I Hope You’re Happy (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 February 2014

Cukup lelah hari ini. dan sekarang saatnya untuk mandi dan beristirahat. “hemmm segarnya” ucapku saat selesai mandi. Aku pun melihat ponsel ku. Lagi-lagi ada pesan masuk dari Fadil. Mau apa sih dia, terus-menerus mengirimi aku pesan. Aku ini mau melupakannya. Jika seperti ini terus, akan sulit bagiku untuk melupakannya. Aku memutuskan untuk tidak membaca pesannya dan langsung saja aku hapus pesan darinya.

“Uliii..” teriak ibu ku. Aku pun langsung keluar kamar untuk menemui ibuku. “ada apa Bu?” jawabku. “ini uang ujian. Besok langsung bayar biar tidak hilang uangnya” ucap ibu ku sambil memberikan uang untuk membayar ujianku. Ya, saat ini aku sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan. Hanya tunggu beberapa bulan lagi, untuk itu aku harus rajin belajar agar aku dapat meraih impianku untuk mendapatkan beasiswa ke Malaysia. Kesempatan beasiswa itu hanya untuk 3 orang. Dan aku harus berada di salah satunya. Setelah mengambil uang ujian itu, aku kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sejenak.

Malam ini adalah malam pertama ku tanpa Fadil. Ya, malam pertama sejak hubunganku dengannya harus berakhir. Sudahlah aku tidak mau membahas soal itu lagi. Belajar dan fokus pada masa depan. Itulah tujuanku saat ini. pukul 9 malam, aku saatnya aku tidur dan membereskan buku yang tadi aku pelajari. Aku berharap tidurku kali ini tidak diganggu oleh mimpi yang membuat hari esokku merasa suram. Hem semoga saja.

Matahari sudah berhasil masuk ke sela-sela jendela kamarku. Dan itu tandanya aku harus segera bangun dari tidurku dan beranjak untuk sekolah. Sejenak aku lihat jam dinding yang sekarang menunjukan pukul 5 pagi. Ya, hari ini aku tak perlu tergesa-gesa untuk berangkat sekolah. Aku bisa mandi dan sarapan tanpa dibayang-bayangi bel sekolah. Sekitar 30 menit kemudian, aku pun sudah siap dengan seragam yang sudah melekat pada tubuhku. Aku perhatikan diriku pada cermin, “hemm sudah rapi” ucapku pada bayangan diriku di cermin. Hari ini, aku biarkan rambutku tergerai dengan jepitan kecil. Aku berharap hari ini akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“pagi Ibu, ayah, Kakak” ucapku dengan ceria saat berada di meja makan. “tumben banget adik aku yang satu ini gak telat bangunnya” ucap kakakku sambil meledek. Aku tak menghiraukan ledekannya. Lebih baik aku makan saja. Aku tidak biasa makan nasi di pagi hari, jadi aku memutuskan untuk makan selembar roti saja. karena aku rasa itu sudah cukup. Setelah selesai melahap selembar rotiku tadi, aku pun langsung berpamitan dengan kedua orangtua ku dan kakak ku saat itu.

Ketika hendak mengeluarkan sepeda kesayanganku, eh tiba-tiba saja Hani datang untuk menjemputku. “Ulii..” teriaknya dari dalam jendela mobilnya. “hei Hani” ucapku saat menjawab sapaan Hani. Aku pun langsung menhampirinya. “tumben udah bangun Li?” ucapnya sambil meledek ku. Huhh terus saja semua orang meledekku. Aku bangun kesiangan salah, aku bangun pagi juga salah. Jadi aku harus bagaimana? “hem kamu itu sama banget deh dengan Kak Wita. Selalu saja meledekku” ucapku dengan datarnya. “hehe maaf.. maaf.. ya sudah berangkat bareng aku aja ya” ucap Hani. “hemm.. iya deh” jawabku sambil masuk ke dalam mobilnya.

Tak membutuhkan waktu yang lama, kita pun akhirnya sampai di sekolah. Aku dan Hani turun di parkiran mobil dan secara kebetulan Fadil juga baru sampai. Tapi kok tidak bersama Nuri ya? Sudahlah tidak ada untungnya juga aku memikirkan hal itu. katika aku dan Hani ingin keluar dari parkiran, tiba-tiba saja Fadil memanggilku “Ulii..”. aduh aku harus bagaimana. Kalau aku menoleh ke arahnya, pasti Hani akan marah. Tapi aku sangat ingin berbicara padanya. Aku dan Hani pun saling menatap. “biar aku yang menoleh ke arahnya” ucap Hani. Hani pun menoleh ke arah Fadil. “mau apa lagi sih Dil?” ucap Hani dengan ketus. “aku hanya ingin berbicara pada Uli” jawabnya. “belum puas ya kamu menyakiti sahabatku? Kamu meninggalkan dia hanya untuk seorang wanita seperti Nuri? Bodoh! sangat Bodoh pilihanmu Dil. Kau menyia-nyiakan gadis sebaik Uli. Tetapi untungnya sahabatku sudah tidak memikirkanmu lagi. Dan aku minta, kamu jangan lagi mendekati Uli” ucap Hani yang terlihat begitu kesal pada Fadil. Aku pun langsung saja menoleh ke arah mereka. Dan aku lihat, Fadil hanya tertunduk saat Hani memarahinya. Entah kenapa aku tak tega melihat Fadil. Aku rasa, dia tak sepenuhnya salah. Seperti yang pernah ku katakan sebelumnya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Fadil. “udah lah Han, kita ke kelas aja yuk” ucapku pelan sambil menarik tangan Hani. Aku sengaja memisahkan Hani dari hadapan Fadil. Aku tidak mau, Hani meluapkan semua kekesalannya pada Fadil. Ya, Hani memang selalu membela ku. Apapun kondisi ku pasti dia selalu ada untukku. Ini lah sebabnya aku sangat beruntung mempunyai sahabat sepertinya.

“Han..” ucap ku saat mulai duduk di dalam kelas. “kenapa Li?” Jawabnya. “kamu jangan marahin Fadil seperti itu lagi ya? Aku mohon” ucapku seraya memohon padanya. “masih saja kamu membelanya. Sudah jelas-jelas kamu itu disakitin dia” ucap Hani. “bukan seperti itu. hanya saja aku merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Fadil” jawabku. “hem.. ya ya ya” ujar Hani. Hem aku tau, Hani masih tak percaya mengapa aku tidak marah pada Fadil. Bahkan aku selalu membelanya. Tapi aku akan buktikan, kalau ini ada hal yang tidak beres.

Bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasanya, Hani mengajakku untuk ke kantin. Tetapi aku harus ke ruang Tata Usaha untuk membayar uang ujian. Dan akhirnya kita sepakat, aku membayar ujian dulu dan Hani akan menunggu di kantin. Kita pun keluar kelas dengan berbeda arah. Di ruang TU, aku bertemu dengan Fadil. Tetapi lagi-lagi dia tak bersama Nuri. Kali ini, Fadil tak menegurku. Mungkin karena kata-kata Hani tadi pagi. Aku pun memutuskan untuk menegurnya lebih dulu. “Fadil..” ucapku. Fadil pun menoleh ke arahku dan tersenyum kecil. “eh iya Uli..” jawabnya. “maafin Hani ya tadi pagi. Jangan di masukin ke hati kata-katanya” ucapku meminta maaf. “iya gak apa-apa kok. Aku minta maaf soal…”. “ah sudahlah.. tidak apa-apa Fadil” ucapku memotong pembicaraan Fadil. Fadil pun langsung tediam ketika aku memotong pembicaraannya. Sepertinya dia tau, kalau aku sudah tidak mau membahasa soal itu lagi.

Ketika aku selesai membayar uang ujian, aku pun keluar ruang TU dan bergegas menghampiri Hani di kantin. “aku duluan ya Dil” ucapku saat hendak keluar dari ruang TU. Fadil pun menjawabnya dengan sebuah senyuman kecil yang terlukis di wajahnya.
“Ulii…” ucap seseorang dari balik punggungku saat aku hendak mencari Hani di kantin. Ya, suaranya tak asing bagiku. Itu tak lain adalah suara Hani. Aku pun segera menghampirinya. “kok lama Li?” Tanya Hani saat aku mulai duduk di sampingnya. “hem.. iya maaf. Tadi banyak yang mau bayar uang ujian soalnya” jawabku. “Han, aku ke situ bentar ya, mau pesan minum” ucapku sambil menunjuk arah warung minuman yang berada di kantin. “iya iya” jawab Hani singkat.
“aduh” ucapku saat seseorang tiba-tiba saja menabrakku dari arah depan. Huuh, bajuku kotor terkena tumpahan air minum yang baru saja aku beli. “duh maaf ya, aku tidak sengaja” ucap seseorang yang telah menumpahkan minumanku dan juga mengenai bajuku. “kau?” ucapku dan orang itu secara bersamaan saat kita saling memandang satu sama lain. Ternyata yang menabrakku itu adalah seseorang yang pernah ku tabrak juga sebelumnya. Seseorang yang masih saja marah-marah saatku sudah meminta maaf padanya. Dan kini bergantian, dia yang menabrakku dan menumpahkan minumanku sehingga baju ku kini kotor. “duh kotor deh” ucapku sambil membersihkan tumpahan air minum itu pada baju seragamku dengan tissue. “nihh” ucapnya dengan memberikan sapu tangannya padaku. Hem, ternyata orang itu berhati baik juga. aku pun mengambil sapu tangannya dan mengucapkan terima kasih padanya. “maaf ya” ucapnya lagi meminta maaf padaku. “iya gak apa-apa kok” jawabku. “oh iya, maaf juga buat yang waktu aku marah-marah ke kamu” ujarnya lagi. “hehe udah itu lupain aja” ucapku sambil tersenyum. Melihatku tersenyum, dia juga ikut tersenyum. “hem nama kamu siapa?” Tanyanya padaku. Ketika aku ingin menjawabnya, tiba-tiba saja Fadil datang melintasi ku dan seseorang yang kini bersamaku. Kali ini Fadil tidak sendiri. Dia bersama Nuri, kekasihnya. Tuhan, mengapa aku masih tak kuasa melihat Fadil kini bersama Nuri. Aku sudah berjanji untuk merelakannya. Tetapi mengapa masih saja dadaku terasa sakit ketika dia melintasi ku dengan mesranya bersama Nuri. “heiii.. kok melamum sih?” ucap seseorang yang ketika itu melihatku melamun. Dan sapaannya itu menyadarkan ku dari lamunan tentang Fadil dan Nuri. “eh iya maaf, kamu Tanya apa tadi?” ujarku saat bertanya pertanyaan dia tadi. “hem, nama kamu siapa?” ucap orang itu mengulangi pertanyaannya. “namaku Ulina. Biasa dipanggil Uli” jawabku. “Uli? Nama yang bagus. Nama aku Reza, tapi biasa dipanggil Eza sih” ucapnya saat memberitau namanya sekaligus mengulurkan tangannya. aku pun menyambut uluran tangannya dengan senang hati dan senyuman.

Sejak kejadian di kantin itu, aku dan Eza jadi semakin dekat. Bahkan aku sudah memperkenalkan Eza pada Hani. “Uli, besok malam kamu ada acara gak?” Tanya Eza saat aku dan dia berada di depan gerbang sekolah seusai pulang sekolah. “hem.. sepertinya tidak ada. Kenapa?” jawabku. “aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Kamu mau?” Tanya Eza lagi. “iya boleh, jam berapa?” jawabku setelah sebelumnya aku berfikir sejenak. “oke, jam 8 aku jemput kamu ya” ucap Fadil dengan penuh semangat. Aku pun tersenyum sebagai jawaban setuju. “ya sudah, aku pulang dulu ya? Apa kamu mau aku antar sekalian?” ucap Eza menawarkan diri untuk mengantarku pulang. “aku masih menunggu Hani. Kamu pulang duluan saja” jawabku. Dan Eza pun akhirnya pulang, sementara aku masih menunggu Hani di depan gerbang. Hani saat ini sedang melakukan ujian susulan karena dia sempat tidak masuk saat ujian sekolah waktu itu.

Sambil menunggu Hani, aku pun memutuskan untuk membaca Novel yang ku pinjam di perpustakaan sekolah. “sepertinya ada yang lagi dekat dengan Eza” ucap seseorang saat aku sedang serius membaca Novel. Sontak aku pun langsung mengalihkan novel yang aku baca untuk melihat orang itu. dan ternyata Fadil yang berbicara seperti itu. “maksud kamu apa bicara seperti itu?” Tanya ku. Dia pun duduk di sampingku dan berkata “kamu menjalin hubungan dengan Eza?” tanyanya lagi. Aku tak mengerti mengapa dia bertanya seperti itu. “aku hanya berteman dengannya dan tak ada hubungan spesial di antara kita” jawabku dengan sangat serius. “bohong” ucapnya singkat. “untuk apa aku bohong. Aku tidak mungkin berkata bohong kalau mengenai urusan hati. Saat ini aku memang masih berteman” jawabku lagi. “masih berteman? Itu tandanya akan ada hubungan lanjutan setelah pertemanan?” ucapnya dengan nada suara marah. “mungkin” jawabku singkat. “dengan mudahnya kamu menggantikan posisi aku di hatimu” ucap Fadil yang kini ku rasa sudah benar-benar marah. Aku yang saat itu sama sekali tak memandangnya, kini mataku tiba-tiba saja melihat tegas ke arahnya. Aku tak mengerti apa yang dia ucapkan tadi. Dia berkata kalau aku dengan mudahnya mengganti posisinya di hatiku. Harusnya dia berkaca dahulu sebelum berkata itu pada ku. “jadi kamu fikir, apa yang kamu lakukan saat ini apa?” tanyaku dengan tatapan mata tajam. “lakukan apa maksudmu?” tanyanya yang seolah-olah tak mengerti. “kamu menggantikan posisiku di hatimu dengan Nuri, teman sekelasmu. Yang tidak lain juga adalah mantanmu. Dan itu hanya berselang sehari setelah kita putus. Aku tak, aku tak secantik dia. Tapi kamu benar-benar tega menari indah di atas tangisanku ketika itu. dan tadi kamu berkata kalau aku mudah mengganti posisi kamu dengan Eza setelah kamu tau aku dekat dengan dia. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu itu” ucapku dengan sangat kesal. Setelah aku bertanya seperti itu, aku lihat Fadil hanya terdiam. Mungkin dia baru menyadari kesalahannya setelah aku berkata seperti itu.

“sayaang” ucap Nuri yang tiba-tiba saja datang di antaraku dan Fadil. Sungguh, aku benar-benar tak tau kedatangan Nuri. Dan aku rasa, Fadil juga tak tau. karena biasanya kalau Fadil melihat Nuri dari kajauhan, dia pasti sudah menghindar dariku. “eh kamu. Sudah ujian susulannya?” Tanya Fadil yang saat itu masih terlihat shock. “iya sudah. Kamu lagi apa sama dia?” Tanya Nuri dengan ketus sambil memandang tajam wajahku. karena perasaanku yang masih terbawa kesal, aku pun langsung berdiri dan menghindar jauh-jauh dari hadapan mereka. Aku benar-benar tak mau berurusan lagi dengan Fadil ataupun Nuri. Tetapi jujur, saat ini aku memang masih mencintai dan menyayanginya. Kenanganku bersamanya dulu yang membuatku susah melupakannya. Tapi kini aku harus sadar, kalau sudah ada Nuri yang kini bersamanya. Tak sadar, tiba-tiba saja air mataku jatuh. Dan seketika itu, kaki ku sangat berat untuk ku langkahkan. Untung saja, hanya tinggal 2 bulan lagi aku lulus dari sekolah ini. jadi memudahkanku untuk melupakannya.

“Assalamu’alaikum Bu” ucapku saat sampai di sekolah. “Wa’alaikumsalam” jawab ibu ku. Aku tak banyak berkata-kata setelah pulang sekolah. Aku langsung saja masuk kamarku untuk merebahkan tubuh. Entah kenapa, aku merasa sangat lelah hari ini. tak lama setelah itu, aku melihat ponselku yang berdering. “astaga, Hani?” ucapku saat melihat panggilan masuk yang ternyata Hani. Aku sudah tau tujuan Hani menghubungiku. Tanpa berlama-lama lagi, aku pun langsung mengangkatnya. “iya Han” ucapku dengan rasa bersalah. “Uli? Kamu dimana?” Tanya Hani. “hem, aku di rumah Han. Aduh maaf ya Han aku pulang tanpa beritahu kamu” ucapku masih dengan rasa bersalah. “hem pantas saja” jawabnya. “iya sekali lagi maaf ya Han. Habisnya tadi aku bertemu dengan Nuri dan Fadil. dan kamu tau? Nuri menatapku seperti itu ketika dia melihat Fadil duduk di sampingku” ucapku saat mengingat kejadian tadi siang. “lagi kamu juga sih Li, harusnya kamu bisa menghindar lebih dulu dari Fadil” ucap Hani yang malah menyalahkanku. “aku aja gak tau, kalau Fadil tiba-tiba menghampiriku” jawabku. “hem, ya sudah lah. Lusa kita berangkat sekolah bareng ya Li?” ujar Hani. “iya iya, jangan lupa belajar ya besok Ujian Nasional inget” ujarku mengingatkan Hani. “siapp, bye” jawab Hani seketika menutup teleponnya.

Cerpen Karangan: Risdatul Zulfiah
Facebook: zrisdatul[-at-]yahoo.com
Twitter: @risda_zulfiah

Cerpen I Hope You’re Happy (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Terindah

Oleh:
Hari ini, mengingatkanku kejadian yang lalu, saat kelas ix smp, dimana aku mempunyai teman bernama arya dia anaknya baik, ramah, kocak, aku sangat menyukainya tapi, aku tak bisa mengungkapkannya,

Goodbye My Life

Oleh:
Hari itu adalah hari pertamaku bersekolah di sd hinamoto. Bisa disebut sebagai hari pertamaku karena aku baru pindah dari sekolah lamaku. Di pagi hari, aku sedang bersiap siap untuk

Tuhan, Kembalikan Cinta Pertama Ku

Oleh:
“Nah anak-anak, sekarang kita sudah sampai di tempat untuk latihan kepemimpinan. Kalian sudah siap untuk menjalani pelatihan ini?” begitu tutur seorang guru yang kini sedang membimbing kami. “Siap Pak!”

Bukan Harapan Palsu (Part 1)

Oleh:
“Tersenyum mungkin hanya topeng belaka. menangis mungkin hanya luapan emosi saja. tapi perasaan ini membuatku tersenyum dan menangis. apa perasaan itu hanya topeng? atau apa perasaan itu hanya luapan

Perpisahan Kita

Oleh:
Sebelum mentari beranjak dari peraduan, walau jam masih menunjukkan pukul 04:30 aku sudah terbangun dan melaksanakan sholat subuh dan memulai aktifitas seperti biasa. Selesai sholat aku mandi dan membantu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *