Die, Malaikatku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 November 2016

Tuhan menjawab beberapa doaku meskipun dosa yang kutimbun semakin menggunung. Aku pikir aku adalah orang yang beruntung, lagi-lagi. Tiba-tiba tuhan mengirimnya, dari mana? Utara? Selatan? Timur? Barat? Atau mungkin Tenggara? Entahlah darimanapun dia tapi aku menyebutnya malaikat. Suaranya begitu indah, menenangkan. Wujudnya aku tak pernah tau. Sepintas mungkin terlihat. Dia bersayap atau tidak, hitam atau putih, besar atau kecil itu tak penting bahkan baik atau buruk pun dia tetap malaikat bagiku. Kehadirannya mungkin lebih kusadari dibanding kedua malaikat yang selalu menemaniku sejak masa balighku. Dia datang ketika aku benar-benar rapuh dan terpuruk.

Namanya Die. Aku mengenalnya tanpa sengaja di salah satu akun sosial mediaku dan kami semakin dekat karena spasi meskipun tanpa jabatan tangan dan saling tatap muka. Entah apa yang membuatku begitu nyaman dengannya padahal sebelumnya tak pernah seperti ini. Ini bukan diriku! Bukan aku! Aku tak percaya! Tapi inilah adanya. Aku benar-benar tak mampu menguasai diriku sendiri.

Die berhasil membuatku melanggar aturanku sendiri untuk tidak lagi membuka pintu hatiku selain kepada seseorang yang datang bertemu waliku untuk menghalalkanku. Aku seperti sudah tak mempedulikan hal itu.

Malam jumat, mungkin terlalu horor menceritakan semua yang kualami pada Die lewat udara, dengan ketikan di tochscreen layar ponselku, tapi tak lebih horor dari seribu malam sebelumnya ketika aku membungkus kotak hitam dengan beberapa perekat di atasnya dan menguburnya dalam-dalam. Aku menyebut kotak hitam itu masa lalu. Meskipun tak bisa kupungkiri kotak hitam itu sering kali melintasi pusat sistem syarafku membuatku tiba-tiba tersungkur meskipun jalan yang kulalui tidaklah terjal. Sebisa mungkin aku berusaha untuk melupakannya, tapi malam ini kotak hitam yang sudah lama tertimbun di otakku kembali kugali. Entah energi apa yang kuserap dari Die yang membuatku tiba-tiba membuka semua perekat yang sengaja kubalut pada kotak hitam itu dan secara otomatis otak besarku memutar kembali cuplikan-cuplikan menyakitkan.

Aku tak habis pikir kotak hitam itu selama ini tak pernah kuungkap pada siapapun bahkan orang terdekatku sekalipun. Bagaimana bisa kuhidangkan padanya? pada Die yang belum pernah kujumpai? Tapi Die menyambutnya dengan senyum yang begitu manis padahal dia tau itu adalah hal yang teramat pahit lalu Die menghempaskan semua bagian dari yang kusebut masa lalu itu jauh dari hidupku. Sakit, tentu! Mungkin air mata pun tak kan mampu menjelaskannya. Maaf mungkin aku terlalu cengeng tapi aku janji akan lebih kuat lagi.

Aku hanyalah dandelion, makhluk rapuh yang selalu berpura-pura begitu kuat. Aku tak secantik mawar, seharum melati apalagi semahal anggrek tak akan ada yang mau melirikku, kecuali Die. Die seperti angin bagiku, bagi dandelion. Die membelaiku lembut dan membawaku melintasi angkasa. Kau tau seperti apa ketika dandelion tertiup angin? Dan dia membuatku tumbuh kembali di tempat dia menepikanku. Die menyelamatkan hidupku. Aku benar-benar merasa lahir kembali, tanpa beban yang kurasa sangat berat di setiap langkahku sebelumnya. Nafasku terasa lebih ringan. Aku bebas! Aku bebas dari masa lalu yang menjadi mimpi buruk disetiap siang dan malamku yang seharusnya tak pernah terjadi. Meskipun tidak benar-benar hilang dari hidupku tapi setidaknya kotak hitam itu tidak merongrongku seperti dulu.

Entah bagaimana ceritanya! Aku bicara dia mendengar, dia bicara aku menangis, lalu kami tertawa. Konyol, yah memang konyol. Kekonyolan yang membuatku lupa akan gelap malam. Benar-benar malam yang membingungkan! Mungkin karena tanpa cahaya bulan malam ini tapi hadirnya Die seperti cukup menggantikannya, meskipun hanya di sosial media. Die membuat hari yang kulalui menjadi semakin bermakna. Lebih terang walaupun samar. Hitam, putih, abu-abu setidaknya tidak lagi hanya hitam karena aku tak pernah tau apa yang akan terjadi setelah ini meskipun kita bisa membentuknya, tapi hasil akhir adalah rahasia sang Maha Kuasa. Bagaimana aku membalas kebaikan Die? Aku tak kaya ilmu, apalagi harta tapi akan melakukan apapun yang Die minta sebagai balas budiku selama itu tidak membuat malaikat Atid menambah catatanku dengan tinta merahnya.

Tuhan aku tak akan meminta lebih karena aku tau kau tidak menciptakan Die seperti Rakib dan Atid yang selalu bersamaku hingga ajal menjemputku. Jika nanti Die memutuskan pergi dariku aku tak akan menahannya karena setiap yang datang kau ciptakan untuk pergi hanya saja waktu yang merahasiakannya. Tugasku hanya menjaga dan menikmati setiap rasa yang dia hadirkan sebelum akhirnya waktu menjemputnya karena ketika dia kembali dia tak akan sama seperti dulu. Aku sangat bersyukur Engkau telah mengirim Die, karena dia benar-benar meringankan beban di otakku membuatku bisa tertawa lebih lepas dan menangis lebih sendu. Namun dibalik semua itu tak bisa kuelakkan bahwa aku pun berharap dia tetap tinggal menemani setiap sisa hariku tapi aku pun sadar sosok malaikat tak pernah nyata, begitupun Die yang kuanggap malaikatku. Mungkin aku akan menambah setiap permohonanku kepadamu Tuhan untuk membuat Die menjadi nyata di hidupku. Tapi sampai saat ini aku masih merasa nyaman meski hadirnya belum menjadi nyata.

Cerpen Karangan: Norma Yunita
Facebook: Nurma A Yuanita

Cerpen Die, Malaikatku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Geishaku

Oleh:
Kantin sekolah selalu ramai oleh anak-anak genk “Dynamite”. Sebagai ketua genk, Yogi, harus selalu mengontrol keadaan di kantin agar tidak ada keonaran di sana. Yogi yang memilikki wajah tampan,

Sahabatku Cintaku

Oleh:
Namaku Ranti aku lahir di keluarga yang bisa dibilang tidak bahagia, karena aku lahir di keluarga yang “Broken Home”. Ya… Kedua orangtuaku telah berpisah sejak aku kecil, dulu aku

Tahun Baru Untuk Helen

Oleh:
Cinta itu aneh, kadang orang yang kita cintai tak mencintai kita dan orang yang mencintai kita tak kita cintai. namun, di balik semua itu hanya satu kata yang tepat

Sayonara

Oleh:
Aku capek memendam rasa yang nggak terbalas ini. Aku capek dengan sikap Azraq itu. Dia cuek, dia sadis, dia nggak peduli, dia nggak pernah senyum sama aku. Dia pikir

Sebuah Penantian

Oleh:
Malam beranjak kian larut, seiring purnama yang tersenyum penuh rona keindahan yang menyusup di balik jiwaku yang dirambati resah, sang purnama bersinar memancarkan cahaya kuning keemasan, seolah memberi secercah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *