eX…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 8 March 2013

Semua mata mengarah padanya, pada seorang gadis yang berpenampilan sangat sederhana dan apa adanya, polesan make up yang tadi sempat digunakannya terlihat telah terhapus oleh keringat yang dari tadi terus disekanya dengan tissue. Dia tersenyum pada semua mata tersebut tapi mereka hanya membalas dengan senyuman tipis dari salah satu sudut bibir mereka, yang kadang lebih terlihat seperti cibiran bukan senyuman.

“Ajeng” Seorang wanita yang berpakaian sangat cantik dan elegan, menyapa wanita itu dengan namanya. Kontan hal tersebut membuat semua mata tak bergeming dari sosok wanita sederhana yang bernama Ajeng itu. Ajeng membalas sapaan itu dengan senyuman yang sangat manis, lalu langsung mengikuti wanita cantik tersebut.
“Harusnya kamu bilang kalau kamu jadi datang”
“Aku cuma takut jadi malu-maluin kamu saja La”
“Kita ini sahabat Jeng, aku bisa mempersiapkan yang lebih baik untukmu jika kamu bilang lebih dulu.”
“Maafkan aku ya La”
“Hemm.. harusnya aku tidak marah kan Jeng. Yang kamu hadapi jauh lebih berat” Wanita yang bernama Lala itu tersenyum. Lalu dibalas senyum juga oleh Ajeng.

Mereka berdua berjalan menuju lantai dua rumah besar yang sedang dipenuhi orang-orang itu. Lala membawa Ajeng menuju kamarnya yang besar dan sangat elegan. Ajeng dulu sering sekali kekamar itu, bertukar cerita dengan Lala, melewati waktu waktu dewasa mereka. Semua terasa begitu lama telah berlalu bagi Ajeng, padahal semuanya berakhir hanya beberapa bulan yang lalu. Hanya rentan waktu yang singkat tapi terasa begitu lama.
“Aku rasa ini cocok” Lala memecahkan lamunan Ajeng dengan menyodorkan sebuah gaun hijau muda yang sangat anggun. Ajeng menatap Lala tak mengerti.
“Aku ingin kamu cantik kali ini, please” Lala menjawab pertanyaan yang tak sempat ditanyakan Ajeng. Ajeng tersenyum ragu lalu mengambil gaun itu dan pergi kekamar mandi untuk mengepaskan gaun itu dibadannya. Ajeng mencuci mukanya dan keluar kamar mandi tersebut.

Lala tersenyum melihat gaun itu terlihat sangat pas dibadan Ajeng, Lala kemudian menarik tangan Ajeng untuk duduk dimeja riasnya. Ajeng hanya menurut saja seperti dulu saat mereka sering saling merias diri. Ini sama saja, hanya saja Ajeng sudah canggung melakukan kebiasaan itu “lagi”.
Lala tampak konsen dengan bedak dan aye shadow di tangannya. Ajeng hanya diam saja sambil memejamkan matanya, kembali ke waktu dua tahun lalu, saat Lala juga melakukan hal yang sama seperti sekarang, hanya saja dulu keadaannya jauh lebih baik, mereka menceritakan cita-cita, banyak tertawa, dan terasa “hidup”.
“Mungkin semua lebih baik jika aku tidak jatuh cinta kan La” Ajeng memecahkan konsentrasi Lala sambil menahan air mata nya yang dari tadi ingin tumpah. Lala tak memberikan jawaban, dia meletakkan semua yang ada ditangannya kemudian menarik Ajeng dalam pelukannya.

“Kamu harus kuat Jeng. Maafkan aku tak bisa melakukan apa-apa untuk kamu, sahabat terbaik yang ku punya.” Air mata Lala jatuh lebih dulu, terasa hangat mengalir dibahu Ajeng.
“Aku bisa sekuat sekarang justru karna kamu La. Thanks for everything La..” Ajeng menumpahkan semua air matanya. Sesaat kedua sahabat itu saling bertukar haru lalu tak lama keduanya tersenyum lagi, saling menguatkan dan menghapus air mata dipipi mereka. Selanjutnya mereka bertukar riasan dan kembali tertawa kecil seperti dulu.
“Perfect. Aku selalu suka riasan kamu Jeng” Lala memperhatikan hasil riasan mukanya dikaca.
“Aku juga” Ajeng hanya bicara sedikit, karena kata-katanya lebih banyak tersimpan dalam rasa kagumnya pada dirinya saat ini.
“Cantik! Kamu Cantik Jeng. Harusnya kamu harus bilang kalau kamu sangat puas dengan karyaku. Right?” Lala mewakili semua yang ingin diucapkan Ajeng. Sementara Ajeng hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari depan kaca.
“Ayo.. Jangan cuma aku saja yang melihat kecantikan kamu ini Jeng. Biarkan yang lain juga melihatnya” Lala menarik tangan Ajeng keluar dari kamarnya menuju ruangan bawah yang tengah ramai dengan orang-orang. Ajeng berhenti ditangga, melihat kebawah dan tampak ragu dengan ide Lala barusan. “Aku takut La” Kata Ajeng berikutnya. Lala yang tampak sedikit bingung kemudian tersenyum menguatkan. “Aku ada dipihakmu kok Jeng, kamu bisa gunakan aku sebagai pisau jika ada seorang yang mengancammu” Lala menggoda Ajeng yang bimbang. Ajeng hanya tersenyum tipis lalu mencibir tipis kearah Lala yang mencoba berlagak seperti malaikat itu. Mereka kemudian melanjutkan langkah mereka, menuju ke aula besar dengan banyak orang itu.

Lala menggenggam tangan Ajeng, mengajak Ajeng berkeliling sambil sesekali mengenalkan Ajeng sebagai sahabatnya kepada tamu-tamunya. Sekali lagi orang-orang memandang Ajeng, tapi kali ini dengan pandangan kagum akan keanggunan dan kecantikannya yang terlihat sangat terang. Ajeng bisa mengendalikan perasaan malunya saat itu, sampai seorang lelaki memegang pundaknya dan
“Ajeng” Lelaki itu setengah terkejut, senang, takut, sedih dan semua ekspresi yang jelas tengah mencerminkan hatinya saat ini.
“Mas Aldo” Ajeng terkejut tapi segera dapat menguasai dirinya, dia kemudian tersenyum setelah melihat wanita cantik yang sedikit kebingungan disebelah lelaki yang bernama Aldo itu.
“Selamat ya..” Ajeng menjulurkan tangannya kepada Aldo. Aldo yang belum dapat menguasai dirinya tergagap dan menjabat tangan Ajeng.
“Kamu harus berterima kasih pada Tuhan punya sahabat sebaik aku” Lala berbisik ditelinga Ajeng, lalu memegang tangan wanita cantik disamping Aldo itu dengan kedua tangannya. “Mbak Nia, ini temen aku Ajeng mbak. Ajeng, ini mbak Nia. Mbak bisa ikut Lala sebentar? Lala mau kenalin mbak sama temen-temen Lala yang lainnya. Gak keberatan kan mas Aldo?” Lala mangedipkan sebelah matanya kepada Aldo dan Aldo terlihat sangat mengerti dan segera mengangguk. “Pinjam aja dek” ‘yang lama ya’ lanjut Aldo dalam hati.

Ajeng memperhatikan Lala dan Nia yang kemudian hilang diantara kerumunan. Ajeng menyadari jika hatinya yang saat ini sedang berdegub lebih kencang daripada biasanya, tapi dia lebih senang menyanggahnya jika itu semua karna Aldo yang sekarang berdiri disampingnya.

“Jadi, dia Nia? Dia sangat cantik Mas. Kamu beruntung sekali bertemu dengan wanita secantik itu” Ajeng membuka percakapan tanpa menatap Aldo yang disadarinya dari tadi memperhatikan dan melihatnya.
“Ya, aku beruntung. Setidaknya dia mau melihatku saat sedang bicara denganku”.
Ajeng menunduk, menghela nafas panjang mendengar jawaban Aldo. Ajeng menggerakkan kepalanya, memberanikan diri menatap Aldo yang selalu dia rindukan.

“Aku tahu tempat yang baik untuk bicara berdua. Aku mau menunjukkannya padamu. Kamu mau?”
Ajeng hanya diam “Aku anggap itu iya” Aldo memastikan sendiri jawaban Ajeng yang terlihat ragu olehnya. Aldo berjalan didepan dan Ajeng mengikutinya dari belakang. Ajeng berharap saat ini Aldo menarik tangannya dari tempat ini tetapi dia sangat faham mengapa itu menjadi sangat tidak mungkin saat ini, ditengah pesta ini.

Aldo berhenti didekat kolam ikan koi disamping pondok kecil yang dulunya sering dijadikan tempat bermain Ajeng dan Lala kalau bosan dikamar. Aldo bersandar pada tiang pendasi pondok kecil itu, sementara Ajeng duduk diatas jembatan mini yang membelah kolam ikan koi itu, memain-mainkan kakinya yang terlihat kurus tetapi sangat putih.
“Kenapa membawaku ketempat ini?” tanya Ajeng pura-pura tidak mengerti.
“Kenapa kamu datang kepesta bodoh ini?” Aldo menaikkan nada bicaranya, terlihat kesal karena pertanyaan dan ekspresi Ajeng yang seolah tak acuh itu.
“Aku dapat undangan kok” Ajeng berlagak tegar, menyembunyikan hatinya yang tak menentu lagi saat ini.
“Kenapa memilih untuk datang?”
“Karena aku lihat kamu bahagia Mas” Ajeng setengah berteriak, membiarkan dirinya mengalah pada perasaannya, mengalah pada tatapan Aldo yang dari tadi tak bersahabat dengannya.

Aldo mendekati Ajeng, duduk tepat disampingnya kemudian memegang tangan Ajeng yang dingin dan gemetaran menahan tangis. “Kamu tak harus melakukan ini Jeng. Mas tidak mau kamu terus terusan terluka. Fikirkanlah kebahagiaanmu. Atau kamu berubah pikiran? Kamu mau pergi dengan Mas? Meninggalkan semuanya? Hanya kita berdua saja. Kamu mau dek? Mas masih berharap kamu disamping Mas, jadi ibu dari anak-anak Mas, kita tua bersama, kita runtuhkan semua dinding yang menghalangi kita, Cuma kita saja dek, kamu mau?” Aldo melunak dan berusaha mencari pandang dengan mata Ajeng yang dari tadi tertunduk. Kata-katanya mengingatkan Ajeng pada 6 bulan yang lalu saat mereka mengakhiri hubungan cinta mereka.

Saat itu adalah hari paling berkabut yang pernah mereka jalani seumur hidup mereka. Akan banyak orang yang terluka jika mereka tetap bertahan sebagai kekasih. Aldo yang dari keluarga sangat kaya tentu bukanlah jangkauan bagi anak yatim yang jarang bertemu dengan ibunya sendiri meskipun hidup dirumah yang sama seperti Ajeng, dia beruntung punya sahabat sebaik Lala tapi itu tidak cukup untuk meyakinkan orang tua Aldo bahwa mereka berdua boleh bersama.

Ajeng tidak menyalahkan siapa-siapa akan hidupnya yang kurang beruntung. Dia berharap kisah cintanya dengan Aldo berakhir seperti dongeng ataupun sinetron ditelevisi, tapi dia tahu jika ini semua adalah dunia nyata, tak semua cerita bisa berakhir bahagia seperti yang dia harapkan. Kadang orang-orang harus berkorban besar untuk sesuatu yang besar, tapi bukan berarti dia harus mengorbankan hidup Aldo, hidupnya, hidup Lala sahabatnya dan hidup keluarga yang membesarkan mereka. Kadang cinta juga harus berkorban banyak meskipun itu adalah dirinya sendiri.

Aldo menyandarkan kepalanya dibahu Ajeng dan membuat Ajeng kembali kedunia nyata. Ajeng melepaskan genggaman tangan Aldo kemudian merangkul pundak Aldo dan memeluknya erat-erat. “Jangan menyesal Mas. Biarkan saja kenangan menuliskan kisah kita yang indah ini Mas. Aku yakin Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kita walaupun dalam rencana itu kita bukanlah pasangan tapi semua itu pasti lebih baik Mas. Aku ingin terus bersamamu Mas, melewati senja bersama dengan anak-anak kita dan mimpi-mimpi kita, menua bersamamu dan melewati semua masa sulit ini bersama, tapi kita bukan jodoh Mas, sekeras apapun kita memaksa tetap saja kita bukan jodoh Mas. Kita harus kuat, kita harus menerima keadaan ini Mas. Semua ini bukan akhir Mas, ini baru awal, semua orang punya cinta pertama dan ini cinta pertama kita Mas. Aku mencintaimu Mas” Ajeng membiarkan airmatanya tumpah lagi, terisak-isak dalam pelukan Aldo yang tak kalah eratnya. Aldo pun sama, hanya membiarkan air matanya jatuh, tak menahannya lagi. Semua itu begitu mengejutkan Ajeng, tidak pernah sebelumnya Aldo menangis dihadapannya, apalagi sampai terisak seperti sekarang ini.

“Aku tak ingin melepaskanmu dek. Ingin tetap begini” Aldo menyembunyikan wajahnya dibahu Ajeng.
“Aku juga Mas, tapi aku lebih tak ingin kita kehilangan semuanya, kehilangan semua kesempatan untuk bisa bertemu lagi. Kuasai diri kita Mas” Ajeng perlahan melonggarkan pelukannya, mengangkat wajah Aldo yang memerah, mengelap air mata dari pipi Aldo, memberikan ciuman mesra dikening Aldo, lalu kemudian mencubit kedua pipi Aldo “Dasar cengeeng..” canda Ajeng yang membuat Aldo tersenyum. Aldo selalu menyukai tindakan Ajeng yang spontan dan kadang menyentuh. Begitu banyak hal yang disukainya dari wanita itu sampai sampai dia tak tahu apa sebenarnya yang membuatnya jatuh cinta pada Ajeng. Aldo tertawa kecil, menertawai semua yang baru saja terjadi.

“Mas seperti anak kecil yang dibujukin ibunya ya dek” Sindir Aldo
“Emang siapa ibunya? Ajeng? Ogah ah punya anak kayak Mas Aldo” Ajeng membalas sindiran Aldo sambil tersenyum lebar. Mereka pun bangkit dari tempat duduk mereka sekarang dan berdiri berhadapan. Aldo memegang kedua tangan Ajeng yang sudah sedikit lebih hangat.

“Mas masih berharap adek jodohnya Mamas.”
“Loh terus mbak Nia jodohnya siapa? Jodohnya Mamas juga gitu? Wah serakah nih Mas” Ajeng berusaha menguasai hatinya yang terhenyuh dengan kata-kata Aldo.
Aldo hanya tersenyum manis, mendaratkan bibirnya dikening Ajeng yang tertutup poni. Ajeng memejamkan matanya dan menikmati bibir Aldo yang perlahan turun kepipi lalu kemudian bibirnya. Ajeng tersentak menyadari jika ini adalah ciuman pertamanya. Aldo membiarkan bibirnya bertahan cukup lama dipermukaan bibir Ajeng yang kenyal hingga Ajeng merasa panas dan melepaskan kecupan itu sebelum sempat membuka bibirnya. Aldo membiarkannya walaupun sangat menginginkan lebih dari itu semua.

“kamu serakah mas, sudah ambil cinta pertamaku, kamu ambil juga ciuman pertamaku” kata Ajeng yang membuat Aldo tertawa geli mendengarnya.
“Yang itu belum dikatakan ciuman dek, mau mas kasih tau bagaimana ciuman yang sebenarnya?” Aldo balas mencandai Ajeng dan membuat jantung Ajeng berdegub kencang lagi. Aldo tidak melakukannya meskipun sangat menginginkannya dan Ajeng hanya membiarkan semuanya berlalu, menggandeng tangan Aldo dan membimbingnya keluar dari tempat romantis ini. Aldo yang mengerti tindakan Ajeng hanya mengikutinya, tersenyum dan sedih bercampur, tapi tak ada penyesalan lagi, semuanya mungkin lebih baik seperti ini.

Mereka kembali kepesta mewah itu, Ajeng menemui Lala yang langsung disambut dengan senyuman oleh wanita cantik itu, dan Aldo menemui Nia yang dari tadi kebingungan mencarinya. Ajeng dan Aldo saling melirik sebelum kemudian semua orang berkumpul mengelilingi Nia dan Aldo dengan semua senyuman suka-cita. Aldo memasang cincin kejari manis Nia, sambil melihat senyum Ajeng sang mantan kekasih, masih berharap jika jemari yang sekarang dia genggam adalah jemari Ajeng. Tapi senyuman Ajeng seolah bicara, akan lebih baik seperti ini dan Aldo percaya.

Cerpen Karangan: Sari B. Mina
Blog: http://bombeebie.blogspot.com
seorang penulis.

Cerpen eX… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My First Love My First Hurt

Oleh:
Gue menatap hamparan lautan luas di depan gue. Ya Ini yang gue lakuin kalau gue lagi butuh ketenangan. Kalau lagi frustasi gini kalau gue gak lihat laut maybe I’ll

My Ex Boyfriend

Oleh:
Aku Danica Asha, enaknya panggil Asha aja yah… Aku kelas XI dan sesuai harapanku, aku masuk jurusan IPA I. Hari ini merupakan hari pertamaku masuk sekolah sebagai siswi kelas

Bukan Titik

Oleh:
Sudah seminggu sahabatku, Dinda meninggalkanku. Bukan pergi untuk satu dua hari, tapi untuk selamanya. Ya, dia meninggal dunia. Karena penyakit itu, penyakit hati yang menggerogoti tubuhnya. Ternyata, lama sebelum

Thank You, Kezia

Oleh:
Best Friend. Yap. Itulah kata yang dapat menggambarkan persahabatanku dengan Kezia. Namanya, Kezia Sekar Agni. Dialah temanku, yang lebih tepat disebut Best Friend Forever (Bff). Bulan lalu, Bulan September,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *