Good Bye Winter

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 28 July 2018

Putih. Sejauh mata memandang hanya terlihat putih. Gumpalan salju bekas badai semalam masih menyisakan angin dingin yang menusuk kulit.

Di pagi tanpa mentari yang tersenyum bukanlah hal suram bagi orang-orang di daerah pegunungan ini. Mereka berlalu lalang melakukan aktivitas biasa di musim dingin dengan pakaian yang lebih tebal.

Menyapa dan menyalami sebagai awal pembuka aktivitas adalah kebiasaan masyarakat di sini.

“Selamat pagi, Amora. Mau mengunjungi makam ibumu lagi?” Seorang wanita pembawa kayu bakar berjalan dengan pakaian musim dinginnya.
“Iya, bu. Badai semalam mungkin membuat nisannya tertimbun lagi.” Amora membenarkan sepatu bootnya dengan mengetuk-ngetuknya ke tanah.
“Baiklah. Semoga harimu menyenangkan.” Wanita itu kembali berjalan kali ini dengan tersenyum.

Amora menunduk, memperhatikan jalannya. Ia menuruni jalan jalan dengan berhati-hati. Sendirian.

Tidak ada lagi, Neko. Kucing kesayangan Amora yang sudah 2 tahun menemaninya melalui hari yang panjang. Dua minggu lalu, kucing anggora itu tak sengaja tertabrak mobil pembersih jalan dari salju. Setelah kejadian itu, Amora syok berat.

Keluarganya telah lama meninggal akibat tertimbun salju ketika hendak turun ke kota membeli keperluan untuk mempersiapkan musim panas.
“Selamat pagi, Ibu. Apa ibu baik-baik saja?”
Suasana pemakaman itu tampak seperti lapangan putih.
Jika bukan karena Amora hafal persis letak jalan dan makam Ibunya, mungkin ia akan membersihkan makam milik orang lain dan menginjak-injak nisannya. Tidak ada orang yang mengunjungi pemakaman di musim dingin yang sangat dingin. Amora adalah yang pertama. Matanya memandang sekeliling. Terlihat guratan kesedihan memancar di matanya.

“Aku ingin menemui ibu, ayah, kakak dan semuanya. Ibu biarkan aku menyusulmu.” Suaranya gemetar menahan tangis. Tanpa sarung tangan tebal, Jari jarinya telaten menggeser-geser salju hingga nama Ibunya terlihat kembali. Kali ini ia kembali menangis. “Aku kesepian di sini bu. Aku ingin teman di musim dingin yang bisa menemaniku membuat boneka salju.” Tangisannya semakin keras. “Aku tidak butuh orang yang hanya menanyai keadaanku tanpa tahu suara hatiku. Aku ingin bersama ibu.” Amora tergeletak disamping makam ibunya. Tangannya mengelus-elus nama ibunya. Hatinya ingin sekali menjerit. Tak akan ada yang tahu suara gadis 13 tahun di tengah salju di pemakaman yang sepi.

“Jangan menangis. Aku akan menjadi temanmu.” Sebuah tangan terulur dengan lembut. Amora meraih tangan itu dan kembali berdiri. Ia menatap lamat-lamat seseorang yang kini berdiri di hadapannya.
“Namaku Salju.”
Amora tersenyum bahagia. Ia memeluk seorang ‘teman’ di depannya dengan erat. Salju gadis yang manis. Rambutnya hitam sebahu. Ia memakai pakaian musim dingin dengan syal merah di lehernya.

“Ayo membuat boneka salju.” Salju menarik tangan Amora. Lembutnya tangan salju di hari itu telah melepas lilitan tali kuat yang menyarang di hati Amora. Hatinya yang sebelumnya kaku keras dan sedingin es telah mencair perlahan bersama datangnya Salju. Teman menyenangkan di musim dingin yang membuat setiap detiknya menjadi berharga.

Salju tidak pernah bercerita tentang tempat tinggalnya. Setiap Amora bertanya ia hanya akan tersenyum dan menjawab ‘rumahnya ada di tempat yang jauh’ dan percakapan itu akan berakhir. Amora bukan gadis ambisius yang penasaran akan banyak hal. Ia selalu mengangguk mengerti atas jawaban Salju yang misterius. Setiap hari, mereka akan bermain-main dan menyudahi permainan saat hari mulai gelap. Amora akan kembali pulang ke rumahnya, sementara Salju akan menunggu Amora sampai menutup pintu rumah lalu ia akan pergi entah kemana.

Hari ini mereka membuat boneka salju dan bercerita akan banyak hal. Berdasarkan hitungan hari, Musim dingin akan berakhir sebentar lagi. Mungkin lusa matahari yang hangat akan datang kembali dan musim semi yang cerah akan menghiasi aktivitas masyarakat.

“Salju, sebentar lagi musim dingin akan berakhir. Apa kamu tidak khawatir dengan boneka salju ini? Ia bisa mencair.” Amora membentuk gumpalan-gumpalan untuk bagian kepala boneka salju. “Tidak. Semuanya memang ditakdirkan untuk tidak abadi. Sebentar lagi, aku juga akan pergi. Pergi ke tempat yang sangat jauh. Entahlah kapan aku akan kembali yang pasti jangan mencariku.” Salju terfokus pada ranting untuk bagian tangan boneka salju. “Kenapa harus pergi? Aku ingin melewati musim panas nanti bersama Salju.” Amora mulai berkaca-kaca. Salju di tangannya tumpah, jatuh berhamburan. “Jangan menangis Amora. Amora punya banyak teman. Nanti, Amora harus janji. Amora harus punya teman. Amora tidak boleh lagi menangis di pemakaman, ya.” Amora mengangguk. Salju tersenyum. Boneka salju di hari itu berakhir dengan kesedihan yang menananti. Amora menatap Salju. Gadis teman pertamanya setelah semua keluarganya tiada. Teman bercerita dan membuat boneka salju yang seumuran dengannya.

Dua hari kemudian.
Salju mulai mencair. Matahari telah mulai menyinari tempat tinggal Amora. Pakaian tebal musim dingin kembali disimpan untuk keperluan tahun depan. Amora menatap keluar dari jendela kamarnya. Salju sekarang pergi. Benar benar pergi ke tempat yang jauh. Dalam hati dia telah berjanji dia akan berteman. Dia tidak akan menangis lagi di pemakaman. Dan dia akan melewati musim panas kesukaannya dengan banyak teman kesayangannya.

Mulai menyukai musim dingin dengan salju putih favoritnya menjadi kebiasaan bersama teman barunya. Setelah dewasa, Amora baru saja menyadari. Salju bukanlah gadis biasa. Ia adalah gadis yang dikirimkan untuknya hanya untuk menemaninya di musim dingin tepat 5 tahun setelah kematian keluarganya.

Cerpen Karangan: Salsabila Nur Aulia
Blog / Facebook: Salsabila NA

Cerpen Good Bye Winter merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Yang Sama

Oleh:
Pagi itu, aku datang dengan terburu-buru. Sampai di kelas, aku buka pintu yang tertutup rapat itu. Dan… BOOOM. Kelas masih kosong. Ah sial, ku pikir sudah terlambat, begitu kiranya

Musuh Dalam Selimut

Oleh:
Namaku Liza. Aku mempunyai sahabat bernama Deva. Kami sangat akrab dan dekat. Saking dekatnya, kami sampai-sampai satu rumah. Rumah kami adalah rumah sederhana yang berharga 10.000.000,00. Uangnya adalah hasil

Tragedi 101

Oleh:
Di ruangan 4×4 M yang bergaya vintage, terlihat seorang gadis indigo berambut sebahu Sedang duduk termenung di sebuah sofa merah yang mengarah langsung ke jalan yang menjadi Pusat kota

Semenjak Ada Dia

Oleh:
Kalian masing-masing pasti mempunyai sahabat. Entah itu laki-laki atau perempuan, entah berapa banyaknya, satu atau dua, entah berapa jauh jarak umurnya dibandingkan kalian. Sahabat, satu kata yang bermakna bagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *