Episode Abu Abu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 February 2016

Sekali lagi aku melihat arloji berwarna merah marun yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Entah sudah berapa kali aku mengulangi hal ini. Tapi kali ini yang aku lihat jarum pendek telah menunjuk angka melewati sepuluh. Sedang jarum panjang menunjuk angka empat. Sudah hampir satu jam ya? Desahku dalam hati. Ya, Mungkin. Sejak mata kuliah hari ini selesai aku bergegas ke kantin. Memesan jus Alpukat -menu wajib untuk menjaga kesehatan kulit wajah, dan duduk di bangku samping kanan yang dekat dengan jendela tepat di depan tempat memesan makanan ala ‘Bu Asih’.

Bangku yang terbuat dari kayu yang sudah hampir rapuh ini, entah kenapa mereka memilih tempat ini sebagai basecamp. Tempat yang sangat strategis bukan? di sini kita bisa dapet tiga keistimewaan sekaligus! Selain deket sama meja bu kantin dan jendela, kita juga pasti dilayanin duluan. Kan deket! Iya gak? Aku tersenyum. Saat Dikta bicara seperti itu kami semua hanya tertawa namun setelah kejadian itu kami semua selalu menjadikan tempat ini tujuan setelah mata kuliah berakhir. Mungkin Dikta benar.

“Sejak kapan kamu di sini Ra?” Aku menoleh ke arah suara lembut di belakangku. Senyumku mengembang. Benar saja. Gadis manis dan lembut ini, dia adalah air. Penyejuk dan penenang bagi kami kami berlima. “Udah lama sih. Tumben kamu sendirian. Fikar mana?”
Icha mengangkat bahu. “Gak tahu. Tadi habis dari ruang otopsi dia pergi sama Dikta.” Katanya sambil duduk di seberangku.

“Oh.” Gumamku. “Itu mereka!” sambil memiringkan kepala ke kanan menatap lurus melewati bahu Icha menunjukkan arah kedatangan Dikta dan Fikar dari baliknya. Ia menoleh.
“Dari mana?” Serbuku ketika mereka berdua sampai di depan bangku.
“Habis pesen nasi bungkus.” Jawab Dikta sambil duduk di sampingku. “Tadi pagi kelupaan.” Lanjutnya.
“Oh, besok hari Sabtu ya?” Sahut Icha.

Fikar mengangguk. Aku tertegun. Mataku menatap ke arah mereka bertiga. Apa yang sedang dibicarakan makhluk-makhluk ini? Batinku. Aku memutar otakku mengingat-ingat apa yang kami lakukan hari Sabtu lalu. Dan, itu dia. Kegiatan rutin setiap hari Sabtu yang dimulai sejak empat bulan lalu atas prakarsa Fikar. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Fikar, Dikta dan Icha bergantian. Api, bumi, air. Gumamku. Ada yang hilang. “Awan ke mana?” Tanyaku kemudian. Mereka terdiam. Saling menatap satu sama lain. Hingga beberapa saat kemudian Icha hendak membuka mulut. Namun tiba-tiba terdengar suara di belakangku. Aku mengenalinya.

Kami terus berlari mengikuti arah perginya bayangan itu. Aneh. Rasanya kami berlari sudah cukup jauh dan sangat cepat. Tempat apa ini? Kenapa seperti lorong yang tidak berujung. Batinku. Aku terus berlari menyusul Icha dan lainnya. Namun lambat laun aku merasa napasku semakin sesak, jantungku berdebar kencang. Langkahku mulai gontai. Hingga beberapa saat kemudian ku temui diriku jatuh terduduk lemas. Icha yang berlari di depanku menghampiriku, membantuku berdiri. Aku mencoba berdiri, namun semakin aku berusaha berdiri di saat itu pula sendi-sendi tubuhku semakin terasa sakit. Aku menggeleng pada Icha dan memintanya terus berlari. Kami berdebat, namun akhirnya ia mengangguk dan meninggalkanku. Ku lihat Icha yang berlari jauh ke depan sana dan lambat-laun ia menghilang. Aku menundukkan kepalaku, samar-samar ku dengar seseorang memanggil namaku. Suara itu semakin jelas dan mendekat. Aku mengangkat kepalaku ke arah suara itu dan semuanya memudar.

“Dara!”

Ku angkat wajah disertai kerjapan mata dalam keadaan setengah sadar. Aku melihat Dikta berdiri di depanku, sebelah tangannya mengguncang bahuku ringan. Ku alihkan pandangan ke seluruh sudut ruangan ini. Kantin. Batinku. Benar. Aku hanya bermimpi. Namun jantungku masih berdebar kencang dan bayangan itu, dia seperti nyata. Aku menatap Dikta sekali lagi. Dia duduk di seberangku. Wajahnya kelihatan bingung. Aku tersenyum -tidak, sebenarnya nyaris tertawa.

“Sejak kapan kamu di sini?”
“Cukup lama lihat kamu tidur sambil ngigau!”
Mataku terbelalak. Dia juga. Mencondongkan wajahnya ke arahku. Dan mengangguk. Wajahku terasa panas dan mungkin mulai memerah. Malu. Namun dia cepat-cepat nyengir dan tertawa lepas. “Hahahaha. Sumpah Ra, kamu harus lihat ekspresi muka kamu barusan. Persis udang rebus. Hahaha.” Ujarnya.

Baru saja aku akan memukul Dikta saat Fikar menepuk punggung Dikta dan duduk di sampingnya diikuti Icha yang duduk di sampingku.
“Sssttt apaan sih Ta! Jangan gangguin Dara mulu ah! Kayak anak kecil.”
“Tuh, dengerin kata Fikar!” Aku bersungut-sungut. Mereka bertiga tertawa.
“Aku ketinggalan apaan nih?” Suara Awan terdengar dari balik tubuhku dan Icha. Kami menoleh ke arahnya.
“Belum. Oiya, habis ini kalian semua gak ada acara kan?”

Kami berempat menggeleng hampir bersamaan. Aku tahu apa artinya setelah salah satu di antara kami berkata seperti itu, dan kini Fikar -orang paling bijaksana, berani sekaligus layaknya api, emosinya gampang sekali membesar di antara kami berlima. Tercetus ide dan pengalaman baru lagi. Aku melepas earpiece dan mematikan mini ipod yang sedari tadi ternyata sudah aku pakai sebelum ketiduran. “Ya udah. Ayo pergi!” Lanjutnya sambil beranjak dari kursi dan berjalan meninggalkan kami.

Kami berempat masih terpaku menatap satu sama lain. Lalu Dikta mengangguk mengisyaratkan kami untuk segera beranjak mengikuti Fikar. Beberapa menit kemudian kami sampai di tempat parkir menuju mobil avansa warna silver. Fikar menekan tombol pengaman mobilnya dan bergantian kami masuk duduk di jok belakang kecuali Dikta yang memang selalu berada di depan bersama Fikar. Setengah jam kemudian kami berhenti di sebuah bangunan yang lumayan besar. Dari sini aku melihat anak-anak tengah bermain sepak bola, lompat tali, dan ayunan. Fikar membuka kunci pintu mobil dan mengisyaratkan kami untuk segera ke luar. Semua anak yang sedang bermain tadi menatap kami hingga beberapa detik, kemudian salah satu di antara mereka berteriak menyebut nama ‘Umi’. Tanpa memedulikan hal itu Fikar membuka bagasi menunjukkan tiga buah kardus sedang pada Dikta dan Awan.

Aku mengalihkan pandanganku ke papan besar yang bertuliskan Yayasan Panti Sosial Asuhan Anak Riyadlul Jannah. Tak lama kemudian muncul wanita paruh baya dari dalam, mungkin beliau adalah kepala pengurus panti ini -tepatnya yang dipanggil Umi tadi, diikuti tiga orang pria. Beliau segera menyambut kami dan menyuruh kami segera masuk sedang tiga pria tadi menggantikan Fikar, Dikta, dan Awan membawakan kardus. Beberapa anak masih menatap kami dan lainnya telah kembali melanjutkan permainan mereka. Sampai di dalam kami dipersilahkan duduk lalu datang perempuan muda yang memberikan buku pada Umi. Beliau menyodorkan buku itu pada Fikar.

Sekilas yang aku lihat buku itu berisi baris dan kolom yang bertuliskan tanggal, nama penyumbang, sumbangan, dan tanda tangan -penyumbang dan pengurus panti, pada kolom terakhir. Setelah mengisi buku tersebut Umi mengajak kami berkeliling area panti. Pertama kami diajak ke ruang bayi. Beliau berkata bahwa usia bayi yang ada di ruangan ini di bawah satu tahun. Saat aku bertanya bagaimana mereka bisa ada di sini jawaban yang ke luar dari mulut beliau sangat membuatku miris. Ada yang ditinggalkan di depan panti, ada yang terang-terangan menitipkannya pada panti, dan ada pula yang dibuang di tempat sampah. Mendengar hal itu tiba-tiba aku merasa mataku mulai berair.

Bagaimana bisa seseorang tega melakukan hal tersebut pada bayi-bayi yang masih suci ini. Aku jadi malu. Anak-anak yang ada di luar tadi, nasib mereka pasti tidak jauh berbeda dari bayi-bayi ini. Mereka pasti sangat merindukan kasih sayang dari sosok orangtua. Harusnya aku yang masih bisa merasakan belaian kasih sayang dari Mama dan Papa, bisa bersyukur dengan cara, ya minimal berbakti dan menyayangi mereka, membuat mereka tersenyum, atau bahkan menangis sebab bangga. Aku terdiam. Fikar melihatku. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Umi.

“Terima kasih Bu, kami sudah disambut dengan baik dan diajak berkeliling panti. Namun karena masih ada urusan lain, kami mohon diri.”
“Oh, iya sama-sama Nak. Ibu sendiri juga berterima kasih karena anak-anak muda seperti kalian ini sudah mau mengunjungi dan peduli pada panti asuhan ini.” Ucap Umi tulus.
“Iya sama-sama Bu.” Kata Fikar sambil bersalaman dengan Umi diikuti kami berempat. Kami pun pulang. Aku jadi merasa bersalah. Fikar adalah orang yang paling tidak bisa melihat sahabatnya bersedih. Jadi mengapa tadi ia cepat-cepat berpamitan padahal kami masih ditunjukkan satu ruangan saja dan belum bisa dikatakan berkeliling, sebab ia memergokiku menangis.

“Ayo turun.” Icha menepuk bahuku.

Aku melihat sekeliling tempat ini sambil perlahan melangkahkan kaki turun dari mobil. Jalan raya di sisi kanan dan sebuah gang kecil di sisi kiri mobil. Tadinya ku kira kami akan pulang, ternyata rencana Fikar masih belum berakhir. Fikar membawa kardus, sedang Dikta dan Awan membawa tas plastik besar warna merah bersama-sama mereka berjalan memasuki gang. Aku dan Icha mengikuti dari belakang. Rumah-rumah sederhana seperti pada umumnya, namun sepi. Tak banyak orang yang kami temui di sini, hanya sesekali ada seorang ibu yang menjemur pakaian, seorang nenek tengah berjalan membawa wadah besar yang entah apa isinya serta seorang kakek yang duduk di teras rumahnya sambil menyesap kopi.

Kami hanya mengangguk pelan dan menyunggingkan senyuman, mereka membalas. Masuk lebih dalam lagi ke gang tersebut semua mulai berubah. Bukan lagi rumah sederhana melainkan gubuk-gubuk yang terbuat dari asbes logam berkarat dan kardus bekas juga sampah yang menggunung di setiap sudut. Banyak anak dan orang dewasa berpakaian lusuh yang kami temui di sini. Awan dan Dikta mulai membuka tas plastik besar itu dan membagikan isinya pada setiap orang yang kami temui di sini.

Nasi bungkus. Tersisa dua belas bungkus sekarang. Fikar masih menuntun kami terus berjalan hingga berhenti di sebuah gubuk yang agak besar. Masih seperti yang lainnya, gubuk ini terbuat dari kardus bekas. Kami masuk ke dalam. Seorang pria tua dan lebih kurang sepuluh anak usia SD berada di dalam ruangan berukuran 2×2 meter ini. Mereka memandang kami. Aku memandang ke sekeliling. Sebuah papan tulis hitam kecil bertuliskan deretan huruf vokal dan buku-buku kusam yang bertumpuk di sampingnya. Fikar mengulurkan tangan hendak bersalaman dengan pria tua -yang sudah bisa dipanggil kakek, itu.

“Selamat sore Pak Kas.” Sapanya.

Wajah pria tua yang bernama Pak Kas itu berseri-seri menyambut tangan Fikar. Fikar mencium tangan Pak Kas. Kemudian memberikan kardus yang sedari tadi ia bawa yang ternyata berisi berbagai macam buku. Kami mengikuti Fikar bersalaman lalu membagikan nasi bungkus pada anak-anak dan juga Pak Kas. Aku rasa persepsiku salah tentang tempat ini. Bukan lagi gubuk, melainkan sekolah yang didirikan Pak Kas untuk membuat anak-anak di pemukiman pemulung ini tidak buta akan pendidikan. Pak Kas benar-benar berhati mulia. Aku menyimpulkan. Beliau memang tidak bisa membawa anak-anak di sini pergi ke sekolah, tapi lebih dari itu beliau justru membawa sekolah ke tempat ini. Masih tersisa satu bungkus lagi. Awan membuka bungkusan nasi itu yang menyuruh kami berempat mendekat.

“Ayo! Siapa yang laper, mau disuapin apa makan sendiri?” Katanya kemudian.

Kami berempat saling menatap satu sama lain. Tersenyum. Namun sesaat kemudian Dikta mengambil nasi beserta lauk-pauk dengan tangannya, menyuapkannya pada Awan, Awan juga sebaliknya. Senyum kami berubah menjadi tawa geli melihat tingkah mereka berdua yang saling suap-suapan bak pengantin baru. Dikta kembali mengambil nasi dan kali ini untuk Fikar. Mereka bertiga nampaknya sangat menikmati bungkus terakhir nasi campur tersebut.

Aku dan Icha masih tertawa geli melihat gelagat mereka bertiga, hingga tiba-tiba mereka bertiga menyodorkan tangan menguncup berisi nasi dengan lauk pauk pada kami. Aku dan Icha semakin tak bisa menahan geli, namun mereka tetap menyodorkan tangan dengan ekspresi memohon. Akhirnya kami pun membuka mulut dan mempersilahkan nasi campur itu masuk menuju perut kami. Mereka bertiga tersenyum puas. “Pasti aku bakalan kangen saat-saat kayak gini bareng kalian.” Kami berempat menatap Awan. Sekali lagi. Tersenyum haru.

Bersambung

Cerpen Karangan: I Istikhanif F
Facebook: Isna Istikhanif Farida / IstiChanifa Fa

Cerpen Episode Abu Abu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Different World (Part 2)

Oleh:
“Nes, kamu kenapa?” tanya Steve. “enggak aku gak kenapa-kenapa” jawabku dengan nada lesu. “Oh ya udah aku ke kamarku dulu ya. Aku mau tidur siang bentar” jawab Steve. “oke,

Pengkhianatan

Oleh:
“Bisa gak kita berhenti melakukan ini?” Dua gadis berstatus pelajar duduk di meja masing-masing. Salah satu gadis asyik sekali menggambar di kertas sketsanya, sedangkan gadis yang lainnya berwajah kusut

Kenangan Sahabat

Oleh:
Aku menangis saat membaca suratnya. Dia baik sekali. Tak pandang bulu. Kenapa harus begini!? Aku sayang dia. Aku sadar, sahabatku yang terbaik. Ya, Myra sahabatku. Dia memberiku kalung perak

Cahayamu

Oleh:
Kicauan burung yang merdu di pagi hari membuat aku tersentak untuk bangun dalam tidurku, kubuka jendela kamarku dan kulihat burung-burung di taman seolah tersenyum membuat hati terasa tenang. Tentramnya

Kesekianku Bercerita

Oleh:
Pagi itu diharuskan untuk berbaris dengan menggunakan pakaian seragam SMP, di pagi hari itu semua murid baru berbaris dengan kelompoknya masing-masing. Membuka mata, membuka telinga bahwa saat itu adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *