Dreams

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

Kulihat kristal cair akan mendarat di telapak tanganku. Beberapa detik benda itu tepat membasahi tanganku, hingga seluruh tubuhku. Dalam sekejap, tubuhku telah kering kembali. Aku terhenyak, mengingat sejak kapan aku melupakan teknologi ini. Aku seperti hidup di masa lalu, tanpa tahu bahagianya diriku bersama hujan. tapi sekarang, aku tidak bisa merasakannya kembali. persekian detik aku sadar, aku tak bisa kembali lagi ke masa lalu. Masa yang tak dapat digambarkan betapa bahagianya hidup sederhana nan alamiah. Aku seperti tak pernah bersyukur dengan kehidupanku sekarang maupun masa lalu. Padahal, apa yang kuinginkan hampir tercapai 99,9% terpenuhi. Hanya saja waktu yang tak pernah bisa kuputar tuk kembali ke masa lalu.

Karena itu lah aku benci seorang waktu. Apalah arti semua teknologi yang ada di sini, semuanya serba mudah. Tapi, satu yang tak ada tepatnya belum ada teknologi yang bisa memutar waktu kepada masa depan maupun masa lalu. Ini sungguh menyebalkan! Banyak teori tentang masa lalu, misal kehidupan manusia purba. Tapi, mengembalikan semuanya ke masa lalu sangatlah tidak masuk akal untuk pemikiran telanjang dan aku malah mempercayainya.

Semua hal yang kulihat seperti kasat mata. Aku termasuk orang teraneh di dunia ini, begitupun ketiga temanku. Maksudku, ketiga ketiga sahabatku yang seperti makhluk asing antah berantah. Ketampanan mereka tidak terkalahkan dengan makhluk asing lainnya. Seperti alien yang berformasi menjadi kawanan Boyband korea, itu sungguh diluar dugaan.

Mereka bukan hanya membuatku tersenyum, namun sampai tertawa yang tak berujung dan bertepi dengan rasa nyeri di perutku. Tentu saja mereka menjengkelkan, membuatku menjadi pemalu di hadapan mereka. Bodohnya, aku selalu gagal membuat mereka berhenti menggodaku. Semua pemikiranku dengan mereka tak akan ada yang sejalan. Terkecuali, satu hal tentang dunia teknologi. Menurutku, teknologi bukan segalanya dan ada batasannya. Bukan untuk menghilangkan kebiasaan lama atau budaya dunia yang benar-benar punah. Memang semua tampak mudah, cepat dan efisien. Sistem negara yang dulu kuimpikan telah di depan mata. Rumah-rumah berada beberapa meter di atas permukaan dan seluruh lahan dijadikan lahan pertanian. Tentu saja menguntungkan, banyak keunggulan yang didapat. Namun, juga sebanding dengan apa yang telah hilang.

Teknologi benar-benar menjadi penguasa makhluk hidup. Komunikasi lebih cepat dengan hitungan persekian detik. Tanpa kabel handphone telah tercharger dengan sendirinya melalui sebuah jaringan. Mobil terbang dan selam tak ada yang aneh lagi. Ini benar-benar dunia yang aku inginkan. Namun, terkadang apa yang kita inginkan tak sepenuhnya menghasilkan kebahagiaan.

Perkembangan teknologi memang penting, tidak kalah penting mempunyai 3 orang sahabat Fay, Ray dan Bara. Pendapat yang sama bukan hal yang aneh, meski si kembar Fay dan Ray telah berhasil membuat teknologi Gadget setipis kertas. Kita lebih sering berkomunikasi secara langsung, rasanya ada kebahagiaan lain dibaliknya. Tidak ada lagi sistem sekolah bersama melainkan Home Schooling. Setiap anak diberi satu laptop dengan fasilitas bisa memilih mata pelajaran yang disukai, baik berupa teks, gambar, video, atau video call dengan guru yang bersangkutan. pemerintah yang bertanggung jawab atas semua fasilitas tersebut. Lebih mudahnya, semua siswa telah terdaftar dengan semua alat digital seperti komputer yang bisa menginput data secara otomatis.

Simple saja, semua penduduk sudah terdata secara digital. Juga pendidikan, melalui lapyop tersebut kita bisa mengambil pelajaran apa saja, kapan saja dan dimana saja. Absensi digital telah terhubung ke pusat perusahaan sekolah untuk seluruh negeri. Untuk ujian, hanya 1 kali dalam semester melalui laporan sebanyak 10 halaman. Dilakukan serentak di seluruh negeri, melalaui teknologi scaner yang super canggih siswa tak bisa mempunyai laporan pembelajaran yang sama. Dengan begitu, budaya menyontek tidak ada lagi.

Setiap minggu diadakan pameran kemampuan skill atau karya untuk menjalin silaturahmi dan membentuk budaya persahabatan. Bagaimana pun manusia adalah makhluk sosial yang tetap harus berinteraksi, bergaul dengan sesama. Masih ada kemungkinan jika beberapa remaja tak mau bergaul dengan dunia luar, hanya berkutat dengan kecanggihan teknologi. Aku terlalu lelah dengan semua ini, hingga aku bertemu dengan si kembar Fay dan Ray pada acara pameran satu tahun lalu. Aku tertarik dengan Gadget yang dibuatnya dan aku bisa bersahabat baik sampai sekarang mungkin karena ketertarikanku itu. Namun, harga Gadget itu sebanding dengan kelebihannya.

Siapa sangka, sore harinya Fay, Ray dan Bara memberiku harapan yang hilang tentang arti dalam sebuah persahabatan. Mereka memberiku Gadget tersebut sebagai hadiah ultah ku yang ke-18. Aku berusaha menolaknya, namun mereka memaksaku untuk menerimanya. Itu hanya sebuah trik agar aku tidak malu menerimanya. Tentu saja hatiku senang dengan semua itu, terlebih mereka hadir sebagai keluarga baru yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Pada zaman yang semakin gila, mereka masih tersisa sebagai makhluk aneh yang cerdas. Namun justru tak begitu mereka menyukainya, hanya sebatas aplikasi pengetahuan dan hobi. Bara mulai mengenalku begitupun sebaliknya, di mulai dari saat itu.

Mereka datang satu detik lebih cepat. Aku segera menghampiri mereka. Tiket masuk rumahku cukup status mereka sebagai sahabat-sahabatku.

“Tuan puteri telah datang, beri hormat padanya kawan.” Lelucon Bara selalu membuat moodku menjadi jelek. Aku mendengus kesal. Beberapa detik berlalu, aku berusaha tidak menanggapi apa yang Bara katakan. Perhatian mereka teralih dengan kutanyakan apa rencana sebenarnya untuk pemberontakan ke sekretaris Presidensi. Bara tak menjawab, hanya mengambil ponsel dari tanganku dan menuliskan sesuatu di dalamnya. sedangkan Fay dan Ray hanya terkekeh.

“Nih, gue balikin. jangan berfikir macam-macam, baca deh file yang aku kirim pelajari, hayati dan nikmati.” Celoteh Bara

Aku tidak menanggapinya, aku hanya fokus dengan file yang dikatakan Bara. Semuanya tampak rumit juga berbahaya. Aku tidak mempunyai pilihan, ini. demi kodrat manusia sebagai makhluk sosial.

“Gue ngerti, gak perlu dijelasin lagi. Walaupun gue gak segenius kalian, tapi please deh gue juga cewek cerdas kali. And gue tahu kalian sudah merencanakan ini dengan persiapan matang.” Aku berlagak so mengerti.
“It’s okey, bagus kalau gitu. Kita gak perlu jelasin lagi ke lu Lexa. Btw, tumben hari ini lu cantik.” Ray si waras malah menggodaku.
“Makasih, emang gue cantik.” Perkataan ku sungguh menjijikkan.
“hmm, pdkt nih. Okey, tinggalin mereka deh Fay.” Bara berdiri
“Ada yang cemburu nih.” Fay tak mau ketinggalan.
“Amit-amit ya kalian berdua, mending gue ma oppa.” Baru saja aku tertawa dengan apa yang aku katakan.

Kini, suasana menjadi tegang. Kita telah sampai di istana Presidensi. Kami disambut dengan tatapan curiga sekretaris Presidensi. Lalu, membawa kami ke ruangannya. Ini sungguh persis dengan apa yang kami rencanakan. Sekretaris Presidensi menjelaskan bahwa Presidensi sedang ke luar negeri. Tepat sekali, kita sudah mengetahuinya. 2 langkah lebih maju, kita telah mengetahui segalanya. Kami berusaha untik tidak bosan dengan penjelasan kuno Sekretaris Presidensi.

“Apakah ada yang salah dengan semua yang saya katakan?” Wajah tanpa dosanya benar-benar tidak lucu.
“Tentu saja, tidak! Dengan semua pemalsuan dokumen, pengajuan pendapat dari orang-orang penting dan kau sembunyikan juga pengiriman Presidensi ke luar negeri. Kau kira ini omong kosong? berhentilah pura-pura tidak tahu. Kau membuat sistem sekolah seperti sekarang, karena kau berhasil menghasut Presidensi. Itu rencana awal kau, agar generasi muda terpecah karena saling egois. Dan saat kekuasaan kosong kau manfaatkannya untuk mengambil alih negara, menjadi penguasa yang haus akan kekuasaan. Dan entah apa yang kau rencanakan selanjutnya. Mungkin kau bisa mengelabui Presidensi, tapi tidak denganku!. Tentang teknologi pemalsuan, itu adalah hasil dari perampasan terhadap seseorang yang genius dan kau bunuh. Kau tahu mengapa aku mengetahuinya?” perkataanku berhenti, membiarkan Sekretaris Presidensi melakukan perlawanan. Sedangkan Bara, Fay dan Ray telah berhasil memasang kamera penghubung ke siaran langsung tv juga rekaman CCTV.
“Tentu saja tahu, kau fikir aku bodoh? kau adalah anak seorang genius yang aku bunuh 10 tahun yang lalu. Apakah misi kau sama dengan ayahmu, nak? oh ya, tentu saja sama karena kau anaknya bukan?” Sekretaris Presidensi sudah terpancing emosinya.
“Kau tak lebih dari kata bodoh, kau fikir dia anak si genius yang kau bunuh. Tentu saja, itu pemikiran terbodoh yang kau lihat. Aku hanya ingin tahu seberapa cerdasnya kau? Pada kenyataannya kau memang bodoh, apakah masih tidak mengerti? It’s okey, no problem! Akan ku katakan bahwa aku lah anaknya. Kau pembunuh hebat, benar-benar hebat. Tentu saja tidak sehebat dengan apa yang kurencanakan Jangan kau tanya apa yang aku inginkan, karena aku sudah mendapatkan semua yang aku inginkan.” Bara terlihat begitu santai dengan semua ucapannya.
“Sudah kawan, simpan tenaga kau untuk hal yang lebih berarti.” Fay menepuk bahu Bara
“Senangnya bisa menonton pertunjukkan secara live, beruntungnya aku. Dan satu lagi yang kau tidak tahu pak, semua orang di negeri ini telah menyaksikan semua hal yang kita lakukan saat ini.” Ray terlihat sombong sekali, lelucon yang tak lucu memang.
“Beraninya kalian! penjaga!” Penjaga datang dan meringkus Sekretaris Presidensi, tentu saja digiring ke dalam ruang 6×6 m.
“selamat tinggal dan nikmatilah, pak!” Kami mengucapkannya serempak.

Kulihat rintik hujan lebat di balik jendela indahku. Masih dalam keadaan terbaring di atas ranjang Favoritku, aku setengah menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Cerpen Karangan: Indar Hanifah
Facebook: InDarhanifah

Cerpen Dreams merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gang Apel

Oleh:
Kriiing… Jam weker di kamarku berbunyi nyaring saat menunjukan pukul 05:35 “Sudah pagi? Cepat sekali waktu berlalu” kataku dalam hati, Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Zombie Invasion (Part 1)

Oleh:
“Aku harus segera pergi dari rumah” pikirku tak karuan sambil mengemasi barang-barang yang kuperlukan. Entah mengapa situasi begini aku bisa melakukan hal ini juga. “Haduhh, dimana sih pemukulku?” keluhku

Sahabatku (Bukan) Cintaku

Oleh:
Hari ini merupakan hari yang kurang baik bagiku. Aku bekerja di salah satu kantor media massa sekaligus online sebagai editor juga pencari berita. Pada suatu hari terjadi insiden di

My Guardian Fairy

Oleh:
Laila adalah gadis biasa berumur 17 tahun yang tinggal bersama dengan paman dan bibinya, kedua orangtuanya telah meninggal. Saat Laila masih berumur 7 tahun, dia dan keluarganya mengalami kecelakaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *