Fatah Kafah Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 21 August 2016

Terdengar suara engsel pintu saat seseorang memasukinya. Ruangan yang banyak mengenang akan sebuah perjuangan yang tak berarti bagi mereka. Yah.. kemenangan yang selalu datang hanya teranggap sebagai sebuah debu yang menempel.
“Sorry, gue telat!,” ucap Bram dengan nada klewusnya.
“Hmmmm,” jawab Riska tanpa menoleh ke arah Bram dan terus memandang majalah yang mereka baca.
“Kalian liatin apaan, sih? Serius amat?!,” tanya Bram dengan meletakkan tas ranselnya dan jacket yang baru ia lepas dari tubuhnya yang kekar.
“Ini! Liatin nama dan foto bengsek lo setelah kemenangan lo kemarin. Banyak juga yang mau muat wajah bengsek lo,” jawab Billy tanpa menunjukkan apa yang membuatnya serius.
“Maklum, 3 tahun udah geret gelar yang sama,” lanjut Riska.
“Nah, kalian sendiri kan sama kayak gue! Kenapa malah gue yang kena coba?”
“Hahaha, wajah bengsek begini ada cewek yang naksir? Eh lihat deh Bram, lumayan bro! Buat mainan ular tangga!,” ucap Billy dengan menunjuk-nunjuk foto wanita berhijab yang tengah digosipkan berpacaran dengan Bram.

Brampun mendekat ke arah Billy dan Riska. Melihat apa yang mereka lihat dengan serius. Setelah ia tahu, ia berdengus aneh ke arah teman-temannya. Lalu, berjalan ke arah ranselnya dan mengambil piala serta sertifikat penghargaannya setelah kemengan lomba drummer terbaik tingkat nasional. Meletakkan kedua benda itu ke dalam lemari kaca yang khusus disediakan oleh mereka untuk prestasi yang telah diraihnya.
Di dalam lemari tersebut, terdapat 5 sekatan untuk pembatas. Yang paling atas adalah milik Felly. Kapten band Pro Techno. Kedua, milik Bram. Ketiga, milik Billy. Keempat, milik Riska. Dan, terakhir adalah milik bersama.
“Felly belum dateng?,” tanya Bram.
“Belom. Dia telat. Soalnya, harus jembut bokapnya ke bandara,” jawab Billy.
“Pulang dari New York?”
“Yah.. gitulah.”
“Ris, lo bisa bantuin gue nggak?,” tanya Bram.
“Apaan?”
“Bantuin gue ngimbangin drum gue. Ada not baru yang pengen gue coba setelah kemenangan gue kemaren! Setelah ini udah pas, baru gue coba masukin punya Billy.”
“Ok!,” jawab Riska bersemangat dan meletakkan majalah-majalah mingguan yang penuh dengan foto-fotonya dan juga personil band Pro Techno.

Tak lama kemudian, Felly datang dengan menenteng tas gitarnya. Yah.. gadis yang berwibawa dengan kharisma yang tinggi. Lahir di antara keluarga aristrokat dan bakat yang mengagumkan. Hawa dingin dan tatapan matanya yang tajam membuat orang lain yang memandangnya akan takut kepadanya. Seakan, mereka melihat singa yang akan memakan mangsanya.
“Oh ya Fel, lo bisa bantuin gue sebentar nggak?,” tanya Bram menyapa Felly yang tengah menutup pintu studio pribadi mereka.
“Apaan?,” jawab Felly datar.
Bram pun mendekatkan tubuhnya ke arah Felly. Begitu juga dengan Billy dan Riska. Mereka mulai seius berdiskusi dengan hasil karangan lagu milik Bram. Fellypun mengimbangi dan melengapinya dengan hasil karangannya sendiri. Mencocokkan dan menghilangkan beberapa not angka ataupun cord yang tidak dibutuhkan.
Yah… itulah yang biasa mereka lakukan setiap harinya. Selalu meyisahkan waktu untuk latihan dan juga menciptakan lagu baru dengan alat musik yang mereka kuasai. Mereka tidak pernah puas akan apa yang mereka dapatkan. Baik itu adalah kejuaraan tingkat nasional dan predikat pemusik terbaik. Bagi mereka, jika kaki mereka tidak menginjak luar negeri dengan alat musik dan namanya, mereka tidak akan pernah puas.
Mereka tidak pernah mengandalkan kemampuan rekan kerjanya. Mereka selalu mengejar kemampuan individu yang mereka miliki dan mengembangkannya. Mereka selalu menantang siapapun yang berani melawannya. Seakan, mereka bukanlah manusia. Melainkan, iblis yang gila dengan musik.

“Lo nggak ikut bokap lo ke New Yor, Fel?,” tanya Bram di tengah mereka latihan.
“Sama aja gue bunuh diri di depan dia!,” ucap Felly tegas dengan nada yang dingin.
“Oh ya, kemarin ada produser nelpon gue. Dia, menanyakan tentang lo!,” ucap Billy.
“Kontrak lagi?,” tanya Riska bosan.
“Yah.. gitu lah. Dia lagi butuh band untuk tampil di caffe. Katanya sih, untuk caffe temannya.”
“Bosen kalau cuma begituan. Nggak ada yang minat ngirim kita ke Broadway?,” tanya Bram sombong.
“Yah… mungkin setelah kita bisa mendapatkan nama yang termuat di majalah sebanyak yang mereka mau,” jawab Riska dengan tangan bekas cecapan coca-cola.
“Kemarin lo dari mana nggak dateng, hah?,” tanya Billy protes setelah mengingat ketidak hadiran Felly.
“Gue ada acara.”
“Acara menerima tantangan dari cewek itu?,” tanya Bram penuh gairah.
“Tch! Jal*ng!,” ucap Felly meremehkan.
“Kenapa?,” tanya Billy penasaran.
“Udahlah nggak usah dibahas,” geram Felly bosan.

Setelah sedikit istirahat, mereka melanjutkan latihannya. Dan, mereka tersentak kaget saat ada murid lain yang datang ke studio pribadi mereka. Menunjukkan majalah terbaru yang berisi mereka. Dan, band baru yang tengah menyaingi mereka.
Saat itu juga, darah Felly naik. Begitu juga Bram. Yah… dua orang musisi yang ambisius untuk meraih kemenangan. Dan, melenyapkan musuhnya dengan tantangan yang harus membuahkan kemenangan. Seakan, mereka adalah Tuhan. Yah… bisa mengatur segalanya sesuai dengan keinginan mereka.
“Proteus?,” gumam Bram setelah melihat artikel tentang band mereka.
Begitu mengejutkan hingga menarik perhatian Bram. Bram terus menyebut nama itu dengan menyunggingkan senyuman sinis. Seakan ia berusaha megukir nama itu untuk menyusun rencana pertemuan mereka tanpa cara yang kampungan. Menelepon, ataupun mengajak tawuran. Nggak etis bagi mereka.
Pertemuan mereka terprediksi dengan sisa kompetisi yang tergelar di bulan ini. Semua musisi ataupun band boleh ikut. Untuk level band yang seperti mereka, kemungkinan mereka tidak mengikuti kompetisi itu begitu kecil. Karena, talenta mereka yang melejit akan membawa mereka ke panggung indoor gedung yang biasa digunakan untuk pergelaran lomba. Jikalau mereka tidak ikut, maka talenta itu sendiri yang akan mendorong mereka.

Setelah Bram dan Felly melihat hal tersebut, mereka kembali ke tempat masing-masing. Meraih alat musik yang telah mendarah daging di dalam tubuh mereka. Memainkan lagu karangan mereka sendiri. Menatap partitur musik dengan serius.
Berbeda dengan Billy dan Riska. Mereka menyusul teman-temannya dengan penguasaan diri yang kuat. Santai. Mengejar keseriusan teman-temannya dengan tenang. Dan… pemikiran yang sama menggebunya dengan Felly dan Bram. Maklum, setiap manusia memiliki bawaan yang berbeda-beda.

“Kita dipanggil oleh kepala sekolah!,” ucap Billy setelah mengangkat telfon di tengah latihan panas mereka.
“Ngapain?,” tanya Bram heran dan merasa terganggu.
“Ada tamu katanya,” jawab Billy.
“Yaudahlah, jangan duduk manis di sini! Cabut yuk! Keburu orangnya yang ke sini! Nggak sopan tahu!,” ucap Riska bangkit dari tempat duduknya dan pergi menuju ke arah ruangan Kepala Sekolah.
Merekapun berjalan di belakang Riska. Mengekor seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Perlahan mereka berjalan sejajar. Melewati keramaian lapangan. Semua mata tertuju pada mereka. Melihat kharisma dan hawa tubuh mereka. Terutama, Bram dan Felly. Dengan fasilitas wajah yang memadai mereka berjalan dengan kepala terangkat. Tatapan mata lurus yang tajam serta senyuman tipis yang memabukkan saat salah satu dari mereka menyapa.
“Permisi,” ucap Riska lirih dengan membuka sedikit pintu Ruang Kepala Sekolah.
“Silahkan masuk,” jawab Kepala Sekolah dengan hormat.
Setelah mereka masuk, Kepala Sekolah mempersilahkan mereka untuk duduk. Felly tersentak saat melihat wajah yang begitu familiar. Proteus. Sejenak, mereka saling bertatapan. Kemudian, Kepala sekolah mengenalkan tamu yang berbuhubungan dengan band Pro Techno. Serta, memberikan penjelasan tentang kedatangan tamu tersebut mengenai undangan dari tamu untuk berduel di atas panggung sekolah mereka. Mengingat, sekolah Felly memiliki hubungan yang erat dengan sekolah band Proteus.
“Bagaimana, kalian tidak keberatan kan?,” tanya Kepala Sekolah meyakinkan.
Sejenak, Felly dan Bram saling memandang. Seakan, mereka berbicara melalui tatapan itu. Begitu juga dengan Billy dan Riska. Dan, merekapun menyetujuinya. Setelah itu, Proteus memutuskan untuk memulai latihan kolaborasi mereka hari itu juga di studio pribadi Pro Techno. Felly merasa tertantang dengan keputusan itu. Sehingga, Felly memutuskan untuk melakukan kolaborasi itu di depan semua orang dengan perjanjian kemenangan dan kekalahan. Di atas panggung aula sekolah. Saat pengumuman akan hal tersebut di TU, warga sekolah merasa senang.
“Kenalin, gue Rania. Gue kapten di band Proteus ini. Senang bertemu dengan kalian. Terutama, gitaris dan drummernya,” katanya sebelum mereka memulai kolaborasinya.
“Tch!,” ucap Bram sinis.
Bagaimana tidak? Ia sudah mengenal siapa gadis itu. Gadis yang selama ini menjadi hama bagi Bram. Gadis yang selalu menjadi gosip bahwa mereka berpacaran. Gadis yang menutupi tubuhnya dengan sehelai hijab merah.
“Bisa kita mulai sekarang?,” tanya Felly.
Riana mengangguk. Lalu, merekapun menaiki panggung dan mulai beraksi. Sesuai perjanjian sebelumnya, mereka akan menyanyikan lagu dari masing-masing band sebanyak 3 lagu. Dengan selingan setiap band setelah akhir nyanyian. Lalu, memberikan suara kepada seluruh penonton tanpa harus melihat status almamater mereka.
“Bagaimana?,” tanya Riana sinis.
Felly dan Bram hanya bisa mengambil nafas beratnya. Mendengusnya dengan kasar dan menatapnya seperti akan menyantapnya.
“Apakah kurang untuk kalian dengan suara itu? Atau, kita yang akan memberikan suara itu?,” tanya salah satu personil Proteus.
“Jadi gimana Bram? Apa perlu tes lagi supaya gue bisa ada di samping lo?,” tanya Riana.
“Kalau boleh saran, jangan mengeluarkan kesombongan kalian terlebih dahulu sebelum kalian benar-benar mendapatkan kemenangan itu. Dan, membunuh musuh kalian dengan musik itu. Serta, mencobalah untuk bersahabat dengan saingan kalian, bukan memusuhinya atau membunuhnya!,” pinta salah satu personil band Proteus.
“Gue nggak sudi punya pacar kayak, lo!”
“Kenapa, Bram?”
“Percuma aja lo menutupi diri lo dengan hijab merah itu. Kalaupun, ujung-ujungnya lo bakalan berani untuk berpacaran. Bahkan lo berani menyentuh kulit gue. Bukankah, di dalam agama hal tersebut tidak diperbolehkan? Kenapa lo melanggar? Jikalau begitu, lepas aja hijab lo!,” jawab Bram ketus.
“Apa perlu gue bantu untuk melepasnya?,” sahut Billy menertawakan.
“Bram!,” bentak Riana.
“Apa Riana?,” jawab Bram santai.
“Asal lo tahu, gue melakukan hal ini karena gue mencintai lo! Gue menjadi musisi untuk mengejar lo dengan cara ini. Lo tahu, gue mencapai ini semua dengan darah Bram bukan dengan keringat. Setiap detik, gue memaksa otak gue untuk mengingat setiap cord musik. Menghafalkan setiap partitur musik agar gue bisa bertemu lo di turnmaen-turnamen yang tergelar. Tapi, apa salah gue melakukan hal itu hanya untuk sekedar ada di dekat lo?,” tanya Riana memelas.
“Apakah cinta itu yang membawa hijab itu padamu?,”
“Yah… karena Bram pernah mencintai seorang wanita berhijab. Namun, sayang dia telah memiliki seorang kekasih.”
“Dan, itu adalah lo Fel!,” jawab Bram dengan mata yang berkilauan.
Seketika Felly tersentak saat mendengar pengakuan dari Bram. Badannya membeku dengan gemetaran. Jantungnya seakan terdentam batu yang begitu besar. Otaknya terasa berhenti bekerja. Bibirnya terasa terkatup begitu rapat. Badannya terasa panas dingin. Dan, ia tidak mempercayai hal tersebut.
“Hah? Jadi selama ini lo jatuh cinta sama Felly?!,” tanya Billy tak percaya.
“Dan, itu maksud perkatan lo waktu itu?,” lanjut Riska.
“Perkataan apa?,” sontak Felly.
“Perkataan, kalau dia tidak akan pernah mencintai wanita lain sebelum dia bisa mendapatkan cinta itu.”
“Bram ap…” katanya terputus saat Bram telah mengetahui apa yang akan di katakan oleh Felly.
“Iya, itu emang bener Fel. Gue menyimpan rasa ini sejak kita pertama kali membentuk band ini. Dan, setelah gue tahu kalau lo pacaran sama sahabat gue. Arka. Gue tahu, dia adalah kapten basket di sekolahnya. Ketua OSIS. Dan, mempunyai wajah yang tampan melebihi gue. Bahkan, dia juga menjadi foto model. Gue sadar kalau gue nggak sebanding dengan dia. Tapi, seenggaknya gue bisa mencintai lo apa adanya. Gue lebih baik memiliki cewek tanpa hijab tapi menekankan dirinya untuk menutup dirinya. Dan, gue menyadari itu saat lo pernah di tembak sama Ricky.”
“Tapi, lo udah gila Bram. Apa lo nggak salah orang?”
“Enggak, Fel. Bagi gue, satu tetap satu. Jikala memang lo memakai hijab, it’s nothing. Tapi, gue juga berharap kalau di dalam hijab itu lo juga menutup diri lo dengan hal-hal yang seperti itu. Gue tahu, lo berubah banyak setelah bersama Arka. Bahkan, gara-gara Arka lo menjadi seperti ini.”
“Gue melepas hijab gue karena gue masih belum siap untuk menutup diri gue. Jujur, gue masih mengharap akan kehadiran Arka di sini. Jikalau gue harus berhijab, gue harus membersihkan ruang hati gue. Dan, hal itu mustahil bagi gue. Meskipun, di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin.”
“Itu terserah lo Fel. Tapi, gue nggak akan pernah mundur sebelum lo bisa menjawab apa yang gue rasakan saat ini.”
“Dan, gue memberikan jawaban tidak untuk lo, Bram! Gue memang menyayangi lo! Tapi, tidak untuk mencintai lo! Gue menganggap, lo pantas menjadi kakak gue! Karena, gue merasa nyaman jika lo mau melakukan itu,” ucap Felly lembut tanpa menghilangkan ketegasannya.
“Ta..”
“Gue tahu, begitu sakit rasanya. Tapi, lebih sakit lagi apabila gue harus menerima cinta lo hanya atas dasar kasihan. Bukan cinta. Lebih baik, gue menyakiti lo dengan kejujuran. Dibandingkan, gue harus membahagiakan lo dengan kebohogan. Akan lebih sakit jika gue jujur sama lo di belakang nanti.”
“Lagian, apa lo tega Bram menghianati persahabatan lo dengan Arka?,” tanya Billy mengingatkan.
“Lagian, apa lo yakin kalau Arka sudah melupakan Felly? Sedangkan, mereka menjalin hubungan selama itu atas dasar sesama menjadi cinta pertama? Bukankah lo sendiri yang bilang, kalau cinta pertama itu sulit untuk dilupakan?,” lanjut Riska.
Suasana hening seketika. Senyap, sunyi, dan sepi. Tidak ada yang berani mengutarakan suaranya. Semuanya, tertunduk. Merenungkan, apa yang dikatakan oleh Riska. Hingga akhirnya. Riana angkat bicara.
“Felly! Thanks!,” katanya mantap.
“Untuk apa?,” tanya Fely dengan mengerutkan dahinya.
“Karena, lo udah mengajarkan hal yang berarti buat gue! Dan lo Bram. Gue akan berhenti. Meskipun, itu sulit. Setidaknya, gue bisa menjalin hubungan baik dengan orang yang bisa membuka mata gue. Dan, gue harap lo nggak keberatan, Fel.”
Felly pun mengangguk ringan. Kemudian, ia memeluk Riana. Dan, semuanya terpukau saat melihat singa bisa berpelukan dengan kasih sayang. Bagi Pro Techno, saat itu adalah saat untuk pertama kalinya Felly menampakkan sisi manusianya. Menampakkan hatinya yang bersahaja. Serta menampakkan dirinya yang sesungguhnya. Mereka sadar tidak selamanya manusia akan sama. Karena, bumi terus berputar. Dan, manusia bisa berubah setiap setiknya. Entah itu positif, maupun negatif.
Begitu juga kemenangan. Tidak setiap saat kemenangan akan selalu ada di pihak seseorang. Walaupun, orang tersebut telah menjadi seorang jawara. Karena, di atas masih ada Tuhan yang menggerakkan dunia dengan tangan yang penuh kuasa-Nya.

Kekalahan. Yah… kekalahan. Selain kemenangan yang tertunda, kekalahan juga mengajarkan manusia untuk menyadari kesalahan. Yaitu, kesombongan. Hal yang membuat manusia lupa akan kuasa-Nya. Hal yang membuat manusia serakah. Dan, hal yang membuat manusia meremehkan kemampuan orang lain dengan menganggap dirinya sempurna dalam bidang itu.
Padahal, tanpa kehendak-Nya manusia tidak akan memiliki apa-apa. Mengingat, dunia adalah kehidupan yang fana dan penuh dengan permainan. Sama halnya dengan hijab. Banyak orang yang mentupi dirinya dengan hijab. Banyak orang yang menganggapnya suci dengan hijab. Dan, banyak orang yang menutupi keburukan dirinya dengan hijab.

Hijab bukanlah sebuah tudung saji, apabila diibaratkan sebagai tudung saji makanan. Melainkan, hijab adalah penutup aurat dan juga penghalang hati untuk melakukan hal-hal yang mengundang hawa nafsu sytan. Siapa yang mengira, bahwa sytan hanya berwujud dalam makhlus halus? Tidak. Sytan juga bisa berupa dengan hawa nafsu, atupun manusia. Banyak ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sytan. Dan, tidak seharusnya, kita menjadi pasukan sytan.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Fatah Kafah Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Yang Sama

Oleh:
Pagi itu, aku datang dengan terburu-buru. Sampai di kelas, aku buka pintu yang tertutup rapat itu. Dan… BOOOM. Kelas masih kosong. Ah sial, ku pikir sudah terlambat, begitu kiranya

Persahabatan

Oleh:
pagi yang cerah mengawali hariku yang indah. Rara Deviana berekolah di SMP Teladan kelas IX.D mempunyai 5 orang sahabat mereka adalah Gana, Arya, Yulfa, Indra, dan Damar. walaupun mereka

Teman Sempurna

Oleh:
Hari ini, cuaca sedang hujan. Nayla membiarkan rambutnya ditiup angin. Tubuhnya yang sudah dingin itu, tak ia hiraukan. Ia ingin merasakan hujan ini. ‘andai aku bisa melihat hujan’ pikirnya.

Kalung Salibku dan Kalung Tasbihmu

Oleh:
Kuakui, mengenal dia seorang gadis Muslim yang cantik dengan pakaian khas muslimahnya membuatku sedikit meliriknya. Bagaimana dia dengan tutur katanya yang lembut serta pembaannya yang baik dan sopan membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *