Hanya Allah yang Tahu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 October 2016

Sejenak kita saling berpandangan, menatap bola mata yang berbinar-binar menahan haru satu sama lain. Haru karena bertemu insan yang dirindu-rindu, sejak lama tak bertemu.

“Hari ini aku senang dapat bertemu denganmu kembali ukhti, namun aku datang dengan membawa banyak duka” katamu lirih sekali. Sambil sesekali menyeka air mata yang membanjiri pipi cabimu.
Batinku mulai menerka dan menebak mungkinkah dukamu ini karena pesanan doa yang belum dikabulkan oleh sang pengkabul doa? Aku yang begitu berambisi ingin sekali tahu tentang apa sebenarnya yang terjadi denganmu pun langsung sigap merangkai kalimat tanya yang kuusahakan agar tidak menyinggung perasaanmu. Ku akui, aku tidak terlalu pandai merangkai kata-kata menjadi kalimat tanya yang lembut. Dengan suara yang lirih pula aku mulai mengajukan pertanyaan sederhana padamu.
“Duka apa itu wahai ukhti?”
“Dia menikah” jawabmu singkat sekali.

Kutahu, kau sangat sedih sekali. Bagaimana mungkin sebuah hati akan tetap utuh sementara ia telah dicukil oleh tajamnya pengkhianatan. Aku pun merasakan luka itu. Kurangkul tubuh mungilmu itu, kupeluk dirimu erat-erat seraya berkata “tidak mengapa dia meninggalkanmu duhai ukhti, yang terpenting Dia (Allah) senantiasa mendekapmu dalam cinta dan kasih sayang-Nya” kataku mencoba memotivasimu.

Waktu pun cepat berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, itu artinya kita harus segera bergegas pulang kerumah.
“Ukhti” kataku yang mengejutkanmu dari lamunan.
“Ya naam ukhti” jawabmu lagi-lagi dengan nada begitu lirih.
“Mari pulang ukhti, sudah hampir magrib”
“Ya ukhti”.
Akhirnya kita berpisah kembali.

Lama tak ada kabar darimu, aku mendapat pesan singkat dari nomor yang tidak kutahu itu siapa. Ternyata pesan singkat itu darimu, yang berisi tentang undangan pernikahanmu dengan orang yang kusukai selama ini. Hahah, tawaku getir sekali. Bahagia melihat sahabat tersayang akan segera menikah, namun sedih karena melihat dia yang ada di doaku bersama sahabatku. Dunia begitu sempitnya, entah bagaimana kronologisnya mereka bisa bertemu. Aku mencoba mengikhlaskannya saja.
Kupikir, aku juga yang salah. Tak pernah menceritakan pria yang kusuka selama ini. Memang aku orangnya sangat tertutup, apalagi masalah asmara, akulah orang yang paling pandai menyembunyikan perasaan.

Hari itu aku datang kepernikahanmu. Senyum, tawa bahagia tampak jelas di wajahmu. Ku peluk tubuh mungilmu lagi dan berkata “happy wedding sahabatku, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrohma”.
Setelah itu, aku langsung bergegas meninggalkan tempat bahagia itu. Bahagia untuk kalian, tapi tidak untukku.
Bahkan sampai detik ini pun, tak ada seorang pun yang tahu tentang rasa ini. Hanya Allah yang tahu.
Biarlah dia yang kusebut namanya dalam doaku menjadi hakmu duhai ukhti. Aku pun bahagia melihat dua insan yang kucintai akan saling mengasihi.

Cerpen Karangan: Indri Wahyuniati
Facebook: Indri Wahyuniati Mps
Nama: Indri wahyuniati
TTL: 23 Februari 1998
Alamat: Medan, Sumatera Utara
Status: Lajang
Cita-cita: Novelis

Cerpen Hanya Allah yang Tahu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Kertas, Peraut dan Pena

Oleh:
Di dunia alat tulis, hiduplah Kertas, Peraut, dan Pena. Mereka sudah bersahabat sejak dulu. Suatu hari, mereka berjalan-jalan mengitari meja tulis si pemilik mereka yang bernama Andi. Tiba-tiba, Andi

Bintang Hati Ku (Part 1)

Oleh:
Aku memandang langit sore yang begitu teduh, udara dingin masih terasa menyelimuti kulitku, tetesan sisa-sisa air hujan masih berlinang di dedaunan tanaman, yang ku tanam di belakang rumah. Ku

One Heart

Oleh:
“Apa?” tanyaku pada Adit, cowok keren yang sekarang berdiri di depanku. “Iya, Lisa, maafin aku ya,” kata Adit lesu. “Jadi, kita harus bener-bener berakhir sampai di sini,” kataku lesu,

Cinta dan Rahasianya

Oleh:
“La Tahzan” mungkin kalimat itulah jawaban Tuhan atas semua pertanyaanku. Jawaban atas kesedihan yang selama ini selalu menyesakkan dadaku, jawaban atas kegalauan hatiku, jawaban atas kebimbangan hatiku, dan mungkin

Setengah Sepi Setengah Tahun

Oleh:
Ei menyeka helai rambut di keningnya, menyisirnya ke belakang dengan jari dan mengikat ulang kuncirnya. Tanpa menoleh dia meraba ke atas televisi di samping tempatnya berdiri dan segera tersadar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *