I Hope You’re Happy (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 February 2014

Lusa adalah hari pertama Ujian Nasional. Aku harus belajar dengan benar. Karena hasil akhir Ujian Nasional ku akan aku kirimkan ke Malaysia untu mengikuti program beasiswa. Bimillah, mudah-mudahan aku berhasil. Malam ini aku belajar dengan sangat serius. Yang harus ku fikirkan kali ini hanyalah lulus, kemudian keterima beasiswa ke Malaysia, dan membuat kedua orangtuaku dan kak Wita serta Alm. Kak Romi Bangga. Jadi, tak ada tempat di otakku untuk hal-hal yang tidak penting. Terutama Fadil dan Nuri.

Matahari kini membangunkanku dari tidurku yang lelap. Ya setidaknya tidurku hari ini tidak dibayang-bayangi oleh seseorang yang pernah mengisi relung hatiku. Mungkin perasaan itu sudah tak ada untuknya. Ya, semoga saja. Seperti biasanya, sebelum bergegas untuk mandi aku menyempatkan diri untuk melihat ponsel ku. Dan benar dugaanku, ada satu pesan masuk dari Eza. Ah iya, aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengannya. untung saja dia mengirimiku pesan untuk mengingatkan ku akan janji itu. kalau tidak, mungkin aku tidak akan menemuinya nanti malam. Setelah itu, aku langsung saja bergegas ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhku.

“hemm segernya” ucapku saat selesai mandi. karena hari ini libur, aku memutuskan untuk membantu ibu berjualan kue di toko. Yaa, ibu ku memang membuka toko kue kecil-kecilan di samping rumah. Toko kue itu, peninggalan Alm kak Romi. Gaji pertamanya dia pakai untuk membuka toko kue itu. kak Romi bilang, itu untuk tambahan uang sekolahku. Kak Romi memang kakak yang perhatian dengan keluarga. karena itulah, orangtua ku terutama ibuku sangat menjaga toko kue itu.

Setelah aku rasa sudah siap, aku pun keluar kamar dan langsung menemui ibu di toko. “ibuuu” ucap ku saat memeluk ibuku dari belakang punggungnya. Ibu yang ketika itu sedang membereskan kue-kue, terlihat sangat kaget sehingga membuatku sedikit tertawa geli. “ulii, bikin ibu kaget aja” ucap ibuku. Aku pun menjawabnya hanya dengan tertawa kecilku saja. “Uli bantu ibu disini ya?” ucapku. “iya harus dong. Kapan lagi kamu bantu ibu” jawab ibuku dengan sangat antusias. Dan akhirnya aku pun menjaga toko bersama ibu.

Hem tak terasa, sudah pukul 7 malam. Untuk jam segini toko ku memang belum tutup. karena justru pada malam hari toko kue ini lebih ramai dari pagi atau siang hari. Tetapi aku ada janji dengan Eza sehingga tidak bisa lagi menemani ibu ku. Untung saja, ibuku mengizinkanku pergi dengan Eza. Ya meskipun ibu belum kenal dengan Eza.

Ketika aku sedang bersiap-siap, tiba-tiba ponsel ku berdering. Tadinya aku fikir yang menghubungiku adalah Eza. Tetapi aku salah. Hani yang menelponku. “hei kenapa Han?” jawabku saat mengangkat panggilan dari Hani. “jalan yuk Li. Aku bosen di rumah. Mumpug malam minggu nih” ucap Hani dari balik ponsel. “duh aku gak bisa Han. Aku sudah ada janji” jawabku sambil merapihkan sedikit rambutku. “yaahh Uli…” ucapnya yang terlihat sangat kecewa. “maaf ya Han” ucapku meminta maaf padanya. “iya deh gak apa-apa” jawabnya. Ada perasaan tidak enak sih menolak ajakan sahabat terbaikku itu. tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur janji dengan Eza.

“dek, ada temennya tuh” teriak Kak Wita dari depan pintu kamarku. Aku rasa itu Eza. Dan ketika ku keluar kamar, dugaanku terbukti. Eza sudah datang. Aku pun memperhatikan Eza yang sedang menatapku tak berkedip. Sungguh tatapannya itu membuatku jadi malu dan salah tingkah. “iih jangan menatapku seperti itu” ucapku pada Eza dengan perasaan malu. “iya maaf” jawabnya sambil tersipu malu. “memangnya penampilanku aneh ya?” tanyaku. “ah tidak. Bahkan sangat cantik” jawabnya yang malah memujiku. Pujiannya benar-benar membuatku malu. “ah sudahlah, ya sudah yuk jalan” ucapku mencairkan suasana hatiku yang saat itu terkepung rasa malu. “mamah kamu mana? Aku mau izin dulu untuk membawamu ke luar rumah” ucapnya yang saat itu mencari keberadaan ibuku. “ibuku di toko, biar aku antar kalau kamu mau izin” jawabku.

Aku pun segera mengantar Eza ke toko kue milik keluargaku. Sesampainya di toko kue, Eza pun langsung meminta izin untuk membawaku pergi ke luar rumah. “malam tante” ucap Eza dengan sopan. “eh iya malam” jawab ibuku sambil tersenyum ramah. “Bu, ini Eza yang tadi aku ceritakan tadi siang” ucapku sambil mengingatkan ibuku tentang sosok Eza yang ingin membawaku jalan-jalan. “oh ini nak Eza. Mau ajak Uli jalan-jalan ya?” ucap ibuku. “hmm iya tante, boleh gak tante?” ucap Eza meminta izin. “iya iya boleh, tapi jangan malam-malam ya pulangnya” jawab ibuku mengizinkan. Setelah sudah mendapat izin, kita pun akhirnya segera jalan.

Aku tidak tau, Eza mau mengajakku kemana. Dia hanya bilang mau mengajakku ke suatu tempat. Hemm, buatku penasaran saja. Saat ini aku pergi dengannya menggunakan motornya. Selama perjalanan, aku dan dia tak berbicara apapun. kita sama-sama diam. Ya mungkin kita sama-sama tidak tau apa yang harus kita bicarakan.

Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya kita sampai di sebuah Festival. Ramai sekali disini. Banyak anak-anak muda yang bermalam minggu disini. “ini tempat apa?” Tanya ku saat sudah mulai memasuki gerbang festival tersebut. “ini Festival malam. Adanya hanya malam minggu saja. Ramai kan?” ucapnya dan sesekali melirik ke arahku. “hem iya iya. Disini ada Festival apa aja?” tanyaku lagi. “ya banyak, ada Festival musik dari seniman jalanan, ada permainannya juga, ada banyak makanan disini. Pokoknya aku akan ajak kamu keliling untuk lihat festival malam ini” jawabnya dengan sangat antusias.

Saat ini aku dan dia menuju ke arah sebuah permainan lempar bola. “kamu mau ikut permainan ini?” Tanya ku heran. “iya. Kamu tunggu sini ya” ucapnya seraya menyuruhku untuk menunggunya mengambil tiket antrian. “hem lihat aku ya” ucapnya saat kembali menghampiriku. Aku pun hanya tersenyum padanya. Aku dengan seriusnya melihat dia bermain permainan ini. kadang aku di buat geregetan karena bolanya tak kunjung mengenai kaleng yang tersusun rapi di hadapannya. Tapi akhirnyaa… “yeaahhh kena!” teriakku saat bola Eza berhasil meruntuhkan barisan kaleng yang tersusun rapi itu. Eza pun mendengar teriakanku yang sangat antusias itu. dan dia pun mengambil hadiah yang ia dapat karena berhasil meruntuhkan kaleng itu.

“nih..” ucapnya saat memberikan sebuah gelang tangan. Gelang tangan itu adalah hadiah yang ia dapat dari permainan tadi. “untukku?” Tanya ku seolah-olah tak mengerti. “iya ini untuk kamu” jawabnya sambil melingkarkan gelang itu pada tanganku. Perasaanku saat itu tercampur aduk. Senang, malu, gugup, itu lah yang aku rasakan saat dia memegang tanganku. “makasih ya” ucapku seketika. “iya sama-sama. Oh iya, kita ke sana yuk” ucapnya sambil menarik tanganku dengan lembut dan mengajakku ke tempat pertunjukan Biola. Setelah sampai disana, aku kembali dibuat terkejut oleh Eza. Tiba-tiba saja, dia meminjam salah satu Biola. Dia memainkan sebuah lagu dari adele – someone like you. Aku pun memperhatikan setiap alunan lagu yang Eza mainkan. Sungguh sangat menakjubkan. “Perfect!” ucapku saat Eza selesai memainkan biola itu dengan lagu yang sangat menyentuh. “hehe makasih” ucapnya.

Perjalanan kita di festival malam mini berakhir di sebuah tempat makan yang masih dalam kawasan festival. Eza mengajakku untuk mencoba makanan ke sukaannya yaitu nasi goreng. “kamu suka banget ya sama nasi goreng?” Tanyaku. “hemm, iya. Kenapa memang?” jawabnya dengan tetap melahap nasi goreng yang berada di depannya. “iya itu makannya lahap” ucapku sambil meledek. Aku lihat dia langsung tersipu malu mendengar ucapanku.

Sudah jam 10 malam. Tak terasa sudah 2 jam aku menghambiskan malam minggu ini bersama Eza. Bersenang-senang dan melupakan kepenatan akibat ujian sekolah kemarin. Kita pun memutuskan untuk segera pulang. Tetapi sebelum itu, tiba-tiba Eza menghentikan gerak kakinya saat kita berada di sebuah pesta kembang api di tengah ramainya Festival Malam. Semua orang yang berada disana seketika langsung memperhatikanku dan Eza. Aku rasa, dia yang merancang pesta kembang api itu. tapi untuk apa? Dan pertanyaan dalam hatiku akhirnya terjawab. Tiba-tiba saja, Eza bertekuk lutut di hadapanku dan di depan banyak orang. Dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tak ku duga sebelumnya. “Uli..” ucapnya dengan sangat lembut. Aku hanya terdiam dan tak mengerti harus berbuat apa. Lidahku kelu saat dia memanggilku dengan nada suara yang ku rasa lebih lembut dari biasanya. “iya” ucapku saat memaksakan keluarnya kata dari mulutku. “Je t’aime” ucapnya dengan bahasa Prancis yang memang dia kuasai. “aku tak mengerti maksudmu. Berbicaralah dengang bahasa Indonesia!” ucapku. “aku mencintaimu Uli” ucapnya dengan suara yang lantang. Semua orang disana ku lihat tersenyum memperhatikan sikap Eza yang mengatakan cintanya padaku di depan orang banyak. Aku sungguh tak percaya dengan yang Eza katakan. Dia mencintaiku? Lalu aku harus jawab apa? Aku memang bahagia mala mini bersamanya. Tetapi aku belum yakin kalau aku mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.

Ketika aku ingin menjawab pertanyaan Eza, tiba-tiba saja aku melihat sosok Hani, Fadil, dan Nuri di tengah-tengah kerumunan banyak orang yang melingkari ku dan Eza. Pandanganku fokus pada Hani yang saat itu menangis. Aku tak mengerti kenapa Hani menangis? Dan seketika Hani pun langsung pergi saat dia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya. Sontak, aku pun langsung mengejarnya ketika itu tanpa memperdulikan Eza yang saat itu memerlukan jawabanku. “Hanii…” teriakku saat mengerjarnya. Gerak kakinya sangat cepat. Aku sampai lelah untuk mengejarnya. Tapi tiba-tiba saja, sebuah Truk besar menghantam tubuh Hani dari depan. Aku yang saat itu berada tak jauh darinya langsung terdiam dan bingung harus berbuat apa. “Hani?” ucapku saat melihat sahabatku tergeletak kaku dengan berlumuran darah.

Aku pun langsung berlari menghampiri sahabatku. Aku lihat, matanya masih terbuka. “Hanii, maafkan aku” ucapku sambil memeluk Hani yang benar-benar sudah tak berdaya di pangkuanku. “Ulii, aku minta maaf” ucap Hani dengan suara terengah-engah. Aku hanya bisa menangis. Ini karena kesalahanku. Ini salahku! kata-kata itu lah yang saat ini terbayang dalam fikiranku. Tak lama kemudian, ambulan datang dan membawa Hani ke rumah sakit.

“Uli..” ucap seseorang saat aku sedang terduduk di depan ruang ICU. Dengan mataku yang masih terlihat sembab, aku pun menoleh ke arah suara itu. ternyata yang datang Eza. Ketika itu aku langsung memeluk Eza. Aku menangis di pundaknya. “Hani kenapa?” ucapnya saat melihatku yang begitu panik. “Hani tertabrak Truk, Za” jawabku dengan suara tangisan yang masih histeris. “kamu jangan panik seperti itu. kita pasrahkan saja sama Allah. Dia pasti memberikan yang terbaik untuk Hani” ucap Eza menenangkanku. Aku pun sedikit agak tenang ketika itu.

Pagi ini aku masih di rumah sakit. Aku memang belum pulang dari semalam. Aku masih belum tenang, kalau belum mendengar kondisi Hani baik-baik saja. Semalam Eza memang menemaniku disini. Tetapi jam 5 pagi, dia meminta izin padaku untuk ke rumahku memberitau keluargaku kalau aku sedang di rumah sakit menemani Hani yang mengalami kecelakaan. “Tuhan, berilah kesembuhan untuk sahabatku” ucapku dalam hati. Tiba-tiba saja, ponsel ku berdering. Ternyata Fadil mengubungiku. Aku langsung saja mengangkatnya. Fadil mengajakku bertemu pagi ini. katanya ada yang mau dia bicarakan. Dan ini menyangkut Hani. Aku pun langsung menyetujuinya. Kita memutuskan bertemu di salah satu café dekat rumah sakit.

Ketika aku sudah sampai di Café yang berada tak jauh dari rumah sakit, aku pun segera menghampiri Fadil yang sedang terduduk di bangku nomer 11 itu. “Fadil..” ucapku saat berada di belakang punggung Fadil. Fadil pun menoleh ke arahku. Dia mempersilahkan ku duduk di sampingnya. Tanpa berlama-lama lagi, aku langsung menanyakan hal yang ingin dia bicarakan menyangkut sahabatku itu. “apa yang kamu mau bicarakan?” ucapku dengan penuh penasaran. Fadil menghela nafas panjang sebelum dia bercerita. “Hani menyukai Eza” ucapnya. Keget. Ya, itulah yang aku rasakan saat mendengar pernyataan Fadil. “apa? Darimana kamu tau?” ucapku masih dengan perasaan tak percaya. “sebelumnya, aku ingin jujur padamu” ucapnya sambil menatapku. “jujur soal apa?” tanyaku heran. “aku ingin menjelaskan mengapa saat itu aku lebih memilih Nuri di banding kamu” jawabnya. “ah sudahlah, aku tidak mau membahas masalah itu. yang aku ingin tau saat ini, dari mana kamu tau kalau Hani menyukai Eza?” ucapku. “tidak. Aku tetap harus menjelaskannya padamu. Kamu mau percaya atau tidak, itu Hak mu” ujarnya yang kini semakin serius. “aku lebih memilih Nuri ketika itu bukan karena cintaku lebih besar terhadapnya. Tetapi aku hanya tidak mau melihat mu dibuat sengsara oleh Nuri dan teman-temannya. Satu hari sebelum aku mengajak mu bertemu, Nuri datang ke rumah ku. Dia minta agar aku kembali padanya. Aku sudah katakan kalau aku sudah mempunyai pacar, yaitu kamu. Tetapi dia malah mengancamku. Jika aku tak kembali padanya, dia dan teman-temannya akan membully mu habis-habisan di sekolah. Kamu tau sendiri bagaimana sifat Nuri dan teman-temannya kan? Nuri akan menghalalkan segala cara agar keinginannya dapat terwujud. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang aku fikirkan ketika itu hanya keselamatanmu di sekolah. Aku tak ingin melihatmu di bully. Dan akhinya, aku pun menerima Nuri kembali untuk menjadi pacarku. Aku memang bodoh! aku lebih memilih wanita yang hanya cantik di luarnya di banding kamu, wanita yang memang cantik dari Hatinya. Tetapi aku tidak punya pilihan lain. Maafkan aku” lanjutnya saat menjelaskan kronologi di balik keputusannya mengakhiri hubunganku dengannya. tak terasa, air mataku menetes. Aku baru sadar kalau Fadil benar-benar menyayangiku. Dia rela mengorbankan perasaannya hanya untuk melindungiku. Ketika air mataku mulai deras membanjiri pipiku, tiba-tiba saja tangan Fadil langsung menghapus air mata yang berjatuhan dari pelupuk mataku. Rasanya sudah lama sekali tangannya tak pernah menyentuh wajahku. “jangan menangis. Kalau kamu menangis, aku akan terus merasa bersalah. Kamu tau, setiap hari aku selalu dihantui oleh perasaan bersalahku meninggalakan kamu, wanita yang begitu baik. Wanita yang selalu menghargaiku sebagai pacarmu. Maka itu, ketika aku memutuskan hubungan kita, aku sempat berkata You’re still the one in my heart. karena kamu memang satu-satunya yang ada di hati aku. tak pernah ada tempat untuk Nuri di hati aku. apalagi untuk menggantikan posisi kamu. Gak akan pernah Li!” ucapnya lagi yang kini sambil memeluk erat tubuhku. Rasanya tulang-tulang rusukku mulai lemas. Aku tak bisa menggerakan badanku. Menangis. Ya, itulah yang hanya ku lakukan. Sampai-sampai air mataku membasahi baju Fadil.

“sekarang tolong kamu jelaskan mengenai Hani” ucapku saat melepas pelukan hangat dari tubuhku. “hem, setelah aku menjelaskan mengapa aku lebih memilih Nuri di banding kamu, Hani tiba-tiba bertanya tentang teman satu kelasku yang bernama Eza. Aku sempat meledeknya ketika dia bertanya seperti itu. dan akhirnya dia jujur kalau dia selama ini menyukai Eza. Hani sering memperhatikan Eza diam-diam. Dan aku baru tau, kalau ternyata Eza menyukaimu. Hatiku rasanya sakit sekali ketika melihat Eza menyatakan cintanya padamu di depan orang banyak kemarin malam. Rasanya aku ingin berlari dan tak mau melihat itu. tapi aku tak mungkin melakukan itu karena ada Nuri di sampingku” jawabnya. “katika kamu, Nuri, dan Hani datang ke Festival malam, apa itu kalian rencanakan sebelumnya?” Tanya ku dengan suara sisa tangisan tadi. “tidak. Aku sama sekali tidak pernah merencanakan itu. aku juga tak menyangka kalau Hani akan datang ke acara Festival malam itu. saat itu aku memang sudah ada janji dengan Nuri untuk pergi ke sana. Dan ternyata aku bertemu Hani. Kata Hani, tadinya dia mau mengajakmu. Tetapi kamu sudah ada janji dengan orang lain” jawab Fadil.
Aku benar-benar pusing! mengapa harus seperti ini? orang yang selama ini jalan denganku, dekat denganku, selalu buatku tersenyum, dan lupa akan sosok Fadil adalah incaran sahabatku sendiri. Tetapi aku tak pernah tau akan hal itu. Hani tak pernah bercerita tentang sosok Eza. Kalaupun dia bercerita, aku tak akan mungkin menjalin kedekatan dengan Eza. Dan kini Hani terbaring kaku di ruang ICU, itu semua karena aku. “sudah jam 10, aku harus menjemput Nuri di rumahnya. Tetapi aku akan mengantarmu dulu ke rumah sakit” ucap Fadil seketika melihat jam tangannya. “tidak perlu, aku bisa ke rumah sakit sendiri. Lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh dari sini” jawabku. “kau yakin?” tanyanya ragu. “hem iya” jawabku meyakinkan Fadil. Dan kita pun akhirnya keluar Café dengan berlawanan arah.

Cerpen Karangan: Risdatul Zulfiah
Facebook: zrisdatul[-at-]yahoo.com
Twitter: @risda_zulfiah

Cerpen I Hope You’re Happy (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Secret Of My Love

Oleh:
Cinta yang dipendam sendirian memang menyakitkan. Orang yang kita cintai, orang yang kita dambakan, orang yang kita perhatikan, orang yang kita pikirkan setiap saat pun belum tentu berbalik memikirkan

Jarum Cinta

Oleh:
Melati hari ini datang paling awal di kelas, karena hari ini dia ada tugas untuk piket. Saat dari rumah suasana hati melati sudah sangat gembira bagaikan kupu kupu yang

Dua Diary

Oleh:
Waktu tidak pernah berhenti memberikan fakta bahwa bulan selalu setia sama bumi mengitari matahari. Itulah gambaran dua orang sahabat yang selalu setia dan tidak pernah berhenti membuat suatu perubahan

Tiada Yang Sempurna

Oleh:
Aku sangat bersyukur dengan letak rumahku yang amat dekat dengan perpustakaan kota. Tapi bukan hanya itu saja, perpustakaan ini juga amat lengkap bukunya, selalu diupdate. Aku rasa siapapun yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *