Gugurnya Bunga Layu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 February 2016

Kumbang yang pandai itu kini telah terperangkap oleh sebuah bunga yang sesungguhnya indah. Hanya kumbang beruntung itu saja yang mengetahui keindahan luar biasa yang dimiliki oleh bunga tersebut. Kumbang dan bunga itu hidupnya kini sangat bahagia. Sang bunga terus tumbuh kian cantik setiap harinya, begitu pula dengan sang kumbang yang tak ingin meninggalkan rumah kecil sederhana itu, di mana sang bunga tertanam di sana. Sang kumbang hanya meninggalkannya untuk saling bersapa dengan makhluk lain di luar sana dan sekedar mencari madu.

“Rumah ini bagaikan surga untukku. Semenjak aku membawa bunga dari kampung Pager itu. Tak ku sangka sekarang baunya bertambah harum, juga semakin indah ku rasa. Aku tidak salah membawanya, karenanya banyak orang yang mengiri padaku.” Ucap Rosyid sambil menyeduh teh hangat buatan istrinya pagi itu. Sekilas ia melirik pada wajah istrinya yang tersenyum bahagia. “Ayah yang terlalu pandai memilihnya, atau mungkin bunga itu terlalu beruntung saja.” Sahut istrinya.

“Karena aku yang terlalu pandai, inilah hasilnya mengapa Ayah dan Ibuku dulu menamaiku Rosyid, ternyata ada maksudnya. Bunga itu sangat berharga, tolong jaga keindahannya dan agar ia tetap harum ya Bu.” Pinta Rosyid pada istrinya. Sorenya, mereka berkemas-kemas memasukkan perlengkapan yang akan dibawa mudik esok hari. Mereka akan cuti mengabdi untuk sepekan sebelum dan pasca hari Raya Idul Fitri nanti. Selain mengunjungi kerabat, juga akan memenuhi undangan buka bersama di SMA tempat Rosyid menimba ilmu dulu.

Saat masa remaja, Rosyid adalah pemuda yang aktif di berbagai organisasi juga pandai di Sekolah. Meskipun ia berasal dari keluarga yang jauh dari kecukupan, tapi ia memiliki kemauan keras untuk belajar. Malangnya, ada yang lebih pandai sehingga menjadikan halangan terberat bagi Rosyid untuk mencari gratisan. Jadinya ia harus membayar uang sekolah sebab tidak berhasil memperoleh beasiswa. Satu-satunya siswa yang bisa mengalahkan Rosyid hanyalah Hadid.

“Aku hanya kalah nasib saja, seandainya aku punya beberapa buku lebih dan fasilitas meskipun sederhana, tidak semewah dan semahal punya Hadid, kemudian kesempatan untuk mencari pembelajaran selain dari sekolahan, aku sudah pasti lebih hebat dari Hadid. Dengan keadaanku yang seperti ini saja aku sudah mampu menyainginya meski hanya di nomor dua. Kalau saja aku lebih beruntung sedikit, dua, lima atau bahkan sepuluh orang macam Hadid yang ada di luar sana pasti bisa aku kalahkan.”

Di masa SMA itu terkisah banyak cerita di antara keduanya. Puncak cerita yang sesungguhnya muncul saat mereka berada di kelas 3. Kelas mereka terletak di lantai dua.
“Lihat bunga-bunga itu, manakah menurutmu yang lebih indah, Syid?” Sudah menjadi kegemaran Hadid untuk tidak melewatkan pemandangan indah setiap kali mereka melintasi lantai satu.
“Semuanya indah tapi belum tentu harum.” Jawab Rosyid. “Aku lebih menyukai bunga yang harum.” Lanjutnya.
“Ternyata kau juga suka bunga ya? Aku baru kali ini mendengarnya langsung dari mulutmu.”
“Memangnya cuma kau saja yang suka bunga.” Hadid tertawa saat kalimat itu terlontar dari mulut Rosyid.

Memang tahun itu bunga di SMA mereka lebih indah daripada bunga-bunga di tahun sebelumnya. Itulah yang disayangkan oleh mereka sebab tidak lama lagi akan meninggalkan sekolah itu. Apakah selanjutnya mereka akan melihat bunga seindah yang ada di sana. Apalagi di lantai satu, tempat kelas murid tahun ajaran baru. Di sana bunga-bunganya sangat indah. Hadid sang bintang sekolah, pandai, tampan serta segala kelebihan lain yang seakan ia adalah pemuda sempurna waktu itu. Tidak ada yang tak tahu siapa dia. Suatu hari, banyak yang merasa heran terhadapnya. Seringkali Hadid membawa bunga yang kata orang lain bunga itu bunga layu. Banyak bunga-bunga indah di sana kenapa yang dia bawa adalah bunga yang begitu biasa.

“Hai, Zahra. Kau tahu kenapa Hadid sering bersama bunga itu? aku kira dia menyukai jenis bunga seperti yang sering dibawanya.” Ucap Rosyid pada adik kelasnya. Yang kini mulai akrab dengan Rosyid dan Hadid. “Benarkah itu Mas? Menurutku itu tidak mungkin. Adakah kumbang yang menyukai bunga biasa seperti itu. Jawabnya tidak. Dan orang berkelas seperti Mas Hadid pun seleranya juga pasti tinggi.” Jawab Zahra.

“Terkadang orang memiliki penilaian lain dari sudut pandang yang berbeda.” Zahra tersenyum mendengarnya. Lalu, setelah itu, Rosyid meninggalkan Zahra bersama dengan ia melihat Hadid lagi, mengambil bunga yang sama. Sebagai teman yang paling dekat, Rosyid sendiri masih belum paham. “Apa Hadid mengetahuinya? Ternyata hatinya tajam juga.” Dalam kesempatan itu, mereka berbicara hanya empat mata. Terlihat lebih serius dari biasanya. Kali ini pembahasannya bukan mengenai pelajaran sekolah, tetapi tentang kebiasan Hadid dan bunga yang dibawanya.

“Bunga itu memang terlihat begitu biasa bahkan kadang agak layu.” Rosyid menunjuk ke depan kelas Zahra. Di sana berjejer banyak bunga warna-warni, indah dan tak jarang beberapa kumbang bertaburan terbang lewat di antara bunga-bunga itu. “Tapi sesungguhnya begitu harum, jika dilihat betul-betul, ternyata bunga itu semakin cantik.” Jari Rosyid mengarah pada salah satu bunga seperti yang sering dibawa oleh Hadid.

“Tidak menurutku. Memang harum tapi tetap layu. Yang kau lihat apanya, Syid? kenapa bisa kau katakan cantik? banyak bunga seperti itu di rumahku.”
“Jadi ternyata, untuk apa kau sering membawanya?”
“Oh itu. Sebab bunga itu sangat membantuku. Baunya benar-benar harum. Bunga itu dapat meringankan urusan pelajaranku. Bisa jadi aroma terapi saat aku pusing dengan pelajaran-pelajaran yang membosankan. Lagi pula bunga itu sudah seperti jimat untukku.”

“Kau sudah gila percaya pada bunga seperti itu?”
“Tidak, aku masih waras. Aku juga membawa bunga lain di luar sana. Bahkan bunga yang jauh dan jauh lebih indah dari bunga itu.”
“Kita akan segera ujian, aku harap kau bisa berhenti dengan kebiasaan tak wajarmu itu.”
“Justru karena itu, aku sangat membutuhkan bunga layu itu untuk membantu memperlancar saat ujian. Sesungguhnya bunga itu punya kekuatan besar.”
“Ya sudah terserah maumu apa. Sebagai teman aku sudah mengigatkanmu.”

Ujian berlalu. Kala itu keberuntungan berpihak pada Rosyid. Ia keluar dengan nilai tertinggi bahkan selisih lebih baik dari yang diperoleh Hadid. Sayangnya, batas keberuntungan hanya pada saat itu saja. Hadid meninggalkan Rosyid untuk melanjutkan pendidikan tingginya. Rosyid sudah tidak bisa mengejarnya lagi. Bisa lulus SMA itu saja sudah bersyukur dan senang luar biasa. Sebab ia sadar betul bagaimana keadaan orangtuanya.

Selang satu tahun berlangsung, mereka bertemu lagi dalam acara reuni SMA. Setiap tahunnya selalu ada reuni yang jadi satu dengan acara buka puasa bersama. Meskipun sudah tak menjadi siswa di sana, Hadid tetap jadi idolanya. Penampilannya sudah mulai berbeda. Nampaknya, ia sudah menjadi laki-laki sesungguhnya. Mahasiswa perguruan tinggi negeri ternama, bawaannya motor yang terlihat paling mentereng di acara reuni itu, dan tetap dengan kebiasaannya yang tak luput dari bunga. Dari sisi lain telah ada Rosyid pula di sana. Ia sangat ingin menghampiri orang yang pernah menjadi teman baiknya pada masa SMA. Tapi apa daya, jika ia mendekati Hadid, ia merasa seperti manusia kerdil yang tak berharga. Apalagi jika ditanya soal kesibukan. Apa Rosyid harus jujur berkata bahwa ia hanya seorang pekerja serabutan.

“Hai, Zahra.” Sapa Rosyid pada mantan adik kelasnya itu. Zahra yang masih kelas 2 di sana.
“Aku jadi teringat pada bunga yang dulu disukai Hadid. Aku tak sengaja melihatnya lagi di sini. Kenapa bunga itu bertambah layu ya?”

“Mas Hadid sebenarnya tidak suka pada bunga itu. Dulu, aku pikir bunga layu itu adalah bunga yang paling beruntung di antara bunga yang tumbuh di sekolah ini. Saat dia mengambil bunga itu, terlihat bunga lainnya merasa cemburu. Para kumbang bersorak gembira karena bunga-bunga yang indah dibiarkan Mas Hadid begitu saja. Biarlah bunga yang diambil adalah bunga layu bertangkai pendek yang bahkan sejelek kumbang saja tak ingin menghampirinya. Mas Hadid itu hanya menciptakan sensasi belaka. Sebenarnya, dia lebih suka bunga cantik, bertangkai tinggi, banyak daunnya dan baunya juga harum. Buktikan saja nanti kalau bertemu dengannya. Sekarang dia ada di sini satu tempat dengan kita.”

“Tidak perlu. Aku sudah melihatnya.” Rosyid masih terfokus pada ucapan-ucapan Zahra. Ingin rasanya ia mengatakan sesuatu pada gadis itu, dilihatnya gadis itu sedang sibuk mengurusi hal lain. Rosyid hanya mampu berkata dalam hati saja. “Bunga itu sebenarnya sangat harum. Siapa yang bilang dia layu. Memang itu ciri khasnya. Dasar orang-orang bodoh yang kurang peka dengan jenis bunga semacam itu. Sekarang tangkainya pendek, siapa yang tahu jika tangkainya nanti masih bisa tumbuh. Kalau aku, aku tidak peduli akan tangkainya, daunnya, dan apa pun itu. Zahra, aku ingin cerita padamu pernah aku beberapa kali melihat di siang hari, saat aku melintas di gang Mesjid sekolah.”

“Ternyata aku juga melihat bunga yang sama dengan bunga itu ada di sana. Sungguh aku terpesona bahwa aku melihat saat itu, bunganya sangat cantik, baunya harum menyengat. Aku juga pernah terpikir untuk mengambilnya, membawanya pulang ke rumah dan ku miliki seumur hidupku. Lalu aku tersadar, aku tidak boleh seperti Hadid yang suka mengoleksi berbagai macam bunga. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku fokuskan yaitu menata masa depan.”

“Mas Rosyid.” Zahra memanggil-manggil Rosyid. Rupanya pemuda itu tak sadar sudah melamun terlalu lama. “Kalau melihat Mas Hadid, pasti akan senang kalau jadi bunga seperti yang dibawanya itu. Hhhmmm..”
“Jadi, kamu juga suka dengan Hadid, Ra? Wah, ternyata kamu sama saja dengan yang lainnya. Dasar..”
“Dasar apa? gadis normal mana yang tidak mau dengan Mas Hadid. Sudah pandai, tampan, anak orang berada, lalu kurang apa.”

Lalu Zahra pergi menghampiri Hadid. Ia menuju ke dekat pintu aula, di sana tertata bunga-bunga warna-warni yang begitu indah. Tak jarang beberapa di antara sudah memiliki kumbang. Namun, terlihat bunga yang paling indah yang ada di dekat Hadid. Di kejauhan, Rosyid mengamati apa yang akan dilakukan Zahra. Tak lama gadis itu kembali menghampirinya. “Dapat apa Ra?” Sindir Rosyid.
“Dapat apa? yang ada aku dapat gigitan kumbang. Sudahlah aku ingin menjauh dari sini. Yang penting sudah ketemu sama Mas Hadid.”
“Bicara apa saja kamu dengannya?”

Zahra memanyunkan bibirnya. “Katanya, di kampusnya banyak bunga yang lebih indah dari yang ada di sekolah ini. Yang ada di kampusnya tangkainya jelas tinggi-tinggi dan daunnya banyak. Ternyata dia sekarang lebih parah dari yang dulu ya?”
“Yang dibicarakan bunga lagi, bunga lagi. Eh, Ra. Memangnya bunga yang tangkainya tinggi itu istimewanya apa sih?”
“Yang ditanyakan bunga lagi, bunga lagi. Mas Rosyid lama-lama tertular sintingnya seperti Mas Hadid loh.”
“Satu ini saja. Aku ingin tahu jawabannya.”

“Baiklah.” Zahra mulai menjelaskan. “Kalau bunga yang harum apalagi yang daunnya lebat itu pasti kebanyakan tangkainya tumbuh tinggi. Setiap bunga yang tangkainya tinggi, pasti yang menghampiri adalah kumbang yang bisa terbang tinggi pula. Kumbang-kumbang yang hanya bisa terbang rendah tidak akan berhasil menjangkau bunga yang bertangkai tinggi itu. Dan sebaliknya bagi para kumbang yang sudah berada di atas, mereka tidak akan terbang turun untuk menghampiri bunga yang ada di bawah yaitu bunga yang bertangkai pendek.”

“Tapi yang tinggi-tinggi itu tidak selalu yang berkualitas baik loh.” Zahra melirik heran pada Rosyid. Ia hanya menggaruk-garuk kepalanya. Dengan mengerutkan keningnya pula dan berkata, “Sebenarnya yang kita bicarakan itu apa ya?”

Sudah hampir 8 tahun acara itu fakum tidak lagi diselenggarakan. Kini datang kesempatan yang jelas tidak akan Rosyid lewatkan. Ia akan kembali bertemu dengan Hadid. Begitu sangat ingin tahu kabar tentang kawan lamanya itu. sekarang dia tidak lagi malu, tidak akan lagi merasa menjadi pria kerdil. Sebab nanti akan ia banggakan dirinya. Inilah anak kebanggaan bangsa. “Hai, Did. Bagaimana kabarmu?” Sapa Rosyid dalam pertemuan berharga itu.
“Kurang baik. Kau sudah pulang dari Sumatra? Hebat, ternyata sekarang kau sudah jadi perwira, kawan.”

“Ya, aku sampai dua hari lalu. Mungkin kau kurang baik karena ku lihat kau tidak membawa bunga. Mana bungamu?”
“Kau sekarang jadi penganut yang percaya bahwa bunga itu salah satu pembawa kebahagiaan? Bungaku yang terlalu harum dan bertangkai tinggi sekarang sudah berubah busuk. Mungkin karena terlalu mengumbar kecantikan hingga tak sedikit kumbang yang menghampirinya langsung ia persilahkan menikmati madu-madunya, dan pada akhirnya busuk, aku pun terpaksa berat hati akan mengembalikkan pada penjualnya.”
“Bunga itu surga dunia.”
“Kalau begitu, mana bungamu? apa kau membawanya?”

Rosyid membawa Hadid ke tempat di mana ia meletakkan bunganya. “Aku membawanya ke mana pun aku pergi.” Ucap Rosyid. Hadid sangat terkejut melihatnya. “Sepertinya aku pernah melihat yang seperti ini di SMA kita. Bagaimana bisa kau mendapatkannya? sungguh cantik sekali, jauh berbeda dengan yang ku lihat waktu itu.”
“Mungkin sejak aku mulai tumbuh dewasa, aku sudah terjangkit penyakitmu yang gemar menggilai berbagai macam bunga. Tapi beda denganku. Aku hanya gila pada satu jenis bunga. Awalnya aku menangkisnya jika aku menyukai bunga ini. Aku tak ingin ada yang tahu. Aku merahasiakannya dari semua orang. Bunga ini terlalu mahal. Aku tidak punya cukup kelebihan untuk memiliknya.”

“Lalu, aku pergi merantau ke Sumatera. Aku dilanda banyak kegagalan di sana. Tapi aku tidak pernah menyerah, hingga pada akhirnya nasib membawaku menjadikanku seorang harimau hijau. Saat itu aku merasa sudah bisa memiliki bunga yang cukup mahal. Bunga yang harum. Meskipun tidak bertangkai tinggi dan juga tak berdaun lebat pun tak apa. Tapi, aku teringat ucapan Zahra adik kelas kita. Katanya, bunga yang harum itu ingin tangkainya tumbuh tinggi.”

“Lalu, aku pergi ke rumah Zahra untuk menemuinya. Aku ingin menanyakan pendapatnya apakah aku sudah bisa membeli bunga semacam itu. Saat aku sampai di sana, aku melihat bunga yang aku inginkan ada di rumah Zahra. Aku terkejut, yang aku lihat itu tangkainya sudah tinggi, baunya harum sekali dan terlihat begitu cantik. Lalu aku tanyakan padanya, apa aku boleh memiliki bunga ini. Zahra hanya menjawab, tanyakan saja pada bapakku. Apa kau boleh membelinya.”

“Dan tanpa pikir panjang lagi, aku langsung membelinya apa pun itu syaratnya dan biaya yang harus aku bayar untuk membelinya. Kemudian aku membawa bunga ini ke Sumatera. Bunga ini aku rawat. Tak pernah sekali pun penutupnya terlepas. Karena bunga ini yang menjadikanku sebagai seorang pria sesungguhnya. Bunga ini yang selalu ada dan bagaikan jimat yang mampu menyemangatiku dan berperan penting dalam kesuksesanku. Aku menggugurkan bunga ini dari Bapak Zahra. Lalu setelah aku tahu ternyata bunga ini mereinkarnasi menjadi begitu cantik dan kian cantik setiap harinya.”

“Ya, dan sekarang aku yang merasa menyesal. Lalu, bagaimana bisa kau tahu bahwa bunga yang layu itu ternyata istimewa?”
“Aku melihatnya dengan hati. Dan aku berpikir ribuan kali. Lalu aku yakin bahwa aku bisa mendapatkannya. Apa kau tahu kenapa bunga ini dulunya terlihat biasa saja? bunga ini berbeda dengan bunga lainnya. Ya, tentu saja. Sebab kecantikan sesungguhnya yang dimiliki bunga ini tersembunyi. Kelopak dan mahkotanya sangat tebal dan lebar. Bagian lekuk dari bentuk bunga ini tak tampak, tidak seperti bunga yang jelas terlihat indah oleh mata, yang mahkota dan kelopaknya tipis, warnanya mencolok, sebenarnya bisa meracuni kumbang yang hinggap di dalamnya.”

“Tidak sembarang orang yang menyadarinya pun tidak sembarangan yang bisa mengambil dan memilikinya. Hanya yang kaya yang bisa membelinya sebab bunga ini terlalu mahal. Bagaimana aku bisa kaya? aku terus berdoa dan meminta pada Penciptaku. Tidak cukup itu, perlu niat kuat aku berusaha memperbaiki diriku, menjadi lebih baih dan lebih baik lagi. Sebab Penciptaku sudah terang berjanji jika aku menjadi yang baik aku bisa mendapatkan segala sesuatu itu yang baik pula.”

Cerpen Karangan: Khusnul Imamah
Blog : chusnulimamah.blogspot.co.id
Facebook: Khusnul Imamah

Cerpen Gugurnya Bunga Layu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Persahabatan

Oleh:
“Mai… Ada satu hal yang belum kamu tau…” Ujar Fifhin “Oh ya? Apa itu, Fhin?” Tanya Mai “Hmm.. Kalo aku gak ada.. Kamu tetap mandang bintang kan?” Ujarnya “Ish..

Cinta, Jangan Buru Buru (Part 3)

Oleh:
Hari terus berlalu, minggu ketemu minggu dan bulan berganti bulan, tak terasa dua minggu lagi Denta dan kawan-kawannya akan meninggalkan sekolah yang telah menggembleng mereka menjadi generasi muda yang

Kata Maaf Yang Terlambat

Oleh:
Di provinsi Sulawesi Tengah, ada seorang anak perempuan yang bercita-cita menjadi seorang dokter, dengan harapan kelak dia dapat mengobati banyak orang, karena di kota X tersebut susah sekali dokter.

Tanpa Mu Atau Ada Kamu

Oleh:
Aku tau apa tentang manusia berkemeja di belakangku ini? Disini di tempat ini, selalu. Tak ada yang berbeda dari tahun ke tahun. Tak ada cerita berbeda yang akan tercipta.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *