Hanya Sebuah Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 29 March 2017

Hujan turun dengan derasnya, angin kencang berhasil membuat ranting-ranting pohon mengikuti alunan arah angin yang membawanya. Aku memasukan tangan ke dalam almamater, menggigit bibir, hembusan angin dan sedikit percikan air menerpa wajah. Sehingga membuat rasa dingin semakin menjadi.

Harus berapa lama lagi aku menunggu? Sudah beberapa menit hujan malah semakin deras. Kulihat para siswa yang mengikuti ekstrakulikuler futsal masih di lapangan futsal, tidak peduli basah kuyup diguyur hujan, mereka terlihat senang menikmatinya. Ada pula beberapa siswa yang ingin pulang namun terjebak hujan.

Jam sudah menunjukan jam 4.25 sore pantas saja sekolah sudah sepi, hening, hanya guyuran air hujanlah yang terdengar secara dominan dan aku satu-satunya orang yang berada di koridor gedung Ibn Katsir, dimana gedung ini berada di tempat paling strategis di sekolah yang lumayan luas ini, gedung ini terdapat 3 kelas yang semua kelas ini diisi oleh anak asrama dimulai dari kelas 10, 11, maupun 12.

Aku menepi, bahuku menyandar ke dinding kelas. Lantai koridor basah. Ini bukan karena koridor depan kelas yang kurang lebar, namun anginlah yang terlalu kencang. Aku sendirian saat ini, entah mengapa saat hujan tiba, aku selalu merasa dalam sebuah kesedihan, kini mataku terpaku pada satu pohon tepat lurusanku memandang agak jauh, terlihat jelas awan semakin menghitam, hujan makin deras dan pohon itu semakin melambai lambai karena angin yang kencang, mataku mulai berkaca-kaca, akhirnya air mata pun terjatuh, mataku berpindah pandangan, kupandangi semua sekitar dan tertuju pada 2 kursi keramik yang berada tepat di depan kelas 12 Gedung Ibn Katsir.
Kenanganku hadir, Aku mengingat satu kenangan dimana aku duduk bersama teman mantan sekamar umi namanya.

Saat itu hari rabu biasanya, kalau dihari sekolah, hari ini kami jam terakhir pelajaran tafsir, karena suasana setelah ujian nasional, kini terasa berbeda. kami hanya terdiam satu sama lain, karena merasa bosan aku menyanyikan lagu perahu kertas dimana lagu itu pernah kami nyanyikan sebagai grup nasyid, saat di pertengahan lagu umi berkata padaku, oh ya ZNA adalah nama kelas kami, singkatan dari Zabarij Nazneen Adwa.
“gak kerasa ya Ci, kita mau lulusan terus perpisahan, jangan pernah lupain ane ya..” tanyanya yang tersenyum kepadaku
“hemm iya ya, gak kerasa udah 3 tahun aja, padahal baru kemaren ya kita kenalan di asrama hahaha” jawabku yang mencairkan suasana
“hahaha iyaa, bentar lagi perpisahan ya Ci, sedih ane kalo perpisahan, makin hari teman-teman pada pulang ke rumah masing-masing”
Dengan raut wajahnya yang sedih dan memelukku, aku hanya membalas dengan sok tegar pada kenyataannya aku pun merasa sedih
“cup cup, jangan sedih dong, kita tuh harus menerima disaat ada pertemuan pasti ada perpisahan, memang sakit sih perpisahan itu, tapi ya gimana lagi? Kita harus terima kan nanti kita akan bertemu lagi kan?? ”
“iya ya ko, tapi ane sedih, jangan lupain ane ya ”
“iya.. insyallah sering kasih kabar ya”

Teman–teman yang berada di kelas yang sedang mengambil barang-barang pribadi mereka ikut bergabung bersama kami bernyanyi lagu nasyid dari grup nasyid kami, bercerita saat awal masuk asrama, susah senang di asrama, bercerita awal kenal dengan anak asrama putra, mengingat hal-hal lucu, tertawa bahagia sambil bernyanyi-nyanyi.
Perahu kertasku kan melaju… ku bahagiaaa kau terlahir di dunia.. dan kau ada di antara milyaran manusia dan ku bisa dengan radarku menemukan muuu…
“pokoknya di manapun kalian, ane pasti kangen kalian, karena ane baru di sini bertemu orang seperti kalian wahai para teman asramaku” kata Lia
“iya ya, jangan pernah lupa ya, kan jadi inget waktu kita dimarahin gara-gara ngurusin pensi pulang malem” sambung Nia
“iya iya.. bener, kalo inget itu sedih ya” kata Diana
“iya.. tapi itu yang buat kita jadi kompak” kata Futi
“haha iya, uwi yang diledekin terus sama topan haha” ledek Lia
“udah.. udah pokonya ane bakal miss banget sama kalian ZNA” kata Umi
“iyaa miss you ZNA” kata rona
“aaa mau ngulang lagii rasanya” kata pipeh
“idihh males banget kalo gue ngulang lagi males ketemu pipeh, apalagi jeko” sahut Lia
“tapi ya nemu temen kayak uni, diana, jeko, uci, khoti dan yang lain nya juga tuh, sumpeh dah langka hahaha” kata Lia
“parah bener sih ya, langka emang apaan?” kata futi
“iyalah, apalagi futi kalo nonton film lebay nangisnya”
“hahaha iya..”
“ehh mendung mendekati hujan, balik ke asrama yuk, jemuran jemuran..”
“iya jemuran.. jemuran..”
“hahaha…”
Saat pembicaraan mulai mengharu biru pasti selalu ada sesorang yang bisa mencairkan suasana dan berakhir dengan tertawa, hujan pun turun kami semua pun berlari menuju asrama.

Lamunanku terhenti dengan wajahku yang senyum-senyum namun aku sambil menangis, aku mengingat selalu ada cerita di kursi itu, yang selalu menjadi tempat andalan teman-teman sekelasku saat istirahat, belajar di luar, tak ada guru. Aku semakin menangis mengingat semua kenangan yang telah dilalui selama 3 tahun lamanya tinggal di satu atap selama 24 jam, aku pun membalikkan badan dan berjalan menuju kelasku, hanya bisa melihat dari luar jendela, kenanganku hadir lagi, aku pun mengingat kembali saat-saat dimana kelas ini menjadi saksi bisu kebahagian, kesedihan, kebersamaan dan kekompakan kami, kini aku hanya bisa melihat video dan foto kelas saja, tidak seperti saat itu yang selalu bersama.

Tak terasa hujan pun mulai mereda begitupun juga dengan kesedihanku yang sudah mulai mereda. Tiba-tiba temanku anika datang dan menghampiriku.
“Uciii yuk pulang, anika cariin ke mana lah ente ini” kata Anika
“lah, ente sendiri kemana? Ane kan taunya ente di pembendaharaan” jawabku
“hehe iya anika tuh di perpus tadi minta surat keterangan bebas perpus, terus tuh lama, eh keburu hujan turun jadi anika ngadem dulu di perpus hehe”
“huu kan emang bener-bener ente tuh”
“iya maap ya uci, kok mata ente sembeb gitu kenapa?” tanya Anika menunjuk mataku
“ohh gak papa an, ane tuh tadi sempet inget aja kita dulu di kelas, di asrama eh nangis deh jadinya, alay ya.. ” jawabku sambil mengusap mata
“ohh iya anika juga sedih kok, tapi kan jangan terlalu aja, kita berpisah sementara aja kok ci, udah mau pulang gak ini?” kata Anika dengan merangkulku
“hemm iya betul, masa itu juga hanya sebagai kenangan aja sekarang gak akan terulang lagi, iya yuk pulang udah beres semua kan urusannya?” tanyaku pada Anika
“iya udah kok ci, udah dong don’t be sad oke” kata Anika sambil tersenyum
“hemm” aku hanya mengangguk dan tersenyum

Kini aku sadar bahwa perpisahan itu akan selalu ada dalam kehidupan karena kita pernah berjumpa, bersama, dalam canda, tawa, susah dan bahagia. Tak ada kata lagi yang bisa kuucap, hanya derai bening air mata dan rasa rindu saja yang aku rasakan, sahabat teruskanlah perjuanganmu ke arah yang telah kalian pilih, di tempat yang baru, yang akan menjadi jarak pertemuan kita
Tidak usah terlalu sedih, ZNA berbahagialah, karena engkau akan menemukan tempat yang baru, suasana yang baru, bukan di sini lagi, tapi di sana, tempat yang kalian pilih. kita harus melanjutkan perjalanan ini, sebuah perjalanan yang harus siap kita tapaki.

“Cukuplah setiap kenangan yang telah kita tanam akan menjadi kenangan yang indah., karena kita tak harus selalu bersama, biarkanlah semua itu menjadi Sebuah Kenangan, Hanya Sebuah Kenangan…”

Cerpen Karangan: Zakia Salsabila
Facebook: zakia drajad salsabila

Cerpen Hanya Sebuah Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Miss You Yoona

Oleh:
Yoona terbaring lemah di kasur rumah sakit. Ia mengidap kanker otak stadium 2. Menurut dokter, kanker Yoona sudah termasuk parah. Orangtua Yoona selalu mendoakan yang terbaik untuk Yoona. Pada

Kau Yang Terhebat

Oleh:
Ria berjalan menuju taman belakang sekolahnya. Digenggamnya sebuah mp3 dan headset. Dia duduk di bangku taman dekat dengan kolam ia mulai mendengarkan lagu, “aku terpukau.. denganmu aku sempurna denganmu

Friend 2 Friend

Oleh:
Dua hari telah kulalui dengan perasaan berbunga, ahh rasanya menyenangkan ketika melihat dia tertawa meskipun dia tidak menyadari bahwa mataku terus tertuju padanya. Menurutku itu cukup, karena jika aku

Teman Menjadi Pengkhianat

Oleh:
“Non Angel, bangun non sudah pagi waktunya berangkat sekolah” kata bibi yang berusaha membangunkanku “Oh, iya bi” kataku Aku mandi dengan air hangat yang sudah menjadi tradisi ku setiap

Kau tak Sendiri

Oleh:
Apakah diantara kalian ada yang pernah membayangkan yang akan terjadi pada diri kalian begitu hari berganti? Aku rasa kalian pernah membayangkannya, tapi hasilnya berbeda jauh dengan apa yang kalian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *