Dreams

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 April 2014

Kurasakan hawa dingin ketika kulihat dia berada di depan kelasku. Si biang onar Rawson yang nyebelin. Sayangnya ternyata di dunia ini tidak hanya ada 1 Rawson, tapi 2! Bayangkan deh, punya kenalan orang gila yang berlipat ganda.

Tapi aku pura-pura saja tak melihatnya, itu jalan terbaik menurutku. Dan bisa ditebak Nick Rawson gemas. Digenggamnya tanganku dengan kuat, aku pun terseret ke dekatnya.

“Well, Honey, makasih, ya. Berkatmu aku jadi terlambat hari ini. Kau lupa kemarin kubilang akan menjemputmu pergi sekolah?” sindirnya sambil memiringkan senyum yang membuat banyak gadis kelepek-kelepek.

“Aduh, ada ya kau bilang begitu? Salah orang mungkin?” kilahku cepat, berusaha keluar dari cengkeraman tangan atlit baseball yang kuat itu.

“Tidak mungkin. Aku tak sudi mengajak cewek lain boncengan motor denganku.”

Aku kalah telak. Aku tahu dia hanya melakukan itu padaku. Spesial? Istimewa? Begitulah menurut teman-teman lainnya. Tapi jujur saja, aku merasa terusik. Dia bagai badai yang datang di senja hari yang nikmat untuk menikmati metahari terbenam.

Berkali-kali temanku mengingatkan bahwa Nick bisa saja kalap dan menyekap atau menyiksaku kalau terus-terusan mengabaikannya. Dia jadi posesif, sensitif terhadap semua keseharianku – dan menurutku, tak perlu ia pusingkan sama sekali.

“Ya ampun Nick, lepaskan Frena. Dia kesakitan, tuh,”

Ah, suara itu. Astaga, kenapa aku bisa masuk ke dalam situasi yang tak enak begini. Semakin ramai orang yang memperhatikan kami dan aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak meledak dan menghamburkan semua kekesalanku pada orang-orang ini.

“Diam, Sam. Cewek ini lagi-lagi mengelabuiku!” tukas Nick tak gentar, menunjukku dengan telunjuk tangannya.

“Eh, siapa yang menipumu! Salahmu sendiri, aku kan tak pernah memintanya!” seruku kesal, Nick tersentak kaget.

“Duh Honey! Judes amat deh kamu!”

“Hei, kalian ini menghalangi jalan, tahu. Miss Genai mau lewat,” kata Sam mengingatkan.

Genai adalah anak konglomerat dan borjuis. Dia dihormati karena harta keluarganya yang sangat berlimpah. Semua itu membuatnya merasa memiliki pengaruh besar karena sering mendermakan hartanya untuk sekolah. Dan lebih parah lagi, dia meng-makeover habis-habisan fisiknya untuk mendekati – yah – si kembar Rawson.

“Hah, buat apa aku kasih jalan dengannya! Kan masih banyak jalan lain!” kata Nick cuek, ceplas-ceplos tepat ketika Genai yang berdandan menor berada 5 meter darinya.

Mata gadis itu berang, tapi ia hanya menatapku. Dia berasumsi akulah yang membuat si kembar Rawson menjauhinya.

“Cewek kuper disini, hush!” katanya memerintah dengan kasar padaku.

Nick jadi emosi dan lepas kendali. Hampir saja Genai mendapat tinjunya kalau Sam tak segera menarik tangan kembarannya.

“Hati-hati kalau ngomong, dasar tante-tante!” maki Nick keras.

“Idih, kamu yang hati-hati! Siap-siap pergi dari sekolah ini!” balas Genai tak mau kalah, meskipun hatinya kebat-kebit mengingat ia bicara dengan orang yang ditaksirnya diam-diam (meski itu sudah menjadi rahasia umum).

“Aku nggak takut uang keluargamu!” seru Nick lagi.

Nah, inilah giliranku. Secepat kilat aku berlari ke dalam kelas, dan menutup pintunya. Nick sadar dan ngamuk kembali. Dia menggedor-gedor pintu seperti kesurupan.

“Fren! Oi, Frena! Lihat aja! Kau takkan lolos dariku!!” ancamnya menakutkan.

Aku menggigil di balik pintu. Sedangkan teman-teman sekelasku yang dari tadi menyaksikan peristiwa itu hanya bisa tertawa dan menabahkanku. Beruntung aku tak sekelas dengan Nick dan bel berbunyi. Sam duduk di sebelahku – hal yang paling membuatku merasa risih. Dan saat-saat paling mengesalkan di dalam kelas adalah duduk di dekat Sam.

“Kamu jauh-jauh deh, aku lagi malas nih!” kataku merengut.

“Hei, aku murid kelas ini. Terserah dong mau duduk di mana,” Dia tetap tak peduli sejelek apa pun ekspresi yang kupasang dan mengeluarkan buku-bukunya. Alasan aku tak senang dengan Sam yang bak pangeran ketimbang Nick yang dewa kematian? Wah, di dekatnya kau serasa seperti lumut kecil yang tak berharga dan dia adalah bunga indah yang selalu mekar. Sam si juara kelas, penerima beasiswa prestasi, juara olimpiade sains dan lain-lain. Meskipun enak mendapat guru les gratis di sampingmu, tapi sangat tak enak ketika gurumu hanya memandangnya sementara kau sudah menunjuk tangan untuk menjawab. “Frena, kurasa aku harus bicara baik-baik dengan Nick. Dia itu terobsesi padamu.”

“Aku tidak mau. Bagaimana caranya bicara dengan orang kasar seperti dia?”

“Dia itu menunggumu tahu, kau saja yang tak peka.”

“Menjemputku?” mataku membesar, baru sadar.

Sam mengacak rambutku dengan gemas. Sebagian cewek di kelasku memandang dengan cemburu. Aku akrab dengan si kembar Rawson yang populer. Yah, kisah cinta tak pernah terjadi untukku, tapi Nick salah paham dengan sikapku sebagai teman dekat perempuan satu-satunya ketika masih kecil. Dia yang dulunya sakit-sakitan dan lemah selalu dikucilkan dan ditindas. Lalu akulah yang datang sebagai penyelamat, seperti superhero. Seperti cerita-cerita di komik Jepang. Tapi ini sungguhan. Kami berada di TK dan SD yang sama hingga akhirnya pisah SMP dan SMA. Tak heran bahwa meski rumah jauh, kami tetap sahabat dekat.

Nick berjanji untuk menjadi kuat dan melindungiku kelak, dan aku akan menjadi dokter yang mengobatinya. Sedangkan Sam akan menjadi peneliti handal yang diidam-idamkannya; kerja di laboratorium.

Duh, cita-cita anak kecil yang mengubah segalanya. Nick serius dan berjuang keras, tapi kabar yang kudapat dari Sam, setelah 3 tahun SMP berbeda denganku (aku dan Sam selalu bersama karena nilai Nick tak mencukupi untuk masuk SMP kami berdua) maka dia berjuang sekuat tenaga dan belajar dengan Sam agar bisa satu sekolah denganku.

Dan hasilnya membuatku kecewa berat, disamping aku bangga padanya yang telah berubah menjadi atlet tim baseball yang cukup terkenal. Dia selalu mendekatiku tak tanggung-tanggung, membawakan segala macam hal yang sangat memalukan dan membuat semua orang jadi tahu hubungan kami (yang sepertinya memang tujuannya).

Dan parahnya, aku selalu menghindarinya. Klimaksnya, dia jadi frustasi dan mendapatkan segala cara agar aku mau menatapnya, sekali saja.

“Oke, aku akan bicara padanya,” kataku pasrah. Memang inilah jalan terbaik.

“Oke, nanti aku akan sampaikan,” sahut Sam seraya mengerjakan soal-soal di buku.

“Dan bilang jangan norak! Kalau tidak, aku tak mau bertemu dengannya.”

Sam terkekeh dan mengangguk lagi. Untuk urusan hubunganku dengan Sam, semua berjalan lancar. Aku tak pernah punya rasa apa pun selain kagum pada kejeniusannya. Dan aku tahu dia menikmati itu.

“Aku tidak terima,” jawab Nick segera ketika kukatakan aku menganggapnya teman saja.

“Oh, Nick…” aku mengerang lemas. Gawat kalau orang ini emosi kembali.

“Tidak, Fren. Kau yang membuatku mempunyai tujuan hidup. Dan tak lengkap hidupku bila kau tak bisa kumiliki. hanya sekedar dipandang saja!” Dia menatapku nyalang dari mata elangnya yang tegas. Aku gemetaran. “Kau tahu, bertahun-tahun aku memendam kesal dan iri pada Sam yang selalu bersamu, dan seakan aku tak tahu saja kalau dia juga menyukaimu, tahu!”

Petir menyambarku begitu saja di tengah terikanya cuaca siang ini. Masa sih? Pasti ini cuma alasan yang dibuat-buat Nick agar dia mendesakku untuk memilih antara dirinya dan Sam. Tapi dia tak melakukannya. Dia hanya memberikan sekotak kecil bingkisan dengan pita emas yang indah.

“Aku memutuskan untuk ikut sekolah akademi di luar kota minggu depan.”

“Kau diusir karena menentang Genai?” mataku membelalak kaget.

“Tidak mungkinlah! Aku tidak cocok belajar di sekolah kalian yang kelewat rapi dan bersih itu!”

Kami tertawa bersama. Kuperhatikan matanya yang cerah dan menerawang ke depan. Ke arah matahari yang terbenam. Sekarang dia bukanlah badai, tetapi burung yang hendak terbang bebas, mencari tempat tinggal baru sebelum malam mendekapnya tanpa cahaya.

“Frenaaa!! Sudah kubilang jangan begadang!” seruan Sam mengagetkanku yang sedang terburu-buru memeriksa jadwal praktek hari ini. Dia membuka pintu kamarku dan menerobos masuk. “Kau jangan terlalu baik, menggantikan shift temanmu! Jadinya kau sendiri yang susah, kan?”

“Aduh Sam, bisa enggak kamu menolongku di sini daripada ngomel-ngomel nggak jelas di sana?” sahutku kesal menyibakkan rambut lurusku yang panjang.

Sam mengambil pita dan menggenggam rambutku, kemudian mengikatnya dengan perlahan sementara aku memasang benda berkalung dingin di leherku. Liontin berbentuk stetoskop yang indah.

“Masih disimpan ya mainan itu?” oloknya.

Wajahku memerah. “Ini bukan mainan, tahu.”

“Terus?”

Aku tak menjawab dan menghempaskan bantal ke Sam yang berhasil dilewatinya.

“Oh no, Miss Rawson, jangan kasar. Bagaimana kekasihmu nanti tahu kau berubah ganas dalam 7 tahun terakhir ini?” tawanya berderai-derai di kamarku. Itu ejekan maut, aku tak pernah bisa melawannya, dan hanya akan semakin memalukan saja. “Dia akan menghukumku yang tak mendidikmu menjadi wanita baik-baik!”

“Aku masih Miss Frena, tahu!”

“Dan sebentar lagi, Frena Rawson!”

Ketika aku ingin membalas, ibu memanggil kami, mengingatkan bahwa hampir tiba waktunya pesawat yang membawa kembali orang yang akhirnya kucintai itu dengan selamat hampir tiba. Kami bergegas ke garasi dan Sam menyetir. Ketika sampai di bandara, kulihat dia sudah ada di sana. Kulitnya agak gelap terbakar, otot-otot lengannya tampak jelas. Rahangnya tegas dan terbentuk semakin sempurna. Gayanya masih sama seperti dulu, ketika menungguku datang. Tak peduli betapa banyak wanita-wanita cantik meliriknya, dia hanya menatapku, menembus orang-orang.

Aku berlari memeluknya dengan haru. Dia tertawa, aku tertawa, dan Sam tertawa. Kami tiga sekawan yang tak terpisahkan. Menjadi satu dan bersama hanya karena impiandan cita-cita konyol yang indah.

END

Cerpen Karangan: Lunariel

Cerpen Dreams merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Never Give Up To Reach It

Oleh:
Namaku Adit dan aku memiliki seorang teman yang berbakat dalam melukis. Mitha namanya. dan dia mempunyai cita-cita sebagai pelukis terkenal seperti idolanya yaitu pablo picaso. Ia menjuarai beberapa perlombaan

Taplak Meja Persahabatan

Oleh:
“Mulai Senin depan, tepatnya tanggal 21 maret sampai dengan tanggal 26 maret kalian akan melaksanakan Ujian Praktik, persiapkan dengan benar-benar sehingga mendapatkan hasil yang maksimal,” tutur Mr. Smith selaku

Buku ini Aku Pinjam

Oleh:
Beberapa hari lagi sahabatku Iren akan berulang tahun, selang waktu seminggu kami beserta Azam sang pujaan hatinya sibuk mencari kado. Malam 3 hari sebelum Iren ulang tahun, Azam meminta

Cinta Dua Hati

Oleh:
Ini bukan yang pertama bagi ku jika aku harus kehilangan wahyu untuk yang ketiga kalinya, wahyu laki-laki manis yang selalu mengisi hati ku, tapi kali ini wahyu benar-benar membuat

Kamu dan Mamahmu

Oleh:
Gemericik suara hujan ditambah dengan tiupan angin yang menggoyangkan daunan, bagaikan lagu merdu yang menghipnotis diri ini untuk semakin terlelap. “TOK.. TOK.. TOK..”. Antara sadar dan tidak, aku seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *