Heesou

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 March 2015

Heesou! itulah kata yang sering diucapkan Reychel Yukizawa, sahabat terbaikku. Entah apa itu artinya, aku sama sekali tak perduli.
Hari ini pun dia masih saja mengucapkannya.
“Heesou! Kau disini rupanya, kucari kau sejak tadi” tiba-tiba dia muncul dari belakang. Aku sedikit kaget.
“Ada perlu apa mencariku? Kalau untuk membuang sampah ,maaf saja aku sibuk” ucapku agak kesal, karena dia biasanya minta bantuanku untuk membersihkan sampah di rumahnya.
“Bu…Bukan itu! Kau lupa? Basket! Engfield!” ucapnya sambil mengepalkan tinju ke udara.
“Ah!!!” aku baru sadar kalau hari ada pertandingan Basket. Team favoritku, Engfield melawan Haustown.
Aku langsung melihat jam tanganku.
“Hmm… Masih ada 40 menit lagi” ucapku dalam hati. “Ayo pergi Reychel, sebentar lagi dimulai”
“Heesou!, Oke Captain!, Engfield Aku Datang!!!

“Lalala… Menang… Menang” Sepanjang perjalan pulang, Reychel tak henti-hentinya menari dan bernyanyi. Gembira usai Engfield mengalahkan Houstown dengan skor 108-92.
Aku merasa tenganggu dengan kelakuannya itu. Lalu menegurnya.
“Hei… Hei… Hentikanlah nyanyian dan tarian bodoh mu itu! Kau membuatku Malu”
Dia tak menggubrisnya. Tetap saja melakukan hal bodohnya itu.
“Huft, kau memang aneh” umpatku.
Kira-Kira sudah setengah jam kami meninggalkan Engfield Stadium, nampaknya kami hampir sampai di Halte bus.
Aku menepuk bahu kiri Reychel yang memang tak memperhatikan jalan karena sedang asyik menari. “Oi, sudah sampai!”
“Apa…? Dimana? E… Ya Apa?” Reychel kaget.
“Aku bilang kita sudah sampai. Itu haltenya” kataku sambil menujuk ke arah depan.
“Oh! Wah nggak kerasa, sudah sampai kita?”
Kami langsung duduk di kursi Halte, Setelah menunggu beberapa saat, Bus pun datang.
15 Menit Perjalanan, kami pun sampai di tujuan.
“Heesou! Dah… Besok Lagi” ucap Reychel sambil melambaikan tangan.

Drrtt! Drrtt! Drrtt! rupanya ponselku berbunyi. Seketika aku terbangun.
Emm… Ada yang menelopon? Si.. siapa sih. Pagi-pagi gini. Kuraih ponselku yang tak jauh tempat tidur.
Ha? Reychel? “Ya, Hallo”
HEEEESSSOUUU!!! Reychel berteriak. Walau lewat ponsel, tetap saja suaranya tedengar keras.
“Oi… Oi… Tak perlu sekeras itu juga kali”
“Haha… Maaf” balasnya.
“Jadi, ada apa?”
“Kau tak lu…”
“YA Ya Ya!! Aku ingat! Jam 8! Seitou Park!” ucapku memotong bicaranya
“Haha… Kukira kau lupa. Jangan terlambat ya. Jaahhh.. Heesou” dia mengakhiri pembicaraan.
“Huaah” aku menguap. Ku bangun dari tempat tidur, berjalan tertatih-tatih menuju jedela lalu kutatap keadaan luar.
“Langit masih terlihat gelap, Belum pagi ya?” kulihat jam dinding, ternyata masih jam 3.
“Tidur lagi ah” Aku kembali berbaring di tempat tidur.

“Heesou! Rin, kau Terlambat” ucap Reychel. Ternyata dia lebih dulu sampai di halte.
“Terlambat? Ini baru jam setengah delapan tahu, ini lihat” aku menunjukkan jam tanganku.

Setelah 2 jam perjalanan dengan bus, kami sampai juga di Seitou Park, Wahana permainan yang paling terkenal itu.
“Wah… Jadi ini Seitou Park?” Reychel takjub melihat wahana permainannya yang sangat lengkap dan megah itu.
“Baru pertama kali datang kesini?” tanyaku
“Ya” jawabnya. “Rin… Rin… Ayo naik Roller Coster itu” rengeknya sambil menarik tangan kananku.
“Oke Oke! Oh ya sebelumnya, kita beli tiket dulu”.

Tak disangka sudah lebih dari 6 jam kami disini. Hari pun sudah mulai sore.
“Rey, Pulang yuk”
“Heeh… Kok pulang sih?” balasnya sedikit kecewa.
“Hellow! Sudah jam 4 sore nih! Aku ada kerjaan di rumah!”
“30 Menit lagi ya! Aku belum naik itu” Rengeknya sambil menujuk ke arah wahana yang mirip biang lala itu.
“OKE! Kalau itu maumu, Silahkan saja!!!” balasku sambil berlari. Bermaksud meninggalkannya.
Aku sudah berlari cukup jauh, kutengok ke belakang. Ternyata dia mengikutiku. Rencanaku berhasil.
“Oi… TUNGGU! KAU MAU MENINGGALKANKU HAH!!!” Teriaknya dengan terus mengejarku.
Tak berselang lama kami sampai di halte.

“Huft… Untung saja kita nggak ketinggalan bus. Ya kan Rey” Aku mengajaknya bicara, tapi Dia tak merespon, malahan memalingkan muka.
“Oi… Oi…” aku mencolek pipinya berulang kali, tetap saja dia tak bereaksi. Mungkin dia ngambek karena kutinggal tadi
“Haaah, kau seperti anak-anak saja” kataku sambil merebahkan badan.

“Ah! Sampai juga kita! Rey, ayo turun!” Hei… Rey, aku bicara padamu” dia tak menjawabnya.
“Ya sudah aku turun duluan” aku langsung menuju pintu keluar, selang beberapa saat dia mengikutiku.
Aku berjalan cukup cepat, kutengak ke belakang, kulihat Reychel yang masih ngambek berjalan seperti siput. Lambat sekali.
Kuamati Wajahnya, Dia memang sangat imut kalau sedang ngambek.
Makin kupercepat langkah kakiku karena hari yang semakin sore.
GUBRAKK!!!
“Emm… Ada yang jatuh?” Ku tengok ke belakang.
“Astaga!!” ternyata yang jatuh adalah Reychel. Aku cepat-cepat menghampirinya.
“Oi Rey!, kau tak apa-apa? Ada yang terluka?” tanyaku sambil membantunya berdiri.
“Haah, Haah… A…Aku tak apa-apa” jawabnya dengan suara pelan.
Kutatap wajahnya. “ASTAGA! Kau pucat sekali Rey!” Aku panik.
“Mu… Mungkin… Aku kelelahan. Ayo jalan lagi” Reychel lalu berjalan, tapi beberapa langkah dia kembali terjatuh.
Aku menghampirinya. “Baiklah! Sini kugendong kau”
“Ti… Tidak Usah… Aku masih kuat kok” Tolak Reychel.
“Jangan Bohong! Apanya yang masih kuat? Kalau terjadi apa-apa denganmu, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku memaksa!” Kataku sedikit kasar.
“Baiklah kalau kau memaksa”
“Hmm… Bagus, ayo sini”

Aku berjalan selangkah demi selangkah sambil menggendong Reychel.
“Kau berat juga ya?” tanyaku
“Jangan menyebut perempuan itu berat” balas Reychel.
“Haha…” timpalku.
“Ri… Rin”
“Ya, apa?”
“Maaf… Maaf karena sudah merepotkanmu”
“Ah… Tak masalah! Inilah yang namanya persahabatan! Aku juga sudah banyak merepotkanmu”
Sekitar 10 Menit berlalu, aku sampai di rumahnya Reychel. Setelah menjelaskan beberapa hal, aku pun pamit pada Ibunya.

“Huaaah!! Pagi ini sekolah lagi ya. Ahh… Malasnya diriku”
“Emm… Bagaimana keadaan Reychel ya? Apa dia sudah baikan” tanyaku dalam hati. Jujur aku mengkhawatirkannya.
Aha! Kutelepon saja dia. Aku berjalan ke kamarku, mengambil ponselku. Belum sempat kutelepon, dia sudah menelopon duluan.
“Ya, Hallo Rey! Aku baru saja ingin meneleponmu”
“Oh! Rin… Bisa minta tolong nggak?”
“Tolong? Apa?”
“Buatkan aku surat ijin”
“Hah? Kau tak berangkat? Apa kamu belum baikan?”
“Ya begitulah! Tolong ya! Jaaa… Heesou” Rey menutup teleponnya.

Jam ke tujuh berakhir, itu artinya saatnya pulang!

Setibanya di rumah, seperti biasa aku langsung makan, lalu tidur.
Sayang sekali, siang itu aku benar-benar tak bisa tidur. Terus menerus memikirkan Reychel. Aku putuskan untuk menjenguknya.
“Ting… Tong… Ting… Tong” kutekan bel rumah Reychel berkali-kali. Tapi, tak ada yang merespon.
“Aneh! Apa nggak ada orang di rumah ya?”
“Orangnya lagi pergi, Nak” tiba-tiba aku mendengar suara. Kulihat ke belakang, ternyata yang bicara adalah Roichi, Kakeknya Reychel. Aku sudah sangat mengenal Beliau, karena aku sering diajak Reychel ke rumahnya.
“Ah, kakek bikin aku kaget saja… Eh, ngomong-ngomong Reychel, cucu kakek pergi kemana?”
“Rumah sakit” jawabnya
“Hah… Rumah sakit, Memang Reychel sakit apa?” Tanyaku penasaran.
“Entahlah… Oh ya tadi Reychel berpesan, Kalau kamu ingin menjenguknya, kamu harus membawa makanan favoritnya. Kamu tau kan?”
“Haha! Sakit saja masih mikirin makanan! Ngomong-ngomong rumah sakit mana Kek?”
“Zella hospital, Dekat Engfield stadium”
“Hmm… Kalau naik kereta, 45 menit pasti sampai, Terima kasih kek” Ucapku lalu ngeloyor pergi.

“Sus, apakah pasien yang bernama Reychel Yukizawa dirawat disini?” tanyaku begitu sampai di rumah sakit.
“Reychel Yukizawa ya?, Sebentar” jawabnya sambil melihat daftar pasien. “Ya, Ada… Dia dirawat di kamar nomor 56!”
“Oh, kamar 56 ya? Terimakasih sus!

“56… 56…” kutelurisi berbagai ruangan, pada akhirnya ketemu juga.
“TOK!! TOK!!” kuketok pintu dengan tangan kananku. Beberapa detik kemudian, Muncul seseorang yang kukenal. Dia Itou Yukizawa, Ibunya Reychel.
“Selamat Siang!” sapaku dengan membukukan badan.
“Oh, Rin! Selamat siang juga” balasnya dengan tersenyum.
Kulihat Reychel sedang terbaring lemas, wajahnya masih pucat.
“Ah, Rin! Kau datang menjengukku ya?” ucap Reychel dengan suara kecil.
“Yo!” jawabku.
“Ibu?” Reychel memanggil ibunya
“Ya, Reychel”
“Bisa tinggalkan kami berdua?”
“Ta.. tapi”
“Ibu kan ada meeting siang ini! Tenang saja Rin akan menjagaku, Ya kan Rin?”
“Ya” jawabku
“Baiklah kalau itu maumu! Rin kuserahkan Reychel padamu” pintanya sambil menepuk pundak kananku. Lalu pergi meninggalkan tempat.
Aku mendekati Reychel, duduk di dekatnya.
“Jadi, kenapa selama ini kau tak memberitahuku tentang penyakitmu itu?” tanyaku dengan serius.
“Jadi, kau sudah tau?” tanyanya balik
“Ya, dari Suster! Penyakit Jantung kan?”

Kulihat Rey nampak tak mau menjawab pertanyaanku.
“Rey, kita ini sudah bersahabat sejak lama, Tapi kenapa kau…
“Aku tak ingin membuatmu bersedih” Rey memotong bicaraku. “Bersedih karena penyakitku ini…” nampak air matanya keluar membasahi pipinya.
“Tapi, aku jauh lebih bersedih melihatmu seperti ini!
Setiap hari mehanan sakit demi sahabat! Dan sahabatnya sendiri bahkan tak mengetahuinya. Aku tak bisa membayangkan betapa sakitnya itu” tanpa terasa aku juga mulai menangis.

Untuk berberapa saat suasana menjadi hening.

“Rin… Maaf, Seharu…”
“Stop! Bukan saatnya membahas hal itu” ucapku memotong bicaranya.
Kuambil tas ku, kukeluarkan sekotak kue donat.
“Ini… Pesananmu”
“Wah, Donat!! Kau memang bisa diandalkan ya! Lalu Rey mulai memakan donatnya satu persatu.
Dilihat dari cara makannya, sepertinya dia sedang kelaparan.
“Oi… Oi… Pelan-Pelan makanannya” tegurku
“HUAP… HAEP… Nyam… Nyam” Ah… Kenyangnya” 6 Donat berhasil dia makan hanya dalam waktu 3 Menit.
“Rin…”
“Ya… Apa itu?”
“Kalau misalnya besok aku Mati, apakah kita masih tetap bersahabat?”
Seketika darahku Tersirap! Aku terkejut mendengar ucapannya barusan.
Secara refleks kedua tanganku meremas pundaknya. Aku memandang Wajahnya dengan tatapan tajam.
“Kau tak boleh Mati! Masih banyak hal yang belum kita lakukan sebagai sahabat!”
“Ta… Tapi…”
“Kau sudah Menyerah? APA KAU SUDAH MENYERAH?!! APA AKU SENANG KALAU KAU MATI Hah?” Ucapku dengan suara membentak.
Reychel memalingkan muka. “Wa… Wajahmu menakutkan”.
“Uff!!” Kulepas tanganku yang mengcengkram pundaknya, kuambil nafas dalam-dalam untuk memenangkan diri.
“Maaf! Aku terlalu emosi”
“Tidak apa-apa! Ini minumlah untuk mendinginkan pikiran” Rey menawarkan sebotol air mineral.

Aku berjalan mondar-mandir di sekitar Rey yang sedang asyik bermain video game. Kubuka tirai jendela lalu memandang keluar. Kulihat langit yang sedang mendung. Jadi teringat 4 Tahun yang lalu, Saat aku dirawat disini karena Kecelakaan.
“Rey, ada sesuatu yang ingin kukatakan sejak dulu! Maukah kau menjawabnya?”
“Asalkan tidak sulit, aku pasti menjawabnya” Rey meletakkan video game nya. Roman wajahnya terlihat serius.
“Tidak sulit kok! Kamu kan sering banget ngucapin kata Heesou?”
“Iya, memangnya kenapa?” tanyanya penasaran.
“Setelah kucari-cari di Google dan Kamus, aku sama sekali tak mendapatkan hasil. Jadi, heesou itu artinya apa sih?”
“AHAHA HA HA HA HA HA HA HA!!!” Rey malah tertawa terbahak-bahak.
“Apanya yang lucu?” .
“HA HA HA… Jadi, kau sampai mencarinya di Google… HA HA HA”
“Hmm… Aku pulang saja” ucapku dongkol.
“Maaf… Maaf! Habis kau lucu sih! Baiklah aku beritahu. Heesou memang nggak ada artinya”
“Ha?”
“Bukan nggak ada artinya sih, cuman belum punya arti”
“Ha? Aku nggak maksud tuh!”
“Bagaimana menjelaskannya ya? Ah ya, gini… Ah gimana ngatain ya?”
“Oi… Oi! Jangan berbelit gitu dong! Yang jelas dong!”
“Kau sendiri yang harus mengartikannya”
“Aku saja nggak tau! Tapi kau menyuruhku mengartikannya? Yang benar saja”
“Ya! Sudah kujawab kan? Nah sekarang kau pulang sana! Katanya sambil menggerak-gerakan tangannya.
“Kau mengusirku hah?” tanyaku kesal.
“Mungkin! Kawan, coba lihat ini sudah lewat jam 4 Sore. Saatnya pulang bukan? Kereta Kencana sedang menunggumu di luar!”
“Baiklah… Baiklah! Aku pulang ke Negeri Bulan. Maaf telah mengganggumu, Putri Matahari”
“Tak masalah Putri Kaguya! Semoga anda selamat sampai di bulan”
“OKE, besok saya akan kunjungi anda lagi” ucapku sambil membuka pintu lalu keluar.

Setibanya di rumah, aku langsung mengerjakan PR. Setelahnya, seperti biasa, belajar sambil surfing di internet.
Tok Tok Tok!!! Pintu kamarku berbunyi. Kubuka pintunya, ternyata Ibuku.
“Ya, ada apa bu?”
“Ini” ibu menyerahkan sebuah amplop padaku.
“Apa ini? Hmm… Undangan? Dari Hellstone University?
“Ya! Oh ya, Ibu mau keluar sebentar dengan Ayah. Jaga rumah baik-baik ya.”
“Ya, Serahkan padaku.”

Kubuka amplopnya lalu kubaca isinya.
“Hmm… Jadi permintaanku diterima ya? Apa? Try Outnya lusa? Wah, cepat amat!”
Setelah membaca suratnya, aku melanjutkan belajarku.

Tak terasa sudah siang lagi, seperti janjiku, Hari ini Kujengguk Reychel.
Setibanya di rumah sakit, aku binggung sebab Reychel tak ada di kamarnya. Setelah aku bertanya pada suster, barulah aku tahu kalau Reychel sedang jalan-jalan di taman di belakang Rumah Sakit. Aku bergegas pergi kesana.

5 Menit berlalu, akhirnya kutemukan Reychel. Dia sedang duduk memandangi bunga-bunga di taman.
“Yo! Kau disini rupanya” sapaku
“Heesou! Rin! Kau datang lagi?”
“Ya, seperti kataku kemarin” aku lalu duduk di sebelah Rey. “Ngomong-Ngomong kenapa kau ada disini? Bukannya lebih baik di dalam?”
“Aku Bosan! Tak ada menariknya di dalam!”
Untuk beberapa menit kami memandangi Bunga-Bunga. Sungguh pemandangan Indah!
“Rey, operasimu kapan?” tanyaku
“Besok. Kamu harus datang ya! Mendukungku! OKE!
“Emm… Bagaimana ya?”
“Bagaimana, apanya?”
“Jadi gini, kau tau Hellstone University? Nah, permintaanku diterima, sekarang tinggal Try Out”
“Wah hebat!”
“Tapi ujiannya besok! Aku binggung harus datang atau nggak soalnya benturan sama operasimu…”
“Oh begitu ya…! Kau Ikuti Try Out saja!”
“Ta… Tapi kan?”
“Iya, Iya…Aku tahu perasaanmu. Tapi kesempatan tak datang dua kali. Kuliah di Hellstone itu impianmu kan?. Aku mendukungmu. Go Go Go!!!”
“Kau benar-benar Sahabatku” ucapku sambil memeluk Rey erat-erat.
“Oi Rin… Sesak. Lepaskan. Ah… Jantungku sakit”
Kulepaskan pelukanku. “Ma… Maaf,aku lupa kalau kau sedang sakit”
Hari semakin sore, Setelah kuantar Rey kembali kekamarnya aku pun pulang. Mempersiapkan segalanya untuk Ujian Masuk.

Hari yang menentukan itu pun tiba. Aku berjuang untuk bisa Kuliah di Hellstone, sedangkan Rey, berjuang untuk bertahan dari Operasinya sekaligus sembuh dari penyakitnya. Kami saling mendukung.

Waktu berjalan cukup lama, saat aku selesai menjawab soal ujian. Selama ujian, benar-benar aku tak bisa konsentrasi, aku memikirkan Reychel. Cepat-cepat kutinggalkan kampus. Menuju ke halte bus, Pulang ke rumah lalu ke Rumah Sakit. Itu rencanaku.

Selama perjalanan pulang, aku terus mengamati 2 Orang yang duduknya bersebrangan dengan. Mereka mungkin adik-kakak mungkin juga Sahabat seperti halnya aku dan Reychel. Kulihat mereka kadang saling bercanda, kadang juga saling memarahi. Kebersamaan mereka sungguh sangat kuat. Aku jadi sedikit iri.
Coba kalau saat ini Reychel bersamaku disini. Pasti dia sudah melakukan yang seperti itu. Mungkin bisa lebih heboh. Haha, pastinya ngga ketinggalan ngucapin kata trade marknya Heesou.
“Ah” aku tercengang. Akhirnya aku bisa mengetahui artinya. Arti dari kata Heesou. Kedua orang itu benar-benar memberikan jawaban secara tak langsung.
“Jadi, ini ya Heesou itu, Rey? Benar-benar menajubkan” kataku dalam hati.

4 Jam kemudian aku sampai di rumah sakit tempat Rey di Operasi. Cepat-cepat ku ke ruang Operasi. “Ah, Sial!” ternyata Ruangannya kosong. Mungkin sudah selesai.
Aku putuskan menuju kamar 53, tempat Rey dirawat sebelumnya.
Dari kejauhan, kulihat Ibunya Reychel sedang berdiri di depan pintu. Raut mukanya tampak sedih. Aku merasakan firasat buruk. Cepat-cepat kuhampiri dia.
“Ba… Bagaimana operasinya, tante?”
“Ri… Rin” Dia memelukku. “O… Operasinya berjalan sukses”
“Syu… Syukurlah!, Rey ka… Kau memang kuat!” ucapku sambil menangis.
Beberapa saat kemudian, Dia melepaskan pelukannya. Aku mengusap air mata yang membahasi pipiku.
Kulihat Rey dari kaca pintu, Dia nampak sedang tertidur begitu nyenyak.
“Oh ya, tante… Kapan Rey bisa keluar?”
“Dokter bilang sekitar 5-7 Hari”
“Oh! Tante, Aku pulang dulu ya! Terima kasih” pamitku.
“Ya! Hati-Hati di jalan”.

– 7 Hari kemudian –
Pagi itu aku pergi ke Eisburton Grove, Sebuah gedung teater yang sekarang tak digunakan lagi. Menepati janjiku pada Rey, 3 Hari lalu.
Setelah sampai, cepat-cepat aku ke atap. Tempat dimana kami janjian untuk bertemu.
“Heesou! Rin, kau terlambat” ucap Rey beberapa detik setelah aku sampai di atap gedung.
Kulihat Reychel sudah kembali sehat. Syukurlah dia sudah terbebas dari penyakit jantungnya.
“Haha… Maaf! Aku sama sekali tak bisa menghentikan kebiasaan ‘Telat’ ku ini”
“Jadi, apa tujuanmu mengajakku kemari?”
“Seperti yang kukatakan 3 hari lalu. Aku akan menjawab pertanyaan itu. Kurasa disini tempat yang paling tepat”
Di atap Eisburton Grove adalah tempat pertama kali aku bertemu Rey, dan tempat yang sering kami kunjungi kalau bosan. Kami biasa tiduran sambil menatap awan.
“Oh ya! Heesou kan? Kau sudah tahu artinya? Cepat beritahu?”
Kubentangkan kedua tangan. Kubernafas dalam-dalam. Lalu bicara.
“Heesou… Kata yang tak terdapat dalam berbagai bahasa dunia… Tak punya arti. Tapi Heesou bagiku mempunyai arti yang sangat mendalam… Heesou adalah kebersamaan. Kebersamaan yang disebut persahabatan. Kebersamaan yang akan terus mengikat perhasabatan kita sepanjang waktu” aku mengakhiri bicaraku. Nampak Reychel tersenyum.
“Sungguh arti yang sangat indah” puji Reychel.
“Yaa! Selama ada Heesou, Selama itu pula Persahabatan kita takkan berakhir.”
“Hoho… Aku jadi terharu”. Eh… Ngomong-ngomong jam berapa sekarang?”
kulihat jam tanganku “Jam 10, memangnya kenapa?” tanyaku heran.
“Engfield! Basket! Kau lupa?”
“Ah!!!” aku baru sadar kalau hari ini ada pertandingan Basket. Team favoritku, Engfield melawan Hederfield.
“Heesou! Ayo cepat kita pergi! Pertandingan akan segera dimulai”
“Oke, Captain! Eh, barusan kau mengatakan heesou ya? Itu kan kata-kata ku”
“Ah! Sudahlah! Ayo Pergi”
“OKE, Engfield! KAMI DAATAANGG!!!”
Sejak saat itu aku putuskan menggunakan kata heesou sebagai kata trade mark ku, walau Reychel sering protes setiap kali kuucapkan.
Heesou, kata terindah dari sahabat terbaikku, Reychel!!

– Selesai –

Cerpen Karangan: Watanuki
Facebook: http://www.facebook.com/mercury.lampe.98

Cerpen Heesou merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bait Puisi di Penghujung Senja

Oleh:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan, kayu kepada api yang menjadikannya abu..” Layaknya Senja-senja sebelumnya, Tania dan Dani duduk santai di balkon depan kamar

Partikel

Oleh:
Aku selalu tertawa saat mendengar temanku, Firly, mengatakan tentang partikel. Dia selalu berkata seperti ini disaat yang genting, “Karena ada partikel-partikel kecil yang menempel di tubuh sehingga membuat bla…

Bintang Persahabatan

Oleh:
“Mai… Ada satu hal yang belum kamu tau…” Ujar Fifhin “Oh ya? Apa itu, Fhin?” Tanya Mai “Hmm.. Kalo aku gak ada.. Kamu tetap mandang bintang kan?” Ujarnya “Ish..

Friendship Are Forever

Oleh:
Aku Nur, kelas 3 smp. Aku mau menceritakan perihal konflik yang terjadi antara aku dan sahabatku waktu dulu… “Hey, gue punya doi baru nih, ya gak Sri?” Azizah berseru

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *