I Really Love You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 August 2016

Ingin kuakhiri semua ini, namun aku hanya bisa menatap senyumannya yang selalu terpancar di wajahnya…

“Hai” seseorang telah mengagetkanku dari lamunan.
“ada apa? Kamu membuat aku terkejut”
“kamu liat Cita gak? Kemana yah dia?”
“ahh, cita? Cita tadi aku liat lagi ke toilet dekat kantin, emangnya kena…” omonganku terputus
“Terimakasih, aku kesana dulu yah” Selahnya dan belari menuju kantin.

Farell, dia yang selalu mengisi hatiku. Walau hatinya untuk yang lain. Sahabatku sejak aku masih menginjak umur 10 tahun. Hah, tidak seharusnya aku menyimpan perasaan ini. Benih benih cinta mulai muncul ketika umurku 15 tahun. Ini terlalu cepat! Dan dia tak kan menganggapku ada.

“Gue pengen curhat!” Farell Berteriak.
“Jangan Berisik! Whats Wrong? Im Busy!”
“Ooh gitu yah, sibuk banget! Itu HP dipegangin aja! Kagak ada bosennya”
“iya ada apa farell?!” aku meletakan Ponsel ku.
“Cita marah sama gue. Masa kata dia kalau gue telat jemput dia lagi. Dia minta putus” Jelasnya panjang lebar dengan suara sedikit berteriak.
“Udah putusin aja cewek kaya gitu! Egois tau!” Perintahku, aku harap dia melakukan apa yang aku perintahkan
“Yah ngomong aja gampang. Kamu tau dia yang setiap hari menghiasi hariku.” Farell tersenyum
“Lo gak sadar yah? Kamu kan sama dia baru kenal 2 tahun yang lalu. Lalu sebelumnya? Tidak ada gitu yang menghiasi harimu?”
“Some People” jawabnya singkat
“Who?” aku bertanya sembari menatapnya tajam.
Dia mengahlikan pandangnya menghadapku dan kami saling menatap. “ITS You” Farell tersenyum
Aku mengahlikan pandanganku dari tatapannya. Ah sudah lah aku sudah lelah dengan semua ini. Ingin rasanya berhenti dan menjauhinya, tapi aku tak bisa melakukan itu.

“Hai, kamu kenapa bengong?!” Farell mengagetkanku dari lamunan.
“ah, enggak aku hanya memikirkan sesuatu..” Bantahku
“apa itu?”
“Gak penting, aku pulang dulu yah. Udah ngantuk nih udah malem juga. Kamu kalau mau pulang kabarin yah!”
“aku mau pulang sekarang, mau aku antar?”
“aku bisa sendiri, rumahku dan rumahmu berjauhan sekarang?” selahku, berharap dia tidak memaksa.
“Tak apa, gak baik kalau wanita malam malam pulang sendiri. Kalau ada apa apa kan harus aku yang bertanggung jawab.” Paksanya dengan halus.
“baiklah….”

Lampu merah memeberhentikan lajunya banyak mobil. Aku menatap sekitar dibatasi sebuah kaca tebal. Dia memulai pembicaraan.
“kenapa diem aja dari tadi. Lelah yah?” Tanyanya mebangunjanku dari lamunan.
“enggak, gue cuman lagi mikirin sesuatu.” jawabku menatapnya sambil melemparkan senyuman palsu.
“Iya tau, tapi apa?”
“Gak penting!”
“Lo kan tau gua keponya udah tinggkat dewa. Pleaseee kasih tau!” sergahnya memohon.
“Gue cuman berpikir. Jadi Cita itu beruntung yah. Dia bisa milikin lo, dapet cowok yang bisa menerima dia apa adanya dia bisa dapetin lo.” jelasku. Aku berpikir sejenak. ‘Salahkah aku bicara seperti itu?’
“Kenapa berfikiran seperti itu?” tanyanya menatapku.
“Eh udah lampu hijau. Ayo jalan!” Sergahku.
Mobil kembali melaju menuju rumahku. Sepertinya dia masih memikirkan yang tadi kubicarakan. Aku merasa khawatir jikalau dia memikirkannya. Aku takut dia mengetahui isi hatiku.

Aku memulai pembicaraan “kenapa dari tadi gak bicara?”
“Hanya sedikit khawatir.” jelasnya singkat.
“Khawatir? Kenapa?” tanyaku yang sedikit panik.
“aku takut aku mulai menyimpan perasaan sama kamu.”
Deg. Jantungku berdegup tidak karuan. Suasana kembali hening. Terbesit banyak pertanyaan di hati kecilku. “Apakah dia hanya ingin menggodaku”. “apa mungkin sebaliknya?”
Ahhh…
“What do you mean?”
“Never Mine.” dia menatapku dan tersenyum.

Mobil berhenti di kediamanku, bersama keluargaku. Aku turun dari mobil. Sejenak aku menatap angin malam yang hanya dihiasi bulan purnama yang cerah. Aku memasuki kamar ku.

“Tadi malam tidur nyenyak?” Farell menghampiriku yang sedang bersantai di kursi taman sekolah.
“Maybe..” jawabku singkat.
“Nanti pulang sekolah ada jadwal gak?” dia menatap ku.
“Kosong. Kenapa?” aku mengalihkan pandanganku.
“Nanti pulang bareng yuk?!”
“hei, Cita nanti pulang sama siapa?”
“Udah putus dong!” dia tersenyum, seakan tiada beban di wajahnya.
“HAH?!!!” Aku terkejut mendengar penjelasannya.
Dia menarikku dan aku pun terpaksa mengikutinya. Dia mengajakku ke belakang sekolah. Dia mendepetkanku dinding. Aku sangat kaget. Belum lagi dengan posisinya yang sangat dekat denganku.

“Apa maksudmu!” aku berusaha mendorongnya namun tak bisa.
“Sya, kamu mau tau sesuatu?!” Tanyanya sambil memegang tanganku.
“Lepasin!!! Gak lucu tau!!” gertakku.
“AKU SUKA SAMA KA..” omongannya terputus
“Hah? Ka? Ka apa?” hatiku rasanya berdegup kencang.
Apakah Farell bakal bilang ‘Kamu’?
“Aku suka sama kakak mu!” Farell tertawa.
Ahh, untuk apa dia bercanda seperti ini.
“Gak lucu tau. Kakakku cowok semua!” aku pergi meniggalkannya.

Aku berlari, setetes demi setetes air mataku bercucuran. Aku menuju toilet. Ahh, aku sudah gak tahan dengan semua ini! Dia mempermainkanku. Ini sudah sampai batasnya! Aku sudah gak tahan lagi! Aku menangis menjadi jadi. Aku mencuci mukaku, dan menatap cermin memastikan bahwa aku tidak terlihat habis menangis.

Aku ke luar kamar mandi dan menuju kelas. Di pintu kelas, ada seseorang yang sedang menatap arloji pemberianku saat ulang tahunnya tahunnya tahun lalu.
“Sasya!!!” Farell berteriak. Benar saja itu Farell aku mengalihkan pandanganku dan langsung duduk di tempatku. Aku mengambil buku catatan dari kolong meja.
Dia menghampiriku.
“Kamu marah?” Tanyanya seakan tidak merasa bersalah sama sekali.
Aku tidak mempedulikan ucapannya. Dia merebut buku yang kubaca.
“Apaan sih lo! Gak lucu tau!” aku mengambil bukuku lagi.
Sepertinya dia menyerah, dia menuju tempat duduknya dengan wajah lesu. Tidak banyak yang melihat kejadian itu hanya 3 orang. Ya, memang sekarang jam istirahat dan biasanya murid murid pergi ke taman, lapangan, atau kantin.

Sesampai di rumah aku langsung menuju kamar mama. Aku bicara kepada mama. Dan mama menyetujuinya.

Hidup baru, semuanya baru. Sudah 2 minggu aku hidup di Bandung sendiri meninggalkan semua kenangan buruk di Ibu Kota. Mamah dan aku sudah sepakat jika aku ngekost di bandung. Entah apa sekarang yang sedang Farell lakukan. Jujur aku sangat rindu. Namun aku sudah memutuskan untuk melupakannya. Pergi tanpa meninggalkan apapun sepucuk surat pun tidak.

Kubuka perlahan kelopak mataku. Pagi sudah tiba, sinar matahari terpancar dari jendela. Aku bersiap siap untuk sekolah. Aku sudah memiliki sekolah baru di Bandung, dan walau begitu aku masih kangen Masa masa SMA di Jakarta. Setelah siap aku ke bawah, di ruang tamu ada seseorang yang sedang bicara dengan ibu kost. Aku seperti mengenal pungungnya. Ah sudahlah aku mengabaikan pikiranku. Seperti biasa jika setiap penghuni kost ingin pergi pasti pamit.
Aku menghampiri ibu kost, betapa terkejutnya aku yang mengobrol dari tadi dengan ibu merry (nama ibu kost) adalah Farell?!
“Nah ini dia anaknya, ibu ke dalam bentar yah.” Bu Merry berlalu meninggalkan aku dan Farell berdua.

Aku duduk menghadap Farell. Farell terlihat sangat terkejut, begitu pula denganku. “Mau Apa lo kesini? Gue mau sekolah, bentar lagi masuk!.” Jawabku dengan cetus. Jujur, aku ingin memeluknya untuk melepas rindu. Namun apa dayaku menutupi rasa rindu ini dengan gengsi.
“kenapa kamu tidak bilang, ingin pindah? Aku juga peduli denganmu!”
“Itu gak penting! yang penting sekarang aku udah tenang di Bandung. Tidak lagi ada perasaan sakit!”
“Ikut Aku!”

Farell menarik tanganku, entah kenapa aku tidak menolaknya. Dia mebawaku ke dalam mobil dan mobil itu melaju. Entah kenapa aku hanya bisa diam dan menahan air mata yang sebenarnya ingin aku lontarkan.

Mobil ini berhenti di sebuah tempat yang sangat sepi.
“Buat apa kamu bawa aku kesini?” tanyaku yang sangat bingung
“Buat apa kamu meninggakkanku?!” Farell bertanya balik. Keadaan hening sejenak.
“Kamu gak ngerti Farell! Kamu gak ngerti apa yang aku rasain selama ini! Aku capek sama semuanya! Aku cape ngegantung perasaan aku dan aku capek nyimpen perasaan cinta…” omonganku terputus.
Farell memelukku, tangisku benar benar menjadi.
“Aku tau semua perasaanmu, aku juga merasakan hak yang sama. Aku sangat mencintai kamu! Semua cewek yang aku pacarin hanya aku jadikan umpan. Aku ingin melihatmu cemburu. Aku tau aku salah! Maafkan aku.” Jelas Farell. Entah kenapa hati ini terasa lega. Seperti tudak ada beban lagi. Aku menbalas pelukan Farell. Kini Tangisanku bukan karena sedih atas penderitaanku. Tapi karena aku bahagia mengetahui bahwa orang yang aku cinta selama ini, juga mencintaiku.

Farell melepas pekukannya dia menghapus air mataku.
Dia kembali memelukku dan berkata
“Mari kita bangun cinta itu dari awal…”

TAMAT

Cerpen Karangan: Fauziah Anatasya
Facebook: Ziah Tasya

Cerpen I Really Love You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Jalan, Sahabatku

Oleh:
Mentari begitu kuat memancarkan sinarnya. Dan aku begitu semangat melewati hari ini meski jadwal pelajarannya tak ku suka. Biologi, mata pelajaran yang tak ku suka dengan alasan guruku sangat

Sahabat Sehidup Semati

Oleh:
Suatu hari di sebuah kelas dalam satu sekolah terdapat sepasang sahabat yang bernama Desi dan Wawan. Mereka selalu bersama dan terus bersama sepanjang waktu. Rumah mereka memang berbeda komplek.

Maafku Pada Sahabatku

Oleh:
Sedih rasanya ketika kebahagiaan ku bersama sahabatku direngut paksa oleh ego dari diri kita masing-masing, masalah ini bermula pada saat temanku menanyakan sesuatu, tetapi aku menjawabnya dengan kebohongan bukan

Kenangan

Oleh:
Rasa rindu menyelimuti hatiku yang sepi saat ini. Duduk di tempat pertama kita bertemu. Duduk dimana saat-saat kita tertawa, berlarian, bahkan menangis dan bertengkar. Mengenang sesuatu yang manis bercampur

Ruang Tunggu Bandara

Oleh:
Bandara udara internasional minangkabau, Sumatera Barat. Kami menjejali langkah menuju ruang tunggu bandara, di sampingku seorang pria sedang asyik memotret langit-langit bandara yang dihiasi lukisan-lukisan pemandangan Sumatera Barat, mulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *