Ikatan Persahabatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 25 March 2016

Malam begitu gelap, bahkan bulan yang sedang menggantung di langit itu tak bisa menyinarkan cahayanya, awan-awan hitam menutupinya dengan paksa. Sebuah mobil jeep hitam melaju dengan cepat menusuk ke daerah perhutanan yang begitu pekat untuk dipandang. Suara mesin yang beberapa kali tersedak karena dipaksa melewati jalan tanah yang terjal menjadi musik di malam itu. Akhirnya di tepi jurang hutan mobil jeep itu berhenti, lalu seorang lelaki muda ke luar. Ia memperhatikan sekeliling. Mencoba menangkap adakah orang di sini.

“Rahmat! Bawa ke mari..” teriaknya. Kemudian dua pintu belakang jeep itu terbuka, ada seorang wanita di sana, dan juga ada pria tua yang ia panggil Rahmat itu, terlihat Rahmat membawa seseorang yang mungkin sudah tak sadarkan diri.

“Cepat!” teriak lelaki muda itu.
“Iya, tuan.” Rahmat hanya bisa menurut, walau sebenarnya ia benar-benar menyesal bisa terlibat di kejadian yang mengerikan ini. “Mau kau apakan orang itu, Hen?” wanita itu menghampiri lelaki muda di depannya yang sedang berdiri tegap di tepi jurang. “Kita akan melakukan seperti yang ia lakukan dulu kepadaku, tapi yang kali ini aku akan pastikan ia tak akan hidup lagi.”
“Ide yang bagus, aku setuju.” wanita itu mengambil sesuatu dari tasnya. Pisau, ya wanita itu membawa pisau.
“Ini adalah pisau yang dulu orang ber*ngsek itu gunakan untuk mencoba untuk membunuhmu, tapi sekarang kamu bisa menggunakan pisau ini bukan sekedar untuk membunuhnya, tapi benar-benar akan membunuhnya.”

Wanita itu tersenyum keji. Betapa senangnya ia bisa melihat kejadian yang sama 10 tahunan ini, rencananya benar-benar berhasil. Lelaki muda itu mengambil pisau berwarna yang telah ditawarkan. Rahmat sudah berada di depan jurang, persis di depan lelaki muda itu. “Bangunkan dia.” Rahmat sedikit ragu, kenapa ia harus terlibat di kejadian yang sama 10 tahun ini, ia benar-benar merasa mengulangi kesalahan yang sama, kalau tahu mau begini lebih baik ia mencari pekerjaan di lain tempat saja, tangannya bukanlah tangan kotor, matanya bukanlah mata yang mau disuguhi kejadian keji seperti itu. Akh! Tapi ia benar tapi melakukan apa-apa, yang hanya bisa ia lakukan adalah, menurut. Dengan berusaha tak menyakitinya Rahmat membangunkan pria itu dengan cara mengguncang-guncangkan badan di depannya.

“Bodoh!” pria muda itu sedikit naik pitam.
“Tampar pipinya sekeras mungkin!” perintahnya.
“Sial.” batin Rahmat berujar.
Dengan begitu ragu Rahmat menampar pipi pria itu.
“Yang keras!”
“Maafkan aku..” batinnya meminta maaf, lalu segera ia menampar pria itu dengan sekeras mungkin dua kali.

Plak!
Plak!

Bukan tanpa alasan ia begitu ragu melakukan hal-hal kotor kepada pria itu, satu hal yang ia ingat tentang pria itu adalah kebaikan hatinya, pria itu adalah majikan Rahmat 15 tahun yang lalu, atau tepatnya pria itu adalah anak dari majikannya yang begitu baik hati, mereka bahkan tidak menganggap Rahmat hanya sekedar sopir pribadi melainkan anggota keluarga mereka, Rahmat ingin menangis betul kalau mengingat masa-masa itu. Tetapi sesuatu terjadi. Ayah pria itu adalah rekan kerja orangtua pria muda keji di depannya. Walau ia tak begitu tahu betul apa yang terjadi tapi ia sedikit tahu apa yang terjadi, memang yang terjadi di depan pria muda itu adalah bahwa ayah pria tak bersalah itu menyuruh pria yang kini terkapar di sisinya untuk membunuh pria muda itu, tentunya pembunuhan itu tak terjadi karena apa?

Karena mereka adalah sahabat yang dekat sahabat yang begitu hebat. Pria yang terkapar di depannya itu bukanlah orang yang bersalah melainkan orang yang berjasa karena telah menggagalkan pembunuhan. Tapi mengapa semua ini bisa terjadi saat ini. Mungkin yang Rahmat ingat dan ketahui cuma sedikit dari kejadian yang mengerikan itu. Karena sebenarnya kejadian 10 tahun itu adalah awal dari bencana. Pria muda itu mendekat. Menarik kerah baju yang dikenakan pria yang terkapar itu. Kesadaran pria itu mulai pulih namun tiada tenaga lagi dalam tubuhnya. Matanya pelan-pelan mulai terbuka, dan yang pertama ia lihat adalah ‘Hendra!’ ia ingin menjerit atas apa yang dilihatnya, Hendra? Sahabatnya itu? Yang sepluluh tahun yang lalu ia lempar ke jurang karena ia benar-benar tak ingin membunuh sahabat karibnya itu, dia di sini. Ia benar-benar kaget. Ia juga yakin selama ini bahwa Hendra masih hidup.

“He-Hendra..” katanya pelan.
“Kaget?” Hendra semakin meremas keras kerah baju pria di depannya itu.
“Oh, tentu kamu kaget kan? kenapa aku di sini, kenapa aku tidak mati sepuluh tahun yang lalu, dan kenapa aku bisa berdiri di atas perusahaanmu itu kan? ya kini aku telah memiliki dan menguasai VSTAR Corp. Suatu hal yang besar yang sangat ingin ku perlihatkan padamu. Sekarang dunia berbalik, Yan! Dulu aku di bawah dan kini aku di atas. Hahahaha.” kata Hendra penuh dengan kebencian. “Ta-tapi?” Iyan begitu ingin menjelaskan semuanya, namun semua itu percuma. Ia tahu Hendra tidak akan mempercayainya.

Kejadian pembunuhan itu didalangi oleh seseorang, bukan ayahnya. Tapi seseorang di luar sana yang begitu ingin menghancurkan kerja sama antara dua pemilik saham terbesar VSTAR Corp. Selama sepuluh tahun ini ia sudah berusaha untuk mencari dalang dalam kejadian itu. Tapi nihil hasilnya.
“Tapi apa? Kamu mau minta ampun? Ayahku sudah meninggal karena ulah keluargamu..”
“Tidak! Salah! keluargaku tak pernah membunuh Ayahmu! ughgt!” Iyan berusaha bicara keras, ia tak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
“Vi, ke mari..” wanita itu mendekat dengan anggun, senyumnya sinis dan begitu senang. Lalu Vi mengeluarkan sebuah kertas terbungkus plastik mika putih.

“Lalu ini apa? sidik jari Ayahmu sama persis dengan sidik jari yang ditemukan di daerah kejadian, dulu aku tak percaya, dan bahkan berusaha menyembunyikannya dari polisi, karena aku tak mau Ayahmu yang dulu ku pandang sebagai orang yang baik dan ku jadikan Ayah keduaku masuk penjara. Tapi kini aku sudah benar-benar murka dan tahu semuanya. Keluargamu adalah ‘Harimau berselimut domba!'” teriaknya begitu penuh dengan amarah. Iyan ingin menjelaskan semuanya, namun tiba-tiba kesadarannya hilang ketika ia merasakan kepalanya begitu nyeri dan seperti mau meledak.

“Kenapa dia?” Hendra melepaskan genggamamnya.
Lalu Vi datang mendekat dan mengecek kondisi tubuh Iyan.
“Dia pingsan,”
“Aku akan melakukan apa yang ia lakukan 10 tahun yang lalu, Rahmat buang tubuh sialan ini ke jurang, aku ingin dia tahu apa yang ku rasakan dulu.”
Hendra langsung menuju ke arah mobil jeepnya.

Terlihat Vi begitu kecewa. “Sial, kenapa ia tak bunuh aja cowok sialan ini, bisa-bisa rencanaku gagal kalau ia tak mati,” Batinnya berujar. Ketika Vi hendak menusukkan sebuah pisau kecil ke leher Iyan tiba tiba Hendra berujar. “Ayo Vi pulang, jangan sampai ada yang curiga dengan kita.”
Vi pun berdiri dan berjalan menuju mobil. Tentu Pak Rahmat tak tega melakukannya namun, “Maafkan aku Nak..” Ia melempar tubuh itu ke jurang. Suara binatang-binatang mulai terdengar kencang di sana. Bahkan aungan serigala mulai terdengar mendekat. “Mungkin ia akan dimakan serigala-serigala itu.” kata Hendra sebelum menutup pintu jeep dan menjalankannya menuju arah ke luar hutan.

Mobil jeep itu berjalan begitu cepat. Terlihat Vi tersenyum bahagia melihat semua ini, walaupun dia tak bisa melihat Iyan mati di depannya namun ini semua sudah lebih dari cukup. “Aku pinjam pisau yang tadi.” kata Vi meminta. Dengan pelan Hendra mengambil pisau itu dari sakunya. Dengan ekspresi keji, Vi tersenyum bahagia, ia memainkan pisau itu. Mobil berhenti karena di depan ada sebuah pohon besar yang tumbang. “Sialan.” Hendra menggerutu kesal. Lalu mereka semua turun. Pak Rahmat mencoba untuk mengangkat pohon itu, namun semua percuma karena terlalu besar. Tiba tiba..

Jlleeeeb!

“Akh! ap-pa yan-ng ka-kamu laku-kan V-Vi!” Hendra menahan pisau yang sudah ditancapkan di perutnya itu.
Pak Rahmat yang begitu panik hendak menolong Hendra namun tiba-tiba sebuah peluru menancap di kaki kirinya.
“Akh!” ia terjatuh kesakitan.
“Apa-apaan ini Vi!” Hendra benar-benar tak mengerti.
“Sudah berakhir, tugasmu sudah selesai, sekarang sudah giliran pemain utama pertujukan yang bertugas. Iya kan sayang?” seseorang datang di balik bayang-bayang malam.
“A-ayah?” Hendra benar-benar terpukul, ayahnya? Apa yang sebenarnya terjadi.
“Semua sudah selesai, kini kamu telah usai..” begitu kata ayah Hendra yang baginya adalah ayah yang hebat, tapi mengapa dan sebenarnya apa yang terjadi.
“Kematian Iyan, kematianmu, sudah cukup bagiku untuk mendapatkan perusahaan itu sepenuhnya.” pria itu tersenyum, begitu kejam.

“Tapi kenapa Ayah lakukan in-ini pa-daku.” darah mulai mengalir dari perut Hendra.
“Sudah ku bilang karena aku harus menguasai perusahaan itu sepenuhnya!” ia mencengkeram rambut Hendra.
“Ja-jadi, 10 tahun yang lalu itu a-apa?”
“Itu adalah sandiwaraku, awal dari rencanaku, dan aku harus benar-benar membuatmu membenci keluarga Handoyono itu! mengerti! Semua itu hanyalah adegan yang sengaja ku buat! dan kini si Handoyono dan anaknya Iyan benar-benar sudah selesai..”
“Tapi aku anakmu, Ayah.” Hendra sudah begitu tercengang mendengar semuanya.
“Anak? Hahahaha apa kamu tak tahu, kamu bukan anakku aku menikahi Ibumu karena aku kasihan! Dia sudah hamil duluan! Hahahaha. Kamu itu anak yang tak diharapkan. Hahaha. Dan aku benar-benar memanfaatkanmu sebaik mungkin..” katanya begitu menyayat kuping Hendra.
“Sekarang, sayang bunuh dia.” Vi tersenyum.

Lelaki itu menjulurkan pistolnya tepat di depan wajah Hendra.

Clik!

Tiba-tiba. Suara sirine polisi terdengar, suara hellikopter terdengar di atas mereka. Mereka kini tersorot lampu pengawas hellikopter, sebagai penanda mereka sudah tak bisa apa-apa. Sebuah mobil polisi mendekat. Lalu seseorang ke luar dari dalam.

“Semuanya selesai di sini!”
“Iyan!”
Hendra begitu tercengang melihatnya.

“Aku sampai lupa kapan kita bisa belibur bersama seperti ini.” kata Iyan di sisi Hendra.
“Dan sekarang kita sudah bersama-sama.” kata Hendra tersenyum.
“Dan seperti inilah yang aku inginkan pada akhir cerita hidup kita.”
“Ya, kita adalah sahabat yang tak akan terpisahkan oleh apa pun, kamu berjanji kan?”
“Tentu saja.” Iyan menyunggingkan senyum.

Seorang anak kecil berlarian menuju arah Iyan dan memeluknya. Dengan segera Iyan menggendongnya.
“Dari mana saja kamu, Nak.” katanya gemas melihat anak kecilnya yang lucu itu.
“Biasa lari-larian sama si Farel.” Seorang wanita berambut panjang dan bertubuh seksi itu datang menghampiri Iyan dan menggandeng tangannya. “Kalau lari-larian pasti akhir akhirnya pada berantem.” Seorang wanita berambut pendek dan bertubuh kurus berisi datang menggendong Farel. Lalu ia mendekat ke sisi Hendra dan menggandeng tangannya.
“Jadi ingat waktu kita kecil dulu, iya gak Yan?”
“Hahaha..” mereka semua tertawa bahagia, sebahagia keadaan mereka saat ini. Badai sudah berlalu dan kini hari yang cerah telah tiba.

Kapal yang mereka naiki masih terus melaju pelan menyusuri laut bali di senja hari. Awan sore menggantung di langit begitu indah. Sang mentari menggantung turun, seperti tenggelam di laut menambahkan kesan keindahan yang begitu nyaman.

Selesai

Cerpen Karangan: GP. Arifin
Blog: http://gparifincerpen.blogspot.com

Cerpen Ikatan Persahabatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Jingga Aldebaran

Oleh:
Aldebaran, mata jingga sang banteng Taurus yang tegas. Pengikut tujuh pemimpin langit di angkasa, Pleiades. Bintang besar yang menyilaukan itu, mulai berada di ujung usianya. Gas Helium mulai dipaksa

Bintang 14 Hari

Oleh:
Dua hari lagi liburan kenaikan kelas usai. Semua berlalu tanpa terasa. Hari-hari yang kulewati bersamanya terasa begitu cepat. Bagaikan asap menantang angin, hilang tak tersisa. Bukan, bukan karena tak

Hmm…

Oleh:
Terpaku membisu dalam keheningan malam, ingin rasanya ku menjerit dalam kesunyian, namun apa daya. Untuk apa ku menjerit dalam kesunyian, tak akan ada pula yang dapat mendengar jeritanku meski

Telitilah Aku

Oleh:
Kring… kring… kring… bell sekolahpun berbunyi tepat pada pukul 07.00 WIB. Para siswa SMP Makroni bergegas menuju kelas mereka masing-masing termasuk pula guru yang mengajar di jam pelajaran pertama.

Dunia Dalam Tengkorak (Part 1)

Oleh:
Silvia, itu namaku. Aku tidak banyak berbicara, aku bukan tipe orang yang punya banyak teman. Tapi itu semua bukan karena aku mengisolasi diriku, bukan karena aku antisosial, pemalu atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *