Hanya Dengan Senyuman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 June 2013

Pagi yang cerah, gadis imut itu membuka pintu rumahnya. Dilihatnya, sekeliling rumah yang tampak asri, seulas senyum tak pernah hilang dari wajah mungilnya.
“Namanya April.” kata seorang ibu memberitahu.
“Namanya bagus ya, anaknya juga cantik.”

Tak heran, gadis imut yang bernama April itu sering diperbincangkan oleh tetangga sekitar. Karena perilakunya yang sopan, tutur katanya yang lembut, membuat orang selalu ingin berada di dekatnya. Tapi, ada saja orang yang iri dan benci kepada April. Ya salah satunya Puput, teman sekelas gadis imut itu.

Pernah suatu kali, April terjatuh ketika mengikuti lomba lari di pelajaran olahraga. Silvi dan teman-temannya menghampiri April dan membantunya untuk berdiri. Lain dengan Puput, ia malah menertawakan April yang berjalan tertatih-tatih dengan di bantu teman-temannya. Lantas, apa yang di lakukan gadis imut itu? Apakah ia marah? Tidak! Gadis imut itu malah memberikan senyuman termanisnya kepada Puput. Kontan, Puput yang sedang menertawainya terdiam setelah melihat senyuman manis April. Ia mendelik kesal, dan langsung meninggalkan April beserta teman-temannya.

Setiap hari, Puput selalu saja mengejek dan mencaci maki April. Tapi, reaksi gadis imut itu terhadap perilaku Puput hanya senyum, senyum, dan senyum. Tak pernah sekalipun ia membalas perilaku Puput

Bel istirahat berbunyi, Silvi mengajak April pergi ke kantin. Di tengah perjalanan, terjadi perbincangan antara mereka.
“April, kamu ngga sakit hati?” tanya Silvi.
“Sakit hati kenapa?” jawab April
“Ya kamu tahu sendirilah, perilaku Puput sama kamu.”
“Oh, itu. Emm, aku ngga sakit hati. Masalahku sama Puput itu aku biarkan seperti air yang mengalir saja.”
Silvi pun tersenyum, seraya berkata “Tahu ga April, kamu itu teman aku yang paaaliinggg beda.”
“Paling beda? Maksudmu?”
“Iya, kamu itu teman aku yang paling sabar, paling baik, pokoknya semua yang bagus-bagus ada di diri kamu.”
“Silvi… Silvi.. Kamu terlalu berlebihan.”
Mereka tertawa bersama. Tapi, ada yang mengganjal di hati di hati April. Apakah dia sebaik yang di katakan Silvi? batin gadis imut itu.

Esok paginya, April datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Ia menemukan Puput sedang menangis tersedu-sedu di kelasnya.
“Puput” panggil April.
Puput menoleh. Tapi, ia tidak memedulikan April. Puput melanjutkan tangisannya.
“Kamu kenapa Put?” tanya April
“Kakekku.”
“Kakekmu kenapa?”
“Me…ninggal.”
Kata “Meninggal” sudah tidak asing terdengar di telinga gadis imut itu.
“Kamu yang sabar ya…” hanya kata itu yang dapat di katakan April. Puput menoleh, matanya menatap tajam April.
“Apa Pril! Kamu seenaknya saja bilang sabar ke aku. Kamu ga tahu kan rasanya kehilangan seseorang yang di sayang?” jerit Puput.
“Kamu lebih beruntung, Put. Aku kehilangan seluruh keluargaku.” kata April.
“Bohong kamu. Terus siapa yang mengurus kamu selama ini di rumah mewah itu? Pembantu?”
“Itu, orang tua angkatku.”
Puput tersentak kaget. April menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada Puput. Kisah di saat gadis imut itu di tinggal oleh kedua orang tua untuk selama-lamanya dan satu persatu keluarganya pun meninggalkannya. Tangisan Puput semakin menjadi-jadi.
“Ma…af.” kata Puput di sela tangisnya.
April membawa Puput ke dalam pelukannya. Mereka menangis bersama-sama, dalam ikatan persahabatan.

Cerpen Karangan: Annida Hasan
Blog: annidahasan.wordpress.com

Cerpen Hanya Dengan Senyuman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku, Petualang

Oleh:
Aku berdiri dengan tegap di depan pintu rumah. Bahan yang diperlukan sudah dibungkus Ibuku dengan baik menggunakan kain berwarna cokelat dan sudah melekat di punggungku. Kata Ibu ini benda

Terlambat Memang

Oleh:
Aku duduk sendiri, saat hujan beramai-ramai menghempaskan diri ke bumi. Duduk di halte, sembari menanti jemputan bus yang biasanya sudah tiba saat senja bekerja. Tapi ini hujan, tak ada

Anakku Bukan Anakku (Part 1)

Oleh:
Taburan bunga yang penuh warna di atas karpet merah, mengisi setiap lorong dan jalan menuju altar. Tempat duduk dan meja yang cantik dengan hiasan sepasang burung merpati bercat emas

Senja Itu Telah Sirna

Oleh:
Aku masih terdiam di kursi kayu ini, tentunya masih dengan perasaan dan aroma yang sama saat pertamaku menjumpainya, ya dia adalah malaikat kecilku. Entah aku masih belum paham akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *