Hoshi (Bintang)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Jepang, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 24 June 2013

Seperti biasa aku, Lia, Sasa dan Via, menyusuri lorong-lorong Mall, ini adalah kegiatan kami sehari-hari setiap pulang dari Sekolah. Nongkrong di Cafe atau hanya sekedar jalan-jalan. Itulah ritual kami.
“Hoshi-chan…” teriak seseorang, seperti memanggilku, tapi siapa. Dia berlari menghapiriku.
“siapa Bin?” tanya Lia, Sasa dan Via berbarengan. Aku hanya menggeleng, aku mencoba mengingat-ingat. Gadis kecil yang memanggilku sudah berdiri didepanku.
“imut banget” celetuk Sasa
“Hoshi-chan…” ucap gadis itu lagi. Aku masih mengingat-ingat, ku tatap wajah gadis kecil itu. Akupun sampai duduk agar tinggiku setara dengan gadis itu.
“emmm… adek siapa ya?” tanyaku. Aku benar-benar tak tau siapa gadis kecil ini.
“Bintang?” ucap seorang cowok yang tiba-tiba sudah di belakang gadis kecil itu.
“Hitaro?” seketika aku kaget melihat cowok yang ada didepanku, sontak aku langsung berdiri.
“tampanya!” puji Lia pada hitaro
“Cool” tambah Via
“perfect” ucap sasa, Hitaro yang melihat ekspresi teman-temanku hanya tersenyum.
“Hitaro-chan…” ucap gadis kecil itu pada hitaro.
“oh my my god.. this is Yui?” tanyaku. Gadis kecil itu mengangguk. Hitaro adalah teman kecilku, tapi sekarang dia tinggal di Osaka, Jepang. Jadi kita hanya ketemu kalau dia sedang liburan ke Indonesia ataupun aku yang berkunjung ke Jepang.
“Hisashiburi, Bintang” ucap hitaro padaku. Yang artinya Lama tak jumpa.
“Kok gak bilang-bilang kalo mau ke indonesia?” tanyaku pada hitaro
“maunya sih bikin kejutan, tapi …” dia memutar bola matanya
“tapi apa? Udah ketemu disini” aku menebak ucapan hitaro “yapz” jawabnya. Sambil ternyum pada teman-temanku.

Akupun memperkenalkan Hitaro pada teman-temanku. Merekapun langsung akrab. Akhirnya setelah ritualku dan kawan-kawan selesai, akupun langsung pulang tentunya bersama Hitaro dan Yui. Jam 19.15 aku sampai di rumah.
“Konbawa (selamat malam)” sapa yui pada papa dan mamaku. “konbawa yui-chan” jawab mamaku yang langsung memeluk dan mencium Yui.
“bagaiman kabarnya Hitaro?” tanya papaku. “Baik om” jawabnya. Malam ini rumahku jadi rame karena ada Hitaro dan Yui. Seneng deh.
“O ya, Liburan berapa hari disini?” tanyaku pada hitaro. “Seminggu” jawab hitaro. “kok sebentar” ucapku kecewa. “ayo makan malam dulu” ucap mama yang sudah berdiri di meja makan, kamipun menuju ruang makan. Yui yang melihat masakan mama nampak senang.
“Itadakimasu!” ucap Yui sambil melahap makan malam. Aku, mama, papa dan Hitaro hanya tersenyum. Setelah makan malam selasai Hitaro dan Yui berpamitan untuk pulang.
“Kenapa nggak nginap disini saja?” tanya mama. “maaf, tante mungkin lain kali saja” jawab Hitaro, sedangkan yui mulai ketiduran digendongan Hitato. “ya sudah om antarin” ucap papa. Aku masih kecewa karena masih kangen dengan hitaro.
“Bin, jangan cemberut dong, besok kita jalan-jalan. Okey” ucap hitaro padaku. “Uso (Bohong)?!” jawabku. “Aku serius” ucapnya. Papa mengantarkan hitaro pulang.
“Bin, Hitaro tambah tampan ya” tanya mama padaku. “biasa aja” jawabku mengelak. “uh.. yang bener, udah setahun ya kalian gak ketemu, pasti kamu kangen banget” mama menggodaku. “apa’an sih ma” pipiku memerah gara-gara ucapan mama. “Oh iya ma, masak Yui tadi panggil namaku Hoshi-chan” aku mulai teringat dulu waktu kecil juga ada yang memanggilku seperti itu. “Hoshi itu kan artinya Bintang, dulu Hitaro yang sering panggil kamu seperti itu, sampai kamu ngambek” ucap mama sambil senyum-senyum memandangiku. “Oh ya, lupa tu aku” akupun meninggalkan mama dan menuju kamarku.

“Bintang!” panggil Lia dan sasa. Akupun menoleh, “mana Via?” tanyaku, biasanya mereka bertiga berangkat bersama-sama. “katanya ke toilet dulu, ya udah kita masuk ke kelas duluan, pasti ntar juga muncul Via” ucap Lia. “yuk” jawabku dan sasa. Masih di depan ruang kelasku, Via sudah teriak-teriak manggil namaku “Bintang!”. dia berlari sampai ngos-ngosan, “ada apa sih Via?” tanyaku penasaran, gak biasanya Via panggil namaku sampai teriak-teriak. “Ikut aku” ajaknya. Aku melihat Lia dan Sasa, mereka hanya mengangkat bahu, yang artinya juga tak tau maksud Via. “Kemana?” tanyaku, tapi Via tak menjawab dia tetap menarik tanganku dan membawaku ke arah Toilet, Lia dan Sasa mengikuti dari belakang.
“Lihat itu?” ucapnya sambil nunjuk seseorang yang sedang berduaan di dekat Toilet cewek.
“Heru!” teriakku melihatnya yang sedang berduaan dengan cewek, Haiiissh… cowok itu langsung kelabakan melihatku. Akupun menghampirinya.
“Kamu ngapain disini?” tanyaku pada Heru yang tak lain adalah pacarku.
“Enggak ngapa-ngapain kok Yank” jawabnya mengelak, sedangkan cewek disampingnya memukul bahu heru. “Hah, nggak ngapa-ngapain, berduaan di Toilet!” ucapku, aku marah dengan sikap heru, katanya setia tapi selingkuh. “Kita putus!” ucapku pada heru. “tapi Yank…” belum selesai dia ngomong, aku pergi meninggalkannya diikuti Lia, Via dan Sasa.

Sesampai di kelas aku langsung duduk dibangkuku. Menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Bintang, yang sabar ya” ucap Sasa. Lia dan via mengangguk. “Iya, Bin” timpal Via.
“Heru itu emang cowok pembohong!” ucapku sambil menangis. “udah dong bin, jangan nangis, kalau kamu nangis kita ikutan nangis loo” ucap Via, yang menahan nangis. Akupun menghela nafas dan berusaha tegar, mungkin ini yang terbaik. Ini yang kedua kalinya Heru selingkuh dan hari ini aku berani putusin dia. hampir 1 tahun lebih aku pacaran dengan heru, aku pacaran denganya saat kami satu kelas di kelas XI Ips I, tapi sekarang kami tak satu kelas.

Gurupun masuk ke kelas, acara sedih-sedihnya udah kelar sekarang waktunya mengikuti pelajaran.
“Bintang, kerjakan soal no.1 di papan tulis” pinta bu Prita, Tiiiidaaaakk…! teriakku dalam hati, aku tak suka pelajaran Matematika, apalagi suasana hati lagi Galau. “Bu, biar saya aja yang kerjain” Sasa menawarkan diri, “Kalau bintang yang kerjain, nanti gak selesai-selesai bu” timpal Via. Haiiiisssh…. “ya sudah Sasa kamu yang maju ke depan” ucap bu Prita. Sasapun maju kedepan, sambil menatapku, akupun meringis menatapnya.

“Oh iya, cowok yang kemarin kemana?” tanya Via, saat kami ngumpul di kantin sekolah
“Hitaro, ya dirumahnya lah” jawabku
“Cakep banget ya” ucap Sasa seakan-akan sedang membayangkan wajah Hitaro. “Bukanya dia seumuran kita?” tanya Lia. “Nggak, Dia udah kuliah, 2 tingkat di atas kita” ucapku dengan Nada tak semangat karena kejadian tadi pagi. “oooohh” seru Sasa dan Via. “Udah deh Bin, lupain Heru, gak perlu mikirin cowok kayak gitu” kata-kata yang keluar dari mulut Lia memang selalu bijak nggak kayak Sasa dan Via. Aku hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Via.

Seusai sekolah aku, Lia, Sasa dan Via berencana melakukan aktivitas ritual kami. Menghilangkan kegalauanku gara-gara Heru. Aku sudah bersiap-siap naik mobil Lia. Tiba-tiba Hitaro nongol di depan sekolah mau tak mau aku gak jadi naik mobil.
“Haiii” sapa Sasa pada hitaro sambil melambaikan tangannya. Tapi Lia menyenggol sasa agar gak malu-malu’in lebih parah. Hitaro hanya tersenyum melihat ulah Sasa.
“ngapain kamu disini?” tanyaku. “Jemput kamu lah” jawabnya. “tapi aku kan gak minta di jemput?” protesku, dengan nada sebal (sebal karena galau bukan sama hitaro).
“kayaknya kamu lebih baik pulang sama hitaro aja deh bin” ucap Lia, sambil menatapku. “nggak ah, aku mau refresing” Aku masih menggerutu. “Duh bin, putus aja galaunya tingkat final” celetuk Sasa.. haiiiisssh, ember banget sih Sasa… akupun melotot ke arah Sasa.
“Oh, jadi lagi patah hati” hahaha Hitaro tertawa
“bukan urusanmu!” kupelototi juga hitaro. Akhirnya dia berhenti tertawa. “dasar anak kecil” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.
“ah… pengen” ucap Sasa yang merasa iri. “udah, ayo kita masuk mobil” ucap Lia sambil menarik Sasa dan Via yang masih terpana dengan Hitaro. Aku hendak mengikuti Lia “Eiiistt… kamu sama Hitaro aja, byeee” ucapnya, sambil menutup pintu mobil dan berlalu meninggalkanku. Huuuuffftt, nyebeliiin…
“Ayo!” ajak hitaro sambil memegang tanganku. Aku hendak melepasnya, tapi kulihat ada seseorang yang sedang menatapku yang tak lain adalah heru, akhirnya kubiarkan saja hitaro menggandengku.
“Her, siapa tu yang sama Bintang?” tanya Bilo teman heru. “gak tau” jawabnya. “pacar barunya mungkin” timpal bima. Heru terlihat marah dan meninggalkan teman-temannya.

Aku dan hitaro jalan-jalan ke taman kota. Hitaro masih memegangi tanganku, sesekali dia juga menatapku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Kangen masa-masa seperti ini, setiap bersama dengan hitaro perasaanku jadi tenang.
“kamu beneran habis putus” tanyanya padaku, aku hanya mengangguk. “masalahnya?” aku menatapnya, “oke, aku nggak akan bahas” ucapnya lagi dengan tersenyum. “selingkuh” jawabku. “siapa?” tanyanya lagi. “ya dialah!” ucapku dengan nada tinggi. “hehehe” dia malah tersenyum.
“Duduk situ yuk” ajakku, menunjuk sebuah kursi. “ayo” ucapnya, sambil melambai-lambaikan tangan kami yang bergandengan. Akupun melepaskan genggamanya dan duduk. Aku masih merasa galau, terdiam cukup lama tak ada pembicaraan dengan hitaro.
“aku akan mengahapus semua kenangan burukmu” ucap hitaro sambil melambaikan tanganya di depan wajahku seperti sedang bermain sulap, tetapi seakan-akan dia benar-benar menghapusnya. Akupun tersenyum. Lalu hitaro memelukku. Nyaman sekali.
“Arigatou gozaimasu” ucapku pada Hitaro, dia mengelus-ngelus rambutku. “iya” ucapnya.

Hari-hariku bahagia sekali saat bersama Hitaro, tapi sayang dia nggak bisa lama-lama di Indonesia. Kenapa sih kita harus terpisah oleh jarak dan waktu. Jujur saja aku suka dengan Hitaro, apalagi sikapnya yang baik dan perhatian. Lia pernah bilang kalau hitaro mungkin menyukaiku, tapi apa mungkin.. mungkin aja dia Cuma anggap aku adik. Ini hari terakhir Hitaro di Indonesia, sangat berat melepasnya pergi padahal aku kan bisa menemuinya saat Liburan nanti. aku duduk di pinggir kolam renang belakang rumahku, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“Hitaro” ucapku. Dia ikutan duduk disampingku, memainkan air dengan kakinya.
“Hari terakhir ya?” ucapku lagi, kutatap pantulan wajahku di kolam.
“tapi, Owakare ja nai yo ne?” ucapnya. Maksudnya ‘Bukan perpisahan kan?’. Aku menatapnya, aku memang tak pintar bahasa jepang tapi aku masih bisa mengerti apa yang diucapkan Hitaro. “Bintang, aku suka kamu” ucap hitaro. “Aku juga suka sama kamu” jawabku.
“Anatta ni aete yokatta, Hoshi-chan” (aku bahagia bisa mengenalmu) aku tersenyum mendengar hitaro memanggil namaku Hoshi-chan. “Ore mo” (aku juga) ucapku. Aku sangat sangat bahagia karena bisa mengenalmu Hitaro.
“Kimi no koto waserenai yo” (aku tidak akan melupakanmu) kata-katanya so sweet.
“Hontou ni?” (benar?) tanyaku memastikan ucapannya. Hitaro memelukku. Mungkin ini udah membuktikan semuanya.
“Aku mau ngelanjutin kuliah ke jepang, biar kita tetap deket” ucapku.
“o ya, emang Om sama Tante ngizinin?” tanyanya, aku sedikit berfikir. “pasti boleh” ucapku mantap.
“Ok, Matte iru yo” (aku tunggu ya) ucapnya. Aku benar-benar ingin selalu bersama Hitaro.

Selesai (Ganbatte !!!)

Cerpen Karangan: Anitrie Madyasari
Facebook: Anitrie Ganbatte Pholephel

Cerpen Hoshi (Bintang) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hati Mu Hati Ku (Part 2)

Oleh:
Malam harinya. Pukul 19.00 WIB Alvin, Clara dan teman-temannya sudah sampai di kafe ‘Beauty”. “Ra, coba lo telepon si Satria.” Kata Tiara. Clara pun menelepon Satria. “Halo, Ra. Ada

Matter of Love

Oleh:
Aku begitu bahagia saat bersama dengan dia yang selalu mengisi hari-hariku yang kosong. Entah mengapa di mataku dia begitu sempurna. Dia adalah Maxi sosoknya yang begitu populer di sekolahku

The Perfect Ending (Part 1)

Oleh:
Hari itu aku sudah bersiap pergi ke sekolah diantar ayahku. “sudah siap?” tanya ayah “sudah yah ayo kita berangkat” sesampainya di sekolah aku langsung menuju kelasku tiba tiba aku

Antara Aku, Kau dan Dia

Oleh:
Kriiinggg!! Bel tanda istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan ke luar kelas, tetapi tidak denganku… aku masih terdiam di kelas sambil memandangi awan di luar jendela dan membayangkan masa-masa yang pernah

Patah Hati

Oleh:
Patah hati. Itulah yang sedang dirasakan oleh Kania. Dadanya terasa sangat sakit dan sesak. Hatinya tak mampu menahan rasa sakit yang terasa. Begitu perih. Air matanya tak berhenti mengalir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *