mengeluh. Setelah rekamannya selesai, Hasan langsung membawa tasnya dan menuju jalan raya. “Hasan, tunggu dulu” jawab Desi. “Jangan menoleh ke belakang, Hasan! Tetaplah melihat ke depan!” gumam Hasan. “Hasan, jangan dulu pergi, kau belum dijemput” teriak Desi. Hasan hanya mengikuti prinsipnya yaitu hanya melihat ke depan.

Tiba tiba, hal menyeramkan terjadi. Ada seorang pencopet yang lari menuju ke arah Hasan. “Sini kamu nak!” jawabn pencopet itu. Hasan pun teriak sekencang-kencangnya. Untung saja, Desi langsung lari menuju pencopet itu dan memberikannya tendangan maut. Pencopet itu pun langsung pingsan dan ditangkap warga setempat.

“Ahh? Dari mana? Engkau?” tanya Hasan. “Tidak apa apa, aku baik baik saja, kok!” ujar Desi. “Siapakah yang mengajarimu tendangan itu?” tanya Hasan lagi. “Uhhh, sebenarnya, yang mengajarnya adalah almarhum Ayahku. Dia meninggal karena dibunuh oleh pencopet bank. Saat itu aku sangat sedih sekali sampai aku melewatkan 1 tahunku untuk bersekolah. Makanya aku berjanji ingin membela orang yang tidak bersalah yang menjadi korban kejahatan” ujar Desi semangat.

“Ummm, Desi. Maafkan perilaku diriku kemarin yang mengancam itu, ya!” kata Hasan. Desi pun hanya memberikannya senyum tulusnya yang indah nan menawan itu. “Tidak apa apa, kok!” balas Desi.

Akhirnya Desi dan Hasan menjalin persahabatan selamanya. Hasan pun akhirnya berubah karena dia menyesal telah membuang waktunya sementara Desi yang anak yatim pun masih mampu untuk berbuat baik. Hasan menyadari bahwa kita harus bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Hasan pun juga menyadari bahwa kita tidak boleh membuang waktu sebab waktu tidak bisa diulangi kembali. Akhirnya, Hasan memiliki banyak teman teman yang baik, disiplin dan setia.

TAMAT

Cerpen Karangan: CyanVin

Cerpen Dibalik Senyuman Desi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mencintai Budaya Sendiri

Oleh:
Hallo semuanya, perkenalkan namaku Putri Angelia, kalian bisa memanggilku Lia. Aku adalah seorang penari tradisional yang berasal dari kota Malang. Jika ada panggilan untuk mengikuti lomba menari tradisional, kepala

Scratch Teens (Part 1)

Oleh:
Hidup adalah sebuah PILIHAN, Dimana kita sebagai yang mempunyai keputusan. Memilih untuk bahagia atau menderita, Tersenyum atau menangis, tersakiti atau menyakiti, Memberi atau menerima, memiliki atau kehilangan, Mencintai atau

Si Cantik Baik Hati

Oleh:
“bu aku pergi sekolah dulu ya” tanya Syafira sambil mencium tangan Ibunya. “iya nak, belajar yang rajin ya” jawab Ibu. “iya bu” jawab Syafira. Ia pun berjalan menuju sekolah,

Hari Yang Bersamaan (Part 1)

Oleh:
Mataku sudah pedas sekali rasanya sejak habis solat magrib sampai sekarang pukul 23.30 pandanganku selalu tertuju oleh leptop, entah apa yang aku lakukan itu tidak penting asalkan penat dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *