Haru Biru Persahabatan


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 26 February 2013

Matahari pagi membangunkanku dari tidur nyenyakku. Kulihat ibu berdiri disamping tempat tidurku. “Ada apa bu?” tanyaku. “Pagi ini ibu mau pergi. Ada janji dengan tetangga sebelah. Kamu jaga rumah ya, sarapannya sudah ibu siapkan” Jawab bu Mirah, ibuku.

Sesudah membereskan rumah, aku belajar sambil menunggu temen-temenku untuk belajar kelompok. “Ting Tong!” bel rumahku berbunyi, dengan segera aku membuka pintu rumahku. Kulihat ketiga temanku sudah datang. Kami segera belajar bersama. “Eh. Ranti aku beli sepeda baru loh! Dari uang celenganku. Lihat nih. bagus kan?” ujar Lely. Kulihat Lely senang sekali, maklum dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. “Iya bagus. Bagaimana kalau kita nanti bersepeda ke bukit belakang sekolah, mau nggak?” sahutku. “Mau dong pasti. Bagaimana kalau sambil piknik. Aku tunggu di tempat biasanya ya jam 1 siang? Ujar Puspa. “Setuju!!” sahut kami bertiga.

Seperti waktu yang telah ditentukan aku pergi menuju tempat biasa kami berkumpul, yaitu di rumah kosong dekat kolam pemancingan. Disana kulihat teman-temanku sudah menunggu. “Ranti kog lama sih?” tanya Linda. “Iya aku tadi disuruh jaga adik sebentar, sorry ya” jawabku. “Ya sudah. Kalian bawa apa saja?” tanya Puspa. “Aku bawa roti stick panjang dua, dua botol limun, keju, sama empat batang coklat. ” Sahutku. “Kalau aku bawa sayuran, buah-buahan, biskuit sama teh” sahut Lely. “Ehm kalau aku bawa yogurt, daging kaleng matang, selai kacang, sama roti” sahut Linda. “Kalau aku sendiri bawa sandwich, puding, jus tomat sama beberapa snack” ujar Puspa.

Setelah berkemas, kami berangkat bersepeda ke bukit belakang sekolah. Setelah agak naik ke atas bukit, kami menikmati pemandangan sambil mencari tempat yang nyaman untuk berpiknik. Setelah menemukan tempat yang cocok kami segera menata perbekalan kami. Kami pun memakan perbekalan yang tadi kami bawa. Setelah kenyang, kami menanam bibit pohon yang tanpa sepengetahuan kami Linda membawanya. Dia ingin bukit ini menjadi lebat dan hijau seperti dahulu sebelum ada Ilegal Logging.

Namun, tidak teras hari mulai gelap. Kami berempat memutuskan untuk segera pulang. Saat kami akan sampai di lereng bukit, tiba-tiba ada mobil kijang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan. Kami terkejut saat mengetahui tubuh Lely jatuh ke jurang yang ada di bukit tersebut. Kami sedih sekaligus marah. Sedih karena Lely kecelakaan dan marah karena si pengendara mobil tidak mau bertanggung jawab stelah menabrak Lely.

Sebagian dari kami menuju ke kota untuk mencari bantuan yaitu Puspa dan Linda. Sedangkan aku turun pelan ke jurang untuk mencari Lely. Lama kucari namun Lely tidak juga kutemukan. Kulihat para warga sudah datang. Kami lalu mencari Lely bersama. Akhirnya Lely ditemukan, kulihat kepala dan kakinya berdarah. Tanpa banyak bicara kami membawa Lely ke rumah sakit terdekat.

Di rumah sakit, kami tidak boleh menunngu Lely yang diperiksa dokter terlalu lama karena hari sudah gelap. Kami lalu pulang ke rumah masing-masing. Di rumah aku menceritakan kejadian tersebut kepada kedua orang tuaku. Mereka sangat prihatin dengan kejadian yang di alami Lely.

Keesokan harinya kami berangkat sekolah bersama. Tanpa Lely, rasanya ada yang kurang. “Eh, bagaimana ya keadaan Lely? Nanti pulang sekolah kita menjenguk Lely yuk. Kebetulan ibuku sudah menyiapkan parsel untuk Lely” ajakku. “Iya. Semoga Lely baik-baik saja dan cepat sembuh. “Sahut Puspa dan Linda hampir bersamaan. Di sekolah kami menjadi sasaran utama anak-anak dan guru. Dimanapun kami berada mereka selalu bertanya bagaimana kejadian sebenarnya yanag dialami Lely karena kami bersama Lely saat kecelakaan berlangsung.

Sepulang sekolah kami berkumpul di tempat biasa kami berkumpul. “Bagaimana? Sudah siap? Kalau sudah yuk kita menjenguk Lely” Ujarku. Akhirnya kami sampai di rumah sakit “CAHAYA KASIH”. Disana kulihat banyak orang sakit berlalu-lalang. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Dari yang terluka, lumpuh, melahirkan hingga orang kecelakaan. Melihat itu kami bersyukur bahwa sampai sekarang kami diberi kesehatan oleh ALLAH S.W.T. Kami lalu bertanya kepada suster dimana ruangan Lely dirawat. Setelah sampai diruangan Lely, kami melihat ibunya Lely yaitu bu Mariam sedang menangis tersedu-sedu. “Bu, kenapa bu Mariam menangis?” tanyaku. “Begini nak, kaki kiri Lely mati sebagian, sehingga harus di amputasi agar tidak menyebar ke bagian tubuh lain” Jawab bu Mariam. “Ya sudah kalau begitu di operasi saja bu, memangnya kenapa?” tanyaku. “Kamu tahu sendiri. Saya ini berasal dari keluarga kurang mampu. Darimana ibu mendapatkan uang 20 juta untuk mengoperasi Lely?” jawab bu Mariam. Suasana hening sejenak. Aku baru sadar jika Lely berasal dari keluarga kurang mampu. Setelah keharuan tersebut hilang, kami berdo’a bersama agar Lely cepat sembuh dan dimudahkan jalan untuk mendapatkan uang untuk operasi.

Setelah agak lama, kami lalu berpamitan pulang. Kami berdiskusi sejenak untuk memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang 20 juta untuk biaya operasi Lely. Akhirnya kami putuskan sekarang juga meminta sumbangan ke seluruh warga desa dengan cara berpencar agar tidak terlalu lama. Setelah selesai kami berkumpul di rumah kosong itu lagi. Setelah dihitung terkumpul uang 10 juta rupiah dari warga desa.

Keesokan harinya, disekolah kami meminta izin kepada kepala sekolah agar diperbolahkan untuk meminta sumbangan kepada murid-murid yang nantinya uang tersebut akan digunakan untuk biaya operasi Lely. Setelah kepala sekolah mengijinkan, kami berpencar dan meminta sumbangan kepada setiap kelas. Setelah dihitung, uangnya mencapai 8 juta rupiah. “Yah. Bagaimana ini masih kurang 2 juta rupiah. “Ujar Puspa. Tiba-tiba kepala sekolah datang dan memberi kami uang sebanyak 12 juta rupiah yang di dapat dari sumbangan yang diberikan guru-guru. Dengan hati gembira kami mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah atas bantuannya.

Sepulang sekolah, kami menuju ke rumah sakit “CAHAYA KASIH” tempat Lely dirawat. Disana kami memberikan uang 30 juta rupiah tersebut kepada bu Mariam. Dengan segera bu Mariam memberikan uang sebanyak 20 juta rupiah ke bagian administrasi agar Lely dapat segera di operasi. Setelah pembayaran selesai dilakukan, Lely segera dibawa ke ruang operasi. Kami menunggu dengan cemas dan berdo’a kepada ALLAH S.W.T agar operasi yang dijalani Lely berlangung dengan lancar. Lama kami menunggu. Akhirnya dokter mengatakan bahwa operasi berhasil kami sangat bahagia dan ingin cepat-cepat ingin melihat keadaan Lely. Namun, dokter melarang untuk melihat keadaan Lely. Karena Lely harus diarkan beristirahat sejenak karena sudah diberi obat bius.

“Bu uang 10 juta rupih tadi bagaimana jika dibelikan kaki palsu dan sepeda baru untuk Lely?” usulku. “Iya, betul juga. Lely pasti sedih jika melihat sepeda baru yang dia pakai sehari dan dibeli dengan uang celengannya rusak. Dan jika dibelikan tongkat dia tidak akan leluasa bergerak seperti orang normal. Jadi dibelikan kaki palsu saja. Terima kasih ya nak! Berkat kalian Lely selamat dan bisa di operasi. Ibu sangat bersyukur Lely mempunyai teman seperti kalian” Ucap bu Mariam. “Iya, sama-sama bu. Ini memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai teman Lely. Bahwa teman adalah orang yang ada saat kita senang maupun sedih dan menolong saat kita kesusahan” Sahutku.

Setelah kami membeli sepeda dan kaki palsu untuk Lely, kami segera melihat keadaan Lely dengan izin dokter. “Pus, Lin, Ran. thank’s ya. Kalian sudah mau menolong aku. Meskipun aku sedih kakiku harus diamputasi. Tapi, aku bangga punya teman seperti kalian. ” Ujar Lely dengan tangis bahagia. Saat Lely keluar dari rumah sakit, kami melakukan aktivitas seperti biasanya. Karena Lely sudah terbiasa dengan kaki barunya. Itulah gunanya teman.

Cerpen Karangan: Csintia Maharani
Facebook: Csintia Ithue Cheweghk Sukcess
Kenalkan nama saya Csintia Maharani.Sekarang (2013) saya bersekolah di SMPN 15 SURABAYA.Sebenarnya cerpen karya saya bukan hanya ini saja.Tetapi,berhubung saya penulis pemula jika ada kesahalan,masukan,atau apapun yang dapat menunjang saya agar bisa berkarya lebih baik lagi kalian bisa add facebook saya.Terima kasih.Salam penulis Indonesia.

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 Responses to “Haru Biru Persahabatan”

  1. kayla mauldian anwar says:

    Aku mau mengirim cerpen.
    Judulnya:hari ulang tahun sahabat sejati.
    Tolong dijawab ya..

  2. Csintia Maharani says:

    Ya nggak apa – apa dikirim aja pasti diterbitkan kog !

Leave a Reply