Doni

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 January 2018

Aku punya teman. Namanya Doni. Tak tahu kenapa dia bernama begitu. Tapi kami adalah teman dekat. Hanya saja, ada satu hal yang sangat kubenci dari dia. Dia sama sekali tak menghargai yang namanya komitmen dan janji.
Pertama, aku tahu itu saat kami masih SD dulu. Kami sekolah di tempat yang sama. Sepulang sekolah, kami berjanji untuk bermain layangan bersama di lapangan desa.

“Don, nanti kita ketemu di lapangan desa, ya? Aku baru bikin layangan baru, nih. Bagus banget bentuknya,” kataku.
“Oke, Vin,” balasnya.
Karena waktu itu belum ada HP, ya itulah percakapan terakhir kami, sampai waktunya ketemu.

Dan akhirnya, sudah satu jam aku menunggu di lapangan desa. Belum kulihat batang hidung Doni yang mirip jambu bol itu. Aku duduk di bawah sebuah pohon mangga sembari menonton anak-anak lain bermain.
Aku kesal dan marah karena ia tak juga datang. Namun, entah kenapa tiba-tiba aku jadi khawatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu sama dia? Sesuatu yang buruk! Jadi kuputuskan untuk menengok di rumahnya.
Rumah Doni cukup jauh dari rumahku. Letaknya di sisi berlawanan antara lapangan dengan rumahku. Bahkan dengan bersepeda sekalipun.

“Asallamualaikum, Bu,” salamku, ketika sudah sampai di rumah Doni. “Doninya ada?” imbuhku, bertanya.
“Doninya gak ada, Nak Vino. Dia tadi pamit diajak mancing sama teman kampung sebelah. Itu, si Bagas,” jawab ibunya Doni.
Apa? Aku udah khawatir sama dia, ternyata dia malah mancing sama temanya yang lain! Terus janjian kami tadi apa artinya buat dia? Dia pikir, naik sepeda dari rumah, terus ke lapangan, terus ke rumah dia gak capek apa?! Kepalaku serasa mendidih!
Tapi entahlah. Apa mungkin karena kami masih kelas lima SD? Masih kanak-kanak? Permasalahan itu menguap begitu saja. Keesokan harinya kami berteman baik seperti biasa, seolah permasalahan ini tak pernah terjadi.

Akan tetapi, seiring kami beranjak remaja, maka ego dan rasa sok punya harga diri kami jadi besar. Ceritanya, saat kami sudah masuk masa SMA, kami membentuk sebuah grup band. Anggotanya aku sebagai gitaris, Doni sebagai vokal, Johan sebagai bassist, dan David sebagai drummer. Ceritanya, kami baru dua bulan mendirikan band ini. Saat itu, kami akan menghadapi sebuah kompetisi antar band tingkat provinsi, sehingga kami harus latihan dengan keras.
“Oke, semuanya,” kataku, seusai latihan di garasi rumah David. “Saat ini, gue udah bisa lihat kekurangan dari penampilan kita. Jadi, ayo kita segera bahas,” imbuhku.
Semua personil mendengarkanku dengan seksama.
“Yang paling perlu diperbaiki adalah permaian drum yang tadi beberapa kali salah ketukan. Selain itu, yang enggak kalah penting, vokalis juga beberapa kali salah pitching sehingga terdengar fales. Selebihnya, kita udah bisa main kompak. Perlu diingat, kompetisinya tinggal dua hari lagi. Kita punya kesempatan berlatih besok untuk terakhir kali. Itu penting banget. Jadi, gue minta kalian besok harus ikut latihan. Oke?”
“Oke!” balas mereka bersemangat.

Aku tahu dan sangat menyadari kalau sikap Doni yang sering nggak menghargai sebuah janji dan komitmen itu masih belum hilang. Sudah berapa kali dia tak menepati janji dan komitmennya? Bukan hanya padaku, tapi juga kepada teman-temanya yang lain. Seperti satu bulan yang lalu, saat aku datang ke rumahnya. Kami janjian akan pergi bersama ke sebuah kafe untuk menghadiri ulang tahun salah satu teman kami. Ceritanya, sebelum kami berangkat, Doni bilang kalau dia ingin isi bensin dulu di SPBU. Karena SPBU terdekat arahnya berlawanan dari kafe, aku pun menunggu di rumahnya. Doni berjanji akan segera kembali.
Tapi seperti kejadian saat kami janjian bermain layangan di lapangan dulu, Doni tak juga kembali. Mungkin sudah setengah jam aku menunggu. Aku jadi gelisah. Jadi, kukirimkan sebuah SMS kepadanya.

Don, loe di mana?
Tak ada balasan, meski kuyakin ia membaca pesanku.

Don, loe di mana?
Masih tak ada balasan. Sialan.

Dan dua puluh menit kemudian, barulah dia membalas.
Sori, Vin. Kayaknya gue gak bisa ikut. Gue baru aja ketemu Roni. Itu, teman sekelas gue waktu SMP. Dia mau ngajak gue ketemu teman-temanya, nih. Masa gue nolak? Gue kan udah lama gak ketemu dia. Gue titip salam aja, ya ke teman-teman?
Mataku melotot, dan nyaris keluar dari tempatnya!
Bangs*t!!!, pikirku, dan nyaris saja kukirimkan kata itu kepadanya.

Keesokan harinya, aku benar-benar tak mampu menahan kejengkelanku kepadanya. Meski aku tak memaki atau marah-marah kepadanya, teman-teman dan aku memutuskan untuk mendiamkanya, sampai akhirnya dia mengakui kekeliruanya, dan berjanji untuk tak mengulangi perbuatanya itu.

Tapi bukankah sudah kukatakan, kalau Doni belum bisa menghargai yang namanya komitmen dan janji? Tentu saja iya!
Dan ketika tiba waktunya kami latihan di garasi rumah David, untuk terakhir kali sebelum kompetisi antar band dimulai, Doni mengirim sebuah pesan singkat kepada kami –setelah hampir dua jam kami menunggunya!

Teman-teman, maaf banget, ya. Kayaknya gue gak bisa ikut latihan hari ini. Teman gue, Roni, ngajak gue camping sama teman-temanya di gunung. Gue janji, biarpun hari ini enggak ikut latihan, besok waktu kompetisi, gue bakal nunjukkin kemampuan terbaik gue.
Selesai.

Aku, David, dan Johan saling memandang. Entah samakah yang kami semua pikirkan. Tanpa satu pun kata lisan terucap sebagai tanda kesepakatan di antara kami bertiga, kuketikkan beberapa kata untuk Doni. Kata yang kami harap akan membuatnya benar-benar paham betapa pentingnya komitmen dan janji itu.
Kata itu adalah, Bangs*t! Loe dipecat dari band!

Tak lama kemudian, Doni membalas pesanku. Tapi siapa peduli apa balasanya? Itu sama sekali tak kuhiraukan. Segera kudekatkan mulutku di dekat MIC, dan aku tahu aku akan merangkap jadi vokalis besok.

Cerpen Karangan: Danang Teguh Sasmita
Facebook: Danang Sasmi (Facebook)
Danang Sasmi. Seorang cowok yang baru belajar menulis.

Cerpen Doni merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Awkward Couple

Oleh:
Ini bukan sepenuhnya salahnya, aku juga turut andil dalam hal ini. Aku pusing. Sudah seharian ini dia tak memberiku kabar. Aku juga tak cukup berani untuk sekedar menanyakan kabarnya.

Kacang Tak Lupa Kulit

Oleh:
Siang itu Babas dan Nur baru saja selesai melaksanakan tugas mereka yaitu sebagai pilot dan pramugari. Sesampainya di rumah tante Babas, Nur berniat untuk langsung pulang namun Babas meminta

Sahabatku

Oleh:
“Aduh, kalau jalan lihat-lihat dong!” bentak seorang anak perempuan berbaju pink itu. “Maaf, gue gak lihat, gue buru-buru,” sahutku meminta maaf. “Iya gak apa-apa, nama lo siapa?” tanyanya yang

Ketika Seorang Sahabat Berkhianat

Oleh:
Sahabat. Apa makna sahabat menurutmu? Sahabat menurut kepribadianku, menurut kehidupan sehari-hariku sahabat adalah sosok seorang yang selalu ada saat suka maupun duka, selalu saling menguatkan satu sama lain, selalu

Ketika Kau Tak Lagi Menemaniku

Oleh:
“Aku diam bukan berarti aku marah. Aku sayang kalian, aku sayang kamu. Aku ingin kalian lebih baik dari kalian yang sekarang. Tapi maaf kalau caraku ini salah. Maaf kalau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *