Fungus in Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 4 June 2013

Pukul 2.30 PM. Hujan seakan menuntun gue pada suatu tempat yang kadang jadi tumbal PHP angkot cs. Gue ngerasa kayak manusia labil yang lagi long distance transportationship dan galau gara-gara HTS.
“Eh, ada orang!” tiba-tiba seorang cowo muncul dan menakuti gue dengan ucapannya.
“Bukan Bang, gue malaikat pencabut nyawa!”
“Maaf, gue kaget, hehehe…” dia duduk sekitar 60 sentimeter dari posisi gue. “Gue Tabi,” sahut cowo itu sambil minta salaman.
“Nabil,” gue menyambut tangan dingin itu. Gue rada-rada serem, romannya angker banget! Kayak film Twilight gitu, ye? Ahahaha… tapi yang ini gak pantes jadi vampir, gak putih, gak ada tampang elitnya sama sekali. Jalannya kayak Pithecanthropus pengen bunuh diri.

Awal pertemuan berakhir mengenaskan, gue bener-bener gak inget gimana endingnya. Gue punya banyak masalah dengan memori, dan malam ini otak gue perlu charging lebih lama supaya sistemnya gak rusak abis kena hujan, jadi gue mutusin buat tidur lebih awal.

3 minggu kemudian…
Udah tiga minggu ini gue gak tau gimana nasib Tabi, apa dia masih punya semangat hidup atau mungkin udah berjalan lebih tegap mengikuti peralihan Pithecanthropus menjadi Homo Sapiens. Kasihan makhluk kayak dia, tersiksa batinnya, sakit jiwanya sodaranya di sebut-sebut.

Hujan. Dan lagi suatu fenomena cuaca mengantarkan gue pada halte itu. Tiba-tiba, “OI, TABI!!” dia gak nengok dan terus jalan sampe ngilang di balik hujan. Gue yakin gak salah orang, soalnya belum ada cowo angker yang melebihi keangkerannya. Gue makin merasa mistis, tapi, ahahaha… Gak mungkin gue ngomong sama hantu. Gak. Mungkin.

Keesokan malamnya, atmosfer di kamar gue tiba-tiba berubah. Dari balik kabut yang bergumpal-gumpal memasuki kamar gue entah dari mana, muncullah Tabi. “Eh?” gak lucu kedengerannya kalo sekarang gue pipis di celana. ‘Makan tuh ahahaha lo!’ hati ini seolah neriakin kesalahan gue. Ini setan atau apa?! Ini maksudnya apa?!
“Gue bukan setan,” satu hal yang gue tau, gue gak punya indera keenam, namun dua hal yang gue gak tau. Pertama, gue gak tau kalo ada setan bisa baca pikiran manusia, dan ini setan dari Kabupaten mana bisa melakukan itu? Kedua, ternyata setan sama maling itu sama, sama-sama gak mau ngaku siapa diri mereka.
“Gue gak baca pikiran lo, kok.”
“Lo mau maling, ya?” gue mencari asumsi lain yang mungkin.
“Mau maling apa gue?”
“Jadi lo setan apa maling?”
“Bukan dua-duanya, oon!”
“Oh, gue tau…”
“Bukan.”
“Jangan-jangan…”
“Bukan.”
“Pasti maling nih,”
“Arrgh ^:×5%95&+51€÷?*;!?” perdebatan itu belum juga menemui anti klimaks, namun HP gue sudah mencapai titik nol, yaitu nyawa maksimal berbanding terbalik dengan kapasitas otak yang gue gunakan per harinya, lalu hasilnya akan diperoleh jam tidur gue per 24 jam. Intinya, gue ketiduran, dan setelah bangun Tabi udah gak ada.

Di sekolah, gue tenar dengan label sampah, setumpuk daging yang di sebut manusia dengan ide-ide briliannya namun di anggap gila. Gue punya komplotan yang namanya The Power of The Sickness, terdiri dari tiga cewe sesat yang mau aja gue sesatin dan ngakunya juga di bully dengan kata-kata sampah. Termasuk gue, Paris, Pucelle, dan Syahirah. Iya, itu semua merek-merek parfum, tapi emang itu nama-nama mereka.

Suatu hari di hari Sabtu gue cs lagi nongkrong di Kantin Besar. Namanya Kantin Besar karena mata gue normal, kantin itu emang besar. Sekolah gue punya 3 pusat layanan perut, ada Kantin Papa Mon, Kopsis, dan Kantin Besar. Kelas gue berada di lantai paling atas, lantai tiga, dan itu tepat mengarah ke Kantin Besar. Gue harap disana ada flying fox.
“Bil, lo kenal cowo itu?” Paris menunjuk seorang cowo dengan temennya di pojok kantin.
“Mukanya gak jelas. Kenapa?”
“Dari tadi dia liatin lo terus.”
“Oh,” gue orangnya simpel, gak semua hal mesti di respon dengan, ‘ah, masa?’.

Gue kembali menyantap Pop Mie yang masih panas itu, kemudian seseorang mengalihkan dunia makan gue. Dan itu hampir bikin kuah Pop Mie keluar lewat hidung gue saking kagetnya.
“Minum dulu, Bil,” Syahirah menyodorkan segelas air putih sambil menepuk-nepuk pelan punggung gue.
“Gu-gue liat setan yang kemaren gue cerita itu lho!” Syahirah dan yang lainnya menolehkan pandangan mereka ke arah yang gue maksud.
“Maksudnya si Afro?”
“Afro?”
“Iya. Yang item tinggi trus sok ganteng, yang tadi duduknya di pojok,” jelas Paris.
“Anak lokal tetangga yang di seret ke depan waktu kultum Jumat kemaren,” Pucelle menambahkan.
“Lokal tetangga yang mana? X-G?”
“Bukan. X-I.”
“Lo gak pernah liat dia?”
“Kagak.”
“Jadi si Afro itu setan?”
“Tapi setan yang menyelinap ke kamar gue namanya bukan Afro.”
“Si item itu namanya emang bukan Afro, dia cuma mirip Afro aja makanya di panggil Afro.”
“Jadi gak ada yang tau namanya?”
“Mau cari tau? Sebentar!”
Paris beranjak dari kursinya dan melewati Afro yang berjalan seperti keong racun kebelet pup, kemudian balik lagi dan melihat ke suatu titik yang sepertinya bagian nama Afro di seragamnya.
“Namanya…”
“Ya?”
“Ta…”
“Ta?”
“Tabi.”
“Oh, My God!” selama ada kata ‘oh’, gue masih bisa bilang kalo gue ini simpel.

Senam, Sepuluh Enam, atau kata senior gue, Hulupes Mane, yang kalo di balik menjadi Sepuluh Enam. Sebagian penghuninya menganggap kalo kami ini adalah Power Ranger sejak si Lumut bikin nama akun twitternya menjadi Power Ranger Merah, maka jadilah kami Power Ranger Big Family. Namanya Amos, menurut penjabaran temen gue, moss berarti lumut, a moss berarti sebuah lumut, sementara Amos berarti lumutan. Kalo Amos di panggil Lumut, gue juga punya sebutan yang sama ngerinya, Fungus! Berawal dari drama panggung SMP, dimana gue berperan sebagai jamur bernama Fungus. Itu sangat mengerikan!
“Ngus, ada yang nyariin lo!”
“Siapa, Mut?”
“Anak sebelah. Liat aja sendiri!”
“Dimana?”
“Di Taman Cinta,” sekolah gue elit, punya taman besar yang di sebut Taman Cinta. Biasanya jadi tempat tongkrongan gue sama anak-anak kalo Kantin Besar udah tutup. Kalo mau ngerjain senior yang lagi pacaran, disana tempat yang paling cocok buat hasrat tersebut.
“Lo yang mau maling di kamar gue waktu itu, kan?” akhirnya gue tiba di Taman Cinta.
“Udah di bilang gue bukan maling!”
“Kalo gitu lo pasti setan yang mau nyuri di rumah gue!”
“Lo tau astral projection?” ucapnya pelan sambil duduk.
“Eh?” gue juga ikutan duduk.
“Tau, gak?”
“Tau, emang kenapa?”
Astral projection adalah suatu keadaan dimana seseorang keluar dari tubuh fisiknya dalam wujud tubuh yang lebih halus, namanya astral body atau vragel. “Yang lo liat malam itu astral body gue.”
“Oh, yang di halte juga?”
“Enggak.”
“Lo becanda, ya? Apa mau nguji pemahaman gue soal okultisme? Gue udah tau!” gue emang tau, sampe gue hapalin.
“Gue serius, bego!”
“Ada orang yang bisa melihat makhluk di dimensi astral sejak lahir, ada juga yang setelah mengalami mati suri. Manusia biasa kayak gue mana bisa liat vragel!”
“Buat melihat vragel lo perlu membuka chakra keenam, namanya chakra ajna, kalo di Indonesia di sebut mata batin.”
“Gimana caranya kalo gue gak punya chakra ajna?”
“Yang paling gampang adalah melakukan astral projection. Chakra ajna lo akan terbuka otomatis, orang yang melakukan itu biasanya memiliki kepekaan terhadap makhluk-makhluk di dimensi astral. Intinya, lo udah pernah meraga sukma atau yang disebut projek astral.”
“…”

Sekolah pun usai. Gue minta anak-anak buat ngumpul di Kantin Besar.
“Ciee yang terjangkit love in the first sight,” Paris membuka percakapan. Dia melirik gue yang belum pernah mengalami penyakit cinta itu sebelumnya. Rata-rata, gue, Pucelle, sama Syahirah emang belum pernah pacaran, tapi Paris udah, seingatnya itu cuma dua kali waktu SD kelas 6.
“Apaan sih?”
“Udah, ngaku!”
“Eh?”
“Kenapa, Bil?” Syahirah menoleh ke belakang.
“G-gapapa,” ada Tabi di belakang Syahirah, tapi dia gak liat siapa-siapa.
“Gue ketiduran di kelas,” suara itu berbisik di telinga gue. Apa gue emang pernah astral projection?
“Bil, lo yakin gapapa?”
“A-ada barang gue yang ketinggalan di kelas,” gue berlari meninggalkan Kantin Besar. Gue gak tau harus percaya apa enggak, gue merasa seperti mengulang sejarah film Insidious.
“Bil!” gue mendengar suara itu lagi, tepat di depan kelas X5, disana ada seonggok daging yang lagi molor dan astral bodynya.
“Gue inget!”
“Apa, Bil?”
“Dulu gue pernah yang namanya astral.”
“Kok bisa?”
“Gak tau. It just happened.”
“Lo bakal liat yang lebih parah dari ini, Bil.”
“Gue… tapi… gue… gu…” gue diam. Hening. Rintik demi rintik air mata gue mengalir, kemudian menderas layaknya cucuran hujan. Bukan, bukan karena gue inget kalo gue kecil pernah projek astral, tapi ada makhluk super jelek banget di belakang Tabi!
“Bil, lo gapapa?”
“G-gak… pa… pa…” gue berucap lirih dan tertunduk lesu. Gue mencoba mengatur napas sebaik mungkin, tapi tetep aja gak bakalan merubah makhluk itu menjadi Brad Pitt. Gue melirik vragelnya Tabi dan makhluk itu…

Jreeeng~
MAKHLUK ITU SEKARANG BERDIRI DI DEPAN GUE!

Air mata gue menderas. Dan puk!
“Maafin gue, Bil,” pelukan Tabi terasa nyata. Itu bukan vragel karena yang gue tau vragel gak bisa nyentuh.
“Idiot! Idiot! Idiot! Idiot! Idiot!”
“Maafin gue.”
“Gue ghost phobia, Ta.”
“Maafin gue.”
“Ya-yang barusan itu ancur banget! Harusnya lo bersyukur ada yang lebih item dari lo. Ha… ha… ha…” gue mencoba menghentikan ketengangan suasana. “Maafin gue.”
“Ta?”
“Maafin gue.”
“Gue udah gapapa, Ta. Lo gak perlu minta maaf terus.”
“Gue ss…” perlahan Tabi melepas pelukannya.
“Iya?” Tabi membisu dan tak berucap lagi. Akhirnya, kita berdua pulang dengan kondisi sama-sama drop. Sama-sama gak tau mesti ngapain. Sama-sama gak tau arah jalan pulang dan kita pun tersesat, lalu kita terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, dan gue tau itu lirik lagu Butiran Debu-nya Rumor.

Nyampe di rumah gue panik, gue numbuhin jamur di kamar dan gue tau itu gak mungkin, gue panik, trus numbuhin jamur lagi dan ini gila! Gue lupa. Gue lupa apa yang gue lupain! Dan ini parah.

ADUH, GUE NINGGALIN ANAK-ANAK DI KANTIN BESAR!

Besoknya, gue dimuncratin abis-abisan. Gue diem. Gue gak dicontekin ulangan Kimia. Gue diem. Akhirnya, gue menjamur sendirian.
“Sendirian, Bil?” Elnino (yang ngasih label lumut ke si Amos) nyamperin gue.
“Enggak. Sama jamur-jamur gue. Lo gak liat?”
“Hehehe…”
“Lo mesti punya mata tirani buat melihatnya.”
“Oh gitu. Eh, udah ada rencana belum, Bil?”
“Rencana apa, nih?”
“Ya kuliah lah,” gue gak bisa nangkep kalo ada yang ngomong setengah-setengah, apalagi yang ngomongnya Nino. Otak gue sama otak dia itu beda banget! Gue ngomong positif, responnya negatif. Gue ngomong negatif, dia malah ketawa-ketawa kayak orang idiot lagi boker.
“Ah, masih lama. Lo?”
“Maunya Fakultas Kedokteran. Bagusnya dimana, ya?”
“Dimana-mana juga bagus. Kalo nantinya lo jadi dokter, pasien lo gak mungkin nanya lo dari alumni mana, kan? Misalnya, ‘maaf, dokter dari alumni mana, ya? Kalo bukan UI, jangan coba-coba sentuh saya!’, itu pasien bego namanya.”
“Hahaha…” gue dan Nino ngakak-ngakak gak jelas.
“FUNGUUUSS!! Ada yang nyariin lo lagi tuh!” teriakan Amos bener-bener kayak neraka bagi gue. Ketawanya aneh, ada tekanan dan sedikit tersendat, kayak gini, ‘EH. HEH. HEH. HEH’.
“Siapa, Mut? Mana?”
“Tuh, di pintu!”
“Suruh masuk aja! Jamur-jamur gue bentar lagi beranak!”
“Maless…”
“Rempong lo, Mut!”
Di depan pintu gak ada siapa-siapa. Lorong lantai tiga kosong.
“Gak ada, Mut.”
“Coba lo ke X-I, yang nyariin asalnya dari sana.”
“Gak ah, ntar aja,” Tabi, ya?

Paris, Pucelle, dan Syahirah masih ngambekan sama gue. Terpaksa gue pulang sendiri. Emang gak enak dicuekin. Emang gak enak! Usai sekolah gue mutusin nyamperin Tabi di kelasnya. Disana gue juga dicuekin. Entah setan mana yang bikin dia tiba-tiba dingin sama gue.

Besoknya… 1 April, pukul 00.01 AM. HAPPY BIRTHDAY, NABIL! Sahabat-sahabat lo gak mungkin lupa, mereka pasti inget sekarang hari apa.
“Rebo,” ya, mereka lupa!

Lagi-lagi gue pulang sendiri, tapi mampir dulu ke Kantin Besar. Gue menjamur lagi, sekarang anak-anak jamur gue udah makin banyak.
“FUNGUUUSSS!!” gue noleh ke lapangan basket, disana gak cuma si Lumut sama suara-yang entahlah gue mau nyebutnya gimana, tapi juga Power Ranger Big Family. Ini gue mau diapain?!
“FUNGUS, HAPPY BIRTHDAY! WE ARE ALL LOVE YOU, NGUUS!”
“FUNGUS, MAAFIN KITA UDAH DIEMIN LO, YAA?” gue terharu, gue nangis, gue salto, gue gak tau harus lari atau jalan biasa aja, gue pengen cepet-cepet meluk 3 parfum idiot disana.
“OI! Ini cakenya mau di taruh dimana?”
“Ha?” gue tetep lari.
“AWAS, TA! NTAR NABRAK,” dan, BRAAKK! Baru kali ini gue liat ada cake terbang. Indah banget. Sumpah, indah banget mendarat di muka gue!
“Eh, bego! Mata lo pake!” “So-sory, Bil. Muka gue ketutupan kotak cake,” Tabi meringis.
“Tabi?” Paris, Pucelle, dan Syahirah membatu gue berdiri.
“Jadi gini, Bil, Tabi udah cerita soal kalian yang bisa projek astral. Dia minta tolong buat…”
“Nembak lo, Bil.”
“Eh?”
“Nembak, Bil, Nembak!”
“Apa, Ta?”
“NEMBAK LO, DODOL!”
“AHAHAHA… Nembak?”
“Lo…”
“Sorry, Ta.”
“G-g-gapapa, Bil. Gue ngerti, kok.”
“APRIL MOOOP!!”
“HEEH?!”

-END-

Cerpen Karangan: Nadila Aprilianda
Facebook: Nadila Aprilianda
Nadila adalah seorang penulis amatiran, seorang pemimpi yang tidak tau kapan harus berhenti bermimpi, dan seorang siswi SMA yang sedang menjalin HTS bersama ekskulnya. Menulis adalah jiwanya, melakukan projek astral adalah keinginannya yang tertunda.

Cerpen Fungus in Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketukan Misterius

Oleh:
Teett.. suara klakson bus berbunyi karena ada sebuah sepeda motor ugal-ugalan hampir menyerempet bus yang ku naiki. “Huuuhh untung aja gak apa-apa,” celoteh ibu-ibu yang duduk di belakangku. “Iya

Hari Ini, Esok dan Seterusnya

Oleh:
Aku bersembunyi di semak semak, ingin memata matai 2 insan yang telah menyakiti hatiku. Kulihat mereka tengah bercanda tawa dengan gembiranya, wanita yang kucintai bersama pria yang ku benci.

Kecewa Dengan Akhir Bahagia

Oleh:
Aku datang ke sekolah, saat sampai tiba tiba tia datang bersama via dan lisa, tia datang dan langsung mendorongku lalu pergi tetapi via dan lisa menolongku. Aku dan tia

The Dragon’s Tale

Oleh:
Suara itu menggema di ingatannya. Ia yang setengah sadar akhirnya terbangun, mendapati dirinya dalam gelap. Di hadapannya ada sebuah dinding batu yang menguncinya dalam gelap. Kemudian ia teringat akan

Noda Hitam

Oleh:
Lusia bekali-kali mencoba memejamkan matanya, tetapi sepertinya rasa kantuk tidak mencoba menyerang dirinya. Dia mencoba bermain dengan ponselnya berpikir dia akan tertidur, karena biasanya begitu. Tetapi kali ini sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *