Everyone Needs a Friends

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 March 2018

Namaku Sara, aku adalah siswi baru angkatan ke-3 tahun pertama di SMP Diakonia 1 pekanbaru, aku dapat sekolah di SMP elit ini tentu dengan usaha yang menguras otak dan juga kantong ayahku. Dan aku tidak main-main, aku akan berusaha, tujuanku sekolah di tempat ini adalah mendapatkan beasiswa ke kalimantan dan karena itu aku membuat suatu keputusan yang menyatakan BAHWA AKU TIDAK MEMBUTUHKAN TEMAN.

Sepertinya aku berhasil, dihari pertama, iya sih ada dari mereka yang mencoba berteman denganku tapi maaf ya, aku tidak butuh kalian. Ahk… Sudah beberapa minggu, syukurlah mereka tidak ada yang mencoba mendekatiku lagi. Tunggu! Apa mereka sariawan? Ahk masa sariawan sampai beberapa minggu, nggak mungkinlah. Apalagi barengan.

Hari senin, ya ini hari senini. Hari dimana aku mendengar hoax yang mengatakan bahwa akan diadakannya Rolling tempat duduk. Ahk… aku mendesah kesal, apalagi sekarang aku dipindahkan ke tengah. Lebih tepatnya berada di antara 4 manusia jenius ini. Selvi, dia adalah cewek paling sombong. Setiap hari tidak akan lengkap jika tak memamerkan benda-benda milkknya. Alieni, ya namanya terdengar aneh dan sifatnya juga aneh, dia terlalu baik dan kadang sifatnya itu membuatku kesal padanya. Sultan, ya seperti namanya dia dijadikan panutan di kelas ini, dia sangat pintar dan juga sangat tampan, ah aku ini bicara apa sih? Abaikan. Dan sultan duduk di belakangku. Riel, dia itu cowok, sekali lagi dia cowok. Dia selalu berhasil membuat semua orang kesal dengan sifat keponya yang berlebihan, dan mungkin aku juga akan jadi korbannya selanjutnya karena dia duduk di sebelah kiriku.

Selama beberapa hari, hariku masih tenang, mereka tak terlalu berisik atau sok pintar. Sampai akhirnya aku menarik ucapanku kembali. Saat itu sedang pelajaran Ips, semua tampak memperhatikan Bu Emi, guru yang sudah memiliki kerutan di wajahnya, sebenarnya kalau ibu it— lah kok jadi ngomongin buk Emi sih? Abaikan. Buk Emi menjelaskan tentang Upaya Mempertahankan NKRI. Hening, semua tampak memperhatikan, sampai…

“Hei! Kau kentut ya?” suara itu? Aku berbalik dan melihat sultan menatapku tajam, tapi tetap tampan.
“Siapa?” ‘bodoh kenapa bertanya sih! Jelas-jelas dia menunjukku.’ umpatku dalam hati, lalu dia kembali berkata, “Ya kau lah!!!” ujarnya, “BU CEWEK KOTOR DI DEPANKU INI BUANG ANGIN.” Sultan kamfret kapan aku buang angin?.
“Tidak bu!” aku angkat bicara, sementara anak lain sibuk mendengus berharap menemukan bau yang disebut kentut, tapi tidak ada. Sampai aku merasa seperti ada yang tersemprot dari bawa ke arahku dan yang terjadi… Semua orang berlari keluar kelas, sumpah ini mah melebihi bau kentut.

Imageku jadi hancur banget setelah insiden ‘ItuKentutSiapa?’ ya ampun… sejak kapan kentut sebau itu. Selama kurang lebih seminggu, aku nggak ke kantin, karena bosan mendengar ledekan mereka. Dan lebih parahnya lagi di kelas sebelum pelajaran mulai, petugas piket nulis di papan tulis besar-besar yang isinya gini, ‘HARAP KE TOILET SEBELUM PELAJARAN DIMULAI, KAMI TAK MAU HIDUNG KAMI DINODAI. TTD PETUGAS PIKET.’ kan kamfret tuh tulisan. Setiap hari aku hanya bisa pasrah menahan dahaga dan lapar yang menyeruak masuk ke tubuhku. Oke ini sedikit lebay, karena akh hanya lapar.

Perlahan imageku membaik, aku menemui sultan, sebelum pelajaran belum dimulai dan kelas lagi sepi. Sultan lagi duduk dengan tenang dan dia lagi pacaran dengan buku PKN. Dia mengacuhkan aku, aku berbalik dan menarik bukunya. “Kau! Kenapa kau mengerjaiku? Sudah jelas itu bukan kentutku, masalahmu samaku apa?” Sultan hanya menatapku, ya kuakui sih aku ini cantik tapi nggak segitunya juga kali mandangnya.

Tik… Tok… Tik… Tok
12 menit berlalu aku menunggu dan kemudian aku melihat raut wajahnya berubah seakan ingin mengatakan seauatu tapi jawaban yang kutunggu 12 menit itu adalah, “Tidak ada.”
“Ha? Tidak ada? Ahk… ya sudahlah aku tidak peduli lagi,” balasku dengan jutek dan kembali membelakanginya. Karena jika lama-lama ngobrol dengannya itu sama saja aku menghapus tembok yang sudah kugambar dengan baik.

Keesokkan harinya tepat saat pelajaran telah usai, Pak Wan guru Fisika memberikan Selvie setumpuk kertas dan aku sudah menduga kalau itu adalah hasil ulangan tahun lalu.
Deg… Deg… Deg… Jantungku berdetak kencang, apakah ini yang namanya cinta? Apaan sih.

Selvie berjalan sambil membagikan kertas, kadang dia juga membacakan nilai yang tertera pada kertas, untungnya kertasku tidak dibaca olehnya, aku langsung menyimpannya di laci sebelum Riel keponya kambuh.

Semua telah berhamburan keluar kelas meninggalkanku yang hanya duduk mematung di kursi, aku teringat pada nilaiku, kuraba laciku dan mengeluarkan kertas keramat itu, menerawang, mataku membelalak kemudian dengan lemas kurebahkan kepalaku ke meja, “Ahk… Masa dari dulu 48 nggak bisa apa naik 4 gitu, jadi 52.”
“Hahaa… 48. Lihat aku 100 sempurna, bukan?” suara itu? Aku hapal suara ini. Sultan. Aku mengangkat kepalaku malas dan menatapnya yang kini telah memegang kertas keramatku. Huh malu banget, sumpah.

Aku bangkit berdiri menarik kertas keramatku dan berlalu pergi, tapi dia mengikutiku, membuatku risih saja, aku berhenti mrndadak membuatnya menabrak punggungku.
“Ais… Kenapa berhenti mendadak sih?” gerutunya sambil menatapku.
“Kau sendiri kenapa mengikutiku?” ujarku sambil berbalik.
“Sekarang kau yang ikuti aku!” Sultan menarikku sambil menggenggam pergelangan tanganku, taman belakang sekolah? Kenapa dia membawaku ke sini?.

“Kenapa mesti kalimantan sih? Nggak ada kota lain apa?” celetuknya berhadapan denganku, aku menepis tangannya pelan dan berkata, “ini kan urusanku! Bukan urusanmu.”
“Kau itu tinggal di kelas yang sama dengan kami, jadi urusanmu, urusan kami juga.” aku membelalak tak percaya saat dari balik pohon muncul Selvie, Alieni, dan Riel. Mereka tersenyum kepadaku.
“Kami akan membantumu, Kalimantan? Tak apalah.” ucap Riel tersenyun lebar.
“Tapi aku nggak butuh kalian,” sergahku terlihat yakin, padahal hati kecilku membutuhkan mereka.
“Nggak butuh gimana? Kau lihat nilai fisikamu tadi. Jelek. Kau harus tahu itu, aku dan yang lainnya hanya ingin membantumu itu saja, aku tahu kau menginginkan beasiswa ke kalimantan karena ibumu kan?” tunggu… Dari mana sultan tahu akan hal ini, yang tahu ini hanya aku dan kepala sekolah, tanpa sadar air mataku mengalir dan aku mengingat ibuku, aku sangat merindukan ibu.

Aku meminta maaf pada mereka berempat dan mengakui semuanya. Dan di sinilah aku sekarang mencoba menghafal rumus yang diberiakan oleh mereka, aku sedikit heran jika aku hanya salah satu angka saja Sultan akan mengoceh panjang lebar, “Kau Tahu, Walaupun Itu Hanya Satu Angka Itu menjadi Pengaruh Puluhan Angka lainnya.” setelah berkata begitu dia melemparku dengan pulpennya, biar saja lumayan kan bisa dijual.

Astaga… Alieni itu ternyata galak banget, aku narik kata-kataku yang menyatakan dia baik, dia jahat. Hanya karena aku tidak tahu syarat-syarat paragraf yang baik dan benar, dia membentakku habis-habisan dan aku hanya bisa cengar-cengir nggak jelas. Riel, dia terus bertanya padaku, pertanyaan Pkn yang susah lagi, kalau aku salah, aku ditimpuk dengan kertas. Gimana kalau aku salah semua? Bisa-bisa aku udah tertimbun kertas.

Kurang lebih sebulan aku disiksa oleh mereka, tapi entah kenapa aku bisa bahagia ketika bersama mereka, tertawa lepas bersama.

OMG… Ulangan lagi, dan jenjeng… Aku menggerutu kesal saat kertas ulangan dibagikan, bukan aku yang pertama melihat hasilnya, eh si Riel main nyosor aja.
“Ye… Nilaiku 89!!! Ahk padahal dulu kalau fisika aku hanya berharap dapat 52, eh tahunya aku dapat 89. Ini semua berkat kalian. Makasih ya!!!” ujarku sambil merentangkan tanganku, bertujuan untuk memeluk mereka. Tapi… Pletak! Sultan menjitak kepalaku, ya tidak terlalu sakit sih hanya saja aku malah meringis kesakitan.
“Goblok. Mana ada sejarahnya orang berharap 52.” oh… Karena itu dia menjitakku.
“Ya maaf, soalnya dari dulu nilaiku 48 mulu, karena aku tahu otakku pas-passan jadi aku nggak berharap lebih deh, tapi makasih ya berkat kalian aku akan mencoba ikut beasiswa ke kalimantan itu.”
“Hahaha… Emang kau manusia teraneh, nggak papa kali, kita kan teman.” sahut Selvie. Ah aku merasa bersalah telah menyebutnya sombong.

Nggak terasa hampir satu tahun bersama mereka. Ah Sultan kenapa dia mengajakku makan malam sih? Bisa-bisa aku kegeeran.
“Ini gratis kan?” tanyaku bercanda, saat pelayan datang menyediakan makanan. “Soalnya aku takut dikerjain,” sambungku.
“Sebenarnya sih…” kampret.
“Emh, Sara! Di kalimantan ada apa sih? Sampai kau segitunya membenci yang namanya teman?” tanyanya membuatku tersentak dan tak jadi meminum orange juice didepanku.
“Mau cari cowok!” bohongku, entah kenapa aku belum bisa jujur.
“Ha?”
“Iya cowok. Aku mau cari cowok di sana. kenapa?”
“Jika aku tahu motivasimu receh seperti ini, aku tidak akan mau membantumu, kau tahu? Dan kenapa sih kau tidak pernah jujur. Aku bertanya karena aku ingin mendengar langsung darimu. Tapi jawaban sekarang membuatku malah mengurangi rasa sukaku padamu. Malam!” ujar Sultan kemudian berlalu pergi, meninggalkanku yang masih mencerna perkataannya. Jadi Sultan menyukaiku?.
Maaf. Aku tidak bisa jujur, aku mengambil beasiswa 1,5 tahun di kalimantan hanya ingin memcari ibuku yang hilang kontak selama dua tahun ini, maaf aku belum bisa berbagi.

Ujian beasiswa dilangsungkan selama 4 hari, mereka menghindariku. Aku sangat sedih. Ujian telah selesai mereka masih menghindariku, hingga satu minggu aku menunggu hasil Ujian Beasiswa dan begitu terkejutnya aku saat mengetahui bahwa namaku ada di urutan ke 3 dari ribuan pelajar yang ada di pekanbaru. Thanks God.
Sampai jumpa Pekanbaru, aku akan merindukamu, tenang! Aku hanya 1,5 tahun kok. Jadi jangan terlalu rindu takutnya aku dicap PHP. Hahaahah.

Untuk sahabatku.
Makasih banyak teman-teman, kalian membuatku mengerti bahwa semua orang itu membutuhkan teman. Aku bersyukur karena Tuhan menghadirkan kalian dalam hidupku.
Selvie, maaf awalnya aku mengataimu sombong. Ternyata kau sangat baik. Riel, you know! You creazyman. Hahahah. Makasih ya atas perhatianmu dan kekepoanmu itu. Alieni kau sangat baik tapi jangan terlalu baik sama semua orang, dan juga kau sangat galak tapi jangan terlalu galak juga sama orang ya.
Dan Sultan, maaf ya aku belum bisa jujur, tapi kau kan tahu tujuanku sebenarnya. Dan Sultan kenapa pergi sih? Makanannya kan udah dibayar, masa aku makan sendiri. Dan Sultan jika motivasiku tidak receh kau masih mau kan menambah rasa sukamu padaku, kalau ia tunggu aku ya 1,5 tahun lagi. Itu pun kalau cowok kalimantan nggak ada yang ganteng. Hahaha aku bercanda. Teman-teman thanks ya buat segalanya. Aku mencinti kalian.
Salam Sara.

Kuharap mereka membaca suratku, pasti dibaca sih soalnya aku menaruhnya di kaos kaki olahraga mereka yang udah seminggu di loker, nggak kebayang baunya gimana.
Kalimantan aku datang. Ibu aku akan menemukanmu.
Kini aku berbeda, aku bukan Sara yang mengatakan tidak membutuhkan teman, aku membutuhkan teman.

Akhirnya… Aku menemukan ibuku, ibu minta maaf karena tak pernah mengabariku, aku marah tapi dia tetap ibuku.
1,5 tahun kemudian

Pekanbaru aku kembali, aku kembali ke sekolah Diakonia. SMA DIAKONIA. dan ini aku Sara yang baru, siswi angkatan ke-2 tahun terakhir di SMA DIAKONIA, tujuanku kali ini adalah belajar sungguh-sungguh dan mencari sahabatku.
Aku masuk ke kelas baruku, memperkenalkan diri, kemudian aku melihat mereka berempat duduk manis di sana sambil menatapku, mataku berkaca-kaca, aku jelas merindukan mereka.

“Ada satu hal yang ingin aku katakan saat ini di hadapan Sultan, alieni, Selvie dan Riel. Aku minta maaf aku sunggu-sungguh minta maaf. Sekarang aku sadar bahwa semua orang membutuhkan teman. EVERYONE NEEDS A FRIENDS,” aku menangis, ya aku memang cengeng. Mereka berdiri menghampiriku dan memelukku.
‘Trimakasih Teman,’ ucapku lirih.

Happy Ending

Cerpen Karangan: Sara Li Oktovani
Facebook: Saralie Oktovani Sihombing
Namaku Sarali Oktovani, lahir pada saat jomblo mengurung diri dirumah alias malam minggu tanggal 08 oktober 2001. Sara tinggal di pekanbaru, jln. Fajar.
Sara mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang motivator. Amin… Amin… Bantu Aminin ya readers.
Semoga suka dengan karya Sara.

Cerpen Everyone Needs a Friends merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dua Pembaca Pikiran

Oleh:
Aku punya seorang adik kelas. Sebenarnya bukan cuma satu, banyak sih. Tapi tingkahnya, ya sebenarnya biasa-biasa aja. Tapi entah anak ini terlalu polos atau gimana. Namanya Grania. Waktu MOS,

Tak Seindah Harapan (Part 3)

Oleh:
Setelah hari itu, kupikir kami akan dekat, tapi ternyata aku salah kami tetap seperti biasanya. Hanya saling menyapa dan tersenyum kalau hanya ada kami berdua. Tapi, ada yang beda

Puisi Misterius

Oleh:
Namaku Citra, aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Sekolahku sangat besar dan terkenal, aku merasa nyaman di sini. Tetapi belakangan ini ada sesuatu yang selalu

Sahabat Yang Mengkhianati

Oleh:
Tesa duduk di bangku sekolah SMP yang tak jauh dari rumahnya. Tesa juga memiliki sahabat yang baik dan bisa dibilang sahabat karib, ke mana-mana selalu bersama. Sahabatnya bernama Sari.

Uang Kertas

Oleh:
“Vanya… hari ini kamu jadi kan ketemuan sama sepupu aku yang dari London kan?”. “ya, jadi deh”. Nidya menggandengku menuju kelas. Inilah diriku, aku sudah terlalu sering gagal dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *