Gone

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 January 2016

“Tiara Ananda Putri?”
“Tiara Ananda Putri?”

Aku tersentak begitu Kevin menepuk pundakku dari belakang. Hingga aku menoleh dan melihat ke arah Bu Clara yang tengah duduk di depan kelas. “Tiara, Ibu memanggil nama kamu sejak tadi. Dan kamu tidak mendengar? Kamu selalu melamun akhir-akhir ini. Hingga kamu mulai ketinggalan pelajaran dan nilaimu semakin menurun. Karena kelakuan kamu yang sekarang mungkin saja kamu tidak akan mendapatkan ranking kelas seperti biasanya.”

Aku hanya terdiam mendengar ocehan Bu Clara di depan sana yang terus mencoba menasihatiku. “Kamu mengerti?” Aku hanya mengangguk pelan. Ibu Clara kembali mengabsen seluruh nama anak-anak di kelas. Aku kembali melamun. Namun tanganku berhenti bermain di atas meja ketika aku mendengar namanya kembali. Hatiku berkecamuk dan rasanya hancur.

“Vino Rifqi Al Ghifari?”

Tak hanya aku yang terdiam. Semua murid pun begitu. Mereka mulai menatapku dengan tatapan iba.
“Astaga!” Bu Clara menepuk dahinya sendiri. “Maaf, Ibu lupa.” Ibu Clara mengambil pulpen di tasnya dan mulai mencoret nama Vino dari buku nilainya.

Namun apa daya. Aku telah mendengar namanya kembali. Semua anak masih menatapku dengan tatapan yang sama.
“Yang sabar, Ti.” Aku hanya mengangguk mendengar ucapan Kevin. Aku menoleh untuk melihat bangku di sampingku yang telah seminggu kosong. Yang kini di tempat duduknya hanya dipenuhi bunga taburan dan setangkai mawar yang sudah mulai semakin layu.

“Vin..”

Aku kembali menitikkan air mataku jika mengenangnya kembali. Mengenang kenangan yang ada di saat dia masih di sini. Aku tak peduli dengan tatapan semua anak di kelas. Yang pasti mereka mengerti mengapa aku menangis. Aku ingat hari itu. Hari dimana aku mengutuk diriku sendiri atas apa yang telah ku perbuat. Hari dimana aku kehilangan dirinya, orang yang seharusnya paling berarti di hidupku. Saat itu aku dan Vino bertengkar hebat.

“Lo tahu kan kalau gue satu kelompok sama dia? gue sengaja bawa dia ke sini. Gue mau ngomongin masalah presentasi kelompok gue, Ti.”
“Tapi kenapa harus di sini? gue nggak suka dia ke sini. Lo sama aja udah ngelanggar janji kita!” Aku terus berteriak dan terus menyalahi Vino. Padahal di balik semua itu aku merasa cemburu.

“Ya udah, kan gue udah minta maaf.”
“Ini ada apaan sih? Kok ribut kayak gini?” Kevin yang baru datang bingung dengan perdebatan di antara aku dan Vino. “Ini nih, si Vino. Kita pernah buat perjanjian kan? Nggak ada yang boleh ke rumah pohon ini kecuali kita bertiga. Saudara gue aja ke sini langsung gue suruh pulang. Tapi dia apa? Dia malah bawa Dara ke sini.”

“Bener, Vin?” Kevin berdecak pelan. “Panteslah kalau Tiara marah.”
“Kenapa sih lo pada nggak suka banget sama Dara?”
“Bukannya nggak suka, Vin. Lo udah ngelanggar janji.”

“Ya gimana gue nggak suka. Lo aja lebih mentingin dan ngeduluin urusan Dara daripada urusan kita bertiga. Lo berubah semenjak Dara masuk ke kelas kita. Lo suka kan sama dia?” Aku bertanya dengan nada tinggi dan itu membuat Vino sedikit marah.
“Iya gue suka sama Dara. Terus kenapa? Ada masalah sama lo? lo bukan siapa-siapa gue kan?”
“Vino!” Kevin yang mendengar ucapan Vino sontak terkejut dan membentak Vino. Begitu pun aku. Hatiku seperti telah ditusuk beribu jarum. Tanpa sepatah kata pun aku segera pergi menuruni tangga dan berlari sejauh mungkin.

“Ah! Elo sih!”
“gue kebawa emosi. Jadinya gini kan.” Vino mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Pusing gue!” Kevin pergi meninggalkan Vino dan segera menyusul kepergianku. Vino berdiam sejenak lalu ikut menyusul Kevin.

Aku mengambil batu kerikil di sekitarku begitu tiba di danau yang tidak jauh dari rumah pohon. Dengan air mata di pelupuk mataku, aku melempar satu per satu batu itu ke danau. “Segampang itu lo ngomong?” Aku kembali melemparkan batu itu ke danau sambil menangis terisak. “Lo pikir gue nggak sakit?”
“gue suka sama lo, Vin!” Entah apa yang sedang aku pikirkan, kalimat itu meluncur dengan bebas dari bibirku yang bergetar. Aku terjatuh dan menangis dalam lipatan tangan yang ku buat.

Vino dan Kevin yang baru tiba di belakangku sontak terkejut ketika mendengar kalimat terakhir yang aku teriakan. Vino dan Kevin memandang satu sama lain. Saling bertanya dalam diri mereka masing-masing. Akhirnya aku menyadari adanya kehadiran Vino dan Kevin di belakangku. Aku pun menyadari bahwa kalimat terakhir yang aku lontarkan terdengar oleh Vino dan Kevin karena sedari tadi mereka hanya mematung dan tidak mengatakan sepatah kata pun.

“Ti..”

Aku membalikkan badan dan menyembunyikan wajahku yang kini memerah karena merasa malu karena kelakuan bodoh yang telah ku perbuat. “Jadi bener?” Aku tidak menggubrisnya.
“Ti, gue serius. Bener ucapan lo tadi?” Lagi dan lagi aku tidak menjawabnya.
“gue cuman nganggep lo sebatas sahabat. Nggak lebih. Dan gue cuman mau kita sahabatan terus. Sampai nanti kita dewasa. Jadi maafin gue kalau mengabaikan perasaan lo.”

Aku berlari meninggalkan danau. Vino pun terus mengejarku tanpa mengenal lelah. Kevin tetap diam di tempatnya tak berkutik. Aku berlari hingga ke jalan besar. Vino panik begitu aku menyeberang tanpa melihat ke sekitar. Suara klakson terus berbunyi. Orang-orang berteriak dan memaki. Namun aku tetap berjalan. “Tiara, tunggu!!” Baru saja Vino berteriak tiba-tiba sebuah truk menghantam tubuhnya dari samping. Jeritan Vino membuat aku menoleh dan menutup mulutku yang terbuka lebar begitu menyaksikan kejadian yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

“Vino!!” Aku berlari menghampiri tubuh Vino yang tengah terbujur kaku. Darah kini ikut mengotori seragam yang aku kenakan. “Vino.. bangun..” Aku hanya bisa menangis sambil sesekali berteriak meminta tolong.
“Tiara! Vino kenapa? Jawab Tiara?” Kevin yang baru saja tiba terkejut melihat tubuh Vino yang kini tak bergerak sama sekali. Namun aku hanya terus menangis dan memanggil-manggil nama Vino hingga semua orang mulai mengerubungi kami.

Saat ini yang aku tau hanya menangis. Tapi ada kata lain saat itu di pikiranku, menyesal. Seandainya aku tidak bertingkah seperti ini pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Aku terlihat sangat bodoh. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Aku hanya mematung menyaksikan tubuh kaku Vino yang telah dimasukan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Seperti ada yang membungkam mulutku. Aku merasa bersalah.

“Tante, aku minta maaf.” Aku menghampiri Mama Vino dan memeluknya.
“Udah, sayang. Ini semua takdir dari yang di atas. Bukan salah kamu.” Aku berjalan menghampiri batu nisan Vino dan memeluknya. Lalu aku mengambil bunga dan mulai menaburkannya di atas tanah dan menyiramnya dengan air berbau bunga. Aku kembali memeluk batu nisan Vino sebelum aku harus pergi meninggalkan tempat yang aku sesali ini.

“Gue sama Kevin janji nggak akan pernah ngelupain lo, Vin. Gue sayang sama lo.”

Ini langkah terberat dalam hidupku. Tapi aku harus pergi. Perlu Vino ketahui, aku sangat tak ingin pergi dan meninggalkannya sendirian di tempat peristirahatannya yang terakhir.

Cerpen Karangan: Rana Maheswari
Facebook: Rana Maheswari
Hai namaku Rana Maheswari. Aku seorang siswi di salah satu SMP Negeri di Jakarta Timur. Aku sering mengikuti lomba menulis. Semoga karyaku ini dapat diterima oleh para pembaca.

Cerpen Gone merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Class Sweet Class

Oleh:
Angin kencang melanda bulan Oktober. Bagi kami yang tak dapat menikmati tidur siang di rumah, hal ini menjadi sangat menyebalkan. Berbagai macam raut sebal, bosan, jenuh, ngantuk dan malas

Hadiah Ulang Tahun

Oleh:
Beberapa hari menuju hari ulang tahun, aku sudah mendapatkan hadiah lebih awal. Tidak. Kali ini hadiah yang kuterima lebih berbeda dan menarik dari biasanya. Yaitu seorang sahabatku, Dianita, yang

Emerald Story (Awal Dari Segalanya)

Oleh:
Di sebuah desa bernama Cilebak, Bandung. Ada anak yang bernama Anggia Hanafi Pratama murid SD kelas 2B di SDN Rancamanyar 2 memulai kehidupannya. “Anggi! Bangun! Sekolah!” ibuku berteriak “Huh…!?

Sebuah surat terakhir sahabat ku

Oleh:
Aku hanya melamun saat berjalan menuju kelasku. Dengan tiba-tiba aku melihat Angel sedang merundukkan kepalanya, sepertinya dia sedih. “Angel, kamu kenapa?” tanyaku. “Gak apa-apa Kak, aku cuma sedih menunggu

Sebuah Harapan

Oleh:
Namaku Dania Fyaniera. Biasa dipanggil Dania. Aku bersekolah di SMA favorit yang ada di kotaku. Tapi, bagiku sekolah favorit atau tidak bukan menjadi yang utama, hal yang paling penting

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *