Duta Pertiwi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Olahraga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 October 2017

Di sebuah pemukiman kumuh di DKI Jakarta terdapat seorang anak yang bersemangat yang bernama Abdul Simanjuntak, Abdul sangat gila terhadap sepak bola, dia tidak mampu membeli poster pemain sepak bola idolanya, namun dia tidak menyerah. Dari kertas karton, dia buat sendiri gambar pemain sepak bola kesayangannya, kertas karton itu pun pemberian tetangga.
Walaupun begitu, Abdul adalah anak yang sangat bersyukur atas apa yang diraihnya, dia bangga sekali dengan poster yang dia pajang di dinding rumahnya yang terbuat dari seng itu!
Bu susi, ibu dari Abdul sangat terharu melihat sikap anaknya tersebut, dan dia justru bermimpi jika suatu saat nanti anaknya anaknya menjadi seorang pemain sepak bola profesional.

7 tahun kemudian, Abdul tumbuh menjadi seorang remaja, dan dia sering bermain sepak bola dengan anak-anak dari kampung sebelah. Abdul sangat jago menggocek si kulit bundar. Lawan main Abdul seringkali sampai mengagumi skil dari Abdul.

Suatu saat, seorang anak sombong bernama Pieter Danurejo, lewat dengan mobil mewahnya yaitu Hummer H-2 berwarna merah dengan diantar supir ayahnya. Tertarik melihat pertandingan sepakbola remaja antar kampung tersebut, dia menyuruh sang supir untuk berhenti. Kemudian dia turun dari mobil dan langsung berlari menuju ke lapangan kampung yang sangat becek itu.
Dia kemudian merebut bola dari seorang pemain kampung tersebut dan langsung mempertontonkan keahliannya menggocek bola, kemudian membawa bola itu sendirian hingga terjadi gol, setidaknya menurut dia.

Pieter dengan wajah sombongnya lalu menyeringai
“Kalian anak-anak kampung tidak ada kemampuan apapun!”
Lalu dia pergi dan langsung naik kembali ke Hummer H-2 merahnya.
Pieter memang merupakan anak dari pemain sepak bola legendaris asal kota Bogor, yaitu Hari Danurejo.

Melihat hal gila yang terjadi tadi, Abdul hanya bisa bengong, pasalnya skill bola dari Pieter memang di atas dari dirinya. Akan tetapi dia juga berpikir jika tidak seharusnya dia melakukan itu.
“Dasar anak orang kaya” Kata Tong Galih seorang anak dari kampung sebelah.
“Mereka datang dan langsung menginjak kita seperti menginjak kecoa!” Sambung Jayadi Abdrurahman, seorang anak kampung sebelah lainnya.
Sementara itu Abdul dengan santai malah menanggapi “Tidak usah dipikirkan kita ya kita dia ya dia.” Tetapi dalam hatinya Abdul tetap ingin punya skill seperti itu.

Abdul kemudian terus berlatih, namun dia tidak merasakan peningkatan skill yang berarti. Saat sedang berlatih, lewatlah seorang pria paruh baya yang memakai topi, berkumis, dan sedang merokok. Dia secara tidak sengaja melihat permainan dari Abdul, dan menjadi kagum.
“Anak ini sangat berbakat!” ujarnya dalam hati.
Kemudian pria itu menghampiri Abdul dan mematikan rok*knya.
“Hei nak! Kemarilah!”
Abdul kaget dengan kedatangan orang itu, tetapi dia menolak untuk menghampiri pria tersebut, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Bu Susi, yaitu “Jangan mudah percaya pada orang yang belum kau kenal!” Pria itu melihat Abdul yang enggan menghampirinya, kemudian menghampiri Abdul, Abdul malah mundur, semakin pria itu maju, semakin Abdul mundur.
Melihat tingkah Abdul itu, pria itu sadar bahwa Abdul khawatir bahwa dirinya orang jahat, lalu dia mengatakan “Jangan takut nak aku bukan orang jahat, namaku Sri Eko Mulyono atau biasa dipanggil pak Yono, aku melihat bakat sepak bolamu. Aku tinggal di Jalan Duku no 13 A, datanglah ke sana bersama orangtuamu, aku ingin membicarakn bakatmu!”, lalu pria itu pergi.

Setelah pulang ke rumahnya, Abdul lalu mencium tangan ibunya dan menceritakan tentang pria tersebut. Bu Susi yang mendengar cerita anaknya tersebut tentu saja sangat tertarik, sebab dia ingin Abdul meraih impiannya menjadi pemain sepak bola profesional.

Bu susi dan Abdul kemudian pergi ke Jalan Duku no 13 A, ke sebuah rumah berwarna coklat yang penuh dengan pernak pernik sepak bola!
Bu Susi dan Abdul kemudian mengatakan “Assalamualaikum” secara bersamaan, secara mendadak ada jawaban dari dalam “Waalaikum salam”, keluarlah seorang pria yang mengenakan peci, baju putih dan sarung, dan itu memang pria yang tadi!

Pria itu tampak sangat bahagia melihat kedatangan mereka berdua, dia lalu tersenyum dan mengatakan “Silakan masuk!!”, sambil membuka pagar rumahnya.
Bu Susi dan Abdul kemudian memasuki rumah itu, kemudian si pemilik rumah mempersilakan mereka berdua untuk duduk di ruang tamunya dengan kursi yang berbentuk bola.
“Silakan duduk!” ujar si pemilik rumah.
Kemudian Bu Susi memulai perbincangan.
“Kami datang karena katanya bapak tertarik melihat bakat anak saya!”
“Ya bu! Saya bukan hanya tertarik tetapi sangat tertarik akan bakat sepak bola anak ibu!”
“Bapak ini siapa ya sebenarnya?”
“Saya Pak Yono bu.. saya mengajar di salah satu sekolah sepak bola di kawasan Pondok Indah.”
“Guru sepak bola?” Tambah Bu Susi.
“Ya, guru sepak bola!” Ujar Pak Yono.
“Wah kalau anda minta saya memasukan anak saya ke sekolah sepak bola tentu saya tidak akan mampu!” Kata Bu Susi sembari tertunduk lesu.
“Jangan khawatir bu, sekolah sepak bola kami menyediakan beasiswa bagi anak berbakat!”
“Benarkah? Apakah anak saya berbakat pak?!” Ujar Bu Susi terlihat sangat ingin tahu.
“Saya yakin sekali dia pasti akan mendapat beasiswa itu!” Ujar Pak Yono dengan tenangnya.

Pak Yono lalu mengatakan agar Bu Susi dan Abdul datang ke sekolah Duta Pertiwi Bangsa, yaitu sekolah sepak bola itu besok pagi pukul delapan. Mereka berdua lalu datang ke sekolah sepak bola itu, sekolah sepak bola itu cukup luas dan terlihat fasilitasnya sangat lengkap.
“Wah bu! Ini sekolah fasilitasnya lengkap sekali ya, kayak di film aja!” ujar Abdul
“Ya nak! Jika ibu harus membayar untuk kamu sekolah di sini tentu tidak akan mampu!” Ujar Bu susi.
Mereka lalu menemui pak Yono yang menyambut mereka berdua dengan riang gembira.
“Dul sini deh Dul ini anak yang gue ceritain kemarin!”
“Apa? Ini anaknya?” Ujar pria gendut yang baru saja datang.
“Ini adalah Duludu Baturo salah seorang pemegang saham sekolah ini dulunya beliau adalah pemain sepak bola,..”
“Tetapi lihatlah aku sekarang lari saja tidak mampu..” Potong Dul.

Pak Yono menjelaskan, hari ini akan dilakukan tes untuk menentukan beasiswa, yang akan dilakukan sekitar pukul sebelas siang.
Pak Yono lalu mempersilakan Bu Susi dan Abdul menunggu di ruang tunggu VIP sembari pak Yono menyiapkan persyaratan untuk ikut tes. Tanpa diduga, di ruangan itu ada orang lain yang sebenarnya sudah Abdul kenal, dan dia adalah Pieter!
Abdul lalu mendatangi Pieter dan menyapanya
“Hai kawan.”
Pieter tidak menjawab sapaannya, dan malah membelakanginya.
Abdul hanya santai saja menanggapi itu, dan mengatakan “Oh mungkin kau sedang tidak mood!”, lalu pergi. Tetapi tanpa disangka Pieter menganggap itu sebuah penghinaan.

“Kau.. Kau.. Bocah kampung itu kan? Sedang apa kau di sini!!” Teriaknya.
Abdul menoleh.
“Oh kau masih ingat ya kawan? Permainan hebat waktu itu ya!”
“Permainan apanya? aku yang main sendiri!”
“Kalau begitu main dong dengan kami kapan-kapan.” Ujar abdul dengan santainya.
Pieter tidak dapat menjawab apapun lagi, tetapi kekesalannya memuncak, dia keluar dari ruangan itu dengan sangat marah dan menendang pintu.
“siapa tuh Abdul?” Kata Bu Susi.
“Oh dia pernah ikut main di kompetisi antar kampung kemarin!”
“Ooo..” Kata Bu Susi polos.

Keluar Pieter masuklah anak sombong lainnya, anak yang sangat wangi, berambut cepak dan berwarna hijau karena dicat itu kemudian mulai berlagak.
“Halo! Kenalin nih calon penerus Bambang Pamungkas!”
“Waduh hebat dong!” Kata Abdul.
“Jelas.. aku juara loh.. kuulangi lagi.. juara loh..”
“Keren tuh kawan..”
Anak sombong itu lalu mulai mengoceh tak jelas. Abdul di sampingnya tetapi anak itu seolah bicara sendiri, bahkan dia tidak memperkenalkan namanya karena terlalu sombong.

Pak Yono kemudian datang ke ruangan itu dan memberi Bu Susi beberapa formulir untuk diisi.
“Tetapi ada satu masalah pak..” Ujar Bu Susi secara mendadak.
“Apa itu bu?” Tanya pak Yono
“saya nggg..”
“Ya?”
“Nggg…”
“Apa bu?” Ujar Pak Yono
“Itu..”
“Oh itu ya? Ya Sudah saya yang isi formulirnya saja deh! Ibu kasih tahu ya apa yang musti saya isi!”
Pak Yono sangat pengertian dia langsung mengerti jika bu susi tidak bisa membaca.

Selesai mengisi formulir, Pak Yono mengatakan bahwa Abdul harus mengadakan pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan psiokologis, jika lulus, maka dia akan ikut tes.
Maka Abdul mengikuti pemeriksaan kesehatan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan psikologis.
Hasilnya langsung keluar dalam satu jam, yaitu jam sepuluh pagi, dan alangkah terkejutnya Pak Yono, karena hasil tes kesehatan Abdul sangat sempurna, dia hampir dipastikan 90% fit, suatu kondisi yang mengejutkan mengingat dia menemukan abdul di lingkungan kumuh.
Lebih mengejutkan lagi tes psikologisnya menunjukan hasil yang sangat sempurna IQ 127, dan EQ 120, dengan catatan dari Psikolog yang memeriksanya sebagai “sangat direkomendasikan”.
Bu susi sangat merawat Abdul dengan baik!

Pukul sebelas dimulai tes untuk beasiswa, diantaranya adalah tes lari, tes pernapasan, tes kekuatan, tes kontrol bola, tes kecerdasan dan tes sosialisasi.
Dalam tes lari, Abdul mencetak hasil mencenggangkan!! Dia mencetak rekor lari yang belum pernah dilakukan oleh siswa manapun dalam sekolah sepak bola itu! Dengan rekor lari 100 meter dalam 12,1 detik!! Suatu rekor yang fantastis!
Dalam tes pernapasan dia diberi kategori sangat memuaskan oleh dokter yang melakukan tesnya.
Dalam tes kontrol bola pun, asisten pelatih sekolah sepak bola tersebut Hadi Utomo memberinya nilai sempurna.
Dalam tes kekuatan, dia mendapat poin 105, suatu kekuatan yang sangat luar biasa.
Dalam tes kecerdasan psikolog yang mengujinya langsung meloloskannya melihat rekomendasi dari rekannya yang melakukan tes psikologi dengan label “sangat direkomendasikan”.
Bahkan dalam tes sosialisasi dia mendapat nilai 150, dan mencetak rekor sekolah tersebut!
Hal itu membuat kabar tersiar di sekolahan itu yang menyatakan kalau Abdul adalah “bocah ajaib”, dan tentu saja dia sudah pasti diterima.
Bu susi sangat senang mendengar bahwa Abdul diterima dengan beasiswa di sekolah tersebut.

Abdul lalu menjelma menjadi salah satu murid terbaik dari Duta pertiwi, dia sangat dikagumi oleh para temannya di sekolah sepak bola itu, kecuali Pieter.
Pieter yang juga bersekolah di situ merasa bahwa adalah haknya sebagai anak pemain sepak bola legendaris untuk terkenal di sekolah itu, dan bukannya anak kampung seperti Abdul!
Dalam pertandingan antara dua tim yang dimiliki oleh sekolah tersebut, Abdul langsung dipasang sebagai pemain inti, suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sekolah itu, mengingat Abdul adalah anak baru!
Dalam pertandingan itu Pieter yang berada dalam tim lawan bermain sangat kasar dan mencoba mencederai Abdul, melihat hal itu si anak sombong berambut cepak hijau, yang ternyata bernama Eka Sinyo, mengingatkan Abdul akan hal tersebut.
“Dia mencoba mencederaimu!”
“Siapa? Pieter? masa sih?”
“Berhati-hatilah padanya!” ujar Eka.
Abdul mendengarkan kata-kata Eka, dan benar saja, dalam setiap kesempatan Pieter mencoba menghajar bagian dalam dari kaki Abdul!
Abdul terus berusaha menghindar tetapi Pieter bermain semakin brutal, bahkan dia rela menabrakan badannya sendiri ke badan Abdul.

Melihat hal tidak sehat tersebut Pak Yono memanggil Abdul dan Pieter setelah pertandingan.
“Kalian berdua sangat serasi sebenarnya!”
“Serasi?” geram Pieter.
“Ya sebagai rekan dalam satu tim kalian adalah tandem yang bagus!”
“Aku tidak mau kau samakan dengan anak kampung itu!”
“Tetapi harus kau akui Pieter! orang yang kau sebut anak kampung ini adalah tandem sejatimu!” Sambil menunjuk Abdul.
“Aku tidak mau bekerja sama dengannya!” geram Pieter.
“Justru kalian akan kuduetkan sebagai striker!” Kata Pak Yono.

Pak Yono tidak bercanda, dalam setiap pertandingan latihan antara dua tim tersebut Pak Yono menduetkan dua orang yang berlawanan sikap tersebut. Pieter terpkasa membantu Abdul dalam latihan-latihan tersebut.
Hingga tiba pertandingan sesungguhnya, melawan sekolah sepak bola lain, yaitu Bunga Desa. Dalam pertandingan ini kedua tim tampaknya imbang, namun Duta Pertiwi tampaknya unggul di penyerang.
Saat Abdul mendapat bola dan membawanya sendirian sampai ke dekat gawang lawan, Pieter dikejutkan saat Abdul tidak menembak langsung ke gawang dan justru malah memberikan bola kepada dirinya. Alhasil Pieter yang dalam posisi kosong, langsung menceploskan bola ke gawang dan mencetak gol!

Pertandingan berakhir dengan skor 1-0, dan Pieter menjadi pahlawannya hari itu dengan mencetak satu-satunya gol ke gawang lawan. Pieter mulai mengagumi Abdul, dia melihat bahwa Abdul tidak egois dalam bermain dan sangat mengerti akan kerja sama tim, tidak seperti dirinya!
Pieter lalu mulai kompak bermain dengan Abdul, pertandingan demi pertandingan melawan sekolah-sekolah lain, selalu diawali dengan kerja sama kedua penyerang tersebut, alhasil Duta Pertiwi selalu menang dengan skor telak atas lawan-lawannya.

Duet itu mengundang perhatian dari banyak klub Junior profesional, salah satunya adalah Persapi atau Persatuan Sepak Bola Pondok Indah, yang mengirim langsung pencari bakat mereka, yaitu Tuan Rim Hamid. Hamid akan memantau salah satu pertandingan yang akan dijalani oleh kedua tim tersebut, yaitu saat melawan Putra Nusantara.
Dalam pertandingan itu kedua penyerang itu sangat kompak, dan membuat Putra Nusantara yang bermain sangat rapat menjadi kewalahan, mereka terus dan terus terserang.

Tetapi momen yang ditunggu akhirnya terjadi, Pieter menggiring bola dengan sangat kencang tanpa terbendung satu pemain pun dari Putra Nusantara. Saat tiba di depan gawang dan bertatapan muka langsung dengan kiper, Pieter malah memberikan bola pada Abdul yang melesat dari sisi kiri, alhasil Abdul yang tidak terkawal berhasil mencetak gol!
Pertandingan itu dimenangkan dengan skor 1-0 untuk Duta pertiwi, dan Abdul menjadi pahlawan karena mencetak gol tunggal.

Abdul bukannya bahagia, dia malah mendatangi Pieter yang sedang mengganti baju seusai pertandingan.
“Kenapa kau lakukan itu?”
“Apa?” Kata Pieter dengan sok santai.
“Kenapa kau berikan bola itu kepadaku?”
“Aku kan memberi umpan kepadamu?”
“Saat kau harusnya bisa mencetak gol? aku rasa tidak!”
“Lalu?”
“Aku tidak suka dengan ini, aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan? Kau ingin membuatku menjadi pahlawan?”
“Dengar Abdul, kau tidak mengerti! Persapi hanya butuh satu pemain, dan kalau ada pemain yang harus dipilih itu adalah kau!”
“Aku? Kenapa Aku?”
“Karena kau pemain yang multi talenta! Kau lebih baik segalanya daripada aku! Bayangkan jika mereka memilihku!”
“Kau egois Pieter!”
Lalu Abdul berlalu begitu saja dengan wajah merah.

Hamid kemudian mendatangi Pak Yono, dan mengatakan “Ada yang tidak beres di sini, penyerangmu, anak Danurejo itu memberikan bola pada pemain fantastis itu secara sengaja saat dia harusnya bisa mencetak gol!”, Pak Yono mengangguk “Sulit dipercaya mereka lakukan itu!”, lalu melanjutkan “Akan kutanyai mereka berdua!” Secara mendadak muncul suara “Itu tidak perlu..”, kemudian melanjutkan “Pieter yang lebih pantas untuk direkrut ketimbang aku..”, ternyata itu Abdul, dia menambahkan “Dia berbaik hati mau menyodorkan bola padaku padahal dia bisa menjadi pahlawan adalah bukti dia pemain yang hebat!” Mendengar itu Hamid lalu tersenyum dan mengatakan “Kau tahu? Aku rasa aku tidak akan merekrut satupun dari kalian! Sepak bola harusnya permainan yang mengedepankan Fair Play dan yang kalian lakukan itu bukan Fair Play tetapi ego masing-masing! Kalian ingin memenangkan teman kalian satu sama lain.”.
Alhasil baik Pieter maupun Abdul tidak ada satupun yang direkrut.

“Maafkan aku.” Ujar Pieter yang mendatangi abdul.
“Tidak masalah mungkin hanya belum saatnya saja kita direkrut!”
“Oh tidak! Ini salahku, karena aku, pemain hebat sepertimu tidak jadi direkrut?!”
“Kenapa kau terus memujiku?”
‘Karena kau memang pemain terbaik! Kau yang membuatku sadar bahwa jadi pemain sepak bola itu tidak boleh mengdepankan ego, tetapi harus berbentuk kerja sama tim!”
Dia menambahkan “dulu aku berpikir menjadi pemain sepak bola itu cukup hanya skil saja tapi berkat kau! Aku sadar aku salah! Dan maaf tampaknya aku melepaskan egoku lagi!”
Abdul tersenyum lalu berkata “Kau tahu tidak? justru kau yang membuatku terpacu, kalau kau tidak merusak pertandingan antar kampung waktu itu, belum tentu Pak Yono melihat bakatku dan belum tentu aku ada di sini.”
“Kita saling melengkapi deh!” Ujarnya sedikit bercanda.
Pieter lalu tertawa dan mereka berdua tertawa bersama.

Pak Yono ternyata tidak sengaja mendengar percakapan itu, dan lalu merencanakan suatu kejutan untuk mereka berdua.
Kedua penyerang itu semakin dan semakin kompak saja, mereka menjadi buah bibir dari semua sekolah sepak bola yang ada di Kota Jakarta selatan. Eka bahkan mengatakan “Mereka berdua striker terbaik dari Kota Jakarta Selatan”, yah walaupun agak hiperbolik tetapi faktanya kedua pria muda itu memang hebat.

Kejutan terjadi, Secara mendadak pak Yono mengungkap bahwa mereka akan melawan Persija B, yang secara teknis levelnya jauh di atas mereka! Mata Abdul yang agak sipit itu terbelalak hingga lebar mendengar pertandingan itu.
“Edan” katanya.
“Aku juga tak percaya” Kata Eka yang tiba-tiba muncul.
“Melawan Persija B? sungguh di luar dugaan!”
“Mungkin saja Bambang Pamungkas ikut menonton?”
“Bambang Pamungkas? Wauw benarkah?” Ujar Abdul dengan polos.
“Mungkin saja loh!” Ujar Eka.
“Dia kan pemain favoritku!”
“Sama dia juga pemain Favoritku!” Kata Eka
“Bagaimanapun ini adalah pertandingan terbaik dalam hidup saya!” ujar Abdul.
“Ya sama saya juga” Kata Eka tak mau kalah.

Tiba juga Hari-H pertandingan melawan Persija B, yang diadakan di stadion Ptik Jakarta Selatan yang bisa menampung sampai 5.000 penonton. Yang menonton cukup banyak juga, mungkin sekitar 2.000 penonton dan mereka 80% adalah pendukung dari Persija B!
Tim persija B keluar dengan kaos warna oranye kemerahan kebanggaan khas Persija, dan tampak diisi dengan pemain yang sangat berpengalaman dalam skuat yang mereka bawa.
Wasit yang memimpin pun adalah wasit liga Junior Nasional, yaitu Maman Drajat dari Subang. Dalam pertandingan ini Pieter diangkat menjadi kapten oleh Pak Yono yang menjadi pelatih mereka untuk pertandingan kali ini.

Pertandingan dimulai, Persija B menekan dan menekan secara terus menerus sejak menit awal, tercatat ada 4 peluang yang dihasilkan oleh Persija B hingga menit ke 6 saja! Beruntung kiper untuk pertandingan kali itu, yaitu Lukman Syarif, bermain dengan sangat cemerlang!

Persija B terus dan terus menekan mereka menit demi menit, bahkan ada 14 peluang dan 3 tendangan sudut yang sudah tercpita hingga menit ke 40. Melihat hal itu Abdul lalu teringat akan pertandingan antar kampung yang pernah dimainkannya, dia lalu teringat bahwa dulu pernah menghadapi orang-orang dewasa dari kampung sebelah dengan gaya bermain yang bagus. Lalu Abdul ingat saat itu mereka pakai taktik pertahanan grendel, dan memenangkan pertandingan dengan skor 2-0.
Abdul memberi tahu ini pada sang kapten. Pieter sang kapten lalu memberi tahu pada Eka yang segera memberi kode pada yang lain.
Maka pertahanan Grendel tercipta, dan Persija B mulai kewalahan.
Babak pertama berkahir dan skor masih 0-0.

Saat istirahat Pak Yono hanya mengatakan pada para pemainnya “Apapun yang kalian lakukan tadi, lanjutkan saja, aku percaya pada kalian!” Babak kedua dimulai, dan pertahanan Grendel tetap dipertahankan, Persija B tampak putus asa, maka pada menit ke 66 para pemain Persija B tampak mulai kelelahan. Saat itu juga Abdul menyetel set piece yang biasa dia praktekan bersama Pieter, maka Abdul dan Pieter bekerja bersama dan dengan cepat menuju daerah pertahanan dari Persija B, beruntung kiper Persija B dapat menepis serangan mereka, tetapi setidaknya mereka berhasil membuat peluang.

Terciptanya peluang tersebut membuat para pemain Persija B menjadi terkejut, mereka mulai main keras, yang menunjukan mereka mulai tertekan. Pertahanan Grendel terus dipraktekan, dan Abdul menggeretak dengan menunjukan skilnya dalam mengolah bola, yang membuat para pemain persija B menjadi panik!!

Melihat itu Pieter terus melakukan penetrasi ke depan gawang Persija B secara terus menerus, yang membuat pola permainan menjadi semakin cepat, dan itu terus berlangsung hingga menit ke 80. Saat Abdul melesat dari sisi kiri, Eka melesat di tengah, bola lalu dioper ke Pieter yang menendang bola ke belakang, lalu bola langsung ditendang ke depan, dan langsung jatuh ke kaki Abdul yang langsung menggocek bola. Abdul lalu mengoper bola itu ke Pieter yang langsung berlari ke depan gawang, kecepatan Pieter tidak mampu dikejar para pemain belakang Persija B yang kelelahan akibat sering membantu penyerangan. Saat berhadapan dengan kiper Persija B yang kualitasnya sangat bagus, Pieter secara mendadak mengoper bola ke Eka yang tidak terkawal, Kiper kaget karena fokusnya ada pada Pieter, Eka yang dalam posisi kosong, langsung menceploskan bola ke dalam gawang, dan tercpitalah GOL!

Hingga pertandingan berakhir tidak ada gol lagi yang tercipta, dan pertandingan menghasilkan skor 1-0 untuk kemenangan Duta Pertiwi. Hal itu mengejutkan semua yang hadir di stadion. Bagaimana mungkin sekolah sepak bola seperti Duta Pertiwi bisa menang melawan tim seperti Persija B?
Mereka yang hadir di situ terkesan dengan performa Duta Pertiwi dan seluruh penonton memberikan applaus, padahal mereka mayoritas adalah pendukung Persija B.

Pak Yono kemudian mendatangi mereka dan mengatakan “Sungguh itu baru namanya kerja sama tim!” Kejadian itu langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan sepak bola junior di DKI Jakarta.
Kiper Lukman Syarif menjadi pemain pertama yang direkrut akademi sepakbola Persib! Sementara Eka mendapat tawaran dari Persebul atau Persatuan Sepak Bola Lebak Bulus, Pieter secara mengejutkan mendapatkan pujian dari Ayahnya, Hari. Dia mengatakan “Kau sudah siap nak! sangat siap!”
Sementara itu Abdul yang baru pulang ke rumah, mendapat kejutan! Dia mendapat kunjungan dari pelatih Persija B! Pelatih Persija B mengklaim bahwa dia tertarik dengan kejeniusan Abdul dalam mengolah permainan, dan menawarinya kontrak tiga tahun!
Hal itu merupakan kebahagiaan bagi Bu susi yang mendengarnya, sebab harapan agar anaknya menjadi pemain sepak bola profesional akhirnya tercapai!

Tujuh tahun kemudian, di stadion Gelora Bung Karno, saat akan mulai pertandingan antara Persija melawan Arema Cronus, seorang pemain yang berkulit coklat dan berbadan tegap berambut lurus berwarna hitam dan berwajah tampan baru saja keluar dari ruang ganti pemain dan mengenakan kostum kebesaran Persija. Dia mengenakan ban kapten dan di nomor punggung pemainnya tercantum nama “Abdul”. Ya! Itulah Abdul yang telah dewasa, dia sekarang menjadi kapten dari Persija!
Saat bergabung dengan pemain lainnya, dia berbincang dengan striker utama dari Persija yang di nomor punggungnya tertera nama “Danurejo”, kini Abdul dan Pieter bermain bersama dalam satu klub dan itu merupakan kebanggaan untuk mereka berdua.

Kedua tim memasuki lapangan yang disambut gemuruh 80.000 penonton yang mendukung tim kesayangan mereka masing-masing, setelah Abdul, Kapten Arema Cronus, dan wasit saling bersalaman, pertandingan pun dimulai!

Cerpen Karangan: Ananda Syahendar
Facebook: Ananda Syahendar Perdana
Seorang Senior di Partai Gerindra

Cerpen Duta Pertiwi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Endless Love

Oleh:
Hari ini tidak seperti biasanya. Langit kota Bandung yang sempat diguyur hujan beberapa hari belakangan kini berubah cerah ditemani matahari yang memancarkan cahaya kelembutan. Aku tidak tahu mengapa dan

Khayalanku

Oleh:
Siang itu, sinar matahari terlalu sengit untuk dilihat secara langsung hingga menembus kaca mobil. Aku (Sesil), Kirin, Didi, dan Julian yang sedang menyetir mobil, sedang menuju Dunia Fantasi yang

Cinderella

Oleh:
Wajahku tak secantik cinderella. Kisah hidupku juga tak seperti cinderella. Tapi merasa menjadi cinderella di malam itu. Berdansa dengan sosok pangeran yang nyata, lalu pangeranku itu menyatakan perasaannya. Sebuah

Sahabatku

Oleh:
Namaku rafi dan aku mempuyai sahabat yang sangat dekat denganku, sahabat itu sudah ku anggap sebagai saudara sendiri. Nama sahabatku adalah risky, aku dan risky selalu bersama-sama, hampir setiap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *