Guru Rock N’ Roll (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 March 2016

Mia memasuki ruang kepala sekolah dengan tanda tanya besar di kepalanya. Ia tidak merasa melakukan kesalahan selama mengajar, kenapa Bu Dwi memanggilnya? “Bu Mia tahu alasan saya memanggil Anda ke mari?” Bu Dwi bertanya. Mia menjawab tidak. “Saya mendengar laporan dari beberapa pihak bahwa Bu Mia mengalami bullying di kelas. Dan bukan hanya satu, tetapi beberapa.”

Mia mengangguk pelan. Ia memang guru baru di sekolah itu, sehingga ia merasa tak aneh jika kurang dihormati oleh murid-muridnya. Mia tidak menganggapnya sebagai suatu bentuk bullying. “Saya paham bahwa di sini Anda adalah korban. Tetapi ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai kredibilitas Anda sebagai guru,” ujar Bu Dwi. “Anda bukan baru satu-dua hari mengajar di sini. Sudah hampir 6 bulan. Saya harap Anda me-review kembali metode mengajar Anda. Kalau sampai masa kerja satu tahun Anda tidak berubah juga, saya bisa pertimbangkan untuk memindah bagian Anda tidak lagi menjadi guru mata pelajaran.”

Mia tersentak. Ia sudah berusaha sangat keras untuk menjadi guru. Memang itu bukan cita-citanya semenjak kecil, tapi ia merasa berkewajiban untuk menjadi guru setelah kuliah di jurusan pendidikan. Ini adalah jalan hidupnya yang harus ia nikmati. Tapi melihat perlakuan murid-murid serta teguran yang datang dari kepala sekolah, Mia mulai ragu.
“Oh ya, mungkin ini sebagai saran saja untuk Anda, Bu Mia. Anda harus sadar profesi Anda adalah guru, bukan model atau SPG,” lanjut Bu Dwi.
“Maaf, Bu?” Mia tidak begitu paham. Tapi ketika ia menatap ke jendela dan melihat bayangannya yang terpantul, ia mengerti.

Ruangan studio itu nyaris seperti arena bermain anak-anak. Isinya begitu berantakan, berbagai macam barang berserakan tidak pada tempatnya. Empat orang yang kebetulan berada di dalam sana sedang asyik bermain Uno dengan suara sebising penonton pertandingan bola. Mereka semua adalah personil Darker Than Black atau disingkat DTB, band indie beraliran rock n roll. Guntur “The Thunder” mengisi posisi drummer, Jackson dan Vicky sebagai bassist, dan vokalis sekaligus gitaris imut namun sangar, satu-satunya personil cewek, Ona. Personil DTB sebenarnya berjumlah lima orang. Satu orang lagi, Vesta sang gitaris, baru saja menjeblak pintu studio dengan wajah berseri-seri, kontras dengan penampilannya yang serba hitam. Aksinya sukses membuat keempat temannya menoleh ke arah pintu.

“Demo kita lolos, broo!!”
“Yeaaaahh!!” pekik senang langsung membahana memenuhi studio itu.

Kartu Uno yang mereka pegang berhamburan seperti salju warna-warni. Mereka berlima langsung membentuk satu barisan, saling menggandeng bahu dan menyanyikan lagu demo mereka yang dikirim untuk kompetisi “Indie Rock Star Indonesia 2016”. Mereka memesan bertumpuk makanan cepat saji dan berpesta di studio hingga larut malam. Di tengah-tengah selebrasi, Vesta mengumumkan tahap kompetisi selanjutnya, yaitu tampil live.

“Wuah, impian gue akhirnya tercapaiii!!” Ona jingkrak-jingkrak bahagia.
“Tapi On, benerin dulu tuh penampilan lo,” ujar Guntur.
“Eh, kenapa emang penampilan gue?”
Keempat personil DTB serentak mengamati Ona, sampai gadis itu jengah sendiri.

“Menurut gue… lo masih kurang metal!” Guntur menunjukkan tiga jari kedua tangannya.
“Iya, On. Lo masih terlalu… good girl,” Jackson menambahkan.
“Ya emang sih baju lo udah item-item, jaket kulit, celana belel, aksesoris udah oke. Cuma kayaknya lo perlu sedikit tato, deh.”
“Tato? No way! Bukannya kita udah sepakat di awal bikin band kalau gue boleh nggak bertato?” tukas Ona. Ikut bergabung band rock saja sudah bisa membuat orangtuanya shock. Awalnya ayah dan ibu Ona menentang Ona untuk bermusik di genre ini, tapi akhirnya mereka mengizinkan dengan satu syarat: no tatoo. Ona bukan tipe anak yang bisa dengan mudah melanggar janjinya dengan orangtua.

“Yang temporer ajalah, On,” Vicky berpendapat. Ona bersikeras tidak mau.
“Oke, oke.” Vesta menengahi.
“Gak tatoan gak masalah. Tapi kalau saran gue, mungkin dari rambut lo aja deh. Rambut lo masih terlalu… Datar. Kurang menunjukkan jiwa kebebasan ala rock n roll.”
“Maksud lo, gue harus ngecat rambut gue, gitu?” tanya Ona. Vesta mengedikkan bahu, menyerahkan pilihan pada Ona. Ketiga personil lain setuju dengan pendapat Vesta. Ona pun mulai berpikir.

Mia menatap bayangannya di cermin lemarinya. Ia pikir karena sekolah tempatnya mengajar adalah sekolah swasta, maka tak masalah jika guru memiliki penampilan yang sedikit lebih “kontemporer”. Tapi ternyata itu malah membuatnya jadi sasaran kejahilan murid-muridnya. Mereka merasa bahwa Mia berada dalam posisi yang sama dengan mereka, bukan guru yang harus dihormati. Untuk terakhir kalinya Mia menyisir rambut cokelatnya yang panjang bergelombang. Rambut yang sudah ia rawat semenjak masa kuliah kini harus ia tinggalkan lantaran pekerjaannya. “Mia, kamulah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkunganmu, bukan lingkungan yang harus menyesuaikan diri denganmu,” gumamnya.

Jam 9 pagi, Mia pergi ke salon langganannya. Pemilik salon itu sudah cukup mengenalnya dan sedikit menyayangkan keputusan Mia untuk mengubah rambutnya yang sudah stylish. Mia meminta agar rambutnya diluruskan dan disemir hitam. “Oke, silahkan tunggu sebentar,” ujar pemilik salon. Mia duduk di salah satu bangku. Ia menghabiskan waktu dengan berlama-lama menatap dirinya dengan rambut cokelat untuk yang terakhir kalinya. Mungkin di masa depan ia tak bisa lagi bereksperimen dengan rambutnya itu, kecuali ia ingin berhenti menjadi guru.

Tak lama kemudian, datanglah seorang kapster muda, seperti masih baru di sini. Mia jadi teringat pada dirinya sendiri yang juga masih guru baru, jadi ia maklum ketika kapster itu agar lelet dan gemetar ketika bekerja. Untuk sedikit mengurangi grogi si kapster, Mia berusaha mengajaknya mengobrol ringan. Kapster itu tampaknya senang diajak berbicara, tangannya sudah tak begitu tegang lagi.

“Mbak kerjanya apa?” tanya kapster itu.
“Saya guru.”
“Guru?” Sepertinya jawaban itu agak membuat si kapster tersedak ludahnya sendiri. “Guru kesenian, ya?”
“Hmm… guru bahasa Inggris. Tapi saya juga pengen jadi guru kesenian sih, sebetulnya,” jawab Mia.

Satu jam kemudian, kapster itu menyelesaikan tugasnya menyemir rambut Mia. Mia mengutak-atik hp-nya selama menunggu cat di rambutnya meresap. Sesekali ia melirik pelanggan yang duduk di bangku sebelahnya. Wanita itu tampak sedikit creepy dengan matanya yang berbingkai eyeliner, kaus kutung hitam yang memamerkan lengannya yang sedikit berotot, jeans belel dan sandal jepit kamar mandi. Pasti dia tomboi, pikir Mia. Tapi ia tak menyangka ada cewek tomboi yang datang ke salon, ia pikir kaum mereka paling anti dengan sesuatu yang serba dandan.

Akhirnya kapster yang mengurusi Mia kembali. Saat itulah Mia baru melihat dirinya di cermin dan mendapati ada yang aneh dengan rambutnya. Kalau matanya memang benar masih sehat, maka itu bukan warna hitam legam, melainkan hijau! “Mbak!” seru Mia refleks. Kapster amatiran tadi juga terkaget-kaget melihat Mia marah. Dia nggak salah milih cat, kan? Atau jangan-jangan dia buta warna? Pikiran Mia penuh syak wasangka terhadap kapster yang matanya mulai berkaca-kaca itu. “Kenapa rambut saya jadi gini?!”

Mia menoleh. Rupanya cewek tomboi di sebelahnya juga bermasalah dengan rambut barunya. Entah bagaimana penampilan cewek itu pada awalnya, tapi rambutnya yang sekarang berwarna hitam mengkilat, lurus seperti ijuk sapu. Potongannya terlalu rapi untuk cewek sebelel dia. Gadis tomboi itu balas menoleh ke arah Mia. Ia melotot melihat warna rambut di kepala Mia yang harusnya menyelimuti rambutnya. “Saya pesen yang ijo itu tadi!” Tak pelak, salon itu menjadi cukup ribut hingga mengundang perhatian pengunjung lain, tak terkecuali si pemilik salon. Pemilik salon itu menyadari bahwa kedua kapsternya salah menangani ‘pasien’ dan akhirnya terjadi ‘malpraktek’.

“Gimana ini? Saya nggak bisa mengajar kalau rambut saya hijau kayak rumput begini!” Mia mengomel. Ia sudah membayangkan bagaimana Bu Dwi akan mendampratnya besok. Rambut ini tak mungkin bisa berubah sesuai keinginannya hanya dalam hitungan jam. Sementara gadis tomboi tadi? Ona? terlihat lebih santai daripada Mia, meskipun ia kesal juga. Gimana ceritanya dua kapster itu bisa salah, padahal dirinya dan Mia kontras sekali penampilannya? Apa mungkin karena wajah mereka mirip?

“Kami mohon maaf atas kesalahan fatal yang kami buat,” pemilik salon itu membungkuk 90 derajat dengan penuh penyesalan.
“Kami akan membebaskan biaya salon untuk Bu Mia dan Bu Ona. Kami juga akan bertanggung jawab dengan melakukan perawatan ulang bagi Bu Mia dan Bu Ona.”
Pemilik salon itu menyarankan agar rambut mereka diwarnai ulang seminggu lagi. Mia langsung tercekat. “Jadi, saya harus izin tidak mengajar selama seminggu?!”
“Mohon maaf sekali lagi, Bu Mia. Tetapi menurut kami waktu tersebut adalah tepat demi kesehatan rambut Bu Mia,” ujar pemilik salon.

Setelah diskusi alot, Mia akhirnya setuju untuk mewarnai ulang rambutnya seminggu lagi. Sekarang yang ia pusingkan adalah bagaimana caranya membuat alasan untuk tidak masuk selama seminggu ke depan. Mia ke luar dari salon dengan hati sudah mau meledak. Mengajukan cuti selama seminggu tentu tak bisa ia lakukan mengingat ia belum satu tahun bekerja. Bagaimana kalau jujur saja pada Bu Dwi kalau dia adalah korban malpraktek salon? Biar Bu Dwi saja yang memutuskan apa ia boleh mengajar atau tidak. Tapi tentu citranya di mata Bu Dwi akan semakin jatuh. Bagaimana kalau Bu Dwi akan benar-benar mencopot jabatannya sebagai guru? Mia menoleh ke kanan dan kiri. Bagaimana kalau tiba-tiba ada anak didiknya lewat dan mengenalinya?

Mata Mia berhenti pada gadis tomboi bernama Ona tadi, yang duduk di salah satu emperan dekat salon. Sepertinya ia juga sedang merenungkan sesuatu. Mia cukup lama memperhatikannya dari jarak 5 meter hingga akhirnya Ona balas menatap Mia. Ona bangkit dan menghampiri Mia dengan wajah khawatir. “Mb-Mbak nggak apa-apa?” tanyanya melihat Mia tampak begitu stres. Ia menuntun Mia untuk duduk di emperan tempatnya tadi dan menenangkan diri sejenak.

“Maaf, tadinya saya juga nggak ingin mengecat rambut dengan warna hijau, tapi itu teman saya yang minta. Saya pikir nggak ada salahnya sekali-sekali mencoba hal ekstrim,” ujar Ona, merasa ini adalah kesalahannya juga. “Jadi kalau temanmu suruh kamu masuk ke kandang singa, kamu juga nurut? Itu kan hal ekstrim juga, patut dicoba,” Mia berkomentar. Ona mengernyit tersinggung. “Oh, maaf. Saya cuma… Huff..” Mia mengusap-usap wajahnya. “Saya cuma bingung sama kerjaan saya. Kemarin saya sudah dapat peringatan lisan, bisa-bisa saya dikasih SP kalau muncul di sekolah seperti ini.” Mia menunduk sebentar, kemudian memutuskan untuk membelokkan percakapan, “Ngomong-ngomong, kenapa kamu mau mewarani rambutmu jadi hijau?”

“Buat kerja juga, sih,” jawab Ona. “Saya vokalis band indie, dan kebetulan minggu depan saya perform buat kompetisi. Teman-teman saya minta saya ganti penampilan, buat refreshing aja sih, biar lebih rocker juga.” Mia mengamati Ona sejenak. Dari penampilan sih cewek itu sangar, tapi tutur kata dan tindak tanduknya terlalu halus untuk seorang vokalis band rock. Yah, dia tidak bisa menilai hanya dari penampilan dan obrolan singkat, sih. “Saya nggak terlalu bingung meskipun rambut saya nggak jadi hijau, soalnya saya pikir… nggak masalah meskipun rambut saya jadi kaku begini,” ujar Ona. “Ehm, bukannya saya menilai seleranya Mbak kaku. Cuma mungkin menurut teman-teman saya ini terlalu flat, gitu aja. Dan sepertinya penampilan nggak menjadi penilaian di kompetisi musik itu.”

“Hmm… saya pikir saya sependapat sama teman-teman kamu,” sahut Mia berkomentar.
“Bukan flat sih, lebih ke… kalem. Saya nggak nyangka ternyata kamu personil band.” Ona membalas dengan tawa ringan. “Saya penasaran kenapa dua orang kapster tadi bisa salah kustomer. Apa pemilik salonnya yang salah ngasih komando, ya?” Ona menebak-nebak.
“Atau mungkin karena kita mirip kali, ya?”

Mia mengernyit. Ia baru sadar kalau memang dirinya dan Ona agak mirip, mungkin dari bentuk wajahnya atau matanya atau bagian mananya. Memang tidak semirip orang kembar identik, tapi kenyataan itu memunculkan suatu ide di kepala Mia. Mia mencengkeram kedua pundak Ona dan menatapnya dengan serius. “Ona, saya boleh minta tolong sesuatu?”

Bersambung

Cerpen Karangan: Danisa
Facebook: https://www.facebook.com/debora.s.sitanggang
Calon sarjana yang hobi menulis. Keranjinan memainkan jari di atas keyboard laptop.

Cerpen Guru Rock N’ Roll (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tengah Semester Delapan

Oleh:
Aku sangat mengingat sahabat-sahabatku yang sangat membenciku Cuma karena mantan pujaan hati sahabatku ida memilih untuk meminangku. Apa salah jika aku menjalin hubungan istimewa dengan hendrik, yang dulunya adalah

Emak, Gue Jadi Artis!

Oleh:
“Mak, liat deh tuh!” kataku seraya menunjukkan jari ke arah televisi. “Apaan sih?” timpal Emak yang penasaran. “Itu loh mak acara di tipi. Noh, emak liat kan? Duh mak,

Fly High (Part 2)

Oleh:
Saat bel berbunyi, seluruh siswa berlari memasuki kelas mereka masing. “Anjir.. gua belum belajar. Ulangan biologi kan sekarang? Ya ampun.” Hensa berdiri sambil meremas botol minuman yang tadi dia

Bait Puisi di Penghujung Senja

Oleh:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan, kayu kepada api yang menjadikannya abu..” Layaknya Senja-senja sebelumnya, Tania dan Dani duduk santai di balkon depan kamar

Hanya Senyap Menemaniku

Oleh:
Malam ini begitu terasa sangat sunyi, tenang dan damai. Dalam sepi pikiran ini jauh melayang ke masa lalu. Masa yang begitu terasa sangat pahit. Ketika semuanya pergi dari diri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *