He is For You Friend (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 May 2016

“Kenapa kamu mikir aku masih ada rasa sama Syarif sih Nov?”
“Tenang aja Nov. Aku udah nggak ada rasa apa-apa lagi ama dia, Syarif cuma masa lalu aja. Buatku dia cuma orang lain yang pernah aku suka. Lagi pula ku pikir mendingan aku sama dia itu temenan aja,” Lisna tetap bersikukuh tak mau membuka keadaan hati yang sebenarnya.
“Seandainya aja dia pengen balikan sama kamu gimana Lis?” tiba-tiba Novi menanyakan itu pada Lisna. Lisna kaget sekaligus merasa sedikit kesal. Ia tak menyangka Novi akan menanyakan itu pada dirinya. Untuk apa kamu menanyakan itu padaku Novi kata Lisna dalam hati. Tentu saja itu adalah harapannya. Lisna sedikit gugup. Ia bingung tak tahu mesti berkata apa untuk menjawab pertanyaan itu.

“Udahlah Nov, nggak usah nanya aneh-aneh gitu ah. Kan udah ku bilangin tadi apa, Syarif nggak mungkin balikan sama aku. Kalau memang dia pengen balikan udah dari dulu kali, kamu ini kok nyebelin banget sih.” jelas Lisna.
“Aku nggak mau di antara kita terasa ada yang kurang.”
“Aku nggak suka banget kamu nyangka aku masih sayang sama Syarif.” kata Lisna gusar. Novi terdiam.

Lisna menelan ludah. Ia bingung. Apakah ia terus terang saat itu ataukah tidak karena pertanyaan demi pernyataan Novi seakan memaksa ia untuk berterus terang. Lisna merasa ada sebuah kesempatan untuk membatalkan semua yang akan terjadi malam ini tapi batinnya seakan menolak keras. Ia kepalang menyebutkan kata-kata tidak untuk Syarif. Suasana hening. Mereka berdua seakan sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Kepada orang yang ku sayang di luar sana, Lisna ku mohon untuk temuin aku di sini,”

Sebuah suara dari speaker dalam ruangan setelah beberapa detik musik berhenti. Lisna tersentak. Refleks kepalanya menoleh ke pintu. Apa yang barusan ia dengar?
“Sekali lagi. Kepada orang yang ku sayang di luar sana, Lisna ku mohon temuin aku di sini.” dari pengeras suara di dalam terdengar lagi hal serupa. Suara Syarif menggema hingga ke dalam batin. Berdegup jantung Lisna mendengarnya yang baru saja ia dengar. Apa ini.Ia menoleh pada Novi dengan muka tak percaya dan yang ditatap malah mengembangkan senyuman manis seraya mengisyaratkan Lisna menuju pintu. Lisna terperangah tak mengerti dengan semua yang terjadi.

“Kok aku?” tanpa sadar Lisna bertanya.
“Ayo buruan masuk Lis. Syarif nungguin kamu di dalam,” kata Novi dengan senyuman.
“Maksudnya gimana sih?”
“Udaaahhh masuk cepet….” kata Novi seraya menggamit lengan.

Lisna yang masih diliputi kebingungan perlahan-lahan menoleh ke arah pintu masuk. Mata manisnya membulat pertanda suatu perasaan mulai merasuki hatinya. Jantungnya berdegup hebat mengiringi perasaan suka cita yang datang bagai gelombang angin pagi terasa sejuk mendengar namanya terpanggil oleh Syarif. Tapi ia masih tak mengerti. Sekali lagi ia menoleh pada Novi yang kini sedang menggandeng tangannya. Novi tersenyum dan mengangguk sambil menuntun Lisna ke ambang pintu tempat di mana suara panggilan tadi berasal. Langkahnya begitu pelan seakan mengimbangi perasaannya yang bercampur aduk saat itu. Antara bahagia dan rasa tak percaya. Syarif apaan ini.. Ucap batin Lisna bersama gemuruh bahagia dalam dadanya. Langkah Lisna berhenti di ambang pintu dan memperhatikan segala apa yang telah dipersiapkan Syarif untuknya.

Di dalam ruangan terlihat hamparan kain ungu memanjang jauh ke depan membelah ruangan. Para undangan yang terdiri dari teman-temannya berdiri kanan kiri dengan senyuman ke arah Lisna. Hamparan kain itu berakhir di bawah kaki Syarif yang sedang tersenyum sambil memegang piring bertabur bunga ungu di tangan kanannya. Di tengah piring itu terdapat sebatang lilin. Sejenak Lisna terpaku di ambang pintu. Mata Lisna berkaca-kaca. Tangisnya ingin meledak tapi sekuat tenaga ia tahan karena ia menyadari dirinya sedang diperhatikan oleh semua yang hadir di situ. Ia termangu. Syarif pun mengangkat mikrofonnya. “Segalanya sengaja ku pilih warna ungu karena aku masih ingat inilah warna yang paling kamu sukai. Masuklah Lisna, melangkahlah ke mari.” ucap Syarif yang membuat Lisna tersentuh.

Lisna tersipu karena ia merasa sedikit canggung diperlakukan seperti itu tapi ia tak kuasa menolak untuk maju karena ia tak ingin menyia-nyiakan apa yang telah Syarif lakukan untuknya. Dengan kikuk Lisna mulai maju ke depan melangkah pelan di antara teman-temannya bagai seorang putri keraton yang sedang menuju altar. Setapak demi setapak Lisna berjalan diiringi semua mata yang hadir di situ. Matanya bertumpu pada mata Syarif dan seketika perasaan canggung hilang berganti dengan rasa haru yang menyelimuti hati karena Syarif kembali untuknya. Mata yang penuh kelembutan seperti dulu dengan segala romantikanya kini telah Lisna rasakan kembali. Syarif, terima kasih, kata Lisna dalam hati. Matanya yang telah berkaca-kaca kini mulai mengeluarkan air mata deras dan semakin deras.

“Berhentilah dulu sejenak di situ sayang, pandanglah di sebelah kananmu.” kata Syarif kemudian.
Lisna berhenti dan menoleh ke kanan. Di sana… Terdapat lingkaran bunga ungu dan di tengahnya tertulis sesuatu. Sebuah ungkapan maaf dan janji tertera di atas papan ungu bertinta putih. Sejenak Lisna tertegun menatap tulisan itu. Termangu ia merasakan batin yang semakin bergemuruh. Aku telah lama memaafkanmu Syarif, kata batinnya.
“Sepenuh hati aku memohon maaf padamu atas apa yang ku lakuin dulu sayang. Aku memang salah. Jika kamu telah memaafkanku, lanjutkan langkahmu ke mari sayang, berdirilah di sini di hadapanku dan jangan pernah berbalik.” suara Syarif mengalihkan pandangan Lisna.

Mata Lisna semakin berlinang. Beberapa saat ia diam memandang lekat pada Syarif. Syarif tertunduk. Pandangan Lisna membuat batinnya bergetar. Hatinya pasrah dengan apa yang menjadi keputusan Lisna. Matanya terpejam karena menguatkan diri untuk menghadapi kenyataan jika Lisna berhenti hanya sampai di situ. Suasana begitu hening karena tegang menunggu jawaban dari Lisna. Ada isak tangis yang didengar Syarif. Lisna terimalah maafku, kata Syarif dalam hati sambil menahan rasa was-was yang berkecamuk dalam hatinya.

Pelan-pelan Lisna mulai melangkahkan kakinya. Suara sepatu hawk Lisna yang menapaki lantai terasa bagai tetesan air sejuk pada batin Syarif yang terasa mengering karena kepasrahan. Langkah Lisna bagaikan sebuah cahaya yang datang setelah sekian lamanya ia terkurung dalam gelapnya harapan. Harapan untuk sebuah maaf dari gadis itu. Mata Syarif sedikit demi sedikit membuka memastikan Lisna benar-benar melangkah. Dan ketika matanya terbuka ia melihat sosok Lisna yang telah berdiri di hadapannya dengan mata yang basah. “Terima kasih sayang.” suara serak Syarif yang penuh haru. Terasa ada segumpal ludah menyumbat tenggorokan saat matanya bertumpu pada mata Lisna.

Begitu teduh rasa batinnya melihat Lisna dengan telah berdiri di situ sebagai tanda maafnya telah diterima dengan tulus. Lisna mengangguk sambil membuat senyuman di sela isak tangisnya yang masih tersisa. “Terima kasih udah maafin aku Lisna, mungkin aku tak sepantasnya meminta lebih dari sekedar permohonan maaf sama kamu karena kesalahanku yang udah bikin kamu kecewa, tapi jika diizinkan aku ingin diberi kesempatan kedua, aku ingin kembali sama kamu Lis, aku janji jika kamu nerima aku kembali, aku tak akan pernah lagi ngecewain kamu selamanya.” Kata Syarif. Lalu ia mengambil pematik dari dalam saku celana dan menyulut lilin yang ada di tangannya.

“Di tanganku ada sebatang lilin yang akan nentuin keputusanmu. Lewat api lilin ini ku gantungin harapan semoga aku masih pantas jadiin kamu sebagai tambatan hati, penghias hari-hariku dan jadi penyemangat batinku. Tapi, semua tergantung kamu Lisna. Apa pun yang kamu putuskan aku terima dengan ikhlas karena itu ketentuan yang harus aku jalanin. Jika api lilin ini kamu padamkan, itu berarti kamu telah menutup hatimu untukku. Aku sayang sama kamu Lisna. Syarif sayang sama Lisna.” Syarif menyodorkan piring berisi lilin ke hadapan Lisna. Lisna menutup mulutnya menahan isak yang kembali datang.

“Tapi… Tapi katanya kamu suka Novi, malam ini katanya kamu mau nembak Novi.” kata Lisna di sela isaknya.
“Semua itu hanya trik Lisna, semua telah aku atur bersama sahabat-sahabatmu.” kata Syarif. Lisna menoleh pada Novi yang tertinggal di pintu masuk. Novi mengembangkan senyum seraya membuka selembar karton ungu panjang bertuliskan, “He is for you friend.”

Lisna terdiam dan kembali memandang Syarif dengan lekat sambil mencoba meredakan isaknya. Suasana begitu hening dan mata semua tertuju pada Lisna menunggu keputusan Lisna yang terakhir. Perlahan Lisna bergerak mendekati lilin dan mengambil napas. Bibir Lisna bersiap hendak meniup cahaya lembut simbol harapan dari seorang pria yang ada di hadapannya. Tanpa sadar Syarif kembali memejamkan mata karena tak kuasa menyaksikan cahaya itu menghilang oleh hembusan napas Lisna. Aku telah gagal kata batin Syarif mengiringi kepasrahan dalam hatinya. Lisna telah mengambil keputusannya dan Syarif harus menerima. Sudah berakhir. Belum. Syarif merasakan sebuah pelukan erat disertai tangis seorang gadis yang ia sayangi.

Syarif membuka mata dan mendapatkan Lisna yang sedang memeluk tubuhnya. Dan cahaya lilin itu masih tetap bersinar lembut seperti lembutnya hati Lisna yang begitu ikhlas memaafkan dan menerimanya kembali. “Aku masih sayang sama kamu.” kata Lisna seraya membenamkan muka pada dada Syarif dan menangis sejadi-jadinya. Pundak Lisna sampai terguncang-guncang karena kini ia menangis dengan lepas. Syarif merangkul Lisna dengan erat sambil mencium keningnya. “Maafin aku sayang.” kata Syarif sambil mengusap kepala Lisna dan mengecup keningnya berulang kali. Matanya berkaca-kaca karena diliputi rasa haru yang mendalam. Haru karena Lisna telah kembali untuknya dan masih mempercayainya.

Riuh tepuk tangan dari semua yang hadir menyaksikan dua hati yang telah menyatu kembali sebagai ungkapan restu untuk keduanya. Semua yang hadir di situ turut terbawa rasa haru oleh adegan yang telah mereka saksikan bahkan ada juga yang turut mengeluarkan air mata. Lama sekali Lisna memeluk Syarif menghabiskan rasa bahagia di dalam batinnya hingga ia tak sadar Novi telah berada di samping mereka berdua. Novi memegang bahu Lisna dengan mata sembab karena ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu. Lisna melepaskan pelukannya pada Syarif dan kemudian berpaling pada Novi dengan muka yang cemberut tetapi penuh kebahagiaan.

“Kamu jahat ya Nov udah ngerjain aku. Kalian semua jahat.” katanya dengan muka kekanak-kanakan. Novi tertawa melihat mimik muka Lisna.
“Ya udah aku minta maaf Lis. Tentang obrolan kita tadi di luar dan sebelum-sebelumnya, aku sama sekali nggak ada niat buat suka sama Syarif karena aku tahu dia hanya punya kamu. Dari semua inilah kami tahu seberapa besar rasa persahabatanmu sampe rela ngorbanin perasaan. Makasih Lisna. We are love you.” kata Novi seraya memeluk Lisna.

Malam itu, setelah pulang dari tempat Novi Syarif mengajak Lisna jalan-jalan sebentar keliling kota. Syarif ingin menikmati kembali kebersamaannya dengan Lisna setelah beberapa lama tak dirasakannya. Bahagia. Itulah ungkapan yang paling tepat untuk perasaan pasangan muda di atas motor yang sedang melaju menembus dinginnya angin malam di bawah sinar lampu-lampu jalanan. Syarif berjanji dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya untuk tidak pernah lagi membiarkan Lisna pergi. Sudah cukup dua bulan batinnya ditempa oleh hampa tanpa sosok Lisna. Rentang waktu yang cukup membuat ia sadar betapa berartinya kehadiran Lisna untuk hari-harinya. Terima kasih Lisna. Ungkapnya dalam hati.

Cerpen Karangan: Rusmalinsyah
Facebook: Lentera.senja[-at-]gmail.com

Cerpen He is For You Friend (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berubah Dari Tragedi

Oleh:
Dahulu kala, ada seekor burung cendrawasih bernama Angel. Burung yang sangat cantik ini memiliki sahabat, yaitu seekor kelinci bernama Louise. Mereka berdua sudah bersahabat sejak kecil. Kendati pun begitu,

Sahabat Semusim

Oleh:
Pada awalnya mereka berempat sangat kompak, dari beranggotakan Sinta, Dewi, Indah dan Grace. Meraeka menjalani persahabatan di awal naik kelas, dengan nama persahabatannya “Gila Kece” Karena di setiap anggotanya

Beautiful Melody

Oleh:
Melodi yang selalu ku dengar. Melodi yang selalu menenangkan diriku. Melodi yang selalu bersamaku. Melodi yang terindah yang pernah ku dengar dalam hidupku. — Namaku Nico, seorang pelajar SMA

Kunanti Kinanti

Oleh:
Hari ini tahun ajaran baru, yang artinya aku resmi duduk di bangku kelas 12. Leganya, karena artinya ini tahun terakhirku harus berdamai dengan orang-orang yang senantiasa mengusik ketenanganku ditambah

5 Manusia Dalam 1 Bumi

Oleh:
Raja siang mulai mendaki kaki Sang bumi, perlahan-lahan beranjak pada persembunyiannya hingga kehangatannya mulai terasa. Mimpi indah anak peremuan bernama Afa Marhaenis terhenti kala membuka mata. Tak lupa anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *