Friends

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 March 2018

Cuaca panas yang terik membakar anak anak SD yang sedang pemanasan untuk memulai olahraga. Mulai dari menggerak-gerakkan kepala, tangan sampai kaki. Berbagai keluhan ocehan tak luput dari mulut murid, mereka sudah enggan untuk melakukan hal ini apalagi dilakukan pada siang-siang gini, panas banget.

Aku tak luput menatap nadia, dia adalah temanku sewaktu kecil sampai sekarang. Dia itu baik, cantik dan pintar. Sehingga aku selalu diejek oleh temanku bahwa aku dan nadia itu pacaran sampai-sampai ada yang bicara bahwa aku telah dijodohkan, tapi aku cuek cuek aja.

Setelah jam pelajaran berolahraga seperti biasa saya selalu ngobrol sama nadia tetapi aku lihat seperti ada yang aneh pada nadia
“nad? Kamu kenapa kok tak seperti biasanya, kamu sakit?” tanyaku khawatir
“enggak, aku baik-baik aja” jawab nadia dengan ekspresi seperti ada yang lagi dipikirkan
Aku terus menatap dan berpikir sebenarnya ada apa dengannya.
“vin kamu masih ingat kan janji sahabat itu…”
Aku ngangguk-ngangguk
“kita akan tetap bersama selamanya…”

Obrolan aku dan nadia terhenti karena bel pelajaran baru berbunyi. Aku melihat bu wida berjalan menuju kelas 5, aku segera berjalan menuju bangkuku. Tiba-tiba nadia menahanku. “nanti pulangnya kamu main ke rumahku” ujarnya datar
aku cuma mangguk-mangguk sambil tersenyum tipis.

2 jam pelajaran telah berakhir, bel pulang telah berbunyi “teeet… teeet… teeet..”. Aku dan nadia pulang bareng dengan menaiki sepeda, aku menggunakan sepeda BMX berwarna hitam sedangkan nadia menggunakan sepeda berjenis ontel berwarna biru muda. Seperti biasa kita pulang selalu melalui jalan muter karena pemandangannya lebih bagus dengan hamparan sawah dan perbukitan yang rimbun dengan pepohonan nan hijau.

“kenapa berhenti?” tanyaku sambil memberhentikan sepedaku
“mm.. Kita jalan aja” kata nadia sambil tersenyum
Tanpa basa-basi lagi aku ikuti nadia. Kita berdua mengobrol ngalor-ngidul sambil menikmati pemandangan yang indah.

Tak lama dari itu kita berdua sampai di rumah nadia yang sangat besar berwarna putih. Aku duduk di sofa depan tv menunggu nadia, mungkin dia sedang ganti baju.
“maaf ya tadi aku ganti baju cukup lama” katanya sambil duduk dengan membawa sebuah album foto.
“apa ini?”
“mm aku lagi ingin mengulang tentang kebersamaan kita pada saat itu” ujar nadia
“nad.. Ngomong-ngomong kok rumahmu sepi dan terlihat beres rapi.. mm pokonya berbeda deh.” kataku sambil larak-lirik merhatikan rumah ini yang nampak berbeda.
“mm enggak sih biasa aja” jawabnya

Kita berdua bernostalgia melihat album masa masa kita saat bermain bersama, mengobrol menyanyi pokoknya hal-hal yang konyol. Nadia nampak gembira melihat semua ini sehingga mata ia berkaca-kaca.
“kamu kenapa? Apa kamu baik baik aja?” tanyaku

Tiba-tiba ibu nadia datang menghampiri kita berdua sambil tersenyum.
“nadia? Apa kamu sudah beres semua? Jangan sampai ada yang tertinggal sepeserpun” kata ibunya
Nadia ngangguk-ngangguk

Aku sangat terkejut ketika ibu nadia berbicara kaya gitu sebenernya ada apa sih?
“nad? Ini ada apa sih?” tanyaku penasaran
“ini untuk kamu” kata nadia sambil memberikan album foto dan buku diarynya
“maksud kamu ini apa?” tanyaku lagi
Ia menghirup udara panjang “ma’afkan aku vin, aku tidak bisa bersamamu lagi, aku harus pindah karena pekerjaan orangtuaku tapi berjanjilah untukku kamu akan menemuiku suatu saat nanti” jelas nadia sambil menangi lalu memeluku erat.

Aku tak bisa bicara, aku cuma terdiam, mulutku seperti dibekap hatiku sangat sakit ketika mendengarkan ucapan nadia. Mataku mulai meneteskan air mata “sekarang aku mengerti alasanmu untuk melihat masa-masa indah itu” gumam hatiku sambl membalas pelukan nadia.

“nad? Sekarang siapkan barang barangmu, takut ketinggalan pesawat” ujar ibunya

Aku melepaskan pelukannya sambil berusaha untuk tersenyum. Nadia beranjak dari tempat duduknya, aku masih terdiam duduk meratapi semua ini. Aku mulai beranjak dari tempat duduk dan pergi menuju keluar. Aku terdiam bisu menatap kosong, entah kenapa hatiku sangat berat untuk ini.

Tak lama dari itu keluarga nadia keluar sambil membawa koper dan tas yang digendongnya. Aku berpamitan pada orangtuanya, aku melihat nadia tak henti hentinya menangis aku langsung memeluk nadia “aku berjanji akan bertemu kembali denganmu” ucapku.
Aku melepaskan pelukan darinya sambil berusaha tersenyum “semoga kamu mendapatkan yang terbaik”.
Nadia pun tersenyum sambil melambaikan tangannya dan pergi.

Cerpen Karangan: Ervin Yudhistira
Facebook: Dzulvin Fasan Riyuhaghi

Cerpen Friends merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Untuk Jessica

Oleh:
Bel tanda masuk telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Jessica berlari sekencang-kencangnya menuju kelas. Bunyi derap sepatunya seolah membahana di koridor sekolah yang sepi. Saat tiba di depan kelas,

Bestfriend

Oleh:
Hari ini adalah hari spesial bagi Bennedict Noel yang berasal dari German karena ia akan tinggal di Indonesia dan juga bersekolah disini. Ia tak bisa membayangkan bagaimana dia kelak

Selamat Tinggal

Oleh:
Aku sungguh bersemangat saat ibu berkata bahwa aku harus pindah sekolah. Ini pertama kalinya aku harus pindah sekolah. Bayangkan saja, dari aku TK sampai aku SMA kelas satu, aku

Gerombolan Pocong

Oleh:
Hari minggu santai yang mendinginkan pikiran setelah hari-hari sibuk yang membuat pikiran panas. Pagi itu teguh sedang santainya duduk duduk sambil mendengarkan musik. Dari arah pagar depan datang dua

When I Love That Boy

Oleh:
Di kafe itu, aku meneguk kenangan. Ini cangkir kopi ketiga yang telah kuteguk. Kenanganku, mungkin sama seperti kopi yang hitam dan kelam. Kini semuanya tidak lagi sama seperti dulu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *