Empat Kaki Meja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 March 2016

Tak terasa umurku menginjak 12 tahun, saatnya aku harus mengalami masa peralihan dari bangku Sekolah Dasar (SD) ke sekolah jenjang yang lebih tinggi setelah aku lulus di bangku SD nanti. Keinginanku untuk masuk sekolah favorit nampaknya terkuburlah sudah karena tidak diberi izin oleh kedua orangtua selama ini, beribu alasan aku lontarkan kepada kedua orangtua, tapi tidak membuat ketetapan orangtua berubah. dari aku kecil orangtua mempunyai keinginan anaknya untuk bisa belajar di suatu lembaga yang berbasis Islamic Boarding School. Mungkin sekarang saatnya aku harus bisa memenuhi keinginan ayah dan ibu untuk masuk ke pondok modern walaupun ada sedikit keterpaksaan dalam hati.

Aku harus bisa melupakan harapanku untuk masuk SMP favorit yang harus digusur oleh keinginan orangtua yang memaksa aku untuk masuk ke pondok modern. Dan kini saatnya aku harus mukim di pondok modern yang menurutku ini adalah dunia baru yang asing yang hadir dalam kehidupan baruku, dimana aku harus belajar berkehidupan mandiri yang selalu menjalankan aktivitas sendiri tanpa bantuan orangtua dan siapa pun. Dari mulai makan, nyuci dan tidur sekali pun harus aku jalankan dengan sendiri. Tapi tidak apa-apalah walaupun jauh dari orangtua justru aku merasa nyaman hidup di pondok modern sekarang karena mempunyai banyak teman yang selalu menemani dan menghibur hidupku di pondok ini dengan setulus hati.

Walaupun aku sudah ikhlas dan menerima kenyataan hidup di pondok tapi terasa hati ini merasa ada satu hal yang mengganjal. Mungkin sifat anak mamiku masih tersimpan saat ini sehingga rasa kangen dan rindu kepada orangtua pun selalu membanjiri bayang-bayangku saat ini. Terkadang aku suka menyendiri di atas jemuran sembari menangis karena jauh dari orangtua, di sinilah Tuhan mengutus malaikat untuk menghibur aku yang sedang meratap menangis di atas jemuran berupa wujud manusia yaitu Rival.

Dia pun menghampiriku dan berkata, “Kenapa kamu, kok malam-malam gini menyendiri di jemuran,”
“Aku sedih jauh dari orangtua,” jawabku sambil mengelus-elus air mata di pipiku.
“Ya, sudah gimana kalau kita curhat di kamar aja untuk menyelesaikan masalah ini. Oh, yah lupa. nama kamu siapa?” tanya orang yang menghampiriku sembari mengulurkan tangan kananya di hadapanku. “Nama aku Dika, dan nama kamu siapa?”
“Nama aku Rival, aku juga santri baru loh sama seperti kamu.”

Di sinilah rasa percaya diri aku mulai tumbuh setelah mendapatkan teman baru yang bernama Rival, setelah Rival membujukku dari Jemuran Rivali pun membawaku ke kamar untuk curhat sekedar pendekatan. Sehabis itu Rival juga mengenalkan aku dengan kedua temannya yaitu Rana dan Jodi. Dan bersyukurlah aku bisa mempunyai teman baru seperti Rival yang bisa melahirkan kepercayaan diri dalam hidup aku di pondok modern ini dan juga mengenalkan dengan kedua temannya kepadaku supaya aku mempunyai banyak teman dan tidak kesepian lagi.

Sekarang aku, Rival, Rana, dan Jodi udah bisa menjalin hubungan persahabatan erat yang penuh dengan solidaritas yang tinggi dimana terasa seperti keluarga sendiri, persahabatan kita pun mempunyai semboyan bagaikan empat kaki meja yang tidak bisa dipisahkan sampai kapan pun dimana akan cacat persahabatannya apabila ada satu orang yang pergi dari meja persahabatan ini. Solidaritas kita semakin terjalin erat selama duduk di bangku kelas 1 KMI pondok modern, di sinilah terjalin begitu amat kompak dalam hal kebaikan dalam menjalankan kegiatan di pondok, kita selalu mengingatkan kepada salah satu sahabat kita yang malas dalam hal kebaikan yang di antaranya kita selalu hadir tepat waktu di mana pun dan kapan pun kegiatan rutinitas pondok dilaksanakan seperti sekolah, sembahyang, mengaji, dan lainnya.

Sehingga aku pun mempunyai inisiatif bahwasanya persahabatan ini dinamai dengan nama empat kaki meja yang selalu menjunjung erat meja persahabatan. Sebelum kami meresmikan nama suci ini kami bersumpah untuk selamanya menopang meja persahabatan ini sampai akhir hayat nanti, dan berjanji pula jikalau kami tidak menjaga solidaritas ini maka meja persahabatan ini tergoyang dan tidak sempurna, kendati demikian meja tidak bisa berdiri dalam satu kaki, meja tidak bisa berdiri dalam dua kaki dan meja hanya bisa berdiri dengan empat kaki.

Empat kaki meja terdiri dari empat orang yang masing-masing mempunyai kepribadian tersendiri sebut saja aku, teman-teman menilai aku adalah orang yang paling malas di antara teman lainnya sehingga karena kemalesannya aku sering terkena hukuman pengurus setiap malemnya ketika pengikhoban (hukuman) yang dilakukan oleh para mudhabir (pengurus), ketidakkompakannya aku dalam persahabatan membuat teman-teman harus sabar menghadapi sikap aku yang kurang solidaritas di dalam persahabatan ini, teman-teman takut jikalau meja ini hilang satu kaki sehingga meja persahabatan ini berdiri dengan satu kaki. Bersyukur teman-teman bisa ngertiin aku yang mempunyai sifat egois ini. Dalam diri aku juga mempunyai prinsip bahwasanya teman itu adalah lebih dari segalanya dibandingkan yang lainnya dan akupun berpikir tidak boleh terus terus-terusan begini dan harus bisa merubah sikap aku dan bisa ngertiin mereka.

Sosok pemersatu pilar Empat Kaki Meja yaitu Rival yang mempunyai sosok religious di antara teman-teman lainnya, sehingga dia selalu menjadi pelopor pembangkit kami di kala kami selalu lengah dengan kegiatan di pondok ini. Di antara teman-teman yang lainnya Rival adalah sosok yang sempurna dan mempunyai berbagai bakat yang tersimpan dalam dirinya sampai-sampai berkat kepintarannya Rival selalu mendapatkan juara kelas setiap tahunnya. Dialah Kaki Meja yang paling kuat dalam menopang persahabatan ini solidaritas Rival sangat tinggi sehingga pengorbanan dia sangatlah banyak untuk persahabatan ini. Aku pernah dengar dia mempunyai prinsip bahwasanya, “Tanpa teman aku hampa, dan berkat teman aku bisa.” itulah yang dikatakan Rival sewaktu curhat di jemuran pertama kali kenal dulu.

Teman aku yang ketiga yaitu Rana yang mempunyai sifat penghibur dan sangat asyik orangnya. Rana selalu ceria di saat suka maupun duka bersama kami berempat. Karena keceriaan Rana aku pun merasa enak dan terhibur di saat bersama Rana. Tidak bisa membayangkan aku mempunyai teman seperti Rana yang bagi aku Rana adalah sosok teman yang paling asyik yang pernah aku temui sepanjang hidup aku. Tidak lupa aku mempunyai sosok teman yang satu ini yaitu Jodi, sedih rasanya di saat mendengar cerita hidup Jodi.

Ya Tuhan dia mempunyai semangat tinggi untuk sekolah walaupun dia bukan orang yang terlahir dari kalangan atas, aku tidak bisa membayangkan kehidupan Jodi yang jauh dari kata cukup dari segi ekonominya, ayah Jodi hanya sebatas tukang becak yang penghasilannya terkadang tidak mencukupi untuk biaya Jodi juga keluarganya yang membuat hati ini menangis yaitu ketika mendengar cerita ibu Jodi yang terkena penyakit struk yang tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa terdiam di atas ranjang. Ibu Jodi sudah lama terkena struk yang menyerang kakinya, pernah ibu Jodi sesekali dirawat di Rumah Sakit. Tapi hal itu tak kunjung sembuh juga dan akhirnya karena keterbatasan biaya ibu Jodi hanya bisa dirawat di rumah. Ya Tuhan berilah Jodi kesabaran untuk menjalankan hidupnya di pondok ini.

Aku salut sama ayah Jodi yang mempunyai semangat hidup tinggi yang mempunyai cita-cita ingin menyekolahkan Jodi setinggi mungkin, sampai-sampai ayah Jodi rela menjual rumah satu-satunya demi menyekolahkan Jodi di pondok modern. Dan sekarang ayah dan ibu Jodi tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir rel kereta. Terkadang Jodi mengeluh dengan keadaan ekonomi keluarganya, dia juga merasa malu sama teman-teman di pondok yang terkadang ada saja yang membuli Jodi sebagai anak miskin. Kami pun merasa sakit hati melihat Jodi sebagai sahabat sendiri dilecehkan sama teman-teman dengan perkataan miskin. Kami selalu memberi semangat pada Jodi supaya tetap sabar menghadapi semua cobaan ini.

Jodi tidak kuat terus-terusan begini yang hidupnya selalu dihina dan hina oleh teman-temannya, seketika Jodi selalu menyendiri dan jarang kelihatan gabung bersama kami, dia mempunyai pikiran, “Orangtuaku boleh miskin tapi hidup aku di pondok ini tidak boleh kelihatan miskin.” dengan mempunyai pikiran seperti itu jodi pun bertindak hal-hal yang dilarang oleh agama juga undang-undang yaitu mencuri. Semenjak Jodi selalu dihina oleh teman-temannya Jodi selalu bertindak mencuri uang teman-teman asramanya, tindakan Jodi tidak satu kali, dua kali dia lakukan bahkan berkali-kali Jodi melakukan hal yang dilarang itu supaya Jodi kelihatan seperti orang kaya di depan teman-temannya dari hasil uang curian itu (ghosob).

Kami merasa aneh dengan kelakuan Jodi yang seperti itu dan tidak seperti biasanya, kami curiga dengan kebiasaan Jodi berkelakuan mewah selama ini bahkan kami selalu ditraktir makan sama Jodi. Padahal kami tahu Jodi itu orang yang tidak punya dari segi ekonomi untuk mentraktir kami bertiga. Aku adalah orang yang paling curiga sama tindakan Jodi selama ini dan sewaktu ketika ada anak yang kehilangan uangnya yang disimpan di dalam lemarinya. Akhirnya kami mencurigai bahwasanya Jodi yang mengambil uang anak itu. Kami tidak bisa membiarkan Jodi terus-terusan bertindak seperti ini. Dengan sedih hati kami melaporkan tindakan Jodi kepada pengurus.

Jodi langsung disidang oleh pengurus dan dilaporkan kepada Bapak Pengasuh. Bapak Pengasuh memutuskan untuk memanggil orangtua Jodi yang datang yaitu bapaknya menghadap Bapak Pengasuh. Keputusan Bapak Pengasuh di hadapan Jodi dan ayahnya memutuskan bahwasanya Jodi dikeluarkan dari pondok ini. Ayah Jodi tidak menerima kenyataan ini dan menampar muka Jodi, “Ayah tidak nyangka kamu seperti ini. Inget Nak, semiskin-miskinnya kita Ayah masih mampu membiayai kamu sekolah di pondok ini. Jerih payah ayah bekerja untuk membiayai kamu tapi kamu telah mengecewakan Ayah, Ayah kecewa sama kamu.”

Kami tidak nyangka dengan kenyataan ini yang harus kehilangan satu sahabat kaki meja, kami langsung berlari untuk memeluk Jodi di detik-detik terakhir ini. “Maafkan aku teman-teman yang harus pergi meninggalkan kalian semua, aku pulang dengan tidak hormat teman. Aku tidak bisa menjalankan sumpah kita dulu yang akan selalu menopang meja persahabatan ini, aku tidak nyangka aku seperti ini yang akan jauh dari kalian. Aku pesan untuk kalian walaupun kini meja persahabatan kita tinggal tiga kaki meja tapi aku yakin meja ini bisa berdiri kokoh dengan solidaritas kalian.” kata Jodi dalam tangisannya, “walaupun kamu jauh dari kami, kami akan selalu menganggap kamu sebagai anggota empat kaki meja ini dan tidak akan melupakanmu selamanya.” jawab kami sambil memeluk erat Jodi di kala perpisahan terakhirnya.

Kini meja persahabatan ini harus berdiri dengan tiga kaki. Dahulu meja ini berdiri dengan empat kaki yang sempurna sekarang meja persahabatan ini patah satu kaki dan harus berdiri cacat dengan tiga kaki. Mampukah meja ini berdiri dengan tiga kaki? Tidak terasa tiga tahun telah kita lalui bersama di pondok ini, kenangan dan kebersamaan telah kita lalui bersama adakala suka maupun duka. Tak terasa kini telah berada di penghujung perpisahan persahabatan ini yang terpaksa harus terpisah untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kini Empat Kaki Meja tinggalah aku, Rival, dan Rana yang harus terpaksa berpisah demi menjalankan kehidupan yang lebih baik di sekolah baru tingkat SMA. Berat rasanya aku harus berpisah dengan kalian semua, kalian telah memberikan pelajaran hidup yang berarti bagiku bagaimana menjalin persahabatan dengan baik.

Acara purna siswa akhir dan kenaikan kelas diselenggarakan tepat hari ini, hari ini adalah hari yang begitu bahagia tak terasa aku sudah lulus dari bangku SMP, tapi di samping itu rasa sedih pun membanjiri dalam diriku yang harus berpisah dengan sahabat Kaki Meja. Aku tidak bisa membendung air mataku yang terus mengalir di pipiku di kala lagu perpisahan dinyanyikan oleh kelompok paduan suara kelas akhir. Janji demi janji telah aku buat untuk tetap menjaga persahabatan ini walaupun kita berpisah jauh. Kita jauh bukan berarti kita berpisah, batin kita selalu menyatu dalam diri masing-masing untuk menjunjung tinggi persahabatan ini sampai akhir hayat nanti.

Empat kaki meja adalah sebuah cerita kenangan yang terukir di pondok modern yang di mana meja ini cacat yang hanya bisa berdiri dengan tiga kaki. Satu kaki harus patah dan gugur dari solidaritas ini. Dan kini tiga kaki meja pun tidak bisa lagi menopang meja persahabatan ini di pondok modern dan harus berpisah, tapi kami yakin kami berpisah suatu saat nanti kami akan kembali dalam tiga kaki meja dan kembali membangun empat kaki meja yang sempurna menyatukan kembali. Aku, Rival, Rana, dan Jodi, dan kami yakin semua ini akan indah pada waktunya.

Sekian

Cerpen Karangan: Muhammad Lutfi Ulinnuha
Blog: lutfimuhamad21.blogspot.com
Facebook: Lut Fi Muhamad
Nama: Muhammad Lutfi Ulinnuha
Nama Panggilan: Lutfi

Cerpen Empat Kaki Meja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Lia dan Kawan Kawan

Oleh:
Lia, Misya, Reitha dan Stevanie bersahabat akrab. Mereka bersekolah di Rou Elementary School (RES), sekolah mahal. Lia adalah anak yatim piatu. Ia bisa masuk RES, karena mendapat beasiswa. Lia

Rinduku Pada Senja

Oleh:
Setiap perkenalan pasti ada perpisahan. Itulah yang aku rasakan saat ini. Perpisahan itu sangat menyakitkan, hingga membuatku terpuruk dalam duka yang amat dalam. Aku harus merelakan kepergian seseorang yang

Gang Apel

Oleh:
Kriiing… Jam weker di kamarku berbunyi nyaring saat menunjukan pukul 05:35 “Sudah pagi? Cepat sekali waktu berlalu” kataku dalam hati, Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *