Gemerlap Langit Malam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 January 2017

Sinar mentari merekah di sisi timur, kemudian suara ayam berkokok memecah hening. Aku beranjak dari tempat tidur, meski mata ini tak mau terbuka. Aku harus bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

Setelah selesai mandi dan makan, aku bergegas mengambil sepeda baruku. Sebenarnya, aku punya mobil. Tetapi aku tak mau naik mobil hanya untuk berangkat ke sekolah. Lagi pula sekolah hanya dekat dari rumah.

Di jalan, aku melihat seorang anak dengan ibunya yang berjualan koran. aku bertanya-tanya dalam hati. Mengapa ia tidak sekolah? Rasa iba muncul dalam hatiku. Aku menghentikan sepedaku, lalu turun. “Siapa namamu?” tanyaku. “Lila” jawabnya. “Mengapa kau tidak sekolah?” kata-kata kembali terlontar dari mulutku. “Mau bagaimana? Keadaan keluargaku sangat buruk. Ayahku merantau ke ibukota, namun tidak pernah kembali lagi. Aku tinggal bersama ibuku. Dulu, aku bersekolah. Namun, karena tak sanggup membayar SPP, aku dikeluarkan dari sekolah.” jelasnya panjang lebar. Aku merogoh saku, lalu menyodorkan beberapa lembar uang lima ribuan. “Aku mau korannya satu. Kembaliannya kau yang bawa, ya.” Ia pun memberikan korannya padaku. “Terima kasih,”

“Lila, daftarkan dirimu di sekolahku. Ada ujian penerimaan siswa. Sekolahku kekurangan murid. Jadi, dibukalah pendaftaran siswa berprestasi yang baru. Ini kesempatan, La! Jangan ditunda.” Kataku panjang lebar. “Tapi, aku takut… apa aku diterima nanti? Ah, tidak, Anita. Aku tidak berani ikut.”
“Ayolah, kau akan kuajari banyak hal. Kumohon… Aku menjamin kau akan diterima.” Pintaku. Akhirnya, Lila mengangguk tanda setuju.

Sore ini, aku mengajak Lila ke perpustakaan desa. Deretan buku yang tersusun rapi di rak buku dipandangi Lila sejak tadi. Aku pun memilih buku. Kemudian kutemani Lila belajar. Sepertinya, dia pandai. Setiap kata yang dibacanya, langsung dicerna dengan cepat.

Di Hari Minggu, aku tidak bertemu Lila. Ibunya Lila pun tidak ada. Aku tahu, mereka ada di sekolahku. Aku berharap Lila diterima di sekolahku. Semoga saja.

Awan yang semula putih bersih seperti kapas, kini hitam kelam. sesekali terdengar gemuruh. Aku menatap langit. Hujan akan segera turun, dan Aku belum melihat Lila. Aku pun berteduh di bawah pohon. “Brrr… dingin” kataku sembari bersedekap karena kedinginan.

Selang beberapa waktu, hujan pun reda. Awan hitam menyingkir dan sang surya kembali bersinar. Aku bergegas mengayuh sepeda dan pulang ke rumah. Aku menemukan sepucuk surat di depan pintu. Lalu kupungut surat itu dan kubawa masuk. Aku akan membukanya nanti.

Aku langsung mengunci diri di kamar. Aku diam sejenak, duduk di dekat jendela, merasakan semilir angin yang berhembus.

Matahari mulai condong ke barat, semburat cahaya oranye kemerahan pun menghiasi angkasa. kulangkahkan kaki menuju taman. Aku duduk di antara hamparan rerumputan. Senja yang indah dan cocok untuk bersantai. Tak lupa, surat tadi kubawa. Deretan tulisan yang rapi mulai kubaca.

Anita, kau adalah teman terbaik yang pernah kukenal. Kau sangat baik, bahkan pada hewan sekalipun. Kau tahu? Kucing yang pernah kau beri makan itu milikku.
Aku sangat beruntung dapat mengenalmu. Tanpamu, mungkin keadaanku tak sebaik ini. Kau pula yang mengajariku menulis surat seperti ini.
Terima kasih sudah melakukan kebaikan yang amat berarti untukku. Dan kau akan lihat apa yang terjadi besok. Sampai jumpa…
Salam hangat,
Lila

Aku tak menyangka yang menulis surat ini Lila. Aku bangga padanya.

Keesokan harinya…
kriiingg… Bel masuk sekolah telah berbunyi. Seluruh siswa duduk di bangku mereka masing-masing. Tak lama kemudian, Bu Rita datang dengan seorang murid baru. Matanya bulat dan kecokelatan. Rambutnya yang hitam legam dikepang dua. Pakaiannya rapi. Terlukis segaris senyum tipis di wajahnya. Yang kuketahui, dia … Lila! Ya, Lila. Penampilannya sangat bagus hari ini.

“Halo teman- teman… namaku Laila Aningtyas. Kalian bisa memanggilku Lila. Emm.. rumahku tidak jauh dari sini, kok… Aku kemari jalan kaki saja, dan aku…”
“Hei… kenapa kau tidak mengatakan alamat rumahmu yang jelas? Kenapa mesti disembunyikan? Jelaskan juga tentang orangtuamu! Masa berkenalan saja tidak bisa.” ujar Sasa memotong pembicaraan.
Bu Rita menyahut, “Sudahlah, Sasa! Diam! Hargai temanmu bicara.”
“Lila, silahkan duduk di sebelah Anita.” perintah bu Rita. Lila pun menuju bangkuku.

“Lila, akhirnya kau diterima!” ujarku kegirangan. Ia mengangguk, lalu menceritakan semuanya. Aku terharu.
Hari demi hari kami lewati bersama. Suka dan duka pun selalu kami alami.
“Halo, Anita yang baik. Hihihi… Eh iya. Boleh aku ngomong sesuatu? Boleh, kan? Emm.. kamu kok sekarang makin akrab aja sama murid baru itu? Kalo aku sih, ogah.” Kata Sasa.
Aku menghela nafas, lalu berkata, “Sasa, berteman tidak memandang penampilan ataupun kedudukan. Yang terpenting adalah kebaikan dan ketulusan…”
“Uuhh, ya sudahlah. Aku pergi dulu. Bosen.” Sasa pun bergegas meninggalkanku. Ia nampak kesal dengan penjelasanku tadi.

“Tidaaakk… uangku hilang! Siapa yang berani mencuri uangku?” teriak Sasa. Teman-teman segengnya datang dan menanyakan apa yang terjadi. “Pasti murid baru itu! Berani betul.” Aku yang mendengarnya langsung menghampiri mereka. “Tidak. Tidak mungkin Lila yang mencuri! Aku kenal dia sejak lama. Jangan sembarang tuduh dong! Mana buktinya?” aku membentak mereka. Tidak mungkin Lila yang mencuri. Sasa hanya tersenyum sinis kepadaku.
Tiba-tiba, aku melihat Lila keluar dari ruang guru. “dari mana kau, Lila?” tanyaku. “Aku dipanggil Bu Rita. Aku dituduh mencuri, Anita. Sungguh, aku tidak melakukannya. Untuk apa?” jawab Lila yang menangis sesenggukan. Aku menenangkannya. Aku bergegas ke ruangan Bu Rita untuk menyelesaikan masalah ini.

Akhirnya, masalah selesai. Sasa sengaja melakukan ini. Ia iri pada Lila yang sangat pandai. Sasa dihukum Bu Rita karena melakukan tuduhan sembarangan.

Persahabatan kami makin erat. Ke manapun, kami selalu bersama. Berbagi cerita, berbagi ilmu. Sangat menyenangkan. Aku tak ingin melupakan seluruh hari bersamanya.
Orangtuaku turut membantu Lila dan ibunya dalam ekonomi.

Lila sangat cerdas. Ia berhasil lolos Olimpiade Matematika dan meraih juara 1. Besok, ia harus berangkat ke Bandung untuk dikarantina dan diseleksi. Aku turut senang, namun aku juga sedih. Aku akan kesepian nantinya.

Hari ini Lila akan membuktikan bahwa prestasi tak memandang derajat dan penampilan seseorang. Ia akan mengharumkan nama sekolah, keluarga, serta sahabatnya di tingkat nasional. Begitu katanya. Aku hanya bisa berdoa semoga Lila membawa kesuksesan nantinya.

Aku mengantar Lila menuju bandara. Suara bising dari pesawat memekakkan telinga. Kami berjalan di antara lautan manusia. Suasana yang ramai. Ah, sebentar lagi pesawat yang akan dinaiki Lila berangkat. Sedih rasanya ditinggalkan. Sudahlah, hanya sebentar kan?

Pesawat yang dinaiki Lila mulai melayang di udara. Kulambaikan tangan padanya. Perlahan, bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Lila. Rasanya belum lama aku mengenalnya. Tetapi, jika aku jauh darinya, hati ini terasa kesepian.

Telah genap satu minggu aku berada di tempat ini, di kota Paris van Java. Aku telah melihat betapa indahnya kota ini. Sungguh, ini yang pertama kali dalam hidupku. Aku berada di tengah kota besar seperti ini. Banyak kutemukan gedung yang menjulang tinggi seakan membelah langit. Ah, kalau saja sahabatku Anita ada di sini. Ia pasti senang. Sayang sekali, aku tak bisa mengajaknya.

Peserta olimpiade dipersilahkan masuk ke dalam hotel. Ya, hotelnya mewah sekali. Bagaikan istana. Namun, saat berada di dalam hotel, rasanya dingiiin sekali. Aku pun mengenakan jaket pemberian Anita. Hm… rupanya ada alat pendingin di sini. Apa ya namanya? Satu hal lagi yang membingungkan. Ada alat yang membawa orang naik turun. Dari lantai satu, jadi di lantai dua. Begitulah … Apa ada sihir transformasi di sini? Maklum, aku belum pernah berada di tempat seperti ini.

Mungkin satu hari terasa sangat cepat bagimu. Namun, bagiku satu hari terasa seperti setahun. Kapan kau kembali? Ayolah, aku sudah tak sabar lagi bertemu denganmu. Masih harus menunggu berapa lama? Aku sendirian di sini. Apa kau bisa merasakan yang kurasakan?

Aku akan datang, Anita! Kau akan kuberi kejutan. Sebuah hadiah atas kebaikanmu selama ini. Aku harap kau senang. Kuharap kau tak marah padaku karena aku pergi terlalu lama. Semua yang kulakukan ini demi dirimu juga. Bersabarlah! Aku akan datang.

Malam ini sangat indah. Rembulan memancarkan sinarnya, seolah-olah tersenyum padaku. Ribuan bintang bertaburan di langit hitam. Suasana pun menjadi ramai. Malam itu pula, ia datang. Aku melihat medali emas terkalung di lehernya. Ia menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang dengan hiasan pita pink di tengahnya padaku. Ternyata, isinya boneka kelinci yang super imut! “Terima kasih,” ucapku. Lila pun menunjukkan senyum manisnya. Kami berpelukan di bawah gemerlap langit malam.

SELESAI

Cerpen Karangan: Talitha Vania Sasikirana
Blog: talithavania03.wordpress.com

Cerpen Gemerlap Langit Malam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bukan Sahabatmu Lagi!

Oleh:
Pagi yang cerah,mengawali hariku yang indah.kurasa dunia ini hanya milikku dan milik sahabatku.Aku Resya Adinata.aku sekolah di SMP Putra Bangsa.Aku duduk di kelas VII A.aku punya sahabat namanya Belva,Yani,n

Kembalinya Seorang Sahabat

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 06:00 wib pagi, alhamdulillah selesai juga. Kataku sambil merenggangkan tubuhku, setelah selesai belajar diniyah pagi. Aku adalah seorang santri di sebuah pondok pesantren di daerah jawa

Arti Sebuah Kejujuran

Oleh:
Di sekolah ternama, ada enam siswi yang bersahabat yaitu Rena, Lia, Desy, Unez, Dinda dan Vony. Mereka sekarang duduk di kelas 9. Suatu hari mereka sedang disibukkan dengan tugas

Best Friend Forever

Oleh:
Mentari pagi belum juga muncul. Maklum jam masih menunjukkan pukul 05.00 WIT. Jam alarmku berbunyi makin kuat, sepertinya ia tak sabar membangunkanku. Segera aku bangun dari tempat tidur lalu

Antara Masalah Dan Kebersamaan

Oleh:
Hidup… Selalu saja ada masalah dan rintangan yang biasanya menghalangi kita untuk berbuat sesuatu. Terkadang masalah datang silih berganti. Dan jika masalah telah datang, kita tidak bisa menunda masalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *