Emerald dan Liburan Musim Panas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Liburan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 July 2018

Musim panas akan segera tiba. Jika mendengar tentang musim panas, sudah pasti yang ditunggu adalah saat-saat liburan. Semua ujian telah selesai beberapa hari sebelumnya. Hari ini hasilnya pun sudah diberitahukan. Semua siswa di kelas terlihat ramai. Ada yang masih membicarakan nilai ujian yang sudah keluar, ada yang merahasiakan nilainya kepada temannya sehingga membuat temannya kesal, ada pula yang sudah tak peduli dengan nilainya, bahkan sudah membicarakan rencana untuk liburan musim panas besok.

“Kazuma, apa kamu peringkat satu lagi di kelas?” tanya Hoshino dengan muka datar.
“Kazuma? Peringkat satu? Bukankah itu sudah biasa? Iya, kan Kazuma?” sahut Yoshino, kembaran Hoshino, sambil menepuk pundak Kazuma.
“Ya, memang.” jawab Kazuma.
“Ya, sudah kuduga. Ketua kelas pasti yang terbaik.” ucap Hoshino
“Lalu bagaimana denganmu Yoshino?” tanya Kazuma
“Aku? Ah tidak, aku tak akan memberitahunya.” jawab Yoshino dengan gelagak sombongnya.
“Dia peringkat 25 dari 40.” ucap Hoshino.
“Waaa, Hoshino! Kenapa kamu memberitahunya? Huh Dasar!” teriak Yoshino, panik
“Wah… wah… wah. 25 dari 40 ya. Lumayanlah.” ucap Kazuma dengan nada mengejek.
“Ya, lumayan kan. Hahaha. Ujian selanjutnya pasti aku masuk 20 besar. Hahaha.” kata Yoshino dengan heboh sambil naik kursi.
“Enggak usah naik kursi juga, Yoshino. Dilihat anak lain tuh.” kata Kazuma “Lalu kamu peringkat berapa Hoshino?”
“Peringkat 8.” jawab Hoshino.
“Waah, masuk 10 besar ya. Bagus itu.” kata Kazuma sambil tepuk tangan. “Daripada adikmu yang menyebalkan itu.” desah Kazuma sambil menunjukkan kepalan tangannya.
“Oii. Oii. Apa kamu sudah merencanakan liburan, Kazuma?” tanya Yoshino
“Entahlah, mungkin hanya di rumah.” jawab Kazuma
“Bingo! Pas sekali Kazuma. Bagaimana kalau kamu ikut aku dan Hoshino ke rumah keluargaku di Fukuoka. Dekat dengan pantai lho.”
Kazuma menoleh ke Hoshino seperti meminta penjelasan “Ya, rumah itu tak ada yang menempati. Hanya ada seorang nelayan yang diminta keluargaku untuk merawatnya.” kata Hoshino.
“Yap! Sudah diputuskan Kazuma akan ikut!” sahut Yoshino
“Eeeh. Tapi.. Aku belum…” ucapan Kazuma terputus.
“Tak masalah Kazuma! Kami akan mengirim pesan nanti!” sahut Yoshino beranjak keluar dari kelas bersama dengan Hoshino, kakaknya.
“Kami pulang dulu, Kazuma!” kata Hoshino.
“Dasar, ini anak ngeselin amat. Beda banget sama kakaknya Hoshino yang kalem.” gumam Kazuma dengan raut muka kesal.

Hari ini liburan musim panas. Pagi hari yang cerah disambut udara segar, suara nyanyian burung terdengar merdu bagai suara solo alat musik flute di bagian interlude sebuah orkestra sekolahan. Dzzzz. Dzzzzz. Telepon genggam Kazuma bergetar. Ada pesan masuk.

“Kazuma, kami akan menunggumu di stasiun kereta pagi ini jam 9. Jangan sampai membuat kami menunggu!”
“Lagi, lagi aku seperti diperintah seenaknya! Dasar Yoshino itu.” Kazuma mendesah dalam hati.

Tetapi, Kazuma juga akhirnya datang ke stasiun kereta dengan memakai kaos tipis lengan pendek dan celana panjang, karena saat ini musim panas. Sambil membawa tas berisi barang-barang yang mungkin ia perlukan, Kazuma mencari Hoshino dan Yoshino. Tidak ketemu. Kemudian Kazuma memutuskan menunggu.

“Ka…zu…ma!” teriak Yoshino berlari mendekat bersama Hoshino.
“Ehhhm,” Kazuma berdeham. “Nyatanya kamulah yang membuatku menunggu, hah!” ucap Kazuma yang kesal sambil mengunci tubuh Yoshino.
“Kyaaa… Sakit! Aku tidak bisa bergerak. Maaf Kazuma.” kata Yoshino yang memelas itu.
“Kalian. Sudahlah. Keretanya sudah datang.” ucap Hoshino meleraikan.

Di perjalanan, Kazuma masih merajuk dengan raut muka kesal “Ayolah. Kazuma,” Yoshino mencoba meminta maaf “Maafkan aku, bukankah kita teman?” Kazuma tetap merajuk.
“Sebagai gantinya, aku akan mengajakmu ke festival, deh!”
Kazuma berpikir festival kedengarannya bagus, pada akhirnya Kazuma memaafkan Yoshino, dan mereka bertiga menikmati perjalanan.

“Akhirnya sampai.” kata Kazuma sambil tersenyum.
“Sudah lama aku tak ke sini.” sahut Hoshino.
“Selamat datang di… Fukuoka!” teriak Yoshino bagai pemandu wisata yang luar biasa heboh. “Ayo!” ajak Yoshino yang berjalan di depan menunjukkan jalan.

“Ini dia! Rumah keluargaku di Fukuoka!” kata Yoshino sambil menunjuk rumah yang masih bergaya Jepang kuno itu.
“Waah. Hebat. Seperti di kerajaan-kerajaan begitu. Masih terawat ya.” Kazuma kagum
“Yosh! Saatnya beres-beres dan bersih-bersih. Kita juga harus membantu Pak Takahashi, nelayan yang merawat rumah ini.” ucap Hoshino memberi instruksi.
“Ayolah, jangan terlalu rajin.” sahut Yoshino.
“Yoshino, jangan malas-malasan di situ! Bantu kami dong!” ucap Kazuma sambil mengepalkan tangan.
“Eh… iya… iya,” Yoshino segera bangkit setelah melihat kepalan tangan Kazuma. “Aku akan membersihkan yang di dalam.” Semuanya pun sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

“Capeknya.” ucap Kazuma sambil merebahkan tubuhnya dengan tangan terlentang.
“Ya. Hanya bersih-bersih saja sudah mengeluarkan keringat.” ucap Hoshino yang sedang mengelap keringat.
“Yoshino, kamu sedang apa?” Kazuma menoleh ke arah Yoshino yang sedang memperhatikan sesuatu.
“Nee, Kazuma, Hoshino cepat ke sini,” ucap Yoshino dengan sedikit serius. “Aku tadi menemukan ini.” Terdapat kertas lusuh berwarna kecokelatan yang sepertinya sudah sangat lama di tangan Yoshino. Di kertas tersebut juga tertulis beberapa huruf kanji yang membentuk suatu kalimat.
“Hebat, kamu membuatnya seperti betulan. Layaknya film bertema zaman dahulu.” kata Kazuma sambil mengacungkan jempol.
“Ya, kertasnya sepertinya sudah lama. Dari mana kamu dapat itu Yoshino?” ucap Hoshino penasaran.
“Aku tidak membuatnya! Aku menemukannya di sebuah laci tersembunyi di balik perkamen itu. Awalnya perkamen itu masih pada tempatnya, tapi saat membersihkan debu di perkamen yang berdebu ini, tiba-tiba perkamennya jatuh.” kata Yoshino menjelaskan dan menunjuk perkamen yang tergeletak di lantai.
“Benar, ada laci kecil di sini,” Kazuma menunjuk dinding yang warnanya masih jelas, sedangkan daerah dinding lain warnanya sudah pucat.
“Ya, di sana terlihat bekas tempat semula perkamen.” kata Hoshino
“Bukankah di kertas lusuh itu ada kalimat yang tertulis?” kata Kazuma
“Ya, memang.” kata Yoshino. Mereka bertiga pun membaca tulisan tersebut.

Dari tempat di mana terlihatnya matahari terbenam menuju angin yang berhembus ketika para nelayan pulang dari lautan lepas menuju susunan batu kasar di tempat yang menjulang tinggi, di situlah terdapat batu halus hijau yang berkilauan ketika matahari menyinarinya.

“Wah, begitu puitis!” celetuk Yoshino
“Maksudnya apa, ya?” tanya Hoshino penasaran
“Yosh! Sudah diputuskan, kita akan menelusuri apa yang dimaksud kalimat itu!” kata Yoshino dengan semangat.
“Oii… oii… Jangan seenaknya memutuskan! Lagipula itu juga belum tentu benar, bukan?” ucap Kazuma
“Tapi, apa salahnya mencari tahu, kan?” kata Yoshino membela apa yang diinginkannya
“Ya, betul. Juga, apa kita hanya ingin bermain di pantai terus sepanjang hari tanpa ada aktivitas lain?” ucap Hoshino membenarkan kalimat Yoshino
“Ya! Kita akan mencarinya!” seru Yoshino
“Iya, deh. Terserah!” ucap Kazuma

Hari mulai menjelang malam, ketiga pemuda itu berencana akan mencari tahu tentang batu hijau yang disebutkan dalam kertas lusuh temuan Yoshino. Malam itu, mereka bertiga memikirkan maksud kalimat yang tertulis di kertas lusuh itu.
“Aku tak mengerti!” seru Yoshino
“Dasar! Bukankah kamu yang memaksa menelusuri maksud kertas itu?” ucap Kazuma dengan kesal
“Ayolah, Kazuma! Bantu berpikir.” ajak Yoshino sambil memelas
“Ya, Iya. Dasar! Merepotkan!” desah Kazuma, kemudian membaca kalimat itu lagi.
“Hei, bukankah ini menunjukkan suatu tempat?” tanya Hoshino
“Apa maksudnya?” tanya Yoshino
“Kalimat ‘Dari tempat di mana terlihatnya matahari terbenam’, apa mungkin maksudnya adalah pantai?”
“Kenapa bisa begitu?” tanya Kazuma “Ehhem. Benar juga ya? Biasanya pantai, tempat melihat matahari terbenam.”
“Bingo! Ya, karena pantai dekat sini sangat terkenal karena keindahan matahari terbenamnya,” sahut Yoshino “Berarti kita harus ke pantai!”

Keesokan harinya di pantai. Mereka mulai memecahkan maksud kalimat kedua. Matahari bersinar terik, langit biru terlihat cerah tanpa adanya awan sedikit pun. Pantulan sinar matahari membuat laut yang terbentang berkilauan bagai mengajak siapa pun yang datang untuk berenang.

“Wahh. Hebat. Seperti tahun sebelumnya, pantainya tetap indah!” kata Yoshino kagum dengan keindahan pantai
“Tapi, kenapa sepi sekali? Hanya ada beberapa nelayan.” tanya Kazuma
“Karena pantai ini biasanya ramai ketika menjelang matahari terbenam, meskipun begitu jarang yang ke pantai siang-siang begini.” ucap Hoshino
“Angin yang berembus ketika para nelayan pulang dari lautan lepas menuju susunan batu kasar di tempat yang menjulang tinggi, di situlah terdapat batu halus hijau yang berkilauan ketika matahari menyinarinya, apa maksudnya?” gumam Kazuma sambil berpikir
“Apa kalian sudah tahu arti kalimat selanjutnya?” tanya Yoshino yang kemudian dijawab Hoshino dengan gelengan kepala.
Ketika nelayan pulang dari lautan… Oh, apa mungkin? Pikiran Kazuma sedang beradu.
“Ehhem. Aku sudah tahu maksudnya!” seru Kazuma
“Apa? Benarkah?” tanya Yoshino, Kazuma mengangguk
“Apa kalian tahu, kapan nelayan pulang dari lautan?” Kazuma menjelaskan “Ya, saat pagi hari atau menjelang siang bukan? Lalu pada kalimat Angin yang berembus, ketika para nelayan pulang dari lautan lepas, bukankah yang dimaksud adalah angin laut?”
“Benar, juga.”
“Ya, angin laut berembus dari laut ke darat, dan biasa digunakan nelayan untuk kembali ke daratan, bukan? Saat ini pun kalian bisa lihat para nelayan sedang menambatkan perahunya di tepi pantai. Jika angin berembus dari laut ke darat. Berarti ‘susunan batu kasar yang menjulang tinggi’ yang dimaksud ada di sekitar pantai!” ucap Kazuma
“Ayo, kita cari!” seru Yoshino. Mereka bertiga pun bersemangat berlarian mencari sampai ujung pantai. Jejak-jejak alas kaki mereka terlihat jelas membekas di bantaran tepi pantai. Kemudian mereka perlahan mulai berhenti berlari.

“Capeknya!” Kazuma mendesah dan kepalanya menunduk ke bawah karena begitu lelah.
“Oii… Kazuma!” ucap Yoshino menepuk bahu Kazuma
“Apa, sih?” sahut Kazuma,
“Itu!” kata Yoshino. Kazuma mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Yoshino
“Apa? Jangan-jangan… maksud… ‘tempat yang menjulang tinggi’ adalah tebing itu?” Yoshino sudah berlari ke bawah tebing yang sangat besar itu. Hoshino dan Kazuma menyusul.
“Apa memang benar tebing ini yang dimaksud?” tanya Hoshino
“Pasti benar, di sini tak ada batu yang lain kecuali tebing ini,” seru Yoshino “Ayo kita cari! Pasti disembunyikan di sekitar sini!” Yoshino mulai mencari batu hijau itu. Hoshino dan Kazuma pun tak mau kalah, mereka mulai menyusul.
“Kenapa tidak ada?” Yoshino mengeluh, mulai kehilangan semangat.

“Hoshino! Yoshino! Kemarilah! Ada sesuatu yang aneh di sini!” seru Kazuma yang berada tepat di bawah tebing yang redup.
“Kalian lihat, motif batuan yang ini terlihat seperti tersusun, bukan?” ucap Kazuma menunjuk batu berwarna gelap yang sedikit tertutup tanaman yang merambat, “Jangan-jangan…” Kazuma langsung menghilangkan tanaman merambat di hadapannya. Dan kini terlihat jelas.
“Wahh… Hebat.” seru Yoshino. Sebuah mozaik batu-batuan yang membentuk sebuah simbol terlihat jelas di depan mata mereka.
“Sepertinya aku pernah melihat simbol itu, di mana ya,” ucap Kazuma.
“Iya, aku juga.” ucap Hoshino
“Yoshino, apa kamu bawa kertas itu?” seru Kazuma
“Bawa! Sebentar,” ucap Yoshino sambil merogoh saku celananya. “Ini”
“Ternyata benar!” seru Kazuma “Simbolnya persis yang ada di kertas ini.” Yoshino berpikir pasti batu hijau itu ada di dalam mozaik batuan tersebut. Meskipun tak tahu cara membukanya, dengan semangat ia langsung asal menyentuh batu itu. Sunyi, tak ada apapun yang berubah, meskipun ia telah menekan-nekan batu itu dan berharap ada sebuah tombol, tidak, itu mustahil, pikir Yoshino yang mukanya saat ini cemberut.

“Bagaimana cara membukanya?” tanya Hoshino yang telah mencoba membuka namun gagal.
“Kita harus menarik batu penutup bersimbol itu!” sahut Kazuma “Agar mudah, terlebih dahulu kita hancurkan pinggiran batu agar semakin longgar!”
“Tapi tak ada alat pahat di sini.” ucap Yoshino
“Ini!” seru Kazuma sambil tersenyum “Kita akan menggunakan batu yang sudah diruncingkan ini!”
“Dari mana kamu dapat?” tanya Yoshino
“Aku menemukannya, tersembunyi di balik batuan yang ditutupi semak-semak itu,” ucap Kazuma. “Ayo!” Mereka bertiga mulai menghancurkan tepian batu. Ini cukup mudah karena batuan tersebut bercampur batuan kapur yang sedikit lunak. Tak perlu waktu lama, mereka dengan hati-hati mengeluarkan batu penutup itu. Ya, mereka menemukan sesuatu.

“Ada kotak kecil!” seru Yoshino, tangannya sudah meraih kotak kayu yang berukiran indah dan membukanya. Terdapat sesuatu yang di balut kain tipis berwarna biru.
“Wahh. Benar, ada batu hijau yang di sebutkan dalam surat.” seru Yoshino
“Bukankah ini Emerald?” ucap Kazuma sambil merebut batu hijau lumut itu dari tangan Yoshino dan membawanya berlari menjauh dari tebing. “Yoshino! Hoshino!, batu Emerald-nya berkilauan!” seru Kazuma. Yoshino dan Hoshino berlari mendekat.
“Indahnya!” ucap Hoshino dan Yoshino hampir bersamaan

Ketiga pemuda itu menghabiskan waktu liburan yang tersisa dengan bermain di pantai. Keluarga Hoshino dan Yoshino memutuskan untuk menyimpan batu berwarna hijau lumut itu. Liburan musim panas ketiga pemuda itu berakhir dengan mengunjungi festival musim panas sambil menikmati pertunjukan kembang api di tepi pantai.

Cerpen Karangan: Hardian Ridho Alfalah
Blog / Facebook: Hardian Ridho

Cerpen Emerald dan Liburan Musim Panas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teman Baru Sahabat Baru

Oleh:
Aqila Revita atau biasa yang dipanggil Qila ini adalah murid pindahan dari Sdn Mentari Pagi ke Sdn Zedhena Girl. Qila pindah karena tugas papanya dari Surabaya ke Jakarta. Qila

Why

Oleh:
Aku menghempaskan tubuhku perlahan pada ranjang empukku ini. Aku tersenyum saat mengingat mengapa aku dan temanku ini bisa menjadi seperti ini? Tak pernah terbayangkan olehku bisa menjadi sedekat ini

Februari, Dia dan Surat Cinta Itu

Oleh:
Semilir angin di bulan Februari memang terasa berbeda. Sejuknya membawa aroma tersendiri yang begitu khas dengan kesan cinta. Mengapa? Tentu saja karena hari valentine. Walau aku adalah salah satu

Salam Perpisahan Untuk Sahabat

Oleh:
“Mulai sekarang kita bukan teman lagi…” “Tapi vin…” “Nggak ada tapi-tapian, kamu tahu kan haru harusnya aku yang berdiri di sana bukan kamu” kata vina dengan angkuhnya, padahal selama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *