Dunia Lamaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 June 2017

Langit yang berawan melindungi kami dari terik matahari saat upacara bendera dilaksanakan. Seluruh peserta upacara menatap lurus sambil memberi hormat kepada sang merah putih. Aku bersiap untuk menyanyi. Perlahan suara anggota paduan suara mulai terdengar, begitu harmonis. Semua nada yang kami pelajari untuk hari ini tidak sia-sia. Suara mezo, alto, dan juga sopran peserta paduan suara tercampur dengan baik, sehingga ketika udara mulai menghantarkannya terdengar indah di telinga kami.

Seseorang di sampingku tiba-tiba menyikutku. Aku menatapnya, ‘Shifa’ sahabatku. Dia tersenyum lalu mengulurkan tangannya mengajakku high five. Ternyata dia merasakan sensasi yang kurasakan saat mendengar suara paduan suara. Kami melakukan high five kecil sambil tersenyum.
Kami sangat bekerja keras untuk hari ini, karena kami tahu pembina upacara untuk kali ini adalah walikota Tasikmalaya. Kerja keras kami terbayar semua ketika sang walikota memuji paduan suara.

Ketika upacara bendera selesai, aku dan Shifa beranjak ke kelas yang berada di lantai dua. Sepertinya kami yang pertama datang ke kelas, karena jarak paduan suara dekat dengan kelasku. Aku merebahkan diriku di kursi tempatku. Shifa mengikutiku dan duduk di sampingku.
Perlahan semua bangku di kelasku terisi. ‘Irma’ sahabatku juga, menghampiri kami yang terduduk.

“Apa kau tahu, Sekarang ulangan matematika?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk untuk menjawabnya.
“Kau juga tahu?” Irma menoleh ke arah Shifa.
“Ya” jawabnya singkat.
“Kan ada Amel si juara kelas yang mengingatkan” godanya sambil menyikutku.
“Apa sih” ucapku, mereka tertawa melihat tingkahku.

Terdengar suara pintu terbuka. Kepalaku menoleh ke arah pintu. ‘Guru Matematika’. Seketika suasana ricuh menjadi hening. Irma langsung beranjak ke tempat duduknya. Sang ketua kelas menyiapkan kelas dan memerintah kami untuk memberi salam kepadanya.

Sesuai janjinya minggu lalu, hari ini ulangan. Dengan sigap dia memberikan lembar demi lembar soal kepada siswa yang berjumlah 30 orang ini. Aku membaca sekilas soal-soal itu, lalu mengerjakannya dengan yakin dan semampuku.
Ruang kelasku benar-benar hening, bahkan suara seseorang menghapus pun terdengar di telingaku. Sepertinya semua siswa di kelasku sangat serius mengerjakan. Mereka hanya menunduk dan sesekali mencoret-coret di soal.

Pukul 10.00, waktu istirahat bagi kami. Seperti biasa kami bertiga beranjak pergi ke kantin. Langkahku terhenti ketika seseorang memegang lenganku. Aku menoleh ke belakang, menatap sang pemilik tangan itu. ‘Vannesa’. Dia balas menatapku sambil tersenyum.
“Aku ingin bicara sesuatu” ucapnya.
“Tapi tidak di sini” lanjutnya.
Aku berpikir sejenak lalu menyuruh Shifa dan Irma pergi ke kantin duluan. Merekapun bergegas ke kantin tanpa diriku. Vannesa mengajakku ke kelas. Di sana tidak ada orang satu pun, karena semua siswa keluar untuk istirahat. Vannesa adalah sekertaris di kelasku dan dia lumayan terkenal di sekolah ini.

“Ada apa?” tanyaku.
“Kau mau tidak berganti bangku denganku?” dia menatapku.
Aku mengernyitkan dahiku “Memangnya kenapa?”
“Aku tidak nyaman dengan Hilma, kau tau dia kan? Mau ya mel” matanya menatapku memohon.
Hilma adalah teman sebangku Vannesa. Memang akhir-akhir ini hubungan mereka sedang tidak baik, itu karena sikap Hilma yang egois, berbanding terbalik dengan Vannesa yang lembut. Semua siswa di kelasku tahu bagaimana sikap Hilma dan mereka tidak menyukainya. Entah bagaimana aku berpikir, aku menyetujuinya begitu saja.

Keesokan harinya aku sudah duduk dengan Vannesa. Shifa saat itu menyutujuinya juga. Sebagian hatiku tenang. Hari pertama duduk dengan Vannesa menyenangkan bagiku. Sampai akhirnya hari ini full aku habiskan bersama Vannesa. Saling berbincang, bercerita dan yang lainnya selayaknya anak SMP.

Hari berganti minggu, selalu sama seperti biasa. Tapi kali ini, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Hari ini aku lebih banyak diam, mungkin sibuk dengan pikiran yang memenuhi otakku. Sebuah pikiran, tidak lebih tepatnya sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Bodohnya aku yang menyadari keganjalan itu namun tak berani untuk mengerti fakta itu.
‘Sekarang aku jauh dari mereka’ batinku.

Seminggu ini aku benar-benar melupakan mereka. Bahkan aku menolak ketika mereka mengajakku ke kantin saat itu. ‘Irma dan Shifa’. Aku menggigit bibir bawahku. Saat duduk pertama kali dengan Vannesa, aku merasakan diajak ke sebuah dunia baru yang belum pernah aku rasakan. Aku terlalu asyik dengan dunia itu. Mengabaikan mereka yang selalu setia menungguku untuk kembali berkumpul dengan dunia lamaku. Dunia lama yang nyaman, meskipun tidak setenar dunia baruku.
Kucoba untuk mendekati dunia lamaku yang kutinggalkan. Tapi sepertinya dunia itu benar-benar menjauh. Irma dan Shifa bahkan sering mengabaikanku ketika aku berbicara. Aku tahu mereka enggan untuk hanya menatapku. Tapi aku ingin kembali ke dunia itu, aku merindukannya. Rindu akan suara tawa riang kami, perhatian mereka dan waktu yang selalu kami habiskan dengan gila ketika menunggu jam les. Sebuah kenyamanan yang aku sadari jauh berkali-kali lipat dengan dunia baruku. Begitu bodohnya aku. Ini salahku, sudah sepatutnya mereka bersikap seperti itu.

Sudah genap dua minggu aku jauh dari mereka. Aku menatap mereka dari kejauhan. Rindu akan kenyamanan itu semakin memuncak pada diriku. Kuhela napasku panjang. Sebuah helaan penyesalan.
“Kau sakit?” Vannesa menatapku.
Aku hanya menggeleng seraya tersenyum. Ku tatap langit-langit kelas, mengutuk langit-langit itu, melampiaskan semuanya. ‘Penyesalan memang datang terlambat’, kalimat itu kini aku rasakan. Beberapa kali aku mencoba sekaligus beberapa kali aku gagal mendekati dunia itu. Mereka pasti membenciku sekarang. Aku ingin kembali. Sangat tipis kesempatan yang kupunya untuk kembali ke dunia itu. ‘Kesempatan’ apalah arti kata itu sekarang bagiku.

Langit yang mendung. Kulirik lenganku, pukul 16.30. Kakiku melangkah ke luar, sekolah sudah mulai hening saat ini. Lelah, aku bergegas pulang, kupercepat langkahku menuju gerbang.
“Amel” seseorang memanggilku.
Langkahku terhenti mendengar suara itu. Suara melengking yang sangat ku kenal ‘Shifa’. Aku membalikan badanku. Shifa dan Irma mendekatiku, sampai akhirnya tepat berada di depanku. Mataku menatap mereka ragu. Aku terdiam enggan untuk bertanya ada apa. Hanya menunggu sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Beberapa detik kami hanya saling menatap bergantian.
“Makan yu” ucap Irma.
Aku mengikuti mereka tanpa banyak bicara. Ganjil, aku masih merasakannya. Kuabaikan perasaan itu, saat ini aku hanya ingin bersama mereka.

Hanya perlu berjalan kaki sedikit untuk menuju ke tempat yang kami duduki sekarang. Sebuah tempat di pinggir keramaian jalanan kota Tasikmalaya. Sempat merasa aneh ketika aku sampai di tempat ini. ‘Bubur’ mereka mengajakku memakan bubur di sore hari.
Semilir angin sore mengusap wajahku lembut, namun makin lama kurasa makin menusuk kulit. Kuusap tengkukku di balik jilbab yang aku kenakan. Kami masih membisu dari tadi.

“Amel”
“Kau tahu, kami mengajakmu ke sini untuk apa?” tanya Irma memecah kebisuan kami.
Aku menggeleng. Tiga mangkuk bubur kini ada di hadapan kami. Kami tersenyum kepada seorang bapak paruh baya ini. Mereka diam kembali. Mangkuk bubur di hadapan kami belum kami sentuh sedikitpun.
“Maafkan aku” ucapku seraya menunduk. Mereka menatapku.
“Untuk apa?” Shifa bertanya. Aku yakin mereka tahu maksud dari permintaan maafku.
“Segalanya” aku menatap mereka bergantian.
“Kau pasti mengira kami serius menjauhimu kan?” lanjut Shifa sambil menambahkan 3 sendok sambal ke buburnya. Aku tidak bergeming.
“Kami hanya memberikanmu sebuah pelajaran, bukan menjauhimu” ucap Irma.
“Kupikir kau tidak akan berubah saat duduk dengan Vannesa, tapi kau malah berubah seolah kau tidak membutuhkan kami lagi” lanjutnya, lalu melahap sesendok buburnya.
Aku masih belum menyentuh bubur yang ku pesan. “Maaf ya” kata itu terulang kembali.
“Jangan berubah lagi ya Mel, meskipun kau duduk dengan Vannesa, janji” Shifa tersenyum lebar ke arahku sambil menunjukkan kelingkingnya. Aku tersenyum tipis ke arahnya, lalu menatap Irma yang memang sedang tersenyum menatapku.

“Apa sih, kalian suasananya jadi aneh” irma berdecak sebal lalu melahap lagi buburnya. Kami tertawa selepas itu.
“Dimakan Mel” ucap Shifa, tangannya menuangkan beberapa sendok sambal ke buburku. Aku hanya tersenyum. Kulahap bubur itu sambil tersenyum.
“Tidak pedas ya?” tanya bapak itu ketika melihat kami menambah beberapa sendok sambal untuk kesekian kalinya. Kami menggeleng sambil sedikit tertawa. Kita memang sangat menggilai pedas.

Sore yang berarti bagiku. Awan abu ini menyelimuti kami. Hangat, nyaman aku merasakan itu lagi sore ini. Aku sangat bersyukur, bisa kembali ke dunia ini lagi. Tertawa bersama mereka, aku merindukan ini. Sesal di hatiku memang masih ada, tapi aku akan memperbaikinya. Memperbaiki semuanya yang pernah kurusak, terutama perasaan kecewa mereka padaku. Meskipun aku tau mereka memaafkanku. Aku sangat berterima kasih kepada tuhan karena takdir mempertemukanku dengan teman seperti mereka. Teman yang sangat setia. Teman yang selalu memaafkan meskipun mereka tahu prosesnya menyakitkan.

Cerpen Karangan: Alfiah Sundara
Blog: Alfiahsndr
Facebook: Alfiah Sundara
Alfiah Sundara, salah satu siswa di SMAN 2 Tasikmalaya. Mempunyai hobi menulis, mendengar musik, membaca novel dan menyanyi.

Cerpen Dunia Lamaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Let Me See Your Smile (Part 4)

Oleh:
Malam yang dingin. Seorang laki-laki berdiri di balkon kamarnya sambil memandang ke luar dengan tatapan mata kosong. Dia adalah Raka. di tangannya terdapat sebuah foto dua anak yang sedang

Bagai Pungguk

Oleh:
Pertama-tama yang paling utama, aku “sendiri” masih sekolah, terus sekolahnya agak jauh dari rumah jadi perlu angkot atau bus untuk perjalanannya. Nah jadi angkot dan bus inilah yang menjadi

Pertemuan Singkat

Oleh:
Hari ini hari sabtu, aku mendapat tugas yang menjenuhkan sekali, aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar mencari udara segar agar tidak stress, atau mungkin setelah jalan-jalan aku bisa fresh

Kamu Aja Deh

Oleh:
“Allahu akbar Allahu Akbar” “Hoaammmmm, masih ngantuk nih,,” Suara Adzan Subuh itu lagi. Suara yang biasa membangunkanku seperti pagi ini, pusing bener rasanya, ku paksa kucek-kucek mata yang masih

Diary Diandra

Oleh:
Bagaimanapun juga aku sangat membencimu Azrial Rifaldhy Anggara! Walaupun para cewek memujamu bagai Dewa… Aku tetap enggak akan tunduk di bawah kakimu… By: Diandra Allysa Framezty “Azzrriiaall…” teriak Diandra

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dunia Lamaku”

  1. Dinbel says:

    Keren & menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *