I Hope You’re Happy (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 February 2014

Tak membutuhkan waktu yang lama, aku pun sampai di rumah sakit. Aku lihat di depan ruang ICU ada Eza dan kedua orangtua Hani. Mendengar langkah kaki ku, mereka semua langsung menoleh ke arahku. “Uli..” ucap mamahnya Hani sambil memelukku. “apa yang terjadi pada Hani?” lanjutnya dengan air mata yang sudah mulai keluar. Aku berusaha menenangkan hati mamahnya Hani. “Hani tertabrak Truk tante. Tetapi aku belum tau pasti keadaannya sekarang” jawabku dengan perasaan bersalah yang masih menghantui ku.

Tiba-tiba, dokter keluar dari ruang ICU. Kita semua pun langsung menghampiri dokter tersebut. “bagaimana keadaan anak saya?” Tanya mamahnya Hani pada dokter. “syukurlah, anak Ibu bisa melewati masa kritisnya. Hari ini bisa kita pindahkan ke ruang perawatan biasa” jawab dokter yang memeriksa keadaan Hani. Perasaanku sungguh sangat lega mendengar pernyataan itu. semoga saja keadaannya makin membaik.

Kini Hani sudah berada di ruang perawatan biasa. Orangtuanya Hani sudah berada disana. Sementara aku mengajak Eza berbicara di kantin rumah sakit. “ada apa Li? Sepertinya penting sekali” ucapnya saat kita sampai di kantin rumah sakit. “ini memang sangat penting. Aku mohon padamu untuk menjaga Hani dan menyayanginya” ucapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “maksudmu apa? Aku tidak mengerti” jawabnya. “Hani menyukaimu. Mungkin dengan kamu ada di sampingnya, keadaan dia bisa lebih membaik” jawabku. Entah kenapa, hatiku terasa sakit ketika mengatakan hal ini. ada perasaan tak rela di hati ini. “ahh tidak! Aku tidak boleh mempunyai perasaan lebih pada seseorang yang sahabatku sukai” ucapku dalam hati. “kamu menyuruhku untuk menyayangi Hani?” tanyanya lagi. “iya” jawabku singkat dengan padangan ke bawah. “aku tidak bisa! Yang aku sayangi itu kamu bukan Hani” jawabnya dengan tegas. “aku mohon. Hani itu sahabat aku. sahabat terbaik ku. Hanya kamu kini yang bisa membuatnya bahagia” jawabku dengan memegang tangannya. “sekarang aku Tanya padamu. Kamu mencintaiku atau tidak?” tanyanya dengan menatap tajam mataku. Sontak, bibirku langsung terdiam bisu mendengar pertanyaannya. Aku ingin mengatakan kalau aku tidak mencintainya. Tetapi sulit sekali mulutku untuk mengatakannya. Seakan-akan hatiku tak membiarkan mulutku untuk bicara itu. “jawab Li” ucap Eza yang semakin dalam menatapku. “tidak! aku tidak mencintaimu. Hanya Hani yang mencintaimu” ucapku dengan air mata yang kini sudah mengalir deras di pipiku. “oke. Aku akan mencoba menyayangi Hani seperti yang kamu mau. Tapi jika suatu saat aku sudah benar-benar mencintainya, jangan pernah kamu menyesali itu. karena semua ini aku lakukan karena kamu” jawabnya. Memang itu yang ingin aku dengar dari mulutnya, tetapi hatiku semakin sakit dan mataku makin tak mau berhenti mengeluarkan air mata ini. apa yang terjadi? Tidak.. tidak.. ini demi Hani. Aku tidak boleh egois.

1 bulan kemudian…
Tak terasa, kini saatnya Ujian Nasional dimulai. Hani juga sudah pulang dari rumah sakit. Kondisinya sudah membaik. Dan aku rasa, ini semua berkat Eza. Tetapi persahabatanku dengan Hani kini renggang. Mungkin karena kejadian malam itu. saat Eza menyatakan cintanya padaku. Tetapi sampai kapan pun, Hani adalah sahabatku. Ya meskipun dia tak menganggapku sebagai sahabatnya lagi.

Aku sudah siap untuk melaksakan Ujian Nasional hari ini. semoga saja hasilnya memuaskan. “Uliii..” ucap seseorang memanggilku. Aku pun menoleh ke arah suara tersebut. “Fadil?” ucapku. “heii” sapanya dengan senyuman. “Nuri mana?” tanyaku sambil mencari keberadaan Nuri. “aku sudah putus dengan Nuri” jawabnya. “Putus?” ucapku mengulangi kata-kata Fadil. “iya Putus. Aku tak tahan lagi dengannya. dia selalu marah-marah saat aku tak bisa memenuhi keinginannya. Aku seperti pembantunya bukan pacarnya. karena dia tak pernah menghargaiku” ucapnya. Kita pun masuk ke dalam sekolah secara bersama-sama. “hem gitu..” jawabku singkat. Seketika, lewatnya Eza dan Hani. “mereka berangkat bersama. Hem mungkin sudah jadian” ucapku dalam hati. Aku lihat Eza kini melihatku dengan Fadil yang sedang jalan berdua. Dan kini Hani yang melihatku. Kebetulan aku juga melihatnya. Tetapi pandangannya tidak seramah dulu. Tak apa. Aku mengerti dan aku tak akan marah padanya. karena dia sahabatku.

4 minggu kemudian..
Tak terasa, ini hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Aku berharap, aku dapat nilai bagus agar impianku dapat terwujud. Semua siswa kelas 3 pun langsung memenuhi mading sekolah. Dan… “yesss aku lulus” ucapku yang saat itu mengarah ke samping yang ternyata ada Eza. Sontak aku langsung menurunkan pandanganku ke bawah. Setelah melihat pengumuman kelulusan, aku langsung pulang ke rumah. Kedua orangtuaku dan kakakku sangat senang mendengar berita ini. tanpa berlama-lama lagi, aku langsung membuka laptopku di dalam kamar untuk mendaftarkan diriku untuk mendapatkan beasiswa ke Malaysia. Setelah selesai, aku langsung membantu ibu di toko kue.

“Uli..” panggil seseorang. “eh Fadil. Mau beli kue?” tanyaku saat melihat Fadil yang ternyata memanggilku. “aku mau bicara sama kamu” ucapnya. “bicara apa? Hem ya sudah bicaranya di rumah aku aja ya” ucapku sambil mengajak Fadil ke rumahku. “Li, kamu mau balik lagi sama aku? kita buka lembaran baru untuk hubungan kita” ucapnya tanpa basa-basi. Aku pun kaget di buatnya. “hemm.. aku gak bisa Dil. Saat ini, aku sedang memikirkan masa depanku dulu. Aku sedang tidak mau mikirin masalah cinta” jawabku. Fadil tak menjawab apa-apa lagi. Hanya terlihat raut wajah kecewa terlukis di wajahnya. “Fadil?” ucapku memanggil namanya. Dia pun melihatku saat aku memanggilnya. “maaf ya” ucapku. “hem iya gak apa-apa kok Li. Aku baru sadar, kalau aku kini telah kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupku. Aku kini mengerti, bahwa tak selalu yang berkilau di luar itu adalah sesuatu yang indah. Permata yang indah aja dapat terlihat keindahannya jika kita dapat melihat dalamnya. Seperti kamu. Kamu begitu indah saat ku lihat hatimu. Dan itulah ke indahan yang sesungguhnya” ucapnya sambil memegang tanganku. Aku pun kini tersenyum ke arahnya.

Hari ini, adalah Hari perpisahan di sekolahku. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekolah ku mengadakan Pensi setiap acara perpisahan. Banyak acara hiburan di dalamnya. Dan di dalam Pensi nanti akan ada pengumuman Nilai UN paling tinggi di sekolah. Aku sungguh tak sabar. Tema Pensi hari ini adalah ‘Persembahan Cinta’. dan sekarang, aku sudah siap untuk pergi ke sekolah.

“sudah Ramai” batinku. Aku yang saat itu menggunakan Dress Warna Putih dengan Rambut diurai pun langsung masuk ke dalam. Aku melihat Hani yang menggunakan Dress warna merah dengan Pita di rambutnya. Ingin rasanya aku menghampiri dia, tetapi aku ragu. “waw Ulii, cantik.” Ucap Fadil yang saat itu menghampiriku. Aku hanya tertawa mendengar pujiannya. Aku dan Fadil pun segera duduk di bangku yang sudah disediakan oleh panitia untuk tamu yang datang.
Pembawa acara sudah naik ke atas panggung. Dan itu tandanya Pensi akan segera dimulai. Seperti biasanya, susunan acara pertama adalah sambutan-sambutan. Setelah sambutan dari beberapa pihak selesai, kini saatnya acara inti yaitu pengumunan nilai UN tertinggi di sekolah. Nilai ku memang bagus ketika aku lihat di internet, tetapi aku yakin pasti ada yang lebih bagus dariku. “dan Nilai UN tertinggi adalah…” ucap pembawa acara dengan membuat tegang para murid. “ULINA.. Siswi kelas 3 IPA 2” lanjut pembawa acara. Sontak aku langsung terdiam saat namaku di panggil sebagai peraih UN tertinggi di sekolah. Setelah kurasa cukup kuat kaki ku untuk berdiri, aku pun langsung naik ke atas panggung untuk menerima medali dan piala yang di berikan pihak sekolah. Aku menangis bahagia saat ini. dan aku lihat dari atas panggung, orangtua ku yang saat itu hadir juga ikut menangis bahagia. “hem selamat ya untuk Ulina. Sebagai peraih nilai UN tertinggi, mari kita dengar sepatah dua patah kata yang akan di sampaikan oleh Ulina” ucap pembawa acara seraya memberikanku kesempatan untuk menyampaikan sedikit pidato.

“Assalamu’alaikum. Saya Ulina, siswi kelas 3 IPA 2. Sebelumnya saya tidak menyangka akan berdiri disini untuk menerima sebuah penghargaan dari usaha yang selama ini saya lakukan. Untuk itu, saya ingin berterima kasih pada Guru-guru yang sudah memberikan saya banyak ilmu selama disini. Juga tak lupa untuk ke dua orangtua saya dan kakak saya yang selalu mendo’akan saya di setiap sujud malam mereka. Dan sahabat saya, Hanifah. Dia yang selalu mensuport saya untuk bisa maju ke depan. Berkat mereka semua dan takdir dari Tuhan saya bisa seperti ini. sekali lagi terima kasih untuk kalian semua” ucapku saat memberikan sedikit pidato. Semua orang yang hadir pun langsung memberikan tepuk tangan untukku. Sungguh sangat bahagia.

Hari ini adalah hari pengumuman tentang pengiriman beasiswa ku ke Malaysia. Dengan rasa deg-degan aku mulai membuka laptopku dan membuka situs resmi Universitas tersebut. “ibuuu.. ayaaah…” teriak ku yang sangat histeris. Dengan paniknya, ibu dan ayah ku langsung menghampiriku. “ada apa Uli?” Tanya ibuku. Aku pun langsung memeluk mereka dengan senangnya. “Uli keterima di Universiti Malaya di Kuala Lumpur” ucapku sambil memeluk kedua orangtuaku. Mereka pun menyambutnya dengan penuh haru. “akhirnya impianmu tercapai nak” ucap ibu ku dengan terus menciumi rambutku. Aku benar-benar bahagia dapat mewujudkan impian kedua orangtuaku, kak Wita, dan Alm. Kak Romi.

1 bulan kemudian…
Hem, ini saatnya aku pergi. Setelah melakukan persiapan selama sebulan ini. aku akan memulai hidup baru di Kuala Lumpur. Bahagia itu pasti. Tetapi ada kesedihan di hati ini. aku harus meninggalkan ke dua orangtuaku dan Kak Wita di sini. Tetapi ini juga impian mereka. Jadi aku tidak boleh terlihat sedih di depan mereka. Hari ini aku akan ke Bandara ditemani oleh Kakak ku, yaitu Kak Wita. Sebenarnya aku berharap kalau sahabatku, yaitu Hani dapat mengantarku sebelum aku pergi. Tetapi ya sudahlah. Memang sudah 2 bulan lebih aku tidak bertegur sapa dengannya.

“dek, jaga diri kamu baik-baik ya selama disana. Sering-sering kasih kabar ke sini” ucap kakaku saat kita sampai di Bandara. “aku akan terus ingat kalian semua” jawabku sambil memeluk Kak Wita. Suasana yang terjadi benar-benar sangat mengharukan.

Kini saatnya aku pergi. Aku pun langsung masuk ke dalam bandara dan bersiap untuk masuk ke dalam pesawat. Tetapi tiba-tiba… “Uliii…” teriak seseorang memanggil namaku. Sepertinya suara itu tidak asing lagi di telingaku. Ketika aku menoleh, aku melihat Hani yang sedang berlari menghampiriku. Tidak, bukan hanya Hani. Tetapi ada Nuri, Fadil dan juga Eza. Air mataku kini tumpah melihat kehadiran mereka. “Uli, maafkan aku” ucap Hani saat sampai di hadapanku dan langsung memelukku. “Hani jangan menangis seperti itu” ucapku membalas pelukannya. “maafkan aku selama ini aku marah padamu tanpa alasan yang jelas” ucapnya. Aku pun menghapus air matanya sambil tersenyum. “sudah.. sudah.. aku tak mempermasalahkan itu” ucapku. “Uli maaf kan aku juga ya” sambung Nuri. “iya aku sudah memaafkan kalian” ucapku lagi. “saat ini aku akan pergi ke Kuala Lumpur. Aku akan kuliah disana. Eza, tolong jaga sahabatku Hani. Dan kamu Fadil, jaga Nuri ya” ucapku dengan tangisan haru yang membasahi pipiku. Kita semua pun berpelukan disana.

Kini aku sadar, sahabat adalah hal yang paling berharga dari apapun. mereka yang selalu ada disaat kita butuhkan. Bukan hanya di saat kita senang, tetapi juga disaat kita sedang susah dan membutuhkan mereka.

Tamat

Cerpen Karangan: Risdatul Zulfiah
Facebook: zrisdatul[-at-]yahoo.com
Twitter: @risda_zulfiah

Cerpen I Hope You’re Happy (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miss 5R

Oleh:
‘Romantika Seorang Teman’ Udara pagi begitu menyegarkan, sinar mentari menyembul dari langit biru. Susana seperti ini adalah waktu para siswa berangkat sekolah untuk menimba ilmu. Ralat, kecuali hari minggu.

Diam

Oleh:
Kubuka novel misteri kesukaanku, aku ingin membaca lebih dalam lagi isi dari novel ini. Novel ini adalah novel yang pertama kali kubeli, karena sebelumnya aku tak tertarik dengan bacaan-bacaan

Bungee Jumping

Oleh:
“A-aku takut…” kata Farhan pelan sambil melihat pada teman-temannya yang ada di dalam mobil. Ia menyangka bahwa temannya akan mentertawakannya ketika ia mengakui bahwa ia takut… Tapi teman-temannya malah

Warung Internet (Part 1)

Oleh:
Gue terbangun dari tidur cantik, eh salah, tidur ganteng gue. Sialan! gue kaget bukan main setelah mendapati diri gue yang masih di warnet! Di depan umum! Di kursi kehormatan

30 Agustusku

Oleh:
“tut.. tut…” ponselku berdering tepat pukul 00:00 WIB. ternyata batrenya habis. astaghfirulloh. ternyata aku ketiduran malam ini. bagaimana bisa? aku langsung berlari menuju tempat chargerku kemudian mengaktifkan kembali ponselku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “I Hope You’re Happy (Part 4)”

  1. Rania Hanna says:

    Cerpennya bagus sekali banyak manfaat dan hikmah yg dapat diambil olehku..
    Seperti bukan karangan murahan yg alur ceritanya hanya itu-itu saja..
    Awesome!!

  2. cut fitri says:

    sumpah.. bener2 cerita yang menyentuh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *